
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ****
Fitri akhirnya terdiam karena apa yang dikatakan oleh Alina ada benarnya, hanya saja dirinya seolah tak terima jika ada wanita cantik selain dirinya.
Jika seperti ini bisa dipastikan posisinya akan bergeser, dan dirinya tak ingin hal itu sampai terjadi.
Fitri bukannya menjawab perkataan Alina, dirinya malah mengeluarkan buku untuk memulai pelajaran hari ini.
Akan tetapi Lala merasa tak terima ketika Fitri mengabaikan perkataan Alina barusan,ia merasa seperti nya Fitri tak menyukai kehadiran Alina di kelas itu.
"Bisa kita mulai kelas untuk hari ini?" Tanya Fitri dan di angguki oleh para mahasiswa lainnya tapi tidak dengan Lala.
" Tunggu dulu kayaknya ada yang harus kita bahas, Bu Maksudnya apa tadi perkataan Alina tidak digubris seperti itu? situ pikir Alina itu lagi bercanda saat berbicara, anda jangan macam-macam ya sama sahabat saya!" ujar Lala yang benar-benar kesal membuat Marcello yang baru sadar pun akhirnya mengeluarkan suara.
" aku juga bisa Nggak sadar ya, Maksudnya apa melakukan hal itu pada bidadari surgaku? dia tadi kan sudah minta maaf, Kenapa masih tidak dihargai sama sekali? " tanya Marcello menimpali perkataan Lala barusan.
" Kamu kenapa sih selalu saja sambung-menyambung perkataannya aku, Memangnya otak kamu tidak punya kata-kata kreatif yang lain begitu? " Tanya Lala Ketus sebab tak terima dengan sikap Marcello yang selalu saja menimpali apa yang ia katakan meskipun sebenarnya sejalan sih pikiran mereka.
" Hais Kau bisa diam dulu tidak, kita sekarang itu lagi mengurus soal Alina jadi waktu untuk berdebat di cancel dulu kan lebih bagus. " ujar Marcello yang memasang wajah cemberut nya itu.
sebenarnya dari tadi sedang menahan kekesalannya pada sikap Fitri yang sepertinya tidak ada berinisiatif untuk menimpali perkataannya, jika dirinya adalah tipe orang yang selalu memamerkan kekuasaan orang tuanya maka bisa dipastikan hari ini adalah terakhir Fitri mengajar di tempat itu.
" sudah aku nggak papa kok, lebih baik kerjain tugas kamu saja daripada memikirkan hal yang tidak-tidak. Lagian tidak terlalu penting-penting amat kok memikirkan sesuatu yang tidak perlu untuk dipikirkan, Apakah sini untuk sekolah bukan membahas sesuatu yang tidak masuk akal! " Alina yang secara tak langsung sebenarnya sedang menyindir Fitri dan sepertinya wanita itu juga paham dengan arah pembicaraan Alina barusan.
" Kalian mau jadi jagoan di sini ini, ya sudah sekalian tidak usah kuliah saja kan gampang? daripada suasana kampus jadi berantakan dengan ulah mahasiswa yang tidak jelas seperti kalian, dasar ababil tidak pernah menghargai orang tua mau jadi apa bangsa ini kalau generasi penerusnya hancur berantakan seperti kalian. " perkataan yang dilontarkan Fitri itu membuat Alina mengerutkan keningnya karena tidak ada sangkut-pautnya dengan hal itu tapi mengapa dosen barunya itu malah membahas hal yang tidak jelas?
" Ibu ngomong apa barusan? Bisa diulangi sekali lagi, soalnya saya seperti belum terlalu connect dengan arah pembicaraan ini!" ujar Alina yang mulai memancarkan tatapan datarnya sungguh benar-benar asli keturunan dari seorang Roberto.
Aura di dalam ruangan itu sangat mencekam, karena primadonanya gunabangsa sedang mengamuk dan semua orang tidak ada yang berani melerainya termaksud Lala.
Lala sangat paham dengan sikap aslinya Alina jika sedang marah, jiwa barbarnya akan muncul di permukaan tanpa permisi.
" rasain kau nenek lampir Siapa suruh tadi ngegas Terus sekarang jadi nyaho kan, lagian Jadi orang kok baru masuk sudah cari perkara Memangnya ibu pikir semua orang yang berada di sini tuh anak kecil yang mesti Segala sesuatu harus diajar?" tanya Alina yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya.
" kamu jangan macam-macam ya sama saya, biarpun bagaimana saya disini adalah dosen yang harus kamu hormati! "ujar Fitri masih saja nyolot.
" Oh my God, Baiklah saya akan keluar dari kelasnya ibu tapi sebelum itu kita harus mengurus masalah ini segera mungkin! " kali ini Alina benar-benar sudah tak bisa mengontrol Apa yang harus dirinya katakan.
__ADS_1
tak berselang lama keduanya sudah sampai saya dipanggil ke ruangan Rektor kampus itu, pria paruh baya yang menjadi Rektor disitu sangat terkejut dengan orang yang kini berada di hadapannya.
" Nona Alina, Kok bisa berada di sini Memangnya Apa yang terjadi?" tanya Tuan Davidson yang merupakan Rektor di universitas guna bangsa .
" saya saja bingung Pak kok bisa berada di sini, padahal kan hanya perdebatan kecil saja yang menurut saya bisa diselesaikan jika direspon dengan baik?" sahut Alina sambil menatap ke arah Fitri yang wajahnya sudah terlihat kesal mungkin karena perhatian yang Rektor berikan kepada Alina.
" karena masalahnya berhubungan dengan ibu Fitri, Bisakah anda menjelaskannya secara terperinci karena mengingat hari ini adalah hari pertama anda bekerja disini! " Fitri menghela nafasnya kasar karena memang wanita itu baru sadar jika sebenarnya dirinya yang salahnya saja egonya terlalu tinggi untuk meminta maaf.
" saat saya sedang menjelaskan di depan dia malah asik kan berChat Ria, Entah dengan siapa saya juga tidak tahu tapi yang pasti saya paling tidak suka sama murid yang selalu membangkang!" perkataan Fitri itu membuat Alina mengerutkan keningnya perasaan dirinya tadi tidak melakukan kesalahan yang cukup berarti Kenapa dianggap serius.
" ibu, kalau ngomong bisa sesuai kenyataan tidak sih? lagian Kok bisa ya ada yang melaporkan ke bagian sini padahal masalahnya tidak serius, Terus apa kata ibu tadi menjelaskan? Wah Ibu tadi itu sedang memperkenalkan diri kan, jadi otomatis suasananya tidak terlalu serius. aduh bisa tidak jangan membahas hal yang tidak penting seperti ini, waktu jadi terbuang percuma kan tidak ada faedahnya sama sekali?" tanya Alina yang benar-benar gemas dengan keadaan ini semua.
" Maafkan saya atas ketidaknyamanannya Nona Alina, saya janji bakalan mengurus hal ini sampai tuntas dengan dosen saya." ujar Tuan Davidson sambil menundukkan kepala karena karirnya bisa berakhir jika Alina mengatakan hal ini kepada Rafa ataupun Alex.
" terserah bapak saja deh saya mau keluar dulu, Oh iya ini dosen atas rekomendasi siapa bisa bekerja di sini?" tanya Alina penuh selidik.
" Sebenarnya saya tidak bisa mengatakannya karena itu sudah merupakan privasi, Maafkan saya Nona jika tidak sopan." terlihat tuan Davidson benar-benar tak enak hati kepada Alina.
Fitri yang benar-benar merasa di atas angin dengan kan percaya diri Ucapkan nama orang yang merekomendasikan dirinya, membuat Alina benar-benar syok dan tak percaya.
" saya direkomendasikan oleh Rafa Roberto, Jadi anda tidak bisa sembarangan memecat saya." ujar Fitri penuh percaya diri membuat Alina tak percaya sama sekali.
" maksud kamu Mas Rafa, kok kalian bisa saling kenal?" tanya Alina penuh selidik.
" ya karena kampus ini miliknya juga jadi dia ingin menempatkan aku disini agar lebih dekat dengannya, dan Kebetulan kami juga sedang dekat sekali Ya bisa dibilang memiliki hubungan khusus begitu. Jadi otomatis kamu itu adalah calon adik iparku, harusnya lebih bisa menghargai orang yang lebih tua." ujar Fitri dengan tatapan mengejek'
Duar
bagai disambar petir di siang bolong itulah yang dirasakan Alina kini, karena sepanjang pengetahuannya Rafa tidak pernah dekat dengan siapapun apalagi memiliki hubungan.
mata Alina memerah Menahan tangisnya, karena jika sampai itu terjadi maka Fitri bakalan menertawakan dirinya yang sudah kalah.
berbagai pikiran mulai bersarang di benaknya, karena tadi cara bicara Fitri terlihat begitu serius.
" apa ini ada kaitannya dia mengusir Pak Aryo dari sini, agar bisa memasukkan kekasihnya ini untuk selalu dekat dengannya?" batin Alina menangis.
sedangkan Tuan Davidson tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena perkataan itu begitu meyakinkan dan Memang benar Rafa adalah orang yang merekomendasikan wanita itu.
" kamu tidak ada niat mengucapkan selamat padaku calon adik ipar?" tanya Fitri sambil tersenyum Smirk.
" untuk apa, jika nanti akhirnya hanya membuang waktuku saja? silakan menikmati peran anda, karena saya tidak ada minat sedikit pun mengikuti kelas hari ini." sinis Alina lalu keluar dari tempat itu tanpa menoleh lagi ke belakang.
__ADS_1
namun ketika dirinya baru sampai di depan pintu sudah ada Rafa di depan pintu sambil menatap Intens ke arahnya, pria itu bahkan terlihat khawatir dengan keadaan kekasihnya.
jika Rafa khawatir padanya berbeda dengan Alina yang sedang menahan emosi yang siap meledak sewaktu-waktu, dirinya bahkan ingin sekali menonjok pria itu yang sudah mengucapkan janji manis ke sana dan kemari'
"Sayang, kamu baik-baik saja kan tidak ada yang terluka atau ada yang menyakiti kamu?" tanya Rafa penuh selidik sampai memindai penampilan Alina dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Alina menepis kasar tangan Rafa yang memegang kedua pipinya itu, dirinya benar-benar sedang emosi dengan pria itu dan tidak ingin bertemu dengannya untuk sekarang.
" jangan menyentuhku dengan tangan kotormu !" perkataan Alina itu sukses membuat Rafa kebingungan karena perasaan tadi pagi kekasihnya itu baik-baik saja kenapa sekarang sikapnya jadi berubah total seperti ini?
" Kamu kenapa sayangku, memangnya aku punya salah apa?" tanya Rafa yang sudah tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya.
" urus saja kekasihmu itu, jangan pedulikan aku!" ujar Alina sambil menunjuk kearah Fitri yang sedang menundukkan kepalanya.
" kamu kok ngomong gitu, mana bisa aku mengurus orang lain sedangkan kamu sendiri tidak dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Rafa kebingungan.
"Apa hakmu mengurus diriku, ingat ya Aku bukan anak kecil yang bisa kamu permainkan Sesuka Hati. sana pergi urusi calon istrimu itu jangan mencampuri urusanku lagi, Oh iya Satu lagi Jangan jadikan orang lain sebagai kambing hitam agar kamu bisa dekat dengan kekasihmu wanita tidak jelas seperti itu." tuding Alina yang hendak pergi dari situ tapi tangannya dicekal oleh Rafa.
" Aku tidak mengizinkan mu ke mana-mana sebelum masalah ini beres, dan satu lagi aku tidak punya kekasih selain kamu. jadi jangan pernah berpikiran macam-macam jika hal itu tidak kamu dengar secara langsung dariku, sekarang kamu duduk yang tenang terus kita ngomong kenapa kamu jadi marah seperti tadi!" perintah Rafa yang tak ingin dibantah.
" tuan Davidson ada yang bisa anda Jelaskan kepada saya Sebenarnya apa yang terjadi di sini, langsung ke intinya saja tidak perlu ngalor-ngidul kemanapun itu." perintah Rafa pula dengan Tatapan yang mengintimidasi.
tubuh Fitri bergetar karena ketakutan ternyata berbohong itu akibatnya sangat tidak menyenangkan, dirinya merutuki kebodohan yang baru saja ia lakukan.
" Apa yang kulakukan tadi ya Kok bisa bisanya aku berbohong seperti itu, nanti kalau Tuhan Rafa mengamuk gimana dong?" batin Fitri frustasi karena ia sangat paham dengan wajah datar milik Rafa sekarang belum lagi hubungan pria itu dengan Alina yang tampak tidak baik-baik saja.
" tadi di dalam kelas Nona Alina dan ibu Fitri sempat.....
" yang aku tanyakan kenapa sampai keKasihku marah seperti ini, bukan mempertanyakan hal yang tidak jelas di dalam kelas?" tegas Rafa tajam karena kalau urusan dalam pola saya bisa menanyakan hal itu kepada Alina tetapi urusan hati tidak bisa ditunda lagi.
" Aku mau pulang jangan coba-coba menghentikanku, urus saja masalahmu dengan kekasihmu itu karena aku tidak ingin ikut campur sama sekali! dan satu lagi jangan macam-macam di lingkungan tempat aku berada dengan memamerkan apa yang kamu punya, karena bukan kamu saja yang bisa mencari kekasih aku lebih bisa lagi bahkan menjadi seorang Playgirl aku bisa ." perkataan Alina itu membuat Rafa sangat bingung harus berbuat apa karena dirinya tidak tahu menahu dengan kejadian yang terjadi di tempat itu.
" sayang kan sudah aku bilang kamu duduk dengar semua penjelasan ini, Apa masalahnya kenapa kamu tiba-tiba tidak jelas padaku yang jelas-jelas baru datang?" ujar Rafa sambil menyugar rambutnya frustasi.
" Tuan Davidson lanjutkan penjelasanmu ingat ini adalah penentuan karirmu di tempat ini!" perintah Rafa lagi,
" tadi ibu Fitri mengatakan kalau dia adalah kekasihnya Anda tuan, dan minta Nona Alika memanggilnya Kakak ipar. dan dia bekerja di sini juga atas rekomendasi anda bisa tidak bisa mengatakan pada Nona Alina soalnya anda melarangnya." jelas Davidson sambil menundukkan kepalanya membuat Rafa menatap geram ke arah Fitri yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya menatap ke arah lantai entah apa yang dia cari.
" Apa benar yang ia katakan?" tanya Rafa ke arah Fitri dengan tatapannya yang menusuk.
" Maafkan saya tuan, tadi itu saya hanya salah berbicara karena.....
__ADS_1
" hentikan kebohongan kalian yang berpura-pura seperti aku ini orang paling bodoh, aku mau pulang dan benar-benar ingin pulang! kamu, Renungkan kesalahanmu baru bisa pulang ke rumah kalau tidak jangan pernah datang sebelum kuhabisi kamu pakai tanganku sendiri Amalina dengan tanganku sendiri !" ancam Alina dengan nada bicara yang tidak terdengar bermain.
tangan Rafa yang hendak menggapai tubuh mungil kekasihnya itu pun ditepis oleh Alina kasar, wanita itu benar-benar tersulut emosi mendengar pengakuan Fitri tadi entah benar atau tidak ia tak peduli.