
Like N KOMENNYA
***LOPE U FULL
LANJUT*** ****
Vigo memilih membopong tubuh Dinda dan memasukkan ke dalam mobil mereka, sesuai dengan perintah dari Rivan tanpa ada yang ia kurangi ataupun lebih kan.
" Ya Tuhan kenapa aku tidak pakai kursi roda saja tadi, sekarang jadi kena getahnya kan karena tidak bisa berjalan dengan benar dan akhirnya kedahuluan sama mereka !" ujar Rivan dalam hati.
dengan langkah perlahan akhirnya Rivan sampai dalam mobilnya, karena khawatir dengan keadaan Dinda ia memilih duduk di belakang bersama dengan wanita yang sedang pingsan.
sengaja ditaruhnya kepala Dinda di atas pangkuannya lalu menyuruh Vigo untuk mengikuti iring-iringan mobil jenazah, dilihatnya wajah Dinda yang sedang pingsan itu tersirat guratan kesedihan di dalamnya.
dirinya tahu selama ini wanita yang dahulu dikenal nya cempreng dan sangat dekat dengan Selina mencoba untuk tegar, Tapi tetap saja hati seseorang tidak bisa untuk dipungkiri jika rasa kesedihan itu pasti selalu ada.
" aku yakin kamu kuat dan bukan merupakan wanita yang lemah, suatu saat pasti kesedihan kamu hari ini diganti dengan kebahagiaan yang tiada tara!" gumam Rivan yang tanpa sadar mengusap pelan rambut Dinda yang sedang pingsan.
sedangkan Selina dan Alex pergi ke rumah Dinda dengan memakai mobil mereka sendiri, Selina terlihat begitu khawatir dan tak menutup rasa sedihnya juga.
" Kamu tahu tidak Mas dulu Mas Devan itu merupakan orang yang paling baik, dia bahkan tidak segan-segan membantuku Padahal kami berdua itu merupakan orang asing yang tidak saling mengenal. Kalau tidak ada dia entah jadi apa aku saat itu, hidup di negeri orang dengan uang saku pas-pasan mungkin jadi gembel pastinya." Selina mengatakan hal itu sambil memejamkan matanya membayangkan betapa susahnya hidupnya waktu dahulu.
Alex mengusap pelan bahu istrinya itu karena cerita yang Selina ucapkan tadi Berawal Dari Dirinya, yang tidak pernah memperlakukan istrinya itu dengan baik.
__ADS_1
" Kamu jangan ngomong gitu dong nantinya pasti marahin aku juga kan, karena semua peristiwa itu berawal dari kebodohan ku di masa lalu!" bujuk Alex sambil mengecup pelan tangan istrinya yang sedang dipegangnya itu.
Selina tersenyum karena tak ingin membuat keduanya menjadi salah apa, Bukankah masalah hari lalu tinggalkan di hari lalu dan memulai hidup untuk hari yang baru?
" Kamu jangan ngomong gitu dong aku kan nggak pernah mengungkit hal itu lagi, karena nanti hubungan kita bakalan runyam jadinya!" tolak Selina sambil tersenyum.
" Terima kasih karena telah memilih aku kembali Terima kasih pulang memberikan aku anak-anak yang terbaik, Maafkan aku jika selama ini belum bisa memberikan yang terbaik kepada kamu. Tapi jujur nyawa pun akan kuberikan Jika kamu memintanya, hanya saja untuk sekarang tetaplah disisiku Apapun Yang Terjadi!" Alex menjadi mewek ketika mengingat masa lalu dengan bertubi-tubi kesalahan yang pernah ia lakukan.
" Mas Rivan sama Dinda gimana ya Mas , sebentar kalau Dinda sadar terus ngamuk karena hanya ada Rivan gimana?" tanya Selina khawatir.
" jangan curigaan gitu napa, lagian kalau mereka saling pukul, itu mah urusan mereka Lagian biar Dinda tidak terlalu sedih kan?" sahut Alex santai.
" iya juga ya biar Dinda tidak terlalu memikirkan Mas Devan, bukannya apa-apa sih hanya kasihan saja kalau sampai dia terlalu larut dalam kesedihan!" Selina mendukung penuh perkataan suaminya.
" Mas bangun kita sudah pulang ke rumah nih, Katanya pengen pulang kan Nah kita sudah pulang! jangan tidur saja Nanti sebentar mereka bakalan bawa kamu pergi jauh dariku dan kalau kamu nggak bangun juga aku juga ikut sama kamu sekarang!" teriak Dinda Lirih tak peduli dengan tatapan semua orang yang ada di situ.
mendengar suara Dinda yang sangat nyaring itu, Selina memilih untuk segera turun dari mobil dan menyusul sahabat yang sangat menangis sambil Meraung.
" Dinda sabar dong, kamu jangan seperti begini kamu harus ikhlas agar Mas Devan jalannya lebih mudah!" bujuk Selina kepada Dinda yang terlihat sangat tak berdaya itu.
Dinda memeluk erat sahabatnya itu karena ingin membutuhkan dukungan untuk perasaannya kini, tubuh kaku suaminya telah berbaring di ruang keluarga para pelayat pun sudah datang untuk menyampaikan Bela sungkawa.
Dinda Hanya duduk di samping Devan sambil menatap kosong kearah tubuh suaminya, dirinya seolah tak percaya jika hari itu datang juga. hari dimana ketika orang yang paling berharga dalam hidupnya pergi, hari yang dimana tak pernah dirinya harapkan sama sekali kehadirannya.
__ADS_1
" kamu tega Mas pergi begitu saja, tinggalin aku sendiri kayak orang kebingungan seperti ini! untung juga kebetulan Selina dan Tuan Alex di sini, Kalau tidak aku sama siapa? " gumam Dinda pelan.
Alex sedang mengurus pemakaman karena takut nanti terlalu sore akan adanya badai salju susulan lagi, dia ingin yang terbaik untuk sahabatnya itu meskipun keduanya memang tidak terlalu dekat.
berbeda dengan Rivan yang memilih duduk di samping Dinda walaupun sedikit jarak sekitar 1 meter begitu, ia ingin memberikan dukungan kepada wanita yang dahulu sering berdebat dengannya.
" kamu kok bisa pergi ya tinggalkan istrimu sendiri, Padahal aku yang jomblo lagi Usaha cari istri Eh kamu yang sudah ada malah ditinggalkan untuk selama-lamanya lagi!" batin Rivan sambil menggelengkan kepalanya.
" Hey kamu kenapa duduk di sini saja bantuin dong, makanya punya kaki itu jangan terlalu kurang ajar akhirnya cedera kan?" tanya Alex sambil tersenyum mengejek.
Astaga Alex mah keterlaluan orang lagi berduka malah ngajakin orang buat bertengkar, ada-ada saja jalan pikirannya padahal katanya sekolah lulusan luar negeri?😱😱😱
" mas jalan saja ke sana ngapain sih repot-repot di sini, jangan mulai lagi deh berdebat salah tempat model begini!" sungut Selina sambil memasang wajah cemberut.
Alex memilih pergi saja dari situ daripada kalau lama-lama melihat wajah tanpa berdosanya Rivan, membuat dirinya ingin segera mengeksekusi pria bodoh itu.
" Hei kau asistennya si kutu kupret, Ayo ikut denganku Jangan hanya jadi patung Asmat saja! dasar Bos sialan yang hobinya hanya terima bersih, Awas aja kalau Sebentar aku tahu kamu godain istriku! bakalan ku potong anumu terus kukasih ke Inu mu yang berada di lautan lepas." ancam Alex sambil menatap sinis ke arah Rivan yang memilih tak peduli sama sekali.
Selina hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena ia yakin permusuhan Alex dan Rivan tidak akan pernah ada habisnya sampai kapanpun.
Alex udah pergi membuat Rivan dengan mudahnya bisa mendekati Selina, terlihat Selina memilih menjauh Karena sangat tak nyaman dengan sikap Rivan itu.
" kamu ngapain sih Mas dekat-dekat, sana pergi dekati Dinda dia yang berduka Bukan Aku? Lagian hobi banget sih jadi orang cari Kesempatan Dalam kesempitan, untuk juga Mas Alex nya lagi pergi Coba kalau tidak lama-lama kamu juga ikutan tidur di samping Devan! " Ketus Selina kesal.
__ADS_1
" jangan bilang otak kamu juga sih diriku terkontaminasi dengan suami kamu itu, kalau sampai itu terjadi tahu tidak aku sungguh tidak ikhlas ? " sahut Rivan santai untung juga tidak ada Alex di sekitaran situ Kalau tidak mau urusannya bakal lebih panjang lagi.