
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
Lala sudah tak terima ketika dirinya selalu dipojokkan oleh orang lain, kalau soal ya hitam pendek itu memang kodratnya dari sana tidak bisa dirubah lagi.
Anda tapi ada saja perkataannya semua orang untuk merendahkan fisiknya, meskipun mencoba untuk Terkadang juga pasti emosi dan akhirnya emosi tak bisa dikontrol.
" Kenapa sih pria kok ngegas terus?" Ketus Lala.
" Siapa suruh kamu jadi cewek juga tidak bisa mengalah, bahkan suara kamu melebihi speaker?" penyerapan sinis.
Alina sudah melihat suasana tidak begitu nyaman, memilih untuk melerai perdebatan yang ada.
" kalian itu kenapa sih setiap ketemu pasti berdebat, Kenapa tidak menikah sekalian biar jangan terlalu bermusuhan seperti itu?" tanya Alina yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya sebab selama ini begitulah kebiasaan Rafa dan Lala.
Rafa dan Lala bergidik ngeri mendengar perkataan Alina barusan, Yang benar saja yang menjodohkan keduanya niat pun tidak ada?
" kamu kalau ngomong kira kira dong Yang, masa iya aku kamu suruh sama dia? terus nanti kamunya gimana, Memangnya kamu pikir aku ikhlas kasih kamu ke orang lain?" tanya Rafa penasaran.
" aku mah B aja!" sahut Alina santai membuat Rafa memasang wajah cemberut.
" kamu ke kamar deh mandi sana pasti kamu capek kan, Aku juga mau balik ke kamar nih pengen mandi soalnya udah lengket semua!" Cie Xavier yang lagi bertingkah manis kelihatannya sungguh menggelikan kali Bro.
" sebelum kamu ngomong juga aku sudah mau melakukan hal itu kok?" ujar Lala Ketus membuat Xavier menatap gemas kearah gadis itu.
Bagaimana tidak maksud dan tujuannya tadi baik kenapa selalu disalah artikan, kalau model begini terus mah bisa dipastikan perang dunia bakalan selalu terjadi setelah mereka bersatu.
Eh tunggu dulu author ralat deh, kalau biasanya semua orang kalau ketemu selalu berawal dari benci dulu baru Jadi Cinta.
mungkin mereka berdua salah satunya jadi tidak usah kaget lagi, Bukankah Garis hidup manusia kebanyakan hampir sama dan bisa terbaca?
" kamu tuh kenapa sih di kasih perhatian malah lebay begitu, Memangnya kamu mau cari cowok yang model bagaimana lagi?" tanya Alina heran dengan tingkah Lala ketika berhadapan dengan Xavier.
" Kamu tahu kan Aku cinta mati nya sudah mentok sama abang Michael seorang, jadi mau biar di poles bagaimanapun dah beratnya sama dia." sahut Lala.
" tapi kamu tahu kan kalau Michael itu tidak doyan sama kamu, masa iya tidak sadar juga? Awas lho kalau Paman Xavier diambil orang, nanti kalau nangis guling-guling Aku nggak tahu jawab!" Sindir Alina karena kesal dengan sikapnya Lala yang sok jual mahal.
" ye aku mah nggak doyan sama yang gituan, mau diambil orang kek mau dimutilasi ke digores sekalipun juga bodo amat!" sahut Lala dengan wajah songongnya membuat Alina ingin sekali mengeksekusi dirinya.
__ADS_1
" tampangnya biasa saja tapi jual mahalnya sangat mengerikan, apalagi tampangnya luar biasa bisa-bisa sekeren Abang Ji Chang Wook pun dijual mahal." ledek Alina.
" Oh tidak bisa begitu, lain ceritanya kalau Abang yang mendekat.Aku bakalan kasih diskon, Bila perlu gratis sekalian." Lala membayangkan si tampan yang menjadi favoritnya autor Mima ah.
" Idih yang enaknya di kamu tapi orangnya menderita lahir batin, masa cewek Korea sexy body mulus ada ngapain dicari yang bikin rusak pemandangan seperti kamu?" ledek Alina membuat Lala hanya bisa mengusap dahinya pelan karena kalau untuk soal sahabatnya itu ia tak ingin berdebat.
"Ana ku sayang aku boleh tanya tidak, itu lehernya digigit drakula nya kapan ya soalnya sangat menyiksa mata?" Tanya Lala sambil menunjuk ke arah leher Alina yang terdapat bekas kiss mark bentuk abstrak dari Rafa tadi.
Wajah Alina memerah karena malu, sebab Ternyata apa yang dirinya dan Rafa lakukan tadi sore lupa ya tutupi dengan Foundation.
" Ya ampun Ini kelihatannya dari tadi, Astaga kenapa nggak bilang sih? kan malu Tadi dilihat sama paman Xavier, lagian tu Abang kenapa setega itu sih Kasih tanda di bagian situ!" sungut Alina membuat Lala mendelik.
"Orang kalau lagi ***** biasanya tidak akan memikirkan apapun itu, jadi Terima nasib saja deh orang kamunya juga pasti menikmatinya kok!" Sindir Lala sambil tersenyum mengejek.
" kamu ya, awas aja kalau sampai besok lusa seperti begini bakalan ku foto terus ku viralkan ke media sosial. terus captionnya gini, drakula tanpa taring lagi beraksi!" ledek Alina sambil tersenyum smirk.
lelah pasrah karena ternyata memang susah berbicara dengan orang keluar lagi bucin, sudah tidak punya rasa malu terus Ngomongnya ke hal yang negatif terus.
" sudah sana mandi, ingat tidak kata Ayang Papi kamunya tadi? Sayangku, sana mandi pasti kamu capek banget kan?" Alina berucap sambil mencontohkan gaya bicaranya Xavier.
" Ya iyalah aku kan sangat ngangenin jadi otomatis di perhatikan sama-sama orang, bukan seperti kamu bucin akut hanya sama seorang saja jadinya rugi pada dunia selebar ini pasti banyak yang bening-bening!" ledek Lala segera berlari masuk kedalam kamar mandi sebelum kena timpuk pakai bantal oleh Alina.
Rafa menatap sang asisten Ayah nya itu dengan tatapan menyelidik, ia ingin main introgasi pria Saya ingin menginterogasi pria itu tentang apa yang barusan dilihatnya.
" Sejak kapan kalian dekat?" tanya Rafa serius.
" Maksudnya apa ya, tuan?" tanya Xavier yang belum connect'
" kamu itu benar-benar tidak paham atau pura-pura saja?" tanya Rafa yang sedikit menaikkan intonasi bicaranya.
Rafa menatap heran ke arah tuannya yang sepertinya meragukan jawabannya tadi, padahal ia berkata sesuai dengan apa yang menjadi kenyataan.
" Saya memang benar-benar tidak paham arah pertanyaan anda tadi, Tuan!" sahut Xavier sambil mengernyitkan keningnya.
" baiklah karena otak kamu itu hanya secuil saja, maka Lebih baik saya jelaskan secara terperinci!" Sindir Rafa membuat Xavier hanya bisa mengelus dadanya.
" kamu pasti punya penjelasan Kenapa tadi bisa pulang bersama dengan dia, kemudian saat masuk ke rumah juga bergandengan tangan seperti itu?" tanya Rafa dengan tersenyum mengejek.
" Oh yang itu, tadi kebetulan saya tahu kalau Tuan menuju ke kampusnya Nona Alina dan ada sedikit masalah, dan ketika saya menyusul melihat Lala hanya berdiri seorang diri. maka dari itu saya tawarkan untuk mengantarnya pulang, Lagian kamikan satu arah jadi daripada saya pulang sendirian!" jelas Xavier hati-hati karena takut Rafa bakalan marah Rafa bakalan marah.
Rafa masih mengerutkan keningnya karena belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Xavier, sebab sepertinya ada yang tertinggal.
__ADS_1
Karena melihat Xavier yang tidak kunjung berbicara lagi membuat Rafa ingin sekali menghajar Asistennya itu.
" sudah, hanya begitu saja penjelasannya?" tanya Rafa.
Xavier mendengus kesal karena ternyata tuannya itu selalu penasaran, padahal dirinya sedang tidak ingin menceritakan hal yang bersifat pribadi.
" Saya ingin berhubungan serius dengan dia, jadi Apakah tuan tidak marah?" tanya Xavier memastikan.
bukan karena Xavier itu takut terhadap Rafa, hanya saja ia menghormati tuannya itu yang terlihat begitu tidak nyaman saat berada dekat dengan Lala.
" Kenapa bertanya kepada saya, bukannya menjalani kamu? Jadi otomatis yang menentukan pilihan kamu sendiri, dia memang mulutnya pedas tapi kalau soal Setia kayaknya oke." jelas Rafa membuat Xavier menganggukkan kepalanya karena menyetujui perkataan tuannya itu.
" iya juga sih tuan, hanya saja cempreng nya itu memang cempreng nya itu sudah mendarah daging jadi sulit untuk berubah!" keduanya bahkan senyum-senyum sendiri membuat Siapa saja yang melihatnya pasti tak menyangka jika keduanya adalah asisten dan majikan.
" mas kita makan di luar yuk, soalnya aku laper banget nih! soalnya Bibi juga lagi ke rumah sakit menjenguk keponakannya yang melahirkan, otomatis tidak ada yang masak!" ajak Alina kepada kekasihnya itu.
" boleh, kamu panggilin tuh si pendek biar kita berangkatnya sama-sama! soalnya Kasihan anak orang kalau sampai kelaparan di rumahnya kita, nanti emaknya datang ngamuk habislah harga diri aku sebagai seorang CEO!" ujar Rafa.
mendengar perkataan Tuan nya itu Xavier pun menolak, karena dirinya ingin berduaan saja dengan Lala.
" tuan biarlah dengan saya saja, biar Anda pergi berdua saja dengan Nona Alika!" minta Xavier membuat Rafa tersenyum senang karena mendapat asisten yang begitu pengertian.
sedangkan Alika mengerutkan keningnya, karena dirinya mana mau meninggalkan Lala sendirian dengan Xavier yang begitu menyebalkan itu.
" eh mana bisa begitu, kalau Paman mau pergi sendirian Ya terserah tapi aku bakalan tetap sama Lala!" tolak Alina Ketus.
" ampun dah Sayang kamu mengerti sedikit dong, Kapan mereka dekatnya kalau kita selalu di samping mereka? kamu mau kan teman kamu yang pendek itu bisa sold out, biar kemana-mana tidak selalu ngikutin kamu?" tanya Rafa yang akhirnya membuat Alina paham dengan maksud dari kekasihnya itu.
" Ya sudah kalau begitu, Paman safir ingat ya Jangan coba-coba melakukan hal yang tidak-tidak pada sahabatku itu!" ujar Alina sambil menatap tajam ke arah pria yang sudah akan menginjak kepala 4 itu.
" Nona tenang saja, lagian Nona pasti tahu dong sifatnya teman seperti apa?" Alina tersenyum karena dirinya tadi ternyata melupakan Bagaimana sikap barbarnya sahabatnya itu'
" ayo sayang kita buruan pergi sebelum tuh pendek menyusul ke sini, kamu tidak inginkan nanti ada drama lagi dan akhirnya kita kelaparan!" ajak Rafa sambil menarik tangan Alina.
Lala yang sudah selesai mandi merasa heran ketika mendengar Mobil Rafa keluar, yang tersisa hanya dirinya dan Xavier saja di rumah itu.
Lala pun mengambil ponselnya dan menghubungi Alina yang sudah dengan tega nya meninggalkan dirinya, Kalau ditinggal sendiri mungkin Oke tapi ini mah sama singa yang galak minta ampun.
Alina yang seolah paham dengan maksud panggilan dari Lala itu, sengaja membiarkannya tak di hiraukan sama sekali panggilan itu.
" aku yakin pasti dia sudah kesal, karena sudah aku tinggal pergi!" Alina sambil terkekeh geli.
__ADS_1