BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 26


__ADS_3

“Suara tawa itu sedikit aneh. Rasanya kedengaran seperti menggema langsung ke dalam dada,” Edgar mengakhiri ceritanya. Kedua bola matanya yang berwarna hitam bergerak gelisah.


Nolan mendengarkan semuanya dengan cermat, sampai-sampai tiap kunyahan pun ia lakukan perlahan agar tidak mengganggu pendengaran. Semuanya terasa mengherankan. Ia pikir, orang-orang di kota Bjork bagian utara tidak akan ambil pusing masalah yang menjurus ke hal-hal mistis semacam hantu—terlebih keluarga yang kaya. Ternyata ia salah. Di rumah ini malah semua orangnya sibuk mencari hantu.


Tadi, sewaktu menyusup keluar dari rumah untuk mengembalikan kalung yang ia temukan ke tempat keluarga Argent berada, Nolan tidak menyangka akan ditangkap dan diikat—apalagi dipukul. Nolan memaafkan hal tersebut dengan gampang setelah mengetahui kepanikan yang melanda keluarga ini. Meski begitu, tentu saja ia tidak akan menampilkan sifat pengampunnya pada Marco. Biar saja orang-orang mengira bahwa ia masih marah dan memusuhi mereka.


Ia meraih gelas sirup yang disediakan, menenggaknya sampai habis, kemudian mengumumkan dengan lantang bahwa dia akan segera pergi. Nolan sudah merasa cukup mendengar soal hantu. Wajah-wajah pucat dan panik di sekitarnya membuat ia tidak ingin tinggal lebih lama lagi.


Renata, yang sejak tadi mengalihkan fokus takutnya dengan memikirkan bagaimana seandainya ia memiliki seorang putri, segera meraih pergelangan tangan Nolan untuk mencegahnya pergi. “Di luar masih gelap!” ucapnya tegas. “Tidur saja dulu di sini, kau boleh pergi besok pagi!”


“Sekarang pagi,” ucap Nolan, yang selalu tahu cara berkilah.


“Pagi dihitung kalau matahari sudah tampak,” Renata tidak mau kalah. Ia mengalihkan pandangan, memberi kode pada putra bungsunya untuk ikut membantu.


“Tidur di sini tidak akan membuatmu mati, Nolan,” ucap Jose gamblang, yang malah membuatnya mendapat tatapan tak senang dari Renata.


“Memang tidak, tapi aku takut orang tuaku akan cemas,” Nolan beralasan. Tentu saja itu bohong. Orang tuanya mungkin sudah tidur lelap sekarang, tanpa rasa khawatir atau cemas. Keluarganya bukan jenis manusia yang jahat, hanya terlalu santai dan tidak ambil pusing hampir pada segala persoalan. Mereka percaya penuh pada Nolan dan tahu bahwa anak itu bisa menjaga dirinya sendiri.


Bahkan seandainya Nolan tidak kembali sampai dua hari ke depan, keluarganya akan tetap meladang, memancing, dan tidur lelap seperti biasa. Tetapi itu tetap jadi rahasia Nolan sendiri. Ia berharap dengan alasannya itu keluarga Argent jadi berpikir ulang untuk menahannya tetap di rumah itu.

__ADS_1


“Di luar tetap bahaya,” Edgar menukas, “Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, lagi pula polisi patroli sudah kembali ke rumah masing-masing.”


“Jangan menahanku,” Nolan menepis tangan Renata yang masih mencekalnya. “Bagaimana kalau karena aku tidak segera pulang, ibuku justru keluar rumah dan mencariku? Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada mereka? Memangnya kalian mau bertanggung jawab?”


Orang-orang sok elit biasanya mundur jika disodorkan beban tanggung jawab, begitulah yang selalu dipikirkan Nolan. Dengan mengungkit persoalan tersebut, ia berharap bisa memukul mundur kengototan orang-orang dalam ruangan itu. Namun ternyata keluarga Argent tetap menahannya, bahkan Marco.


“Dia tidak akan sebodoh itu, mau keluar rumah yang aman demi anak dekil sepertimu,” ucap pria tua itu, masih dengan tatapan dinginnya yang khas.


Nolan memberengut, tahu bahwa pria itu benar, tetapi juga kesal karenanya.


“Menginap saja di sini, besok aku akan mengantarmu pulang,” Jose berkata.


Nolan masih protes ketika seorang pelayan datang dan membawanya pergi. Namun protesnya tidak sekeras biasa, ia hanya melakukan itu untuk menunjukkan bahwa ia masih merasa tidak senang. Ketika dituntun keluar kamar, ia masih bisa mendengar suara orang-orang bicara. Rupanya empat orang itu masih meneruskan diskusi mereka soal hantu.


Dasar penakut! Nolan mencibir mereka dalam hati.


***


Gerald datang agak lama setelah Nolan pergi. Saat itu sudah pukul setengah empat pagi. Edgar sedang memaksa agar istrinya tidur duluan, tetapi Renata dengan penuh harga diri menolaknya. Ia berkata bahwa dirinya masih sanggup berjaga sampai pagi hari.

__ADS_1


“Dokter Rolan sudah datang dan langsung melihat keadaan para dayang. Kami sudah selesai menginspeksi seluruh rumah. Bahkan sampai ke sudut-sudutnya, Tuan. Tidak ada yang mencurigakan,” lapor Gerald dengan wajah tegang. “Tapi kami akan terus berpatroli.”


Marco mengangguk, meminta agar Rolan dipanggil.


Rolan adalah seorang pria tegap berumur pertengahan tiga puluh, adik kandung Renata. Rambutnya cokelat gelap. Pria itu selalu memberi senyum tenang dalam situasi apa pun, termasuk pagi ini. Setelah menepuk pundak Jose dan memberi salam pada saudarinya, dia segera mengambil tempat di sisi Edgar.


“Anak-anak itu ketakutan,” ucapnya tanpa basa-basi, merujuk pada dayang Renata. “Apa yang mereka lihat sebenarnya? Kalian berhasil menangkap hantu itu?”


“Itu bukan hantu,” Marco berkata tegas. “Cuma penyusup.”


“Oh, ayolah, aku dengar para pelayan berbincang. Kalian tidak berhasil menangkapnya. Dia pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Saat dua pelayan itu sadar dari syok, gosipnya pasti akan tambah santer. Kenapa masih menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Kami belum berhasil menangkapnya,” ralat Marco. Mata elangnya menatap tajam pada pria berpakaian kasual di sisi Edgar. “Kupikir para dokter akan memikirkan penjelasan yang lebih ilmiah alih-alih percaya pada cerita hantu."


“Aku dokter yang penuh fantasi,” kilah Rolan sambil tergelak. “Nah, nah, sekarang, katakan saja semuanya. Omong-omong, Jose, kau melihatnya juga, kan? Maksudku, hantu itu?”


Jose mengangguk saja, mulai kagum pada pamannya yang satu ini. Kehadirannya seperti membawa kehangatan dan keceriaan tersendiri, seolah hal-hal luar biasa menegangkan bukanlah misteri yang berarti baginya. Diam-diam Jose merasa iri, ia berpikir apakah dirinya akan bisa sesantai dan bersikap semenyenangkan itu meski diintimidasi oleh pandangan tajam Marco.


“Bagaimana wujudnya? Apakah pakai baju putih? Dia bawa kapak?” Rolan menautkan kedua tangannya di depan dagu, kedua mata cokelat mudanya berbinar antusias. “Apa ada noda darah di tubuhnya? Bagian tubuhnya ada yang termutilasi? Ayo, katakan semuanya padaku.”

__ADS_1


***


__ADS_2