
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
Rivan tak bisa berbuat apa-apa lagi , ketika melihat wajah Alex yang begitu tak bersahabat.
menyesal, ya rasa itu pasti ada setelah menyadari apa yang telah ia lakukan tadi, hanya saja nasi sudah menjadi bubur tidak bisa kembali menjadi nasi lagi.
penyesalan yang datang dari belakangan, kadang bisa membuat suasana tambah keruh makanya orang tua selalu berkata berpikirlah dahulu sebelum melakukan sesuatu.
" kamu dengan melihat aku diam tambah ngelunjak, Memangnya apa sih isi dalam otak kamu itu? sadar tidak dia itu istriku lho, kenapa kamu harus memaksakan kehendak kamu tanpa menghargai perasaannya sedikitpun?" tanya Alex dengan suaranya yang menggelegar karena begitu menahan kekesalan.
Rivan tak bisa berkata apa-apa lagi dirinya bagaikan tersangka yang ketahuan telah melakukan sebuah kejahatan, Diam adalah cara yang terbaik karena Biar bagaimanapun apa yang Alex lontarkan Tadi itu semuanya benar.
" Maafkan Aku, sungguh aku sangat menyesal!" lirik Revan yang tak berani menatap kearah Alex.
" menyesal kamu bilang, dari tadi ke mana saja setelah melakukan hal yang tidak-tidak?" tanya Alex sinis.
" Mas Sudahlah kasihan lho daddy sudah tidur, Nanti kalau dia terkejut terus tanya yang gimana gimana kita mau jawab apa?" bujuk Selina pada suaminya itu agar berubah pikiran.
" big no honey, dia berani berbuat harus berani bertanggung jawab! aku tidak bakalan setuju sama sekali, kalau dia macam-macam seperti begitu terus!" sahut Alex serius dan tak ingin dibantah membuat Selina pun tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Rivan memilih untuk berdiri dirinya merasa sudah cukup kesabarannya dari tadi, sebenarnya di sini harus mengalah itu Alex Bukannya dia.
" cukup, aku dari tadi sudah diam tapi kamu nyerocos terus tanpa henti tanpa mau mendengarkan penjelasan ku sedikitpun. Sebenarnya apa yang kulakukan itu Menurut kamu salah, letak kesalahannya dimana bagiku?" tanya Rivan dengan senyuman mengejek membuat Alex langsung tersulut emosi.
__ADS_1
Bugh
sebuah pukulan langsung mendarat kembali di pelipis Rivan, membuat pria yang belum berdiri dengan tegak itu langsung kembali tersungkur di bawah lantai.
Selina dan Dinda hanya bisa berteriak histeris, namun tak bisa berbuat banyak karena terlihat jelas diwajah Alex sedang murka.
" apa kamu bilang tadi, letak kesalahan kamu di mana? Wah ternyata memang sekolah tinggi tinggi tapi percuma tidak ada gunanya sama sekali, kamu sadar tidak apa yang kamu lakukan itu sudah bisa membuat rumah tangga kami berdua hancur?" tanya Alex memastikan.
Rivan tersenyum mengejek ternyata Jalan pikirannya Alex tepat dengan yang ia inginkan, tidak perlu dipancing dengan berbagai kata ternyata sudah dipahami oleh pria berdarah Indo Itali itu.
" bagus kalau kamu sadar karena aku tidak perlu mengulang kembali kata-kata aku, kan sudah aku katakan dari dulu bahwa aku tidak akan pernah mau mengalah jika menyangkut apa yang harusnya menjadi kepunyaanku!" sinis Rivan sama sekali tak ada beban pikiran ketika mengucapkan perkataan itu.
Dinda menatap Jengah ke arah pria yang dari tadi memancing keributan gitu, Jika ia juga seorang pria maka bisa dipastikan satu sumbangan bogem mentah juga bakalan mendarat di wajah Rivan.
" Hei cucunguk sialan Lain kali kalau mau ngomong dipikir dulu, Emangnya stok wanita didunia ini sudah habis sampai istri orang juga kau ganggu?" tanya Adinda sinis.
Rivan menatap kesal kearah Dinda yang selalu saja menimpali perkataan orang lain, Padahal jelas-jelas di sini wanita itu tidak dibutuhkan pendapatnya sama sekali.
Dinda tak terima dengan perkataan Rivan barusan, dirinya memang janda tapi setidaknya jangan dibicarakan ulang-ulang kali lah.
" eh masih baik aku biarpun statusnya janda tapi sudah pernah merasakan namanya surga dunia, Nah kamu boro-boro mau merasakannya hobinya menjadi penguntit istri orang kok!" skakmat apa yang dikatakan Dinda itu benar-benar yang sesuai dengan diharapkan oleh Alex.
Vigo sebenarnya ingin sekali melenyapkan majikannya itu, Bagaimana tidak selalu saja mencari perkara pada Alex dan istrinya.
" Tuan apakah sebaiknya anda istirahat saja, soalnya kondisi kesehatan anda juga belum pulih benar!" bujuk Vigo agar suasana kembali aman dan terkendali.
namun Rivan sama sekali tak bergeming dari tempatnya, dirinya merasa urusannya kali ini belum benar-benar beres 100%.
__ADS_1
" kamu jangan ikut campur dengan urusan ku sedikitpun, di sini yang diperlukan itu adalah Selina ikut denganku sekarang!" Alex benar-benar ingin melenyapkan orang yang bernama Rivan Orlando dari dunia ini.
tak beda halnya dengan Dinda yang juga merasa gemas melihat sikap Rivan yang keras kepala itu, sudah tidak tahu malu Padahal saya ditolak mentah-mentah tanpa pikir panjang oleh Selina.
" eh tuan urat malu Anda sudah putus ya, sampai bisa-bisanya menggadai harga diri dengan hal yang tidak penting dan tidak pasti?" tanya Dinda sinis.
Nah dengan sikap Dinda ini membuat Alex tidak perlu memikirkan kata-kata menohok yang cocok untuk Rivan, Sebab semua yang ia pikirkan sudah diwakilkan oleh Dinda.
" Anda sebaiknya pulang dari sini jika tidak ini bakalan menjadi pertemuan terakhir kita, dan aku akan menjadikan Anda orang asing dalam hidupku!" Selina akhirnya buka suara karena jika tidak perdebatan itu tidak akan pernah selesai.
mendengar perkataan Selina barusan, membuat tubuh Rivan langsung lemas seolah tak ada tenaga sama sekali. hatinya begitu teriris bagaikan di hujam ribuan jarum, tepat mengenai jantungnya.
" Lina, kamu kok tega mengatakan hal itu padaku? sedikitpun Tidak ada namaku, hingga aku begitu tersingkirkan dan terasingkan bagi kamu?" tanya Rivan memelas membuat Selina tambah emosi.
" Kamu kenapa sih tidak pernah sadar sadar, Carilah wanita untuk menjadi pendamping hidup kamu kamu yang terutama bukan istrinya orang. tapi kenapa selalu saja harus memaksakan kehendak yang tidak masuk akal itu, sudah kukatakan berulang kali aku punya suami dan juga punya anak-anak!" setelah mengatakan hal itu Selina pergi dari situ dari pada akan keluar berbagai kata-kata yang tidak mengenakkan didengar.
Lagi Dan Lagi Selina tak peduli dengan kehadiran Rivan membuat pria itu akhirnya pasrah dan memilih pergi, Padahal di luar sedang badai salju dan tengah malam.
daripada memilih bertahan disitu dengan hati yang hancur, jiwanya menolak melakukan hal itu Dan tak ingin membuat Selina semakin menjauh.
Alex memilih menyusul Selina ke dalam kamar, ya sangat khawatir dengan kondisi istrinya yang terlihat begitu terguncang dan frustasi'
sedangkan Dinda memilih untuk menemani Rivan, dirinya sadar betul ketika ditinggalkan oleh siapa-siapa pasti rasanya begitu menyakitkan.
" kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Dinda penasaran.
" pulang!" sahut Rivan singkat.
__ADS_1
" loh tapi jalannya berbahaya karena sedang turun badai salju, apa tidak bisa bersabar sambil menunggu besok pagi?" tanya Dinda memastikan lagi.
" jangan sok peduli bisa kan, Sana pergi tidur Kirim doa untuk suamimu agar bisa mengangkat otak dan suara cempreng kamu yang bikin kepala sakit itu!" Ketus Rivan kesal.