
HEHE KALAU NGGAK ADA PERUBAHAN,BAKAL AKU TAMATIN
TAPI BOHONG🤭🤭
HAPPY READING YA GUYS
LANJUT ***
Lala berdiri kebingungan,masa iya harus membangunkan Om Mesum sendirian.
"Aduh gimana dong,aku kan bingung harus bagaimana?" gumam Lala sambil mondar mandir kesana kemari.
"Kamu kalau mau bangunkan aku yang ikhlas dong,aku nungguin lho dari tadi," ujar Xaver yang masih menutup mata tapi dalam keadaan sudah sadar.
"Ihh Kalau sudah bangun ya langsung keluar sana,dicari tuh sama Om Alex,"ketus Lala sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
"Ehh kamu harus tanggung jawab dong,karena tadi yang buat aku jadi tidak bisa tidur ya kamu!" Ucap Xaver setengah berteriak.
"Lha kenapa jadi saya,orang situ yang paksa buat tidur disini kok." Sahut Lala tak mau disalahkan.
"Kamu yang minta tadi,apa kamu lupa?" Tanya Xaver seraya tersenyum mengejek.
"Ahhh sudahlah jangan cerewet ayo keluar ,memangnya kamu mau dapat tatapan mematikan dari Om Alex?' Ajak Lala sambil berjalan semakin menjauh.
"Lho kok aku ditinggal?" gumam Xaver heran dan pergi mengejar Lala.
"Pendek dimana Xaver?" Tanya Alex .
"Aishh Om mulutnya jujur sekali sih,Sudah tahu saya pendek tapi pake dibahas segala," gerutu Lala.
"Saya itu perlunya sama Ver,bukan sama kamu." Marah Alex..
"Lah saya juga datang karena dipanggil Alina kok,iya kan Beb?" Tanya Lala meminta pertolongan.
Alina hanya mengangkat bahunya pertanda tak tahu menahu.
"Astaga Lina,ini mah namanya kebohongan publik!" Ketus Lala sambil berjalan menuju ke sofa tempat Mikael duduk.
Melihat mahkluk Tuhan yang sempurna dihadapannya,Lala langsung membuka mulutnya lebar.
"Oh Tuhan tolong hambamu ini,kenapa mahluk mu yang paling seksi selalu bertebaran dimana mana?" Puji Lala sambil menepuk pipinya pelan.
"Lina ini bukan mimpi kan?" Tanya Lala lagi.
"Emak,Bapak anakmu minta kawin," ucap Lala sambil senyum senyum sendiri.
Pletak
Xaver menepuk pelan otak Lala,yang melihat keatah Mikael penuh nafsu.
"Awww,siapa sih sukanya ganggu saja," gerutu Lala dan menoleh kearah belakang.
"Kamu sana jauh,awas jangan dekat dekat.Karena sekarang saya lagi ada urusan sama si tampan,ahh aku jadi betah ada disini," ujar Lala antusias tanpa permisi duduk disamping Mikael.
"Ehemm,Haii where are you From Handsome?" Tanya Lala sok bahasa inggris.
"Kamu sakit?" Tanya Mikael heran.
__ADS_1
"Oh bagus ini pertanda bagus,ternyata kamu bisa bahasa indonesia.Kalau begini kita kan bisa lebih dekat lagi,atau mungkin bisa bertukar nomor ponsel gitu?" Tawar Lala antusias.
"Minggir," ujar Xaver datar lalu duduk ditengah antara Lala dan Mikael.
"Kamu kenapa masih disini," Tanya Alex heran karena Mikael belum ada tanda tanda untuk pergi.
"Ehh mana bisa begitu Om,orang aku nya baru datang masa langsung disuruh pergi saja," tolak Lala tak terima.
"Kamu itu yang minta pendapat kamu siapa?" Tanya Alex kesal.
"Ya bukan apa apa nih ya Om,aku kan belum laku laku sedang Alina sudah.Jadi yang ada didepan mata,aku pinjam dikit boleh dong," bujuk Lala lagi.
"Terus kalau kamu belum laku,urusan sama saya apa?Perusahan bangkrut,atau saya jatuh miskin?" Tanya Alex heran.
"Nah ini yang harus diperbaiki pemikiran yang seperti ini,orang yang sudah tua itu harus mendukung anak muda hitung hitung merubah keturunan begitu." sahut Lala percaya diri.
"Yang,aku rasa teman kamu itu mulut nya harus di jahit deh,soalnya nyerocos terus dari tadi kaya ****** Ayam," bisik Rafa pelan.
"Iya aku juga bingung,kenapa ya mulut nya mengerikan seperti itu?" Alina menimpali.
"Kamu bisa diam tidak!" Bentak Xaver yang jengah melihat tingkah pecicilan milik Lala itu.
"Kamu pergi tidak dari sini." Sarkas Alex tajam.
"Sudah malam Om,besok saja ya!" Bujuk Mikael sambil menampakan wajah permohonan.
"Kamu pikir saya Mama kamu,yang akan luluh begitu saja," sinis Alex.
"Uncle denganku saja dikamar sebelah!" ajak Lala.
"Lala Marlela,kamu itu yah! Lebih baik diam jangan banyak bicara lagi,sebelum kupatahkan bibir kamu itu," teriak Alina kesal karena Lala terkesan murahan.
"Keluar!" Alex masih tak puas jika Mikael masih disitu.
"Ayolah Om ini sudah malam,mana saya orang baru jadi tidak tahu tempat penginapan," pinta Mikael.
"Kalian kalau berisik lagi saya lempar pake sendal!" Selina akhirnya muncul karena keributan dikamar sebelah sudah semakin diluar kendali.
"Sayang Bukan begitu,tapi dia selalu saja menggangu Adek," bujuk Alex karena tak tahan ratunya marah.
"Semua bubar,ingat ya jangan ada yang nongol dikamar ini lagi!Kamu Lala tidur malam ini dengan Bunda,biarkan para pria batang Alang tidur dimana," ucap Selina lalu menarik tangan Lala agar ikut dengannya.
"Tapi Bunda,aku itu mau itu...
"Jangan macam macam kamu ya,masak air saja gosong buang air kecil saja masih bengkok malah mau gangguin pria dewasa," omel Selina sambil terus berjalan menuju ruangan Tempat ia beristirahat.
"Gila memang gila,bagaimana tidak dijam tengah malam saat semua orang tidur mereka malah berdebat tak jelas;
"Asihh Bunda ini memang tak mengerti urusan anak Muda,bukannya mendukung eh malah dipatahkan semangat juangnya," Oceh Lala sambil mengikuti langkah Selina.
"Ini semua gara gara kalian,lihat sekarang saya jadi harus tidur beda ranjang dengan istriku.Kalau jomblo jangan ajak ajak,jadinya kan begini menyebalkan kalian jadi orang," Kesal Alex karena ditinggal sang istri.
"Bos bisakah saya kembali tidur," pinta Xaver yang sudah tak ingin berada disitu,karena obyeknya sudah pergi.
"Saya juga ingin istirahat Uncle," pinta Mikael juga.
"Kalian ini memang menguji kesabaranku,kenapa tidak dari tadi pergi dari sini. Giliran saya ditinggal pergi baru kalian ikutan minggat,dasar manusia durhaka,"Sambung Alex lagi.
__ADS_1
"Kamu tetap depan pintu,kalau si pendek itu sudah tidur kamu bawa pergi kemana terserah. Pokoknya malam ini saya tetap harus tidur memeluk guling bernafas milik saya!" tekan Alex tajam tak ingin dibantah.
" Dan kamu selama saya belum tidur,jangan harap kamu juga bakal bisa istirahat!" sambung Alex lagi sambil menunjuk kearah Mikael.
Berakhirlah tiga orang pria dewasa itu didepan pintu kamar Selina,karena perintah Alex ya ultimatum yang tak terbantahkan.
"Ya ampun Tuan,sumpah anda memang makluk yang sudah menjatuhkan harga diri kaum pria.Masa hanya karena ingin tidur dengan nyonya,kita harus rela alih profesi jadi satpam depan pintu," gumam Xaver dal am hati yang sudah tak bisa menahan kantuk.
"Ini Om Om terlihatnya tegas,tapi jauh dari istri sedikit langsung keok." Gumam Mikael dalam hati sambil sesekali menatap kearah Alex yang berjalan kesana kemari bak setrika.
"Kalian jangan mengumpat saya dalam hati,ingat ya pantang pulang sebelum berhasil!" Tegas Alex sambil menatap tajam kearah pemuda yang masih jomblo itu.
"Sayang ada yang sakit tidak?" Tanya Alina karena cemas,sebab Rafa dari tadi seolah olah sedang memikirkan sesuatu.
"Heii Yang ,aku tanya itu dijawab kenapa sih?" Panggil Alina lagi.
"Kalau misalnya dia rayu kamu dengan kata kata manis,apa kamu bakal terima dia?" Tanya Rafa ambigu.
"Maksudnya apa?" Tanya Alina bingung.
"Pria yang tadi sepertinya sangat menyukai kamu,bagaimana kalau dia nekat?" Tanya Rafa pelan.
"Terus kamu mau aku sama dia begitu?" Tanya Alina memastikan.
"Tidak akan pernah terjadi!" Sahut Rafa pasti.
"Ya kalau begitu jangan dong meragukan perasaan ku,karena tuh orang mungkin hanya bercanda atau apalah.Jangan terlalu dipikirkan,nanti yang ada tambah pusing jadinya," Bujuk Alina sambil tersenyum.
"Janjinya kamu tidak akan berpaling!" pinta Rafa lagi.
"Iya iya,aku janji!Lagian apa lagi yang harus kucari didunia ini,bukankah kamu sudah lengkap dan pas dari kata sempurna." Sahut Alina dan memilih untuk tidur.
"Sayang,aku nya dicium atau apalah.Masa main tidur saja,terus aku dianggurin begitu," Rafa merajuk.
"Cup cup cup cup,sudah ka?" Alina mencium seluruh wajah Rafa tanpa terkecuali biar masalah beres.
"Ini mah hanya salam tempel doang,tidak ada rasanya," tolak Rafa .
"Nanti saja kalau sudah sehat,untuk sekarang segitu dulu cukup!" Sahut Alina tetap memejamkan matanya karena mata gadis cantik itu sudah 5 watt.
Sementara itu Alex kini sudah masuk kedalam ruangan tempat Selina dan Lala tidur,karena yakin gadis pendek Sudah terlelap. Alex segera memanggil Xaver untuk mengeksekusi,biar nanti Lala menjadi tanggung jawab pemuda itu.
"Shut,Hei kamu sini dan bawa pergi bakteri ini.Terserah mau berbuat apa,yang penting besok anak orang tetap utuh!" perintah Alex setengah berbisik.
"Dan kamu Virus,cepat tidur dikamar yang tadi dipake Ver.Ingat jangan jadi pengganggu saat orang lain tidur,atau saya patahkan kakimu,"Ancam Alex sambil menatap tajam kearah Mikael.
"Tenang Om,saya bukan zombie yang sukanya ganggu manusia.Jadi saya kembali tidur dulu ya,selamat berjuang," ucap Mikael sambil memberikan semangat.
"Dasar wajahnya saja yang katanya Tua,tapi tingkah nya layaknya bocah," Gerutu Alex sambil menatap punggung Mikael yang sudah menghilang dibalik pintu.
"Kamu cepat bawa penggangu itu ,ingat ya itu anak orang jangan kamu pegang sembarangan. Anaknya saja cerewet begitu,apalagi Emaknya pasti lebih parah lagi," ujar Alex dan masuk ruangan yang ada Selina nya lalu menutup pintu dari dalam.
"Gadis mungil kamu terdampar lagi kan denganku,jangan harap bisa berpaling ke yang lain," ucap Xaver pelan sambil menidurkan Lala diatas ranjang.
"Huh,orang kaya rumah sakit saja bisa disulap jadi hotel apalagi hotel mungkin disulap jadi istana," gumam Xaver yang melihat seluruh keadaan ruangan yang bisa dibilang jauh dari kesan rumah sakit.
Ia lalu beralih menatap gadis mungil dihadapannya kini,terlihat manis jika sedang tertidur tapi saat bangun mulut nya itu nyerocos terus tidak jelas.
__ADS_1
Author bangun jam dua malam lho untuk tulis ini...jadinya rada sedikit blank...