BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 100


__ADS_3

Rolan pikir ia sudah cukup mendapat masalah. Ia sebenarnya ingin tidur, dengan harapan saat bangun kembali, semua hal kembali normal. Namun ia baru sadar tak pernah ada kata normal di kehidupan dalam rumah Argent. Gerald dan Hans menghampirinya pagi itu, masih gelisah karena tuan mereka tak kunjung menampakkan diri.


"Kami akan mencari Tuan Marco," Gerald memberi tahu. "Saya dan Hans."


Rolan bisa melihat dengan jelas bahwa kedua orang di depannya sudah membuat keputusan, bukan sedang minta izin.


Rolan mendengarkan dengan sabar. Tangannya sibuk mengetuk-ngetuk ujung pulpen ke atas buku. Mereka sekarang berada di kamar rawat, bersebelahan dengan bilik tempat tidur Anna dan Linda. Rolan memanggil Gerald dan Hans ke tempat itu karena mendengar dari George bahwa keduanya hendak pergi. "Memangnya, kalian tahu dia ada di mana?"


"Karena kami tidak tahu, maka kami akan mencarinya," sahut Hans cepat.


"Kalian bukan berhadapan dengan manusia biasa, lho."


"Kami akan baik-baik saja selama ada tato ini, kan?" Senyum Gerald mengembang di balik cambang lebatnya.


Rolan mendesah. Ia tidak mengerti kenapa orang sedingin dan segila Marco bisa mendapat kesetiaan yang begitu besar dari para pekerjanya. Sudah cukup sering ia melihat para pekerja Argent begitu loyal hingga bahkan mati pun rela bagi tuan mereka. Rolan selalu menganggap mati demi orang lain adalah hal menjijikkan dan memandang hal itu dengan sinis.


"Apa kalian sudah mendapat izin dari Edgar?" tanya Rolan. Ia mengenal Edgar Argent sebagai pria yang tenang dan penuh perhitungan. Tidak mungkin pria itu membiarkan para pekerjanya berkeliaran tak beraturan.


"Belum, Dokter."


"Tunggu sebentar, deh. Jangan lakukan apa pun dulu, oke? Aku akan mendiskusikan ini dengan Robby, eh, maksudku Inspektur Robert. Lagi pula, tidak efektif kalau kalian sembarangan mencari. Sebelum aku tahu ke mana Marco pergi, atau di mana jejaknya, kalian jangan ada yang pergi. Mengerti?"


Hans dan Gerald saling berpandangan dalam diam, terlihat tidak senang dengan ide itu.


"Mengerti?!" Rolan menggebrak meja dengan telapak tangan, membuat dua pekerja di depannya sempat mengerjap kaget.


Tidak ada jawaban.


Rolan mendesah pelan. "Kalian ini ... aku mengerti kalau kalian mencemaskan Marco, tapi kalian juga harus tahu, majikan kalian itu orang yang sangat benci pada kesembronoan. Mungkin saja dia cuma sedang melakukan investigasi sendiri, kan?"


"Biasanya Tuan Marco akan memberi tahu Tuan Edgar," sahut Hans.

__ADS_1


Rolan mendengus. Ia sendiri cukup bingung sekarang. Ia tidak tahu apa yang harusnya ia lakukan. "Aku butuh kalian di sini untuk kekuatan, kalau-kalau aku menemukan Marco. Sebaiknya kita mencari sebagai satu tim, bukan terpisah. Bagaimana kalau aku butuh bantuan kalian, sementara kalian entah di mana, mencari-cari orang di tempat yang jelas tidak ada?"


Gerald dan Hans masih diam, tetapi Rolan melihat bahwa dua pria bongsor itu sedikit mengerti.


"Aku tahu kalian hanya mau bergerak kalau diperintah oleh seorang Argent, dan aku bukan anggota keluarga Argent," Rolan berkata sabar, merasa frustrasi karena macetnya para pekerja. Awalnya ia merasa bahwa keberadaan Marco hanya antara ada dan tiada. Pria itu hanya menyuruh ini itu sementara dirinya sendiri santai-santai di rumah. Rolan sempat berpikir bahwa sebenarnya Bjork tidak membutuhkan Marco. Pria tua itu hanya seorang ningrat yang banyak gaya.


Tetapi sekarang ia sadar bahwa anggapannya salah.


Marco bukan sekadar memegang kekuasaan dalam bentuk simbolis. Dia benar-benar berkuasa. Tidak ada orang yang mau bergerak tanpa dirinya. Saat Marco tidak ada seperti sekarang, Rolan benar-benar tidak tahu harus berjalan ke mana.


"Apakah kalau Edgar atau Jacob yang memimpin, kalian akan patuh?" tanya Rolan, berusaha agar tidak terlihat putus asa.


Gerald dan Hans berpandangan sekilas, kemudian menggeleng.


"Kami menghormati Tuan Edgar," kata Gerald, "tetapi perintahnya tidak akan bisa menyatukan para pekerja di bawah Tuan Marco."


"Jacob?" tawar Rolan.


"Itu memang benar. Tapi bagaimana kalau dia dibuat mengerti?" Rolan mulai berpikir untuk mengarang cerita yang bisa memengaruhi Jacob. Kalau Jacob bisa dimanipulasi, para pekerja dan orang-orang suruhan Marco jelas bisa diatur dengan gampang.


Namun Hans memberi gelengan pelan. "Tuan Marco berkata, ini bukan hal yang bisa diputuskan segampang itu dengan melibatkan orang yang tidak tahu apa-apa."


"Wah, bahkan keluarga Argent pun kalian tolak," ucap Rolan kagum. "Jadi intinya, kalian cuma ingin berjalan dengan cara kalian sendiri, begitu?"


Gerald menautkan kedua tangannya di atas meja, menatap pada kelambu putih yang mengungkung dua buah ranjang kecil. Ia tahu apa yang ditutupi di sana. Dua dayang yang menjadi contoh bagi para pelayan di rumah ini.


"Sama seperti dua dayang yang terbaring di sana," ucap Gerald perlahan, "Kami ini hanya pekerja. Kami bekerja untuk seseorang. Kalau dalam catur, kami ini pion yang digerakkan oleh raja."


Sebenarnya, pion tidak digerakkan oleh raja, tetapi oleh pemain. Rolan ingin mengucapkan itu, tetapi ia menahan diri dan mencoba mendengarkan.


"Kami tidak mungkin bergerak sendiri, Dokter," Hans yang menyelesaikan ucapan Gerald.

__ADS_1


"Melegakan," ucap Rolan, menaruh pena di samping buku. "Padahal, kudengar dari George bahwa kalian akan pergi. Dan barusan saja aku seperti mendengar kalian hendak mencari sendiri di mana Marco. Apa kupingku rusak? Atau ada salah paham terjadi di antara kita?"


Wajah Gerald berkerut tak senang, dan Rolan segera memaki dirinya sendiri dalam hati. Pada saat yang ruwet seperti ini, ia harusnya lebih bijak saat memilih kata dan berhenti untuk melontarkan lelucon sinis. Tidak semua orang memahami cara kerja bercanda dengan nada sarkas. Ah, lagi-lagi ia merindukan Marco.


"Kami akan pergi mencari Tuan Marco. Kecuali Tuan Kecil memerintahkan kami tetap di sini."


Rolan menggaruk kepalanya dengan bingung. "Tuan Kecil siapa?"


"Tuan Jose," sahut Hans.


"Kalian percaya padanya?" Rolan makin bingung. "Kalian? Pada anak keempat?"


"Kami bukan orang yang mengerti tata aturan seperti itu, Dokter," Gerald menyahut sabar. "Bagi kami, cuma ada satu aturan, yaitu bekerja di bawah perintah seorang Argent."


"Tapi kalian menolak Edgar dan Jacob," Rolan makin bingung. "Apa istimewanya Jose? Dia bahkan ... hanya anak-anak."


"Umur Tuan Kecil hampir seperempat abad, Dokter," Hans berkata.


"Umurnya dua puluh tiga tahun. Itu masih bocah," sahut Rolan. "Kau menggunakan kata 'abad' dan membuat dia seolah jadi tua sekali."


Gerald dan Hans tertawa berbarengan. "Kami percaya pada Tuan Kecil. Lagi pula, hanya Tuan Jose lah yang selalu bersama dengan Tuan Marco."


Itu memang benar. Lagi pula, Marco memang selalu berkata bahwa ia akan melatih Jose untuk memegang kendali Bjork dari belakang. Rolan tidak tahu apakah latihan dari Marco berhasil atau tidak. Ia bahkan tidak tahu apakah latihan itu pernah dimulai atau belum.


Yang ia tahu sekarang, Jose sepertinya mendapat kepercayaan dua pekerja utama Marco.


Pertanyaan bagi Rolan sekarang, mungkinkah Jose juga dipercaya oleh orang-orang Marco yang lain.


Pertanyaan kedua yang muncul dalam kepala Rolan adalah, bagaimana caranya menerangkan semua ini pada Jose tanpa membuat anak itu bertindak di luar kendali.


Ini akan susah, pikir Rolan.

__ADS_1


***


__ADS_2