AKU WANITA TERHEBAT

AKU WANITA TERHEBAT
episode 304


__ADS_3

Like N KOMENNYA


***LOPE U FULL


LANJUT*** ***


"Ya sudah kamu ngapain masih disini,memangnya kamu mau bantuin masak?" Tanya Dinda ketus.


Rivan hanya bisa tersenyum melihat wajah cemberut Dinda itu,karena setiap saat pasti bakal sekali di temukan wajah seperti itu.



"Kan ada kamu kenapa harus aku yang turun tangan lagi,nanti kamu nya malah keenakan!" Goda Rivan yang bahkan sampai melupakan kehadiran Selina disitu.


Huekk


Dinda berbuat seolah ingin muntah mendengar perkara Rivan barusan,padahal ia sedang tak ingin berdebat tapi tetap saja terdengar begitu menggelikan.


Sedangkan Selina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rivan dan Dinda itu,tanpa dirinya sadari sedari tadi Rivan selalu mencuri pandang padanya.


"Maafkan aku tapi sepertinya mulai sekarang aku harus terbiasa dengan kehadiran Dinda,agar Alex tak melarang aku untuk bisa dekat dengan kamu!" Lirih Rivan dalam hati yang ternyata hanya menjadikan Dinda alat untuk bisa dekat dengan Selina.


"Kamu pikir aku pembantu mu,oh Maaf anda salah Ferguzo karena aku tidak akan mau melalukan hal itu!" Sinis Dinda dan hanya di balas Rivan dengan mengangkat kedua bahunya.


"Ya sudah Masak yang enak,ingat jangan sampai tidak enak kamu bakal aku daftarkan kursus masak sekarang juga!" Ledek Rivan membuat Dinda melotot tajam kearahnya.


"Kurang kerjaan sekali sampai aku harus masak kasih kamu,biarpun tidak enak kata orang tapi kata Suami ku semua masakan aku paling terbaik!"Ujar Dinda mengingat kebiasaan Suaminya saat masih hidup.


"Oh jelas kalau cintanya sudah mendarah daging,rasa Asin pun berubah jadi manis!" Ledek Rivan lalu segera meninggalkan dapur sebelum kena Amukan dari Dinda.


"Kurang ajar tuh orang,kok bisa bisanya bilang begitu?Tapi kayaknya benar juga sih,soalnya pernah aku masak telor gosong tapi Mas Devan bilang rasanya enak karena aku berani membuat Inovasi merubah warna telor dari yang kuning berubah jadi hitam!" Ujar Dinda membuat Selina langsung tertawa begitu keras.


"Astaga Dinda itu suami kamu Bucin nya aku sampai mati rasa,atau memang dia hobinya yang aneh aneh?" Tanya Selina heran.


"Ih kamu kok ngomong gitu sih,ya dia Bucin akut tapi tetap ada masalah hanya saja mungkin sedang menjaga perasaan aku saja kali?" Sungut Dinda tapi dengan wajahnya yang memerah karena menahan tangisnya.


Selina yang tadi sedang tertawa langsung merubah ekspresi wajahnya,ketika melihat Dinda yang kembali bersedih.


Sekuat apapun seorang wanita dan seceria apapun dia,tetap saja hatinya rapuh ketika orang yang dicintai pergi tanpa kembali lagi.


"Heii kamu sabar ya jangan seperti ini terus,bersedih boleh tapi berlebihan yang tidak bagus!" Ujar Selina sambil mengusap pelan bahu Dinda agar lebih kuat.


"Kenapa Sih Lina aku tetap harus bersedih,kamu tahu kan dia selalu ada untukku dimanapun dan kapanpun!" Lirih Dinda yang terlihat begitu tak tahu harus berbuat apa.


"Nanti ke Indonesia kamu harus ikut aku kemanapun,karena kita bakal keliling tempat waktu kita masih muda dulu!" Ajak Selina membuat Dinda yang tadi ingin menangis langsung berubah kesal.


"Kamu kok bilang seperti itu,memangnya kita sekarang udah Tua atau gimana sih menurut kamu!" Ketus Dinda kesal.

__ADS_1


"Hehe memang kita sudah Tua kok,yang bilang masih muda itu siapa?" Tanya Selina memastikan.


"Ya aku dong,maaf ya jiwa jomblo ku menolak untuk tua!Karena aku itu masih sendirian bukan seperti kamu yang kemana mana selalu ada yang mengekor,padahal sedikit lagi bakal punya cucu!" Sindir Dinda membuat Selina hanya menatap santai kearahnya.



"Ya terserah kamu saja,aku mah bisa apa kalau kanjeng Mami sudah ngomong!" Ejek Selina lagi.


"Nah gitu dong aku kan jadi senang kalau kamu nurut seperti itu,soalnya terlihat seperti anak yang manis kepada orang tuanya!" Selina tak bisa menahan tawanya ketika mendengar perkataan Dinda barusan.


"Kalian ngobrol terus memangnya sudah selesai kah masaknya?" Tanya Leonard yang tiba tiba muncul.


"Tutto è pronto,capo!" Sahut Dinda menggunakan bahasa Italy yang artinya Semua sudah siap,Boss.


"Sì,possiamo mangiarlo subito?" Tanya Leonard dengan bahasa Italy pula yang artinya Ya sudah,bisakah kita langsung memakannya?


Selina mendengus kesal karena dirinya dibuat seperti orang bego disini,ia pun langsung mencubit gemas pipi Dinda.


"Kamu ih,mentang mentang suaminya Orang Italy sampai sombong banget ngomong begitu?" Sungut Selina kesal.


"Ye belajar bahasa manapun itu tidak perlu harus karena Punya pasangan yang berbeda,tapi menjadi pintar itu diwajibkan?" Dinda terlihat bagaikan seorang Motivator hebat.


"Lebay ih kamu,ya sudah Daddy tunggu di meja makan saja nanti Dinda yang siapin.Soalnya aku mau pergi panggilkan Mas Alex dulu di kamar,karena mungkin dia masih istirahat!" Selina pergi dari dapur untuk menuju kekamarnya dan Alex.


"Maaf ya Daddy tidak bisa bantuin kamu,orang jalannya saja sudah pake kursi roda apalagi mesti bawa mangkok itu!" Leonard tak enak hati pada Dinda yang harus sendirian membawa begitu banyak tempat makan itu keatas meja.


"Kamu kalau bicara selalu saja benar,ayo kita ke meja makan!" Ajak Leonard yang mengikuti Dinda dari belakang.


Rivan yang melihat Dinda begitu kesusahan,langsung meraih nampan yang berada di tangan Dinda.


"Sini aku bantuin,lain kali kalau tidak bisa mengerjakan sendiri setidaknya meminta bantuan itu kan tidak ada masalahnya!" Rivan membantu Dinda tapi sambil menggerutu.


"Kamu kalau tidak ikhlas lebih baik tidak usah sekalian,aku bisa kok kerja semuanya sendiri hanya Kamu nya saja yang terlalu percaya diri!" Sahut Dinda kesal.


"Kalian cocok kalau terus berdebat seperti itu!" Goda Leonard membuat Dinda dan Rivan saling pandang.


"Dad,apa tidak salah ngomong?Masa mau jodohin aku sama dia sih,padahal ada banyak pria manis di luaran sana?" Sungut Dinda tak terima.


Rivan menatap tajam kearah Dinda, Karena Wanita itu selalu saja mencari masalah dengannya.


" Kamu pikir aku juga bakalan berminat sama wanita seperti kamu, Oh maaf lady karena sampai kucing bisa mengeluarkan tanduk terus anjing laut bisa bernyanyi wanita seperti kamu bukanlah levelku!" sinis Rivan tak kalah tajam membuat Dinda mendengus kesal.


" nah tuh kan pria yang tidak ada manis manisnya seperti dia lebih cocok jadian sama tante menor, yang kalau ngomong juga tidak kalah pedas kayak dia!" sungut Dinda karena merasa kesal dengan sikap Rivan yang tidak mau mengalah.


" lebih mending sama tante menor Daripada sama kamu, Yang kalau jadi wanita tidak ada manis-manisnya! yang ada hanya bikin tekanan batin hasil akhir tewas masih muda, dan kamu pikir aku mau kalau itu terjadi padaku? Oh maaf ulat keket hal itu tidak akan pernah terjadi pada seorang Rivan Orlando, karena dia hanya akan mendapatkan jodoh yang baik dunia akhirat!" perdebatan kedua manusia itu tidak berhenti sama sekali membuat Leonard jadi pusing sendiri.


" Astaga kalian ini memang pasangan yang paling aneh, perasaan aku tadi itu Bahasanya sepenggal doang kenapa jadi meluber kemana-mana?" tanya Leonard heran dengan jalan pikiran Dinda dan Rivan itu.

__ADS_1


" Ya habisnya Siapa suruh dia cari masalah lebih dulu, masa aku sebagai seorang pria harus mengalah?" ujar Rivan tajam.


" ya itu artinya Kamu banci dong masa sama wanita tidak mau mengalah, itu artinya semua kata-kata dunia yang menyatakan jika wanita itu dari tulang rusuk pria hanyalah kebohongan belaka?" sinis Dinda tidak mau kalah.


" Eh kenapa bawa-bawa ke hal itu lagi, perasaan setiap orang sudah diatur jodohnya masing- masing. hanya saja kalau jodohku itu kamu, maka aku bakal mengajak Tuhan untuk kompromi agar digantikan dengan yang lain saja!" wadidaw ternyata mulut Rivan itu pedas banget ya'


" Ini kenapa sih ribet ribet dari tadi kedengeran kayak lagi pasar malam, padahal manusianya hanya kalian berdua saja? bisa tidak sekali bersikap dewasa, agar terlihat lebih sedap dipandang mata dan juga tidak mengganggu keberadaan orang lain?" kali ini Selina benar-benar kesal dengan sikap Dinda dan Rivan yang tidak pernah berhenti berdebat semenjak bertemu.


Sebenarnya bagus juga sih, karena dengan begitu Dinda bakalan melupakan kesedihan. hanya saja cara untuk melupakan kesedihan dengan berdebat cara seperti itu lebih baik berhenti total, karena Biar bagaimanapun sejatinya cara menghibur seseorang itu dengan memberikan dukungan bukan membuat orang tampak ingin mati cepat.


" kamu bisa tidak sekali-sekali mengalah dengan wanita, atau jalan pikiran kamu itu memang sudah rusak sampai tidak menyadari hal itu sama sekali? Ayolah, kita semua bukan anak kecil lagi yang Segala sesuatu harus dibilang, jadi sekali-sekali Kamu turuti apa yang menjadi kemauan mereka tidak ada salahnya juga kan?" tanya Alex karena memang bingung harus berbicara apa lagi.


" etdah, Kenapa Jadi kalian berdebat? Ya sudah aku minta maaf Jika kehadiranku bikin kalian jadi puyeng, Tapi tolong jangan menyuruhku pulang soalnya aku sudah tidak punya rumah lagi! nanti kalau sudah sampai di tanah air, aku bakalan cari rumah sendiri.Agar nanti Mungkin kalian bakalan lebih rileks dikit, tapi setelah itu aku tetap bakalan merecoki kalian loh soalnya Bingung mau ngapain?" ujar Dinda sambil tersenyum membuat Selina terharu dengan sahabatnya itu.


" Kamu itu ngomong apaan sih, yang ingin mengusir kamu dari sini itu siapa? Lain kali kalau ngomong tuh jangan asal mengambil kesimpulan yang belum tentu kebenarannya Itu Nyata, tadi suamiku kan hanya menegur saja biar kalian berhenti berdebat. Ingat loh benci sama cinta itu bedanya tipis, Nanti kalau sudah jatuh cinta malunya baru kerasa dari belakangan!" ledek Selina membuat suasana kembali hangat tidak ada ketegangan seperti tadi lagi.


ketika mereka sudah berada di meja makan Vigo pun muncul, terlihat wajah lelah pria itu karena terlalu banyak memikirkan tentang Tuan nya Dan juga pekerjaan.


" Halo Vigo kamu sudah pulang?" Tania Dinda sambil tersenyum kearah Vigo yang baru datang.


" Iya Nyonya Baru saja sampai." balas Vigo Percayalah jika Respon yang lain biasa saja terhadap interaksi antara Vigo dan Dinda berbeda dengan Rivan yang seolah tersulut emosi.


"Ckck, kalian pikir di dunia ini hanya kalian berdua saja jadi seolah tak peduli dengan keberadaan orang lain?" tanya Rivan Ketus membuat Dinda menatap heran ke arahnya sedangkan Vigo hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


" Kamu kenapa lagi sih, jadi coba kok sensian sekali Apa tidak sayang umur kalau tiap hari hanya emosi saja yang kamu rasakan?" tanya Dinda yang sudah tak habis pikir dengan isi otaknya Rivan itu.


" suka-suka Aku mau berpikiran apa saja, jangan ngebahas lagi nanti pria itu bakalan besar kepala karena kamu Bela terus!" sahut Rivan sambil menatap sinis ke arah Vigo yang memasang tatapan kebingungan.


" kenapa aku yang salah lagi ya, perasaan aku tadi baru datang terus tidak melakukan apa-apa tapi kenapa masih salah juga?" batin Vigo heran dengan mood yang dirasakan oleh tuannya itu.


" Ya sudah Vigo, Ayo kamu juga gabung buat makan! jangan pedulikan majikanmu itu. Anggap saja dia bagaikan angin lalu yang hanya Numpang lewat, tidak pantas untuk di pedulikan!" ajak Dinda dan kini semuanya Tengah menikmati makan siang yang terakhir kalinya di tempat itu karena Setelah itu mereka bakalan terbang ke tanah air.


" gimana perusahaannya kalian di sini, aman atau belum bisa ditinggal?" tanya Leonard kepada Vigo meskipun hanya asistennya Rivan tapi pria itu merupakan Garda terdepan dalam mengurus perusahaan.


" Ya benar sekali, Gimana keadaan perusahaan?" tanya Rivan menimpali perkataan Leonard.


" untuk masalah besarnya sudah berhasil Tuan atasi. Tinggal sisanya yang tidak terlalu memerlukan kehadiran Tuan Rivan , jadi direktur di sini yang bakalan mengurus semuanya kita tidak perlu khawatir lagi!" jelas Vigo sambil tersenyum membuat semua orang yang disitu menghela nafas bersyukur.


" Artinya kita semua bakalan pulang kan, Aku senang banget kalau rame-rame ke sana dan aku tidak jadi hanya menonton pasangan yang lagi bucin itu!" Dinda mengatakan hal itu sambil memonyongkan bibirnya ke arah Alex dan Selina yang dari tadi memakan dalam satu piring berdua.


" iri bilang Bos!" Alex mengatakan hal itu sambil tak menatap kearah Dinda.


" Idih ogah, biar begini tapi aku sudah pernah merasakan yang namanya Surga Dunia hidup berpasangan merasakan bucinnya akut. Nah kalau untuk manusia berdua ini pantas yang harus dibilang iri, mereka kan belum ada apa-apanya jangankan mantan Pasangan calon pasangan saja tidak ada!" nah tuh kan mulutnya Dinda itu memang tidak bisa tenang Kalau namanya untuk tidak bisa mencari masalah.


Rivan dan Vigo hanya bisa menghela nafas mereka kasar, sepertinya mulai dari sekarang masa tenang sudah bakalan mulai dari hidup mereka yang ada bakalan tiap hari memijat pelipis karena pusing.


" Astaga Dinda kamu kamu ngomong kadang suka benar, aku setuju sekali loh mereka sudah tua itu mana pernah merasakan Jalan digandeng tangannya. dalam mimpi pun pasti tidak pernah apalagi di dunia nyata, sangat menyedihkan sekali ciptaan Tuhan yang dua itu. hanya bisa merusak pemandangan menambah polusi, membuat bumi jadi sesak dan juga menyedihkan dipandang!" Alex menimpali perkataan Dinda itu karena memang kapan lagi dirinya bisa membalaskan sakit hati.

__ADS_1


__ADS_2