AKU WANITA TERHEBAT

AKU WANITA TERHEBAT
episode 300


__ADS_3

Maaf bisa kasih dukungannya tidak seperti like, Comment and vote karena dukungan kamu semangat untuk dianya.....


LANJUT****


Lala sebenarnya enggan bercerita hanya saja melihat wajah penuh penasaran milik Alina itu dia pun jadi tak tega, habis mau bagaimana lagi selama keduanya bersahabat tidak pernah ada yang ditutupi.


" Ya sudah kalau begitu aku bakalan ngomong semuanya ke kamu, Tapi tolong Kamu jangan marah-marah ya ya Soalnya kalau kamu marah-marah itu sangat mengerikan loh!" bujuk Lala membuat Alina mendengus kesal.


" Maksud kamu itu mengerikannya seperti apa, perasaan yang marah yang mengerikan itu kamu Bukannya aku. jadi jangan selalu melimpahkan kesalahan yang kamu perbuat kepada orang lain, terkesan nya aku seperti wanita yang paling buruk di jagat raya ini!" sungut Alina tak terima dengan perkataan Lala barusan.


" iya iya maaf tuan putri, jangan ngegas gitu juga kali. Nanti ayang papi Kamu diluar curiga yang macam-macam aku lagi yang kena, Kamu tahu kan posisinya Abang Rafa itu kayak gimana?" ujar Lala mengingatkan Alina agar tidak bertingkah yang aneh-aneh karena nanti imbasnya akan dia yang rasakan!


" kamu jangan mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain, Bukannya tadi sudah berjanji kalau bakalan menceritakan kejadian yang tadi malam yang menyebabkan Kamu tidak pulang sama sekali tanpa memberi kabar apapun!" Alina tahu jika Lala mulai membicarakan hal lain agar dirinya merupakan hal yang lebih penting.


" Ih kamu mah menyebalkan sekali, padahal aku sudah pikir kamu bakalan melupakan hal itu tau-taunya masih sama saja!" sungut Lala dengan wajah cemberut.


" ya suka-suka aku dong mau ngapain, Kenapa jadi kamu yang sewot seolah-olah aku yang jadi terdakwa di sini!" Ketus Alina.


"baiklah karena sahabatku yang satu ini jiwa keponya sedang mencuat di permukaan Aku bakal menceritakan kejadian yang sebenarnya, Tapi yang aku ngomong Dari awal kamu jangan marah-marah yang tidak jelas!" ucap Lala karena tidak ingin menjadi korban Alina yang lagi ngamuk.


" ya itu semua tergantung sama kamu berbuat seperti apa, aku kan tinggal menyesuaikan saja apa yang kamu lakukan!" sahut Alina santai.


" semalam itu Paman Xavier dimarahi habis-habisan oleh Mama nya, katanya tidak tahu pulang ke rumah terus tidak pernah membawa calon menantu dan akhirnya mamanya selalu kesepian di rumah. ya terus Paman Xavier berbohong, kalau aku adalah kekasihnya dan setelah ditanya kami berhubungan Sudah berapa lama aku jawabnya belum tapi Paman safir jawabnya sudah setahun. Karena beda pendapat membuat Mama Adele menjadi curiga, karena aku tidak ingin dimarah oleh mamanya Xavier yang wajahnya begitu menakutkan. Ya sudah aku tinggal jawab Kalau kami berdua sedang OTW menuju pernikahan, dan parahnya lagi Mama Adele bilang bakal datang melamar aku pada ayah sama ibu." Lala sedikit menjeda perkataannya mencoba untuk menetralkan degupan jantung yang begitu kencang.


berbeda dengan Alina yang tambah gemas melihat tingkah Lala yang seolah tidak ada niatan lagi buat bercerita, padahal dirinya sudah penasaran setengah mampus.


" ya terus?" tanya Alina penasaran.


" etdah, Aku pikir kamu sudah tidak mau mendengar apapun lagi? eh ternyata masih mau mendengar hal-hal yang unfaedah, Padahal aku yang menjalani saja rasanya sudah muak ingin melanjutkan kisah yang tidak sempurna itu!" Lala heran dengan jalan pikiran Alina yang selalu saja ingin mengetahui sebuah masalah itu sampai tuntas tidak ingin mendengar yang setengah-setengah.


" ya karena hal itu mau tidak mau selama di hadapan Mama Adele aku sama paman Xavier berpura-pura menjadi pasangan yang romantis, bahkan panggilan sayangnya itu terdengar menggelikan di telinga!" perkataan Lala barusan sukses membuat Alina merasa tak bisa menahan tawanya.


soalnya ia bisa membayangkan wajah cuek dan datar nya Xavier ketika melakoni adegan romantis, pasti bakalan terlihat kaku dan tidak ada manis-manisnya sama sekali.


" teruskan tak Adele percaya sama aktingnya kalian berdua, atau memang kalian melakukan adegan itu begitu menjiwai sehingga terasa nyata?" tanya Alina penuh selidik.


" ya aku saja bingung Perasaan adegannya biasa saja tapi kenapa terlihat luar biasa ya, kalau begitu kan tidak perlu apa sampai memanggil dia dengan sebutan Mas!" sungut Lala kesal.

__ADS_1


" cie ada yang sudah punya panggilan sayang nih, dulu katanya paman Xavier Itu menyebalkan? Eh taunya sekarang malah berbohong tentang pernikahan, kalau Tante Adel benar-benar pergi melamar kamu ke ibu dan bapak gimana coba?" goda Alina membuat Lala membulatkan matanya sempurna.


" Anjay aku kok bisa lupa ya hal itu, Sultan kan bebas mau ngapain aja? Ya Tuhan aku bisa digorok lehernya sama ibu nantinya, kalau ada yang tiba-tiba datang melamar anak gadisnya Terus ibu berpikiran kalau aku sudah haamidun gimana dong?" membayangkan hal itu saja membuat Lala sudah bergidik ngeri.


Masih Membekas dalam ingatan nya Lala Bagaimana sikap absurd ibunya itu, wanita paruh baya yang ketika berbicara tidak pernah disensor lebih dulu bahkan memikirkan perasaan orang lain pun tidak pernah ia lakukan,


apalagi jika yang melakukan kesalahan itu adalah dirinya, maka dipastikan riwayatnya bakalan berubah jadi tamat saat itu juga.


" waduh kalau ibu benar-benar berpikiran yang aneh-aneh gimana dong, ah kenapa sih aku bisa sebodoh itu sampai melakukan hal yang tidak-tidak?" Lala benar-benar merutuki kebodohannya.


" hehehe Nikmati saja guys, Siapa suruh Semalam kamu cerewet yang berlebihan! jadi konsekuensinya kamu Nikmati saja sendiri, hitung-hitung kan kamu belajar uji nyali saat menikah nanti soalnya sifatnya Paman Xavier kan kita semua tidak tahu kalau orangnya tertutup seperti itu!" ledek Alina sambil menahan tawanya ketika melihat tatapan tak percaya dari Lala itu.


" ya Lina Kamu kok tega, temannya lagi susah bukan di bantuin malah diledekin? biar jelek begini ini aku teman kamu, yang selalu mewarnai harinya kamu membuat kamu selalu tertawa itu kan aku!" narsis Lala kambuh di saat yang tidak tepat.


" Idih mewarnai hariku dari Hong Kong yang ada hidupnya aku tambah blangsak setelah kenal sama kamu, untung juga kupingku ini kuat melekat pada tempatnya kalau tidak sudah lepas lama sekali." Lala bertambah kesal mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Alina barusan karena itu merupakan penghinaan karakter namanya.


" kamu untuk juga cantik kalau tidak ku doakan semoga tambah cantik, soalnya mulutnya lemes banget kelebihan jujur. tahu tidak Harga Diriku hancur nih mendengar kata-kata kamu tadi, walaupun kebanyakan benarnya sih?" Alina tersenyum karena Lala dari dulu tidak pernah bisa memarahi dirinya sebab yang ia katakan bahwa sahabatnya hanya Alina Roberto seseorang.


" ya memang aku cantik kamunya saja yang iri, tapi Tenang saja Apapun yang terjadi aku tetap bakalan sayang banget sama kamu. soalnya kasihan sih kalau kamu tidak ada yang temani, pasti nggak bakalan membosankan tidak menyenangkan sama sekali!" ini mah asli Alina tidak ada niat untuk menghibur Lala malah kebanyakan ingin mengejeknya.


" suka kamu lah mau ngomong apa soalnya aku capek bilangnya, hobinya kamu itu hanya cari perkara saja tidak pernah ada benarnya jadi manusia!" sungut Lala sambil memanyunkan bibirnya.


" Lina kamu kok kayak gitu sih, Ih aku mau pulang aja Soalnya di sini auranya selalu bikin aku emosi!" sungut Lala sambil menghentakkan kakinya.


" uh tayang tayang, sini anaknya Momi Alina pengen permen ya sabar ya nanti mommy bilangin sama calon suami kamu!" Oh Tuhan cobaan hidup yang dialami Lala kali ini benar-benar sangat sangat menguras tenaga dan pikiran,


di luar kamar Xavier sedang diinterogasi oleh Rafa, tapi ya namanya es batu biarpun dipaksa berbicara model bagaimanapun tetap sulit untuk mencair.


" kamu semalam tidak merusak anak orang kan, awas aja ya kamu mempermalukanku lagi! karena jika sampai hal itu terjadi, kamu bakalan aku kirim kembali ke mama kamu sekarang juga!" tegas Rafa yang tak ingin dibantah.


" Justru karena mama Makanya kami semalam tidak pulang, soalnya katanya pengen deket sama calon menantu Ya sudah mau tidak mau ikuti saja!" sahut Xavier santai berbeda dengan reaksi Lala yang terlihat frustasi.


" widih tanpa angin tanpa hujan ada yang sudah punya calon istri, kok aku bisa tidak tahu ya kira-kira Siapa ya wanita yang tidak beruntung itu?" tanya Rafa yang sengaja menggoda savier padahal dirinya sudah tahu siapa wanita yang dimaksud.


..." maaf tuan bukannya saya lancang tapi Biar Begini saya pria bertanggung jawab, pasti wanita tersebut bakalan tersenyum tiap hari karena mendapatkan suami manis seperti saya!" Wah kali ini Xavier yang belajar narsis....


" emang iya ya, Ya syukurlah kalau begitu karena kepala saya tidak bakalan pusing melihat rumah tangga kalian yang bakalan runyam seperti apa." ujar Rafa sinis lalu pergi ke ke arah kamarnya Alina untuk bertemu sang Pujaan Hati.

__ADS_1


Percayalah saat Rafa pergi safir pun mengekori dari belakang, maklumlah dirinya juga ingin bertemu dengan calon pujaan hati tapi sudah bisa disebut dengan calon istri.


" Kamu ngapain ikutin saya?" tanya Rafa penasaran ketika tahu Xavier sedang mengikutinya.


" maaf tuan saya juga ingin mencari Lala, Soalnya khawatir pasti Nona Bos sedang bertanya-tanya padanya dan dia pasti kebingungan mau jawab apa!" sahut Xavier takut-takut tuan itu bakalan salah paham.


" Wah kamu memang orang yang tidak tahu berterima kasih ya, Hei kamu bisa kenal sama Lala itu karena berkat Istriku yang berteman sama wanita cempreng itu. Coba kalau tidak entah kamu sekarang sudah laku atau belum ya, tapi kayaknya belum deh soalnya hubungan kalian kan kayak di gantungan masih melambai-lambai kesana kemari." Xavier hanya bisa menahan amarahnya saja karena Biar bagaimanapun Rafa kini adalah majikannya.


Milan, Italy....


terlihat seorang wanita cantik sedang memandangi sebuah Pusara dengan tanah yang belum kering, di situlah terdapat sosok yang sangat dicintai pergi tanpa ada niat untuk kembali lagi.


wanita itu berusaha sekuat tenaga agar air matanya tak keluar, karena Biar bagaimanapun Ikhlas adalah salah satu ujian terberat yang harus ia lalui kini.


terkadang selalu ada kata bijak yang mengatakan, Cintailah Tuhanmu melebihi cintamu pada dirimu dan juga orang di sekitarmu.


karena cinta akan Tuhanmu adalah Abadi dan cinta pada dirimu dan orang sekitarmu hanyalah sementara, karena apa yang kau punya sekarang suatu saat akan diambil oleh Yang menciptakanmu.


Dinda, wanita yang hidup di kota asing sendirian tanpa sanak keluarga dan yang ia punya hanyalah suaminya yang sudah meninggal yang membawanya menetap di kota ini.


kota yang dijuluki oleh Negeri pizza, kota yang penuh dengan kehidupan glamour dan juga sesuatu yang asing menurut dirinya.


10 tahun bukan waktu yang singkat untuk belajar dan belajar demi bisa menyatu, setelah cobaan dan ujian berat ia lalui dirinya malah kehilangan sosok itu.


sosok yang menjadi penopang dan ia selalu menemaninya Disaat Sendiri ketika orang sekitarnya membuangnya, sosok yang kehilangan sahabat untuk pergi kemana rimbanya padahal merupakan sosok yang sangat dibutuhkan.


Dinda, kini hanya bisa tersenyum menatap nama sang suami yang tersemat di atas Pusara itu.


hanya sekarang yang bisa ia lakukan hanya memberikan doa agar hidup suaminya bisa tenang di alam sana, dan dirinya yang ditinggalkan bisa diberi kekuatan walaupun mungkin susah untuk dilupakan.


" Halo selamat pagi Mas, Gimana keadaan di sana dingin atau hangat? kalau aku di sini lagi kangen sama kamu sampai terasa dingin aku tidak peduli, tuh lihat aku Ditemani sama Mas Rivan Kamu kenal kan sama dia? itu loh yang dulu menjadi lawan kamu saat merebut hatinya Selina, Sekarang dia ada buat temani aku untuk datang ke sini!" ujar Dinda sambil sesekali mencuri pandang kearah Rivan yang berdiri tak jauh darinya meskipun pria itu tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Dinda dan suaminya karena setengah berbisik.


" aku kayaknya bakalan ikut Selina pulang tanah air, soalnya di sini sendirian tidak punya siapa-siapa Habis kamunya juga pergi tidak mau pulang pulang!" ujar Dinda yang lagi dan lagi berusaha untuk tetap tersenyum.


" kamu doakan aku ya dari atas sana agar kembali bangkit tidak terpuruk terus, dan satu yang harus kamu ingat hatiku selalu ada tempat untuk kamu dan tidak akan pernah bisa ada yang mengambilnya. Oh iya aku lupa anaknya si Selina sudah besar lho Mas, terus katanya mau menikah aku ingin bertemu dengannya karena sangat merindukan wajah cantiknya itu!" setelah mengatakan hal itu Dinda menaruh bunga lili yang merupakan kesukaan dirinya dan sang suami setelah itu ia pun pergi dengan berusaha menahan tangisnya.


Rivan yang kebetulan berdiri tidak jauh dari situ mendekati Dinda dan mengusap pelan bahunya, dirinya menatap ke arah gundukan tanah tempat Devan berada dan berjanji dalam hati Bahwa akan menjaga istrinya.

__ADS_1


" kamu tenang saja Bro aku bakalan jagain dia, Meskipun aku yakin kepalaku bakalan pusing dengan mulut seriusnya dia." Rivan tertawa dalam hati karena secara tidak langsung seperti meminta restu dari seorang suami untuk istrinya.


__ADS_2