
Jose berusaha menghubungi Dave malam itu, tetapi pelayan yang menerima teleponnya mengatakan bahwa tuan mereka belum kembali.
Ia ingat bahwa Dave sedang meneliti tentang William Bannet karena mencurigai gelar Sir yang dikenakan lelaki itu.
Mungkinkah Dave menemukan sesuatu?
Pintu diketuk dari luar. Seorang pelayan berambut cokelat datang, memberi tahu bahwa Marco menunggunya di ruang kerja. Jose memerintahkan pelayan itu untuk pergi, kemudian ia menyembunyikan buku klipingnya dengan cermat. Ia meletakkan buku itu di bawah tingkap rahasia yang ia buat dengan menjebol lantai kayu di bawah meja. Setelah yakin semuanya aman, barulah ia beranjak ke luar kamar untuk menemui pamannya.
Jose langsung berjalan masuk ke dalam kamar kerja tanpa mengetuk pintu, membuat Marco mengangkat wajah dengan kesal di balik meja jati setengah lingkarannya.
“Apa kesopanan sudah hilang dari kepalamu?” Pria tua itu mengamati Jose secara keseluruhan dengan tatapan kritis.
“Kesopanan tidak berada di kepala, Paman,” sahut Jose tangkas. “Lagi pula, Paman sendiri yang memanggilku ke sini, itu kan sudah sekaligus ucapan selamat datang. Aku tidak perlu mengetuk pintu lagi.”
Awalnya ia mengira hanya akan menemui Marco, atau minimal, dan Rolan di ruang kerja itu. Ternyata bahkan ayahnya, Edgar, juga sudah menempatkan diri di sana, duduk di samping Rolan.
Pria itu menyisir rambut hitam keritingnya dengan jari, kemudian melambai santai pada putra bungsunya. “Keluar sana, ketuk pintu dulu. Kalau diizinkan, baru masuk.”
Jose mengulaskan senyum tipis. Ia baru saja berjalan mundur ke arah pintu ketika Rolan mengangkat tangan dengan cepat.
“Biarkan saja. Kalau dia sampai melangkah ke luar, aku jamin Jose malah akan kabur!”
“Paman ini cenayang, ya?” Jose tertawa.
“Begitu?” Edgar mengelus rahangnya pelan-pelan, kemudian memberi cengiran lebar dan menunjuk tempat duduk di seberangnya. “Duduk di sana, Jose, aku tidak membiarkan kau kabur atau melakukan ketidaksopanan lain.”
Jose duduk dengan patuh. Lagi pula ia penasaran untuk apa mereka semua berkumpul di tempat ini. Biasanya ia hanya dipanggil oleh Marco untuk diceramahi atau dimarahi. Namun keadaan akhir-akhir ini sepertinya makin berubah, ada banyak yang berbeda sampai membuatnya jadi pusing sendiri memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“Kau sudah dengar bahwa Jacob akan pulang, kan?” Edgar bertanya. “Rolan sudah cerita?”
Jose mengangguk saja, memperhatikan bahwa di atas meja sudah tersedia tiga cangkir teh dan satu set biskuit dalam tatakan perak. Hal yang membuatnya jadi curiga. Dia menatap para tetua di ruangan itu satu persatu, berusaha menelusuri maksud tersembunyi di balik pemanggilan ini.
“Ada apa?” tanyanya, menyerah untuk menebak. “Kalian memanggilku untuk membahas soal Kakak?”
“Kau tidak terlihat takut, Jose,” Marco berkata lembut.
“Kenapa aku harus takut?” balas pemuda itu heran.
“Kau melihat Higgins sebelum mati. Kau mendengar kuda-kuda yang ribut memberi pertanda. Kau melihat makhluk itu, tidak hanya sekali tapi sampai tiga kali,” tutur Rolan sambil mencatat sesuatu pada buku notes kecilnya di atas lutut. Matanya melirik jeli dari balik bulu mata cokelat tua. “Yang ketiga malah sempat mengejarmu di hutan. Orang biasa pasti akan trauma seperti dua dayang Kak Renata. Tapi kau kelihatan tidak terpengaruh.”
Jose mengerutkan kening, mulai mengerti ke arah mana pembicaraan ini. Rolan pasti sudah menceritakan pada Edgar dan Marco soal apa yang dilihatnya di Bjork bagian selatan. Mereka mungkin heran melihatnya masih lincah mondar-mandir dan tidak jadi membatu seperti Linda. Jose harus mengakui, ia memang merasa takut. Sangat takut. Namun ia tidak merasa bahwa apa yang dilihat atau dialaminya cukup mengerikan sampai jiwanya harus mengalami trauma. Baginya itu bukan hal yang luar biasa.
“Dia tidak membawa pisau, senjata api, atau hal-hal semacam itu,” ujarnya sambil mengusap lengan dengan resah. Membicarakan soal makhluk yang dilihatnya masih membuat Jose merasa tidak nyaman. Sosok itu seperti bisa muncul sewaktu-waktu karena dipikirkan. “Mungkin karena itu, makanya aku tidak terlalu shock. Maksudku, dia kan cuma mengendus-endus dan berjalan bungkuk. Bukan sesuatu yang sangat mengerikan.”
“Kalau begitu,” sahut Marco, membuat perhatian semua orang tertuju padanya, “Kalau begitu, kau pasti tidak akan kaget melihat laporan ini.”
“Laporan apa?” Jose langsung tertarik.
Laporan tersebut berisi kesaksian-kesaksian mengenai orang-orang yang pernah melihat sosok hantu hitam, atau merasa pernah melihatnya. Ada juga laporan polisi patroli pada hari ketika Nolan datang.
Dua polisi yang kebetulan melewati rumah Argent memberi kesaksian bahwa mereka melihat sosok aneh, tapi mereka berpikir itu hanya ilusi karena sosok itu segera hilang.
Gambaran mereka soal sosok itu beragam, tapi memiliki kesamaan.
Hitam. Hampir seperti cairan. Mengendus. Menghilang dengan cepat.
__ADS_1
“Bagaimana?” Rolan menepuk pundak Jose, membuat pemuda itu sempat terlonjak kaget.
Berkas-berkas diletakkan kembali ke atas meja. Empat orang mengelilingi meja kurva dengan wajah-wajah tegang.
“Satu hal yang pasti,” bisik Jose, berusaha mencari-cari kejernihan suara. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun tidak bicara. Dia menoleh pada Marco, kemudian memberi gelengan pelan saat berkata, “Itu bukan suruhan Charles Hastings.”
Marco membalas tatapannya dalam diam untuk beberapa detik, kemudian mengguratkan senyum yang miring. “Kalau soal itu, kita belum tahu pasti, Jose.”
“Paman, dia tidak mungkin manusia!” Jose mendesis tak sabar. “Dia muncul dari udara! Untuk apa Baron Hastings melakukan demonstrasi magis macam itu?”
"Teror," sahut Marco pendek. "Aku ingin membuka Bjork, membangun bagian Selatan. Tapi dia menentang keras. Dengan munculnya teror ini, pembangunan tidak bisa dijalankan. Orang-orang takut keluar."
Jose rasanya ingin mengentak-entakkan kaki saking kesalnya. Hal yang paling dibencinya dari Marco adalah kekeraskepalaan pria itu.
“Baiklah,” tukas Jose akhirnya. “Anggap saja dia suruhan Baron Hastings atau apa, tidak akan terlalu berpengaruh banyak, kan?”
“Tentu saja berpengaruh banyak!” Rolan berkata heran. Mata cokelatnya membulat lebar. “Apa yang kita lakukan selanjutnya, tiap langkah kita, tentu saja dipengaruhi oleh faktor mengenai siapa lawan kita. Kalau dia bukan manusia, segala hal jelas berbeda.”
Marco mendengus. “Padahal aku memasukkan seorang dokter dalam diskusi karena mengharapkan masukan yang ilmiah.”
“Ayolah, kasusnya saja tidak ilmiah! Apa yang ilmiah dari exsanguination brutal?”
“Kalian yakin mau melibatkan Jose dalam hal ini?” Edgar menyeletuk, memutus rantai debat yang baru saja mau dimulai antara dua pria di sana.
Yang disebut-sebut sedang berkonsentrasi pada hal lain saat itu, dan segera saja kesadarannya tertarik kembali pada masa kini.
Marco menggeleng tegas. “Aku sebenarnya tidak ingin, tapi dia melihat hantu itu sekali lagi.”
__ADS_1
Jose melirik tajam pada Rolan, yang memberinya cengiran tak berdosa.