
Hai READER
Gimana Lanjut????
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Kedua pasangan suami isteri itu bahkan tak peduli dengan keadaan sekitar,karena bagi mereka apa yang terjadi sekarang lebih penting dari yang lain nya.
"Ya sayang seperti itu!" Pinta Devan sambil memejamkan matanya.
"Ih kan aku sudah bilang stop jangan banyak bicara,nanti aku cabut ini nih!" Ketus Dinda.
"Iya maaf bukan nya menikmati keadaan lebih penting,daripada merutuki nya!" Sahut Devan tak mau di salahkan.
"Hmmm diam!" Ujar Dinda yang menahan kesalnya.
Devan sebenarnya ingin tertawa,memilih lebih baik menikmati Woman on Top diatas tubuhnya itu.
"Oh Tuhan selesai sudah pinggangku!" Batin Dinda karena dirinya sudah tak sanggup lebih lama lagi akan tetapi ia juga tak tega pada sang suami .
Karena wajah Devan sangat menikmati hal itu,maka ia pun terpaksa dengan ikhlas membuat Suami nya menjadi senang.
Setelah bertempur dengan waktu,akhirnya surga dunia berhasil mereka raih.
Dinda yang kecapaian memilih turun dari tempat tidur dan membersihkan dirinya di kamar mandi,ia sebenarnya memerlukan tidur sekarang tapi tak tega melihat suaminya kesusahan.
" sayang kamu kok langsung turun apa nggak capek, ayo sini istirahat sampingku dulu Nanti baru kita bersihin badan sama-sama!" Panggil Devan karena tak tega melihat istrinya yang kesusahan berjalan menuju kamar mandi.
" aku nggak papa kok Tunggu saja di situ, karena aku merasa gerah sekali ini pengen puas-puasin mandi agar lebih nyaman! "keluar sahut Dinda sambil tersenyum karena tak ingin suaminya menjadi tak enak hati.
Devan tahu arti dari senyuman istrinya itu, hanya saja ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia tak ingin Dinda marah dan memperkeruh suasana.
" Maafkan aku sayang, karena menjadi seorang suami yang sangat tidak berguna. aku selalu berdoa pada Tuhan agar secepatnya mengambil nyawaku, biar kamu tak perlu lagi terikat dengan pria tak berguna sepertiku!" lirih Devan pelan.
Iya pun memperbaiki pakaiannya karena tak ingin bergantung pada Dinda, sebab Nanti kalau ada yang masuk dan melihat penampilannya bakalan jadi viral dunia sejagat.
dokter yang bertugas memeriksa keadaan Devan, menjadi heran ketika suster yang ia suruh memeriksa kan infus pasien yaitu cepat sekali kembali ke ruangannya.
Anggap saja orang di Italia sana kalau berbicara pakai bahasa Indonesia, agar semua pembaca tersayang bisa mengerti apa yang mereka maksud.
karena aku tuh capek bolak-balik ngecek Google Translate, buat cerita yang berbahasa Italiano.
" lho suster Kamu kok sudah kembali, barusan tadi saya suruh kamu buat ngecek keadaan Tuan Devan? "tanya dokter itu penasaran.
"itu dok mmm gimana ya jelasinnya, soalnya Saya bingung cara menggambarkannya itu seperti apa? habisnya apa yang saya lihat dan Saya dengar itu, sungguh membuat bulu Kuduk merinding! " ujar Suster itu sambil mengibaskan tangannya merasa gerah.
"Memangnya apa yang Anda dengar suster?" tanya dokter itu penasaran.
" dokter Maaf sebelumnya saya lancang, hanya saja ada kan sudah besar sudah dewasa yang sudah paham urusan begituan tidak purusa jelaskan secara terperinci yang penting Intinya satu saja saya tadi tidak jadi masuk ke dalam ruangan Tuan Devan! " ujar Suster itu langsung bergegas pergi dari situ.
__ADS_1
dokter itu pun akhirnya mengerti apa yang dihadapi oleh susternya itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mungkin kalau bisa sedikit membayangkannya kejadian yang dilihat itu karena ia juga pernah merasakannya.
" dasar orang kaya mau di mana saja Kapan saja kalau lagi ingin langsung capcus, Coba kalau masyarakat awam ih bisa dipastikan sengsara ya? "gumam dokter itu monolog.
sebenarnya melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan halal otomatis harus melihat tempat dan situasi, entah mau orang kaya atau miskin itu sama saja Etika itu dijaga ***** itu bisa dikendalikan tergantung dari orangnya saja.
bila uang adalah raja dunia ya memang autor setuju, tapi yang tidak setuju jika karena uang anda menjadikan diri Anda raja itu yang salah.
kini Dinda sudah selesai mandi ia sudah merasa segar kembali hanya saja pinggangnya encok mah masih butuh pijatan relaksasi, dilihatnya suaminya itu sudah tertidur ketika ia keluar dari kamar mandi.
senyuman Terukir di wajah cantiknya itu bagaimana tidak sang suami hari ini terlihat selalu tersenyum walaupun yang melakukan hal sekecil itu, ada kebahagiaan tersendiri dalam hatinya ketika melihat Devan bisa tertawa lepas.
" Maafkan Aku Mas Jika selama ini aku selalu marah kepadamu, hanya saja Ini Semua kulakukan kan karena aku tak ingin kehilangan kamu apalagi Berpisah Darimu walau sedetik pun. kamu harus kuat Ada Aku Disini kamu harus sehat Aku menunggumu kamu harus bisa untuk hari esok kita, karena aku bingung harus bagaimana jika tidak ada kamu aku bergantung padamu suamiku tersayang! " lirih Dinda pelan.
tanpa dirinya sadari ternyata dari tadi Devan mendengarkan semua perkataannya, akan tetapi ia itu terus berpura-pura tertidur agar sang istri tidak marah ataupun menangis di dihadapannya.
" Ya Tuhan bisakah kau dengar permintaan istriku dia tak meminta apapun ya juga tak menginginkan apapun selain diriku Tolonglah hambaMu yang tak berdaya ini! " lirik Devan dalam diam.
Dinda mengguncang tubuh suaminya agar bangun karena ia harus membersihkan sisa-sisa keringat yang ada, merasa tubuhnya ada yang menggoyang Devan pun segera bangun dan menatap ke arah istrinya itu.
" bangun dong sayang aku bersihin Tubuh kamu ya, soalnya nya aku yakin kamu pasti nggak nyaman kan? " bujuk Dinda sambil tersenyum.
"Ya Padahal tadi aku pengen mandi bareng loh, Kamu kok tega ninggalin aku Yang?" ujar Devan merajuk.
" hehehe Soalnya aku udah nggak nyaman Mas, jangan marah dong Nanti gantengnya hilang loh!" bujuk Dinda sambil tersenyum.
"kamu nggak mau mandi sama aku karena tubuh aku penuh alat-alat medis ya, aku bisa kok lepasin semuanya hanya untuk bisa mandi bareng kamu sayang ? " tanya Devan dengan wajah yang tak bisa diartikan.
" kamu bisa mengerti diriku Walau sedikit saja, Aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang nantinya akan membahayakan kamu dan membuat kamu tidak nyaman! Pernahkah Dulu waktu kamu masih sehat Aku menolak semua keinginan kamu, tidak kan bahkan tidak sama sekali? "tanya Dinda memastikan.
Devan diam apa yang dikatakan istrinya itu benar apa adanya, hanya saja Ia juga bingung pada dirinya sendiri yang akhir-akhir ini begitu terlalu sensitif pada suatu hal yang tidak jelas sama sekali.
"Maafkan aku sayang aku juga bingung kenapa aku bisa jadi se melow ini, ya sudah ayo bersihkan tubuh suamimu ini tidak enak kan kalau orang datang baru Tubuhku masih bau Apa akibat dari tadi ada yang manjat manjat! " goda Devan membuat Dinda mendengus kesal.
" Ih kamu menyebalkan sekali jadi orang depannya senang dikasih layanan plus-plus, ini malah ngeledek lagi awas aja nanti kalau kamu minta aku nggak bakalan mau! "ketus Dinda kesal.
" hehehe Jangan marah dong Yang aku mah Tadi hanya bercanda, kan manis semanis gula yang suka marah-marah kan?" tanya Devan sambil mengedipkan matanya membuat Dinda yang tadi ingin marah langsung mengurungkan niatnya itu.
" sudah diam kamu lama-lama aku plakban mulutmu biar bisa diam, jadi cowok kok mulutnya ember kayak perempuan yang kelebihan mulut! " Sindir Dinda.
"Oh kalau mulutnya perempuan mah bikin enak yang,apalagi yang dibawa bikin aku merem melek kayak tadi! "Goda Devan lagi dan lagi.
" ih bisa tidak jangan ngomong kayak gitu aku kan jadi malu, awas aja aku dengar kamu ngomong aku hajar kamu! " ancam Dinda yang sebenarnya karena malu.
Devan hanya tersenyum namun senyuman itu mungkin karena penyakit yang ia derita terlihat sangat menyedihkan, Dinda ingin menangis apalagi melihat tulang rusuk suaminya itu yang sangat kentara.
istri mana yang tidak terluka ketika melihat keadaan suaminya yang sangat menyedihkan seperti itu, tubuh yang dulu kekar dan berotot hilang sudah diganti dengan hanya kulit bungkus tulang.
" sayang kamu sudah cari tahu nomornya Selina di Indonesia, biar dia datang untuk temani kamu? soalnya aku nggak tega lihat kamu sendiri seperti ini, biar kamu bisa ada teman buat ngobrol! "tanya Devan penasaran.
__ADS_1
Dinda yang sedang memakaikan pakaian untuk Devan, hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. ia sama sekali belum mendapatkan kontak Selina, pada semuanya itu dapat dengan mudah ia dapatkan.
" nanti saja kalau kamu sudah ada perubahan kita ke sana saja aku kangen loh sama dia, untuk Sekarang aku ingin fokus dengan keadaan kamu kalau sudah sembuh baru bisa memikirkan hal lain! "sahut Dinda berbohong berbeda dengan hatinya.
"Aku tidak pernah melarang lho sayang kamu berhubungan dengan siapa saja, apa lagi dengan Selina aku lebih mendukung lagi pastinya! " Devan menimpali.
" Idih tidak tahu malu kamu sok-sok panggil Selina kesini, kamu kangen kan sama dia hanya modusin aku biar bisa nelpon dia ke sini? " tanya Dinda sambil dengan memasang tatapan menyelidik membuat Devan terkekeh.
" aih Siapa bilang begitu sih aku ngomong serius loh tadi, tapi kalau dia datang ya boleh juga! " ujar Devan.
" kamu nggak sadar sama posesifnya suaminya Selina itu, yang dulu saja Sok jual mahal Eh sekarang murahan pun tidak bakalan laku?" tanya Dinda sinis.
" Iya benar juga sih kamu dulu waktu Celina minggat terus tinggal sama aku eh ralat maksudnya kerja sama aku, banyak lo pria tampan yang naksir sama dia aku saja bingung ini ada kesempatan apa tidak?" ujar Devan sambil tatapannya menatap keatas menerawang masa lalu.
" Terus kenapa kamu nggak nikahnya sama dia tapi sama aku ? " tanya Dinda berusaha menahan cemburu.
" itu karena kamu itu jodoh masa depan aku jadi Biarpun aku dekat sama Selina ataupun tinggal bareng dia, Jika dia itu jodohnya orang ya Aku bisa apa pasti cuma bisa jagain doang!" sahut Devan santai membuat Dinda yang tadi ingin emosi langsung tersenyum malu-malu.
" Ih kamu manis banget sih jadi orang, aku kan jadi malu ingin terbang terbang melayang terus bolak-balik begitu kayak lumba-lumba salto-salto." Dinda mengatakan hal itu sambil menggenggam tangan depan bahkan sekali-sekali menciumnya.
tok tok tok
" Permisi tuan dan nyonya Apa boleh saya masuk? "Tanya Dokter yang sudah berada di pintu keluar.
" stop, Ayo perbaiki pakaian kamu itu ada orang mau datang malu-maluin aja nanti mereka Pikiran apa kalau pintu kita pakai tutup segala?" ujar Dinda tajam lalu segera menuju ke arah pintu dan membukanya.
" silakan masuk dok Maaf tadi baru habis gantiin pakaiannya Mas Devan, jadi saya sementara Kunci pintunya dulu! "ujar Dinda memberikan alasan tapi sebenarnya betul juga sih tadi kan dikasih mandi Devan.
" Ah tidak apa-apa nyonya, Saya hanya ingin mengecek keadaan tuan Devan sekalian suster memeriksakan infusnya Apa masih ada atau sudah habis!" jelas dokter yang sudah lanjut usia itu.
Dinda memberikan jalan agar mereka masuk ke dalam, Lalu setelah itu berdiri di samping Devan melihat dokter itu bekerja.
"dokter, Apa saya bisa pulang ke rumah soalnya sudah bosan di sini terus tidak ada kerjaan, bau obat sunyi tidak jelas mau tidur sama istri saya juga tidak bisa?" tanya Devan memastikan.
Dinda hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar kata-kata kata absurd milik suaminya itu, tak percaya jika Devan tanpa malu-malu menanyakan hal itu pada dokter yang sedang memeriksa nya itu.
suster yang bertugas otaknya langsung traveling nakal, bagaimana tadi ia sendiri melihat dengan mata yang berada di kepala bagaimana pengusaha dan istrinya itu melakukan hal-hal yang berbau erotis di rumah sakit itu.
tanpa sengaja Dinda melihat tatapan suster yang terbiasa kepadanya dan suaminya, akan tetapi dia hanya menganggap itu hanya sebagai angin lalu saja.
" suster Tadi katanya mau periksa infus suami saya, kenapa sekarang melihat ke arah lain Kapan bekerjanya? "tanya Dinda sinis.
sumpah demi Dewa Neptunus, rasa ini menenggelamkan tubuhnya di lautan yang paling dalam terdingin dan termengerikan selain dari kutub utara.
" Ya Tuhan tolong pinjamkan aku pintu Kemana saja milik Doraemon, sungguh aku sudah tak sanggup berada lebih lama di sini tatapan Nyonya sungguh sangat mematikan! "batin Suster itu sambil menundukkan kepala tak berani menatap ke arah depan apalagi mengangkat wajahnya Oh lebih tidak lagi.
"Suster kerja yang benar setelah itu ke ruangan saya sebentar saya ada perlu, Permisi tuan Devan saya sudah selesai saya permisi dulu mohon pamit nanti kalau ada apa-apa tinggal pencet Belnya saja! " ujar dokter itu sambil tersenyum dan dan pergi dari tempat itu.
Tatapan Dinda tajam hanya mengarah para suster yang sedang mengganti infus suaminya, entah apa yang ada dalam pikiran wanita Indonesia itu hanya saja Ia seperti sedang menatap bahaya yang sedang mengintai.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa aku melihatnya Sampai segitu, aku nggak papa kok jadi Jangan cemas ya? "tanya Devan tak peduli jika ada orang lain yang disitu.
"aku nggak papa kok mas hanya lagi pengen lihat susternya saja, siapa tahu ada lalat yang nampol di dia biar aku hajar!" sahut Dinda sinis.