
HAI READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMMEN NYA YA YA
KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
ππππππππππ
LANJUT ^^^
Setelah puas mencium bibir Alina,Rafa langsung menarik kepalanya kembali.Ia mengusap bibir basah Alina dengan ibu jarinya,di kecup nya puncak kepala Alina.
"Aku mencintaimu Alina Roberto sangat sangat mencintaimu," bisik Rafa pelan.
"Astaga sungguh memalukan apa yang terjadi," gumam Alina pelan.
"Kamu omong apa sih Yang?" Tanya Rafa pelan.
Alina hanya menggelengkan kepalanya karena malu,sebab dalam mobil itu bukan hanya mereka berdua saja.
"Kamu sungguh menyebalkan,dan sungguh memalukan aku ingin pergi dari sini sekarang juga," ujar Alina pelan.
"Jangan begitu dong Yang,kamu harusnya bersyukur aku selalu mesra sama kamu.Aku hanya ingin membuat kamu nyaman,dan tidak menjauh terus," Balas Rafa sendu.
Ia bingung dengan jalan pikiran gadis itu,dijauhi malah mendekat eh giliran didekati malah menjauh ada ada saja.
"Jadi kamu mau nya bagaimana? tapi kalau menyuruh ku untuk menjauh lebih baik aku kembali ke Italy dan tak kan kembali kesini seumur hidupku," ucap Rafa yang terlihat frustasi.
Deg
Alina langsung terdiam ia langsung menyadari kesalahan nya yaitu tak memikirkan perasaan pria di samping nya ini.Mungkinkah dirinya egois,tapi ia juga bingung dengan perasaannya yang tak tega memberikan harapan palsu.
"Maafkan aku Bang,tapi jalani saja dulu ya jangan terlalu memaksa aku harus sama dengan mu karena aku belum bisa," pinta Alina.
"Yesss,jadi kamu bakal terima aku kan Yang?" Tanya Rafa penuh harap.
"Memangnya aku bisa nolak?" Tanya Alina penasaran.
"Hehe iya juga sih," ujar Rafa cengengesan.
"Masalah beres ya Mas?" Tanya Sopir itu.
"Mas,itu apa Yang?" Bisik Rafa bingung.
"Lah kamu tidak sadar kalau dari tadi dia manggil kamu seperti itu?" Tanya Alina heran.
"iyakah?" Tanya Rafa heran.
__ADS_1
"Itu artinya panggilan untuk laki laki yang lebih tua dari kita." Sahut Alina menjelaskan.
"Kalau begitu mulai sekarang kamu panggil aku Mas," pinta Rafa.
"Yang tampang begini dipanggil Mas mana cocok," tolak Alina.
"hehe iya Eneng,cocoknya dipanggil Akang bule itu," si sopir menimpali.
"Pak berhenti didepan itu ya," pinta Alina yang melihat rumahnya sudah berada didepan.
"Ok baik eneng," Sahut sopir itu.
"Ayo bang turun!" ajak Alina.
"I Love you," ujar Rafa sambil tersenyum.
"Gila nih orang disuruh turun dari mobil eh malah menyahutnya aneh aneh saja," ujar Alina sambil menggeleng kepalanya.
Ketika mang udin melihat majikannya sudah masuk langsung menyambut mereka,ia senang karena tuannya itu tidak kenapa napa.
"Ya Tuhan terima kasih akhirnya Tuan muda dan Nona selamat," ucap Mang Udin tulus.
"Makasig Mang,kami masuk dulu ya!" Balas Alina sambil tersenyum.
"Bisa tidak jangan senyum senyum begitu!" Kesal Rafa sambil berbisik.
"Lha maunya aku hanya memasang tampang datar dan dingin begitu?Lagian senyum sama orang itu ibadah tau nggak sih,jadi kalau kamu orangnya tidak tahu senyum ya sudah bodoh amat," sindir Alina.
"Woii jadi kamu pikir kalau aku senyum sama seseorang itu artinya aku suka begitu ke dia? Apalagi yang kepalanya rambut takut tumbuh seperti Mang Udin?" Tanya Alina tak mengerti dengan jalan pikiran Rafa.
"Abang Rafa lagi terbakar tapi bukan api tapi Cembukorπ€£π€£
"Sayang kamu nggak kenapa napa kan, mana yang terluka coba sini Bunda lihat?" Selina terlihat sangat khawatir.
"Jadi Bunda mau aku luka begitu?" Tanya Alina heran.
"Hus sembarangan kalau ngomong,yang tadi itu tandanya khawatir tau tidak," Kesal Selina atas ketidak pekaan putrinya itu.
"Uwuuwu manis nya Bunda ku ini kalau lagi ngambek,aku baik baik saja kan ada Abang yang datang tepat waktu," ucap Alina sambil tersenyum kepada Rafa namun yang dilihat hanya membuang muka.
"Ah nasib suka sama adik sendiri,pasti kembali kerumah jadi Abang langsung," gumam Rafa dalam hati.
"Ayo Bunda temani kamu kekamar biar mandi,badan kamu lusuh sekali pasti kerjaan pria brengsek itu kan?" Tanya Selina segera menarik tangan putrinya.
"Ini bukan kerjaan orang lain kali Bun,tapi si babang tampan putra kesayangan Bunda. Karena dia tadi sudah mengobrak abrik segala kepunyaan putri mu ini,tapi aku juga suka sih," Batin Alina.
"Abang ikut Ayah sekarang!" pinta Alex serius.
Rafa mengikuti langkah kaki Sang Ayah,jika dipikir pasti ini adalah ruang kerja Alex.
__ADS_1
"Duduk dulu boy," perintah Alex tanpa menoleh kearah Rafa karena dirinya sibuk mengambil berkas yang tadi diberikan anak buahnya itu.
"Ini semua laporan tentang keluarga Hermawan,Ayah minta kamu segera membereskan mereka tanpa sisa.Dan untuk si brengsek itu biar Ayah saja yang turun tangan,karena dia sudah berani macam macam sama anak Ayah," ucap Alex.
"No,soal pria kurang ajar itu aku yang urus karena yang tadi Rafa lakukan belum puas.Dan untuk yang lain nya tetap nanti aku yang bakal tanggung jawab." Tolak Rafa tegas dan ingin agar Alex menghargai keputusannya.
"Aku yang bakal turun tangan setelah ini jika ada yang sudah lancang menyentuh sesuatu yang menjadi milik ku," gumam Rafa yang mengepalkan tangan karena emosi.
"Baiklah jika itu mau kamu,tapi Ayah juga mau minta pendapat kamu tentang tawaran rekan bisnis Ayah!" ujar Alex.
"Apa itu Yah?" Tanya Rafa penasaran.
"Mereka ingin agar putra mereka berhubungan dengan Alina,ya paling tidak pengenalan dulu mengingat Alina masih sekolah," jelas Alex.
"oh cobaan apa lagi author,kalau gini terus aku hilang lagi deh tambah sepuluh tahun,"
"Maksud nya Ayah mau menjodohkan Alina gitu?" Tanya Rafa gusar.
Alex mengeryitkan keningnya karena selama ini ia tak pernah mendengar Rafa memanggil Alina dengan namanya saja. Ia ingin bertanya tapi mungkin Rafa keceplosan saja maka dari itu langsung memanggil nama Alina.
"Bukan juga sih tapi hanya pengenalan saja kok,nanti kedepannya tergantung Adeknya saja maunya gimana." Sahut Alex.
"Alina sudah tahu soal ini?" Tanya Rafa memastikan.
"Setelah ngomong kekamu Ayah bakal langsung ngomong ke dia," jawab Alex.
"Terserah," Ucap Rafa yang langsung keluar dari ruangan itu daripada ia menunjukan kekesalan didepan sang Ayah kan bisa berabe.
"Huft,Ayah bisa tidak anak gadismu itu kasih kepadaku putramu ini saja,Karena kalau tidak aku bisa gila," ucap Rafa pelan.
Semua tingkah Rafa dilihat Alex,membuat pria itu menatap penuh tanda tanya sebenarnya apa gerangan yang terjadi kepada Rafa.
"Kenapa lagi tuh anak,kaya orang lagi patah hati saja," gumum Alex.
"Kamu kenapa Yang?" Tanya Selina heran.
"Adeknya mana?" Tanya Alex balik.
"Lagi istirahat dikamarnya,gimana tentang pria kurang ajar itu apa Ayah sudah mengurus nya?" Tanya Selina memastikan.
"Nanti Abang sama anak buah Ayah yang urus." Sahut Alex.
"Oh ya sudah kalau begitu,aku mau kekamar dulu mau mandi soalnya bau keringat akibat kerjaan orang mesum tadi," sindir Selina.
"Hehe kamu tahu tidak Yang,tadi saat kamu panik terus duduk berdiri jadi kelihatan seksi makanya aku minta jatah biar jangan terlalu panik," ujar Alex yang tak ingin disalahkan.
"Eh asal kamu tahu ya kalau kita satu satunya orang tua didunia yang saat anaknya diculik malah asyik enak enakan ," Kesal Selina sambil masuk kedalam kamarnya.
"Ya namanya kebutuhan bagian bawah,pasti tidak akan mengenal waktu untuk aselolenya," ujar Alex pelan.
Rafa yang sebenarnya hanya pura pura masuk kedalam kamarnya,memilih menuju kekamar Alina.Ia ingin melihat keadaan gadis itu,karena ia sangat dilema sekarang.
__ADS_1
Mungkinkah ia harus mengikuti kemauan Alex sebagai rasa baktinya,atau ia harus berjuang demi rasa cinta itu.
Tapi bukankah mencintai itu bukan sesuatu yang salah,lagian ia dan Alina tak punya hubungan apa apa yang membuat mereka berdosa.