
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
Rafa terlihat sangat frustasi karena kekasihnya itu seolah tak peduli sama sekali dengan dirinya, sebentar harus melakukan apa agar Alina tidak memarahinya lagi seperti itu.
" Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan agar agar dia bisa memaafkan ku dengan kesalahan yang tidak pernah kulakukan, sabar sabar pasti semua permasalahan ada jalan keluarnya!" batin Rafa yang tidak berniat untuk mengejar Alina karena ia ingin membiarkan kekasihnya itu berpikir jernih sebab dirinya juga harus menyelesaikan permasalahan ini sekarang juga.
Rafa menatap kearah Fitri yang dari tadi hanya tertunduk saja, wanita itu yakin jika sedikit lagi dia akan mendapatkan masalah dengan apa yang tadi sudah ia lakukan.
"demi Dewa Neptunus tolong aku ya Tuhan, Kenapa tatapan pria ini sangat mengerikan jauh dari ekspektasi ku selama ini ?" batin Fitri stres dengan keadaan yang ada.
"Dia ini dosen baru yang menggantikan Aryo, yang merupakan sepupunya Ben Atas rekomendasi dari saya?" tanya Rafa memastikan.
" Iya Tuan benar sekali, Bukankah Anda sendiri yang mengatakan untuk tidak memberitahukan kepada siapapun soal ini?" tanya Davidson memastikan.
Rafa menghela nafasnya kasar pantasan saja Alina kesal padanya, sebab dirinya saja yang mendengar perkataan Davidson bosan saja menjadi tidak senang.
"Sebenarnya maksud saya bukan ingin menyembunyikan hal ini, hanya saja menjaga kecemburuan dari para pendaftar untuk menjadi dosen menggantikan Aryo. Sebab dia ini adalah keluarga dari Asisten saya,ternyata saya keliru membantu orang yang tidak tahu berterima kasih seperti itu!"Sinis Rafa sambil menatap kearah Fitri dari tadi tak berani mengangkat wajahnya.
"Bukan karena kami memiliki hubungan spesial atau apapun itu, karena seperti yang Anda tahu Alina adalah kekasih sekaligus calon istri saya.Jadi tolong bereskan segala kekacauan yang ada, dan kamu lebih baik bereskan semua barang-barangmu dari sini dan terakhir kakinya berada ditempat ini karena mulai saat ini kamu saya pecat."Sambung Rafa kalau segera berlalu dari tempat itu karena ingin mencari keberadaan Alina yang ia yakin pasti sedang marah besar padanya.
Sedangkan di dalam ruangan Rektor Universitas itu, Fitri yang beberapa jam yang lalu terlihat begitu pongah kali ini seperti anak kucing yang terkena air basah kuyup melempem dan menyedihkan.
Davison memilih untuk duduk di kursi kebesarannya, sambil menatap ke arah Fitri yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya. Memang sih menyedihkan tapi mau bagaimana lagi Bukankah setiap kesalahan yang dilakukan harus ada pula konsekuensi yang dihadapi?
" Ibu Fitri tadi Kenapa sampai bisa punya pemikiran seperti begitu, anda sadar kan sedang berhadapan dengan siapa tadi? Dan Maaf saya tidak bisa membantu karena keputusan Tuan Raffa itu mutlak tak bisa dibantah, jadi lebih baik anda segera meninggalkan tempat ini." ujar Davidson yang merasa kesal karena selama dirinya berbakti dirinya pendidikan Baru kali ini seorang tenaga pengajar dipecat dalam hitungan jam pada hari pertama bekerja.
"Tapi saya membutuhkan pekerjaan ini Pak, kalau saya harus pulang ke kampung lagi nanti nasib kedua orang tua dan adik saya bagaimana?" tanya Fitri memelas.
"Jika kamu sadar kalau ini bakalan terjadi, Kenapa harus nekat seperti tadi ya kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Tapi kamu juga harus bersyukur loh karena tidak dikasih masuk dalam Blacklist, otomatis kamu masih bisa mendaftar di perguruan tinggi yang lain tapi tidak disini dan juga di bawah naungan Roberto grup!" ujar Davidson dalam memilih untuk fokus pada layar komputer yang sedang menyala itu.
Fitri merasakan kehadirannya sudah tidak dibutuhkan lagi segera pergi dari tempat itu, membereskan semua barang-barang yang belum seberapa maklumlah hari pertama ia bekerja langsung dipecat dengan tidak hormat.
ketika Lala yang baru kembali dari toilet merasa terkejut melihat Fitri sambil memegang kardus berisi buku bukunya, Lala yakin jika wanita songong itu pasti Baru habis kena amukan dari Rafa yang tadi ya temukan Tengah menahan emosi.
" Halo selamat siang Ibu, Wah ini belum jam pelajaran pulangnya loh? Kok bisa-bisanya Ibu pulang lebih dulu, terus nanti kelasnya gimana Masa iya kita tidak ngapa-ngapain aja?" tanya Lala dengan nada mengejek.
Fitri menatap tajam ke arah Lala, karena sumber permasalahan ini akibat dari mulut sampai melayang tidak bisa berhenti komat-kamit tadi di dalam kelas.
" Hey Gadis cacingan kamu jangan senang dulu ya nanti suatu saat kalau aku sudah sukses terus ketemu kamu bakalan kulempar pakai high heels nya aku, untuk sekarang kamu bolehlah berbahagia dulu karena aku lagi tidak ingin membuang tenaga aku keluar percuma meladeni gadis aneh seperti kamu!" sinis Fitri benar-benar kesal dengan penampakan Lala yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
" Eh ibu lain kali ngomong itu dipikir dulu yang bilang saya cacingan itu siapa, asal Ibu tahu tubuh saya itu bodynya Goals bagaikan gitar Spanyol daripada bentukannya Ibu rata atas bawah depan belakang." ujar Lala tak kalah dari Fitri.
__ADS_1
"Dasar wanita kurang ajar kamu berani berani ya sama saya, awas aja kamu suatu saat kalau ketemu siap hati dan mental karena aku bakalan balas dendam!" ujar Fitri lalu segera pergi dari situ.
Lala yang belum merasa puas untuk mengerjai Fitri Ia pun mengikuti wanita itu dari belakang, karena wajah emosi Fitri adalah kesenangan tersendiri bagi Lala.
"Ibu, biasanya kan harus Salim dulu sama anak didiknya masa iya langsung nyelonong pergi tidak sopan loh. Eh iya saya lupa kalau kamu bukan Ibu guru lagi tapi Tante-Tante kurang belaian,Ya sudah dulu ya jangan sampai ada guru tampan yang sudah menggantikan Tante Fitri." perkataan Lala itu memang tidak ada yang namanya tidak mengandung perdebatan dan membuat orang emosi mungkin sudah talentanya kali ya.
sedangkan Fitri berjalan menuju ke jalanan untuk menunggu taksi sambil menghentakkan kakinya, bahkan dirinya pun tak peduli menjadi bahan tertawaan dari semua mahasiswa yang berada di situ.
" brengsek semua keturunannya Roberto, awas aja kalian kalau aku sudah bertemu dengan pangeran Arab yang tampan bakalan kubeli kalian sampai habis." Fitri kesal sambil membayangkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi dalam hidup.
Rafa kini sudah kembali ke kediaman Roberto, dirinya langsung berlari menuju ke kamar kekasihnya yang ia yakini sedang berada di dalam situ.
ketika memutar handle pintu ternyata dikunci dari dalam, Rafa pun tidak kehabisan akal dirinya pergi ke nakas depan ruang keluarga untuk mencari kunci cadangan.
Ketemu Bambang 😎😎
ketika sudah menemukan barang yang dimaksud tanpa menunggu lama lagi Rafa langsung menuju ke kamar kekasihnya untuk membuka pintu, ketika pintu sudah terbuka ia melihat kamar dalam keadaan kosong tapi bagaikan kapal pecah.
Rafa yang mendengar ada bunyi air dalam kamar mandi meyakini jika Alina ada di dalam, pria itu mendekati pintu kamar mandi yang terbuka sedikit dan melihat sang kekasih dalam keadaan polos dan sedang berada di bawah guyuran shower.
Rafa pun akhirnya memilih melepas semua benang yang melengket di tubuhnya dan kita dalam keadaan polos juga, pria itu lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya secara perlahan agar Alina tak mendengarnya.
Alina yang sedang asyik memikirkan apa yang dia alami barusan tanpa sadar jika ada orang lain di tempat itu, dirinya baru kembali ke alam nyata ketika sebuah lengan kekar melingkar tepat di pinggangnya yang polos.
Deg
" kamu kok bisa masuk?" tanya Alina penasaran.
Rafa tersenyum dan ikut bergabung di bawah guyuran shower bersama kekasih, lalu diangkatnya dagu Alina agar lebih mendekat kearah wajahnya.
" apapun bisa kulakukan untuk kamu sekalipun menghancurkan pintu sialan itu, Jangan melakukan hal yang membuat aku benci pada diriku sendiri seperti tadi!" ujar Raffa Sendu.
Alina ingin menjauh Karena sangat merasa kesal dengan sang kekasih, namun gerakan cepat dari Rafa menggendongnya ala koala dan posisi keduanya kini sangat intim.
Oh Ferguso aku juga mau😚😚
jantung Alina berdetak dengan kencang akibat Apa yang dilakukan Rafa kini, bahkan apa yang menggantung di dadanya itu menempel di dada bidang Rafa yang sangat menggoda.
" turunkan aku sekarang, aku mau itu itu apa itu namanya itu....
Alina yang gugup bingung harus berkata apa sampai-sampai wajahnya pun memerah bak kepiting rebus, dan Rafa tersenyum penuh kemenangan di dalam hati karena akhirnya bisa membuat sang kekasih tidak tahu harus berbuat apa.
" kenapa mau turun, Bukankah seperti ini lebih romantis? Aku bahkan ingin membawamu ke atas ranjang sekarang dan memakan kamu, karena sungguh Si Joni sudah tidak bisa menahan nya lagi." ujar Raffa sambil menggesek benda tumpul itu itu pada daerah ************ nya Alina.
Alina tidak dapat berpikir jernih lagi rasa marah dan kesal nya menguap pergi begitu saja akibat sensasi yang ditawarkan oleh Rafa itu, dirinya bahkan tanpa sadar melenguh ketika Puncak dadanya dilahap habis oleh Rafa.
__ADS_1
karena tak ingin mengeluarkan suara Alina terpaksa menggigit Bibir bawahnya, tubuhnya bahkan bergetar hebat karena kenikmatan yang Rafa berikan untuknya kini.
" Mas, sudah dong nanti Kebablasan!" Alina yang kesadarannya sudah kembali meminta Rafa Untuk menghentikan permainannya tapi namanya seorang pria jika sudah ***** sulit sekali untuk berhenti.
" kita lanjutkan di kamar saja ya, soalnya aku sudah tidak bisa menahan nya lagi ini sangat terasa menyiksa jika tidak dikeluarkan." ujar Rafa sambil menunjukkan senjatanya siap tempur itu.
wajah Alina sudah tidak tahu lagi gambarannya sebab antara merasa malu dan ingin hancur lebur jadi satu tak bisa diungkapkan dengan kata.
tanpa menjawab Alina hanya menganggukkan kepala pertanda setuju, karena dirinya juga ingin sekali merasa lebih dari ini.
Rafa yang dari dari tergoda dengan bibir ranum memilih kekasihnya itu langsung melahapnya secara rakus, pagutan keduanya Bahkan tak terhenti sampai Rafa sudah menidurkan Alina tepat di atas ranjang King size itu.
Deru nafas keduanya memburu saling bertukar saliva pun terjadi, bunyi di decapan khas sangat terdengar jelas.
Alina yang merasa kehabisan oksigen langsung mendorong kuat dada Rafa agar menjauh darinya, Jangan ditanya lagi bentuk bibir wanita itu kini mungkin kalau diukur sudah bisa dapat setengah kilo lah.
" aku kesulitan bernapas sekali Lain kali itu rasa-rasa sedikit dong, sebelum aku mati karena kehabisan oksigen!" sungut Alina Ketus.
" tapi kamu juga menikmatinya kan, gimana kita lanjutkan lagi ya Sayang ya tanggung nih." Rafa mengatakan hal itu sambil menarik tangan Alina agar menyentuh Apa yang sedang berdiri layaknya tongkat.
Blushhh
wajah Alina Langsung kembali merona sebab apa yang ia pegang itu sangat keras dan besar, membuat akal Sehatnya pun hilang seketika antara memikirkan hal duniawi dan akhirat.
" tapi mas kita belum menikah, nanti kalau berbuat dosa yang lebih jauh kan aku tidak ingin?" ujar Alina pelan.
" aku tahu batasan Aku sayang, Lagian kita juga kan sedang OTW mau menikah. Jadi apa yang dicemaskan dalam hubungan kita ini, karena sampai dunia kiamat pun Rafa miliknya Alina dan Alina miliknya Rafa." setelah mengatakan hal itu Rafa mencium seluruh wajah Alina mulai dari kening kedua matanya kemudian bibirnya dan terakhir mengendus lehernya.
saking semangatnya sampai-sampai leher Alina dijadikan bahan percobaan Rafa menggambar abstrak, meskipun hal ini berkali-kali mengingatkannya tapi ya namanya kepalang basah ya sudah basah ya lanjutkan saja.
setelah itu dirinya berpindah pada gunung kembar yang selalu menantang dirinya untuk merasakan, membuat Alina yang merasa ke nikmatan membenamkan lebih dalam lagi kepala sang kekasih.
keduanya bahkan melupakan Lala yang sedang stres di kampus karena dari tadi ponsel Alina tak bisa dihubungi, bahkan Entah berapa banyak kata-kata kekesalan yang wanita mungil itu lontarkan.
"Nih anak berdua nih menghilang kemana sih masa iya pindah ke planet Pluto tanpa bilang-bilang, Apa mereka tidak tahu kalau aku sedang cemas dan ingin sekali menggorok leher mereka berdua tobat jangan terlalu bikin orang panik." sungut Lala yang berjalan kesana kemari di area parkiran tanpa sadar jika Javier daritadi sedang menatap dirinya.
" sudah puas ukur panjang area parkiran ini nona, kalau sudah Bisakah kita pulang sekarang?" tanya Xavier dengan senyum mengejek.
" lho kok manusia planet ada di sini, atau hanya halusinasiku saja ya? tapi Bentuknya sama loh hidungnya pesek hitam dekil banyak upil, terus tampangnya nyolot Kok bisa dia....
Brughh
tanpa permisi Xavier langsung mengangkat tubuh mungil Lala itu menuju ke mobilnya, sebelum wanita itu mengeluarkan lebih banyak kata-kata yang merendahkan harga dirinya sebagai seorang pria.
" Woi turunkan aku sekarang, kamu itu sudah gila stres atau apa sih enak saja main angkat anak orang kaya karung beras?" teriakan Lala sambil memukul bahu Xavier yang tidak dirasakan sama sekali oleh pria itu pukulan Lala tadi.
__ADS_1
" diam kamu atau bakalan ku jual ke tempat pelelangan orang, jadi cewek tidak tahu jaga image sama sekali. petunjuk aku orangnya baik Coba kalau tidak sudah aku lakban mulutmu itu dan kujahit sekalian biar diam!" wadidaw Om Xavier Kapan Lala jatuh cintanya kalau tiap hari bertemu selalu saja diajak berantem.