
"Mungkin itu bukan Marco," Rolan mengejar Jose, yang berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua.
Mereka baru saja selesai mendengar cerita Nolan—yang disuarakan oleh Jose supaya Nolan bisa membantah atau memberi konfirmasi mengenai kebenaran interpretasinya. Jose hampir selalu benar menangkap maksud Nolan. Dan kini mereka sudah mendapat gambaran jelas apa yang terjadi pada Marco serta di mana pria itu berada.
"Ada banyak keganjilan dalam ceritanya! Kenapa dia melempar Nolan ke luar ruangan gelap itu padahal ada hantu hitam? Kenapa dia tidak ikut keluar? Aku mengenal Marco lebih dari yang kau kira Jose, aku tahu Marco bukan tipe orang yang mau mengorbankan diri sendiri."
Jose berhenti di landasan pertama menuju lantai dua. Sebelah tangannya memegang selusur yang mengawal tangga naik ke arah sayap timur. "Kalau Nolan berbohong, dari mana dia mendapatkan mantel dan sapu tangan Paman Marco? Memangnya apa yang bisa didapat Nolan dengan berbohong dalam kondisi babak belur seperti itu? Paman lihat sendiri di tangannya ada luka serta bekas gurat tali."
"Aku tidak menyebutnya bohong," Rolan menyangkal. "Tapi ceritanya aneh di sana sini. Mereka tadinya ada di penjara gelap di bawah tanah, lalu mereka jalan turun ke bawah dan begitu keluar malah langsung mencapai permukaan tanah? Tidak perlu jadi arsitek untuk menganggapnya ganjil, kan?"
Jose menatap Rolan lurus-lurus. "Paman kedengaran seperti tidak ingin menemukan Paman Marco."
Komentar itu mengagetkan Rolan hingga selama dua detik lamanya ia hanya bisa diam tertegun. "Jangan bicara sembarangan Jose," katanya sambil melirik sekitar, memastikan tak ada telinga yang mendengar di sekitar mereka. Gerald dan Hans tidak mendengar karena keduanya diminta menjaga Nolan di kamar pelayan. "Tiap tuduhan yang kau ucapkan beratnya lebih dari yang bisa kau bayangkan. Aku bisa saja dihajar oleh pekerjamu dan dipaksa mengakui hal yang tidak kulakukan kalau kau sampai kepeleset bicara."
"Maaf." Jose mengangkat bahu, tidak kelihatan menyesal sedikit pun. "Aku heran kenapa Paman mengejarku hanya untuk membantah cerita Nolan."
Rolan mengerjap. "Aku cuma ingin kau mempertimbangkan masak-masak tiap keganjilan, tiap sudut cerita, sebagai bentuk antisipasi. Kau masih ingat apa yang kuucapkan di depan Edgar? Aku membutuhkan figurmu. Kalau kau gegabah dan celaka, apa kau bisa bayangkan kekacauan apa yang terjadi?"
"Paman berlebihan."
"Tidak. Banyak pihak masih diam di tempat untuk mengawasi kita, menilai mana momen yang tepat untuk bergerak. Mereka menahan diri karena belum bisa membaca gerakanmu, mereka memperhitungkanmu. Kalau kau hilang, aku pastikan akan muncul massa bayaran yang melempari rumah ini dengan batu!"
Rolan membuang muka ketika melontarkan kalimat terakhir. Napasnya tak beraturan.
Jose tahu pamannya sedang membayangkan kejadian belasan tahun lalu, ketika istrinya meninggal dalam kepungan massa. Waktu itu Marco terluka parah dan dilarikan ke rumah sakit. Seseorang memprovokasi massa, membuat banyak orang bergerak ke kediaman Argent. Yvone yang sedang hamil muda menginap di sana atas tawaran Renata, yang ingin adik iparnya dirawat dengan baik selagi Rolan bekerja. Panik karena dikabari banyak orang mengepung rumah, keduanya berlari turun dari lantai dua untuk berlindung di bawah tanah. Masyarakat sudah menjebol gerbang dan masuk ke halaman, melempari pintu dan jendela dengan batu. Yvone terpeleset karena kaget mendengar batu besar memecahkan jendela yang terdekat dengannya. Ia jatuh dari tangga, tetapi berhasil bangkit dengan cepat dan melanjutkan jalannya. Namun beberapa saat kemudian, Yvone mengeluh perutnya sakit. Bayinya mati duluan di perut Yvone, yang segera menyusul satu jam kemudian dalam pelukan Renata. Rolan, waktu itu tujuh belas tahun, bahkan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan pada istrinya.
"Aku tidak akan melakukan hal gegabah," Jose menenangkan. "Aku setuju bahwa Paman Marco bukan tipe orang yang seromantis itu sampai sudi mengorbankan diri bagi orang lain—terutama Nolan. Tapi aku percaya Nolan mengatakan yang sebenarnya. Jadi kemungkinannya: Paman Marco pasti punya rencana tertentu. Mungkin dia merasa bisa mengalahkan hantu hitam itu, atau menemukan kelemahan hantu hitam, atau ... Paman menginjak ranjau sehingga ia tidak bisa keluar meski ia ingin. Mungkin Paman bukan tidak mau keluar demi bisa melindungi Nolan. Paman hanya tidak bisa menyusul Nolan."
__ADS_1
"Dan kenapa tidak bisa?" balas Rolan, yang sudah lebih tenang.
"Tidak tahu." Jose berbalik dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga ke sayap timur. "Yang jelas, aku tidak akan langsung ke sana sebelum tahu benar siapa yang kita hadapi sekarang ini. Paman Marco masih hidup, dia tidak hilang seperti orang-orang lain. Itu melegakan. Saat ini yang harus kita lakukan adalah tetap tenang agar tidak salah langkah ..."
Mereka diam ketika melewati beberapa pelayan yang sedang memoles perabot, lalu melanjutkan kembali begitu sekitar sudah sepi.
Jose menoleh melewati bahunya. "Aku mengerti kok kalau banyak yang ingin kita hancur. Aku pasti berhati-hati, percayalah."
"Aku bukannya tidak percaya padamu." Rolan mengembuskan napas panjang, mengusap wajah dengan kedua tangan untuk mengusir lelah. Langkahnya kini sejajar dengan Jose. "Waktu kau mendadak menghambur pergi setelah mendengar cerita Nolan, kupikir kau akan langsung membawa sepasukan pekerja ke Selatan."
"Ah, itu cuma gimik saja. Aku cuma ingin membuat Gerald dan Hans tenang. Mereka kelihatannya benar-benar ingin segera lari ke sana dan mencari Paman Marco." Jose mengusap anak rambutnya yang jatuh ke kening, menyisirnya ke belakang dengan jari. "Meski sekarang mereka patuh padaku, posisiku cuma sementara. Yang mereka layani adalah Paman Marco. Kalau aku diam saja mendengar cerita tadi, mereka mungkin akan kecewa padaku. Bahkan meskipun mereka tahu aku hanya melakukan hal yang semestinya, mereka pasti ingin melihat setidaknya aku melakukan atau memberi reaksi yang memuaskan."
Rolan menganga. "Jadi yang tadi cuma sandiwara dan kau keluar tanpa niat melakukan apa pun?"
"Aku berniat menelepon Maria," sergah Jose. "Aku belum minta maaf karena membuatnya malu di pesta tadi malam."
"Ah, bicara soal kantor polisi, aku jadi ingat." Jose berhenti. Mereka sudah sampai di depan pintu kamarnya. "Paman ingat aku pernah bilang ingin bertemu Inspektur Robert untuk memastikan statusnya, kan?"
Rolan masih ingat bagaimana Jose melontarkan usul konyol untuk melakukan tindakan kriminal agar bisa menginap di penjara dan bicara dengan Robert. "Ya. Kau sudah bertemu dengannya. Masih berpendapat dia bukan pengkhianat?"
Jose menggeleng. Ia membuka pintu dan meminggirkan tubuh agar Rolan bisa masuk. "Dia mungkin bukan lawan utama kita," katanya begitu pintu menutup. "Aku mengancam semua orang dan mempermalukan Inspektur Robert di kantornya. Ada banyak yang marah, takut, atau merasa malu, tapi aku juga melihat beberapa yang kelihatan tenang. Orang-orang ini, ketika semua orang lain memperhatikanku yang sedang mencerocos, hanya mereka ini yang lebih tertarik memperhatikan reaksi Inspektur Robert."
"Jadi mereka mengawasi Robert, memperhatikan apakah dia akan kepeleset bicara?" Rolan mengerutkan kening. "Bukannya itu justru jadi bumerang buat kita? Sekarang lawan tahu bahwa kau tahu di mana Marco!"
"Aku tadi tidak bertanya soal Paman Marco," Jose menghampiri telepon putar di sudut kamarnya. "Aku bersikap seolah hanya datang untuk Nolan dan marah karena dia ditahan padahal dia tamuku. Aku juga sudah memperingatkan semua orang untuk tutup mulut mengenai kejadian tadi pagi." Ia memutar nomor telepon yang dihapalnya di luar kepala. Setelah bicara beberapa saat, Jose mengembalikan gagang telepon ke tempatnya dengan wajah muram.
"Kenapa? Dia tidak mau bicara padamu?" tebak Rolan.
__ADS_1
"Dia sedang tidur. Yang mengangkat telepon tadi Dale." Ia mengembuskan napas dari mulut, meniup anak rambutnya yang dengan bandel jatuh lagi ke kening. "Inspektur Robert terluka pada bahu, aku melihat waktu Hans menangkis tangannya. Nolan bilang bahwa Inspektur Robert melakukan hal jahat pada Paman Marco, tapi aku punya dugaan lain."
"Yang adalah?"
"Entah kenapa aku berpikir Inspektur Robert mengurung Nolan di sel karena ingin melindunginya. Aku sudah meminta orang untuk pergi mengorek cerita dari Mr. Gordon sebelum pulang tadi. Harusnya sebentar lagi ada yang datang membawa kabar."
Rolan mengangguk pelan, menyukai efisiensi serta ketajaman nalar Jose. "Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" ia bertanya.
"Menyelidiki soal kalung ini." Jose menyentuh dadanya di tempat talisman emas Arabella berada. "Ada sesuatu yang salah. Aku merasa sedang melupakan sesuatu, tapi tidak yakin tentang apa yang kulupakan. Aku berniat menghabiskan waktu melakukan eksperimen di perpustakaan sambil menunggu informanku datang."
"Perpustakaan Pusat Arsip?"
"Perpustakaan rumah." Jose membuka pintu dan melangkah keluar diikuti Rolan.
Di ujung koridor, George melihat mereka dan berjalan mendekat dalam langkah pasti, dengan jenis pandangan yang memberi kesan bahwa ia perlu menyampaikan sesuatu.
"Tuan Muda," sapanya sambil membungkuk sopan
"Kenapa, George?" tanya Jose begitu kepala pelayan itu berhenti. Hanya pria itu satu-satunya orang yang tidak memanggilnya Tuan Kecil, dan Jose menyukai itu. Tuan Muda punya gema kata yang lebih berwibawa di telinganya. "Kuharap tidak ada masalah."
"Saya tidak yakin soal masalah, Tuan. Tapi di bawah, Tuan Xavier Hastings datang ingin bertemu."
"Itu informan yang kau tunggu?" Rolan menoleh heran.
"Mana mungkin!" Jose tertawa, tidak menyembunyikan rasa herannya. "Xavier Hastings! Bagus sekali. George, minta Gerald panggil Finnian dan Harold. Jangan ada yang muncul dulu, tapi aku tidak ingin Xavier bisa lolos dari sini tanpa izinku!"
Pada Jose yang bergegas pergi diikuti oleh Rolan, George mengiyakan dengan sopan.
__ADS_1
***