
HAII READERKU TERSEYENG
MAAF JIKA KURANG GREGET...CERITANYA...
MAKLUMLAH ANTARA REAL LIFE DAN DUNIA HALU DISATUKAN RADA JEBLOK...
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
LANJUT ****
Kini semua keluarga Roberto duduk dimeja makan,terlihat Alex sedang risau memikirkan sesuatu yang mengganjal hatinya.
Semua tingkah laku Alex,tak luput dari pengamatan Selina.Ia heran dengan perubahan mood Alex,padahal tadi baik baik saja.
"Kamu kenapa sih Yang,mukanya kaya lagi ada beban pikiran begitu?" Tanya Selina penasaran.
"Ayah bingung harus bagaimana,karena tadi Ben ada telfon dari Amerika Minta tolong Ayah kesana untuk menemui para investor!" ujar Alex gusar.
"Lho kok gitu,bukanya semua itu sudah diserahkan atas nama Ben?" Tanya Selina bingung.
"Hemm itu dia masalahnya,ternyata selama ini Ben tidak pernah Alihkan saham perusahan atas nama dirinya.Jadinya semua itu masih milik kita,dan Ayah adalah pemegang saham terbesar." Sahut Alex.
"Jadi kamu mau kesana?" Tanya Selina memastikan.
"Bingung Bunda!" lirih Alex yang tak bisa berpikir jernih.
"Tapi kondisi Ayah tidak bisa lho buat pergi jauh," lirih Selina juga karena berat mengijinkan suaminya pergi dengan kondisi yang tidak fit.
"Kalau bukan Ayah terus siapa lagi yang bakal bisa pergi Bunda,jadi mau tak mau harus pergi," ucap Alex sambil berusaha Tersenyum.
"Aku yang akan pergi gantikan Ayah kesana!" Sahut Rafa percaya diri membuat semuanya memandang penuh keterkejutan kearahnya.
"Abang kok gitu sih,pokoknya Bunda tidak ijinkan." Ketus Selina.
"Bunda jangan begitu ya,bukan kah semua untuk kebaikan apa yang telah Ayah usahakan selama ini.Jadi Abang yang merupakan anak laki laki satu satunya,harus bisa menghandle semuanya." Jelas Rafa yang tak mengerti dengan suasana gadis cantik disamping nya kini.
"Kalau menurut kamu gimana Dek?" Tanya Selina kepada Alina.
"Apa menurut kalian pendapat Aku penting sekarang?" Tanya Alinan sinis.
"Lho Kamu kok jadi marah sih Yang,aku pasti akan kembali kok."Bujuk Rafa tapi dengan cara yang salah.
"Pergilah yang jauh mungkin bila perlu tidak usah kembali lagi," ucap Alina kesal lalu membanting sendok yang dipegangnya.
Alina meninggalkan meja makan dengan emosi diubun ubun siap meledak sewaktu waktu.Ia kesal karena Rafa seperti nya melupakan dirinya,dengan cepat diambilnya tas dan kunci mobil lalu berlari keluar rumah.
__ADS_1
Rafa dengan cepat segera mencegah Alina,tapi sayang perempuan itu seakan tak peduli sama sekali.
"Sayang kamu jangan begitu dong,ayolah dengerin aku dulu," bujuk Rafa tapi sayang tak diindahkan Alina sama sekali.
"Sayang dengerin aku dulu!" Ujar Rafa setengah teriak.
Alina kini sudah berada didepan pintu mobil dan tak menatap kearah Rafa sama sekali,ia bahkan membuka pintu mobil dengan wajah yang menahan tangis.
"Alina Roberto aku bilang berhenti,jika tidak aku akan pergi dan tak kan pernah kembali lagi!" Ancam Rafa yang sudah tersulut emosi sebab Alina tak mengindahkan dirinya sama sekali.
Alina menoleh kearah Rafa dengan tatapan menbunuh,ia pun tersenyum mengejek.
"Kamu yakin kembali kesini karena cinta sama aku,atau hanya ingin merusak diriku saja? Apa yang ada di dalam otak kamu aku sudah tahu,dulu waktu baru sampai disini kamu langsung minta kuliah diluar negeri.sekarang setelah membuat aku merasakan hal yang belum seharusnya terus kamu dengan entengnya ingin pergi lagi," Ujar Alina tajam.
"Pergilah bila perlu tak usah kembali,jika hanya ingin balas budi ataupun balas dendam.Aku Alina Roberto tak kan pernah menganggap kamu ada,pria plin plan yang tak punya prinsip!" Sambung Alina lagi lalu segera masuk kedalam mobil dan pergi dari situ.
"Astaga Sayang,bukan itu maksudku?Alina dengerin aku dulu Yang,jangan pergi dengan keadaan marah nanti kamu kenapa napa," Teriak Rafa yang sambil berusaha menahan laju mobil Alina.
Pria tampan itu bahkan berdiri dengan membuka tangan nya lebar,agar Alina turun. Tapi Alina yang tak bisa berpikir jernih,malah melajuka mobil dengan kencang Rafa mau tak mau harus menghindar.
"Rafa awass." Teriak Selina dari dalam rumah ketika melihat Rafa terpelanting jatuh karena menghindari mobilnya Alina.
Alina sempat menghentikan mobilnya untuk memastikan keadaan Rafa,ketika dilihatnya ia baik baik saja Alina pun pergi dari situ.
Saat melewati Rafa ,pandangan keduanya bertemu Alina melihat tatapan penuh permohonan dari Rafa tapi pikirannya seakan mati.
"Maafin aku Abang,tapi aku rasa kamu tidak sungguh sungguh mencintaiku. Aku yakin dengan begini kamu akan mencari orang lain,bukankah selama ini kebiasaan kamu hilang muncul sesuka hati?" gumam Alina sambil membawa mobilnya membelah jalanan ibu kota.
"Aku harus mengejar Alina,Bunda.Dia pergi sambil marah marah,nanti bisa bahaya." ucap Rafa yang seperti orang kebingungan sambil berlari kecil menuju mobil nya.
"Tapi kamu terluka Nak,dilengan.Biar nanti Ayah suruh anak buahnya mencari adek ya,tolong kamu tinggal Bunda tidak akan tenang kalau kamu pergi jug," lirih Selina memohon.
"Maafkan Abang Bunda,tapi aku tetap akan pergi mencari Alina." tegas Rafa lalu pergi dari situ dengan memakai jacket yang ada dalam mobil.
"Ayahh telfon anak buah kamu sekarang,nanti Adek kenapa napa bagaimana? Dia tadi jalan sambil nangis,nanti kalau dia putus asa bagaimana." Lirih Selina sambil terduduk ditanah .
Rafa sudah pergi dari rumah,dengan sesekali menatap kiri kanan siapa tahu Alina berhenti dipinggir jalan.
Air mata Pria tampan itu lolos begitu saja,ia bingung harus bagaimana?Karena wajah Alina tadi tampak jelas kecewa,dan marah serta meragukan perasaannya.
"Kamu hari ini kenapa,padahal tadi aku hanya ingin membantu Ayah agar masalahnya beres.Bukan untuk meninggalkan mu selamanya,tapi hanya sementara," lirih Rafa dalam hati.
Alina mengendarai mobilnya dengan mematikan ponselnya ,yang ia andalkan sekarang adalah uang cash di dalam dompetnya.
"Jangan pernah mencariku,aku ingin menyelesaikan segala sesuatu dengan gaya berpikirku entah benar atau salah," Ujar Alina monolog.
__ADS_1
Sebenarnya dengan pergi atau kabur tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah,namun jika itu untuk membuat otakmu bisa berpikir jernih maka lakukanlah.tapi satu yang pasti,pasti kan bahwa rumah adalah tempat untuk pulang.
Alina pergi karena merasa dipermainkan ,Alina pergi karena Rafa tak pernah memikirkan dirinya.Padahal yang ia inginkan simple saja kok,hanya ingin dihargai dalam mengambil suatu keputusan.
Mobilnya terparkir sempurna dihotel bintang lima,setelah memantapkan hati Alina memutuskan masuk dan menuju meja resepsionis.
"Permisi Mbak,apa ada kamar yang kosong?" Tanya Alina pelan.
"Mau kamar yang model bagaimana?" Tanya Resepsionis itu.
"Yang biasa saja!" Sahut Alina.
"Oh baiklah,silahkan nona kamar anda 305 dan ini kuncinya. Apa ada barang barang yang bisa kami bantu bawa," Tanya Resepsionis itu lagi.
"Oh Tidak ada!" Sahut Alina lalu pergi dari situ ia hanya sibuk menoleh kesana kemari mencari kamar dan juga takut orang suruhan Ayahnya melihat diri nya hingga tak sadar menabrak seseorang.
Bughhh
"Awww cobaan apa lagi ini," gumam Alina pelan tapi masih bisa didengar orang yang ia tabrak tadi.
"Anda baik baik saja Nona?" Tanya Orang itu.
"Hemm baik tapi encok," Jawab Alina nyeleneh.
Pfthhh
Pria tadi menahan tawanya melihat wajah cemberut milik Alina,yang sedang berusaha bangkit sambil memegang pinggangnya.
"Bisa kah anda berdiri sendiri?" Tanya Pria itu lagi.
"Iya bisa tapi lama,kalau kamu baik hati bantuin dong," pinta Alina yang tanpa sadar malah menyuruh orang seenak jidatnya.
Grep
Karena tarikan pria kekar itu sedikit kuat,membuat Alina tanpa sadar memeluk jodoh orang.
"Aduh gimana nih malah peluk orang sembarang lagi nih tangan laknat," batin Alina dalam hati.
"You okay?" Tanya Pria itu.
"Yeah,i'm Ok." Sahut Alina sambil menjauhkan badannya.
"Mikael Wiliams." Ujar pria itu sambil menyodorkan tangannya namun Alina enggan mengambilnya.
__ADS_1
"Aline." Sahut Alina lalu pergi dari situ dengan buru buru.
"Wanita yang unik tapi cantik." Gumam pria yang biasa dipanggil Willi itu.