BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 168


__ADS_3

Marco mengerutkan kening. Ia pikir Nolan akan tersinggung atau mengamuk seperti biasa, alih-alih memberi pelukan. Banyak hal berubah dalam hitungan hari, membuat Marco bertanya-tanya apa lagi atau siapa lagi yang berubah di luar perkiraannya.


"Kau bisa mengalahkan hantu hitamnya atau kau kabur darinya?" Nolan mengangkat wajah bersemangat, lengannya masih terkalung di leher Marco. "Aku sempat ditangkap polisi itu dan suaraku sempat hilang! Menurutmu—"


Lady Chantall berdehem keras dari ambang pintu, memotong kalimat Nolan. "Aku tahu kau senang melihat Marquis selamat, Nak. Aku juga senang. Kami semua senang." Ia menatap Rolan tajam karena lelaki itu batuk kecil untuk menyembunyikan suara tawa. "Tapi Marquis masih luka dan sebaiknya kau lepaskan dia supaya jahitannya tidak terbuka lagi."


"Kau luka? Sebelah mana?" Nolan melepas pelukan, mengamati dengan penasaran. Di matanya pria itu kelihatan sehat.


"Luka kecil, hal sepele." Marco otomatis balik bertanya, "Kau sendiri?"


"Ini?" Nolan menunjukkan lengannya yang dibebat perban. "Sakit banget. Tapi selalu kugerakkan biar nggak kaku."


"Kalau sakit jangan digerakkan," kata Rolan serius.


Marco menatap ke pintu, mengangguk pada Renata dan Lady Chantall. "Masuklah, kalian berdua. Dan kau," lanjutnya pada Nolan. "Jangan pernah masuk sebelum dipersilakan. Sana keluar lagi dan ketuk pintu!"


Nolan tersenyum kecil, entah kenapa tidak merasa kesal sedikit pun. Namun tetap saja ia tidak mau keluar. "Tentu, aku akan keluar nanti," katanya, kembali mengulurkan sapu tangan biru Marco. "Ini. Kukembalikan."


"Simpan saja kalau kau suka. Lalu keluar. Aku ingin bicara serius dengan yang lain."


Nolan menyimpan kembali sapu tangan itu tanpa rasa sungkan. "Aku juga ingin bicara serius denganmu," sahutnya tak mau kalah.


Jose tersenyum geli. "Keluarlah dulu, Nolan," katanya. "Nanti akan ada giliranmu bicara serius. Kau akan dapat tempat spesial karena jadi yang terakhir. Waktumu lebih lama dari kami."


Nolan merasa itu kedengaran bagus, jadi ia setuju. Dengan sopan ia memberi salam hormat pada Marco dan Renata, lalu melangkah keluar sambil tak lupa mengetukkan buku jarinya ke daun pintu ketika lewat.


Rolan tergelak histeris melihat itu.


Mengabaikan adiknya, Renata melaporkan, "Kurir pesan dari Aston datang pagi ini. Greyland dan Edgar sudah menerima kabar bahwa kau selamat, tapi mereka belum bisa pulang karena masih menyelesaikan urusan dengan Baron Spencer dan aliansi dagang di Aston. Jacob meminta izin untuk pergi menyusul dan membantu mereka."


"Rolan sudah memberi tahu soal Jacob." Marco melirik Jose dengan tatapan kritis, memberi tanda bahwa ia juga mendengar laporan soal pertengkaran mereka dari Rolan. "Aku akan mengizinkannya."


"Saat ini dia sedang bersiap, sebentar lagi akan bergabung untuk pamit." Renata mengangguk. "Aku akan turun untuk menyiapkan sarapan. Kau mau sarapan di kamar?"

__ADS_1


Marco mengangguk. Ia dilarang banyak bergerak oleh Rolan. "Kenapa anak itu tidak dipulangkan ke Selatan?" tanyanya, merujuk pada Nolan.


"Dia terluka," sahut Renata tegas dengan nada tak bisa dibantah. "Aku sudah menghubungi keluarganya diam-diam. Selain ibunya, tidak ada yang tahu dia di sini. Selagi situasi belum kondusif, dia akan berada dalam lindunganku."


Renata memang yang kebagian peran mengurusi urusan rumah tangga, jadi Marco tidak akan mendebat keputusannya. Ia hanya mengangguk. Bagaimanapun juga, Nolan terluka karena pasang badan melindunginya, dan gadis itulah yang pertama memberi jawaban untuk semua misteri ini dengan membawakan kalung talisman itu ke rumah Argent.


Begitu Renata pergi, giliran Lady Chantall yang bicara. "Aku ingin bicara empat mata," katanya, meminta privasi.


Jose menatap Marco. Pamannya mengangguk kecil, jadi ia segera bangkit dan pergi setelah memberi salam hormat.


"Empat mata," Lady Chantall mengingatkan, menatap tajam pada Rolan yang masih menyeruput teh dengan tenang.


"Pergilah Rolan," usir Marco. "Periksa kembali keadaan Lord Dominic. Jangan hubungi siapa pun sebelum kondisinya jelas."


Rolan mengangguk. "Jose menampung Xavier Hastings dan Krip," katanya sebelum lupa. "Krip merasa terancam di tokonya, jadi dia tinggal di sini untuk sementara."


Marco mengangguk. "Aku ingin mendengarnya lebih lanjut nanti."


Lady Chantall mengalihkan pandangan ke depan, menghaluskan keliman di gaunnya dengan gerakan tak kentara. Ia meminjam gaun Renata karena pakaiannya rusak. Gaun itu kelihatan ramping dan anggun di tubuh Renata, tetapi Lady Chantall membuatnya kelihatan sensual. Ada pesona tersendiri pada dirinya yang membuat tiap pakaian yang ia kenakan seolah dibuat untuk memamerkan tiap lekuk tubuhnya. Kali ini rambut ikal cokelatnya dijalin dalam kepang longgar dan dibiarkan turun melewati bahu kiri, jatuh di bagian dada. Di jarinya yang ramping dan halus terdapat sebendel koran. Ia menyerahkannya pada Marco untuk dibaca.


"Kalau kau setuju dengan gaya itu, kita akan menggunakannya sampai seminggu ke depan," katanya, langsung ke inti. "Aku sudah meminta para ahli dan intelektual Bjork untuk ikut berpendapat mengenai ini. Wawancara-wawancara sedang disiapkan. Drafnya akan kukirim padamu setiap sore sebelum dicetak."


Marco membuka koran, menelusuri judul demi judul sebelum membaca sekilas tiap beritanya. Topik utama hari ini adalah penyelidikan polisi mengenai gerakan mencurigakan di Bjork. Belum ada Scholomance dimuat. Lady Chantall selalu hati-hati dalam menggiring opini publik.


"Bagus." Marco mengangguk. "Mengenai Hubbert?"


"Aku akan mengurusnya." Lady Chantall berpikir. "Melukai atau menekannya justru akan membuat dia berpikir bahwa dia ada di sisi kebenaran, dan orang juga akan berpikir serupa. Jadi mungkin lebih baik kita buat dia melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri?"


"Kenyataan?"


Lady Chantall tertawa manis. "Kenyataan punya banyak sudut. Tentu saja kita akan membuatnya melihat dari sudut yang benar."


"Baik, urusan itu sepenuhnya milikmu." Marco melipat kembali koran itu dan meletakkannya di atas meja dengan rapi. "Ada lagi?"

__ADS_1


"Ada." Lady Chantall menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, menggigit bibir bawahnya dengan resah. "Marco ... Argent ..."


Marco menunggu.


"Kau membiarkannya memanggilmu dengan nama depan?" akhirnya Lady Chantall mengeluarkan pertanyaan itu. Ia tidak habis pikir kenapa yang dikritisi oleh Marco dari Nolan adalah soal mengetuk pintu alih-alih soal nama. "Dia itu siapa? Aku baru bertemu dengannya tadi pagi, dan dia sangat ... sangat ... apa istilah yang tepat, ya?"


"Kurang ajar?"


"Yah ... rasanya bahkan kata itu masih terlalu sopan disematkan padanya. Dan Renata justru tersenyum setiap kali anak itu mengatakan sesuatu yang kasar. Apa dia saudaramu? Aku tidak tahu kau punya saudara lain."


"Dia teman Jose," sahut Marco pendek. Hanya itu yang ia katakan.


"Kau membiarkan teman Jose memelukmu seperti itu?" Nada suara Lady Chantall terdengar seperti seorang istri yang dikhianati.


"Seperti apa?" Marco mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang salah dari pelukan Nolan. Ia tahu bahwa gadis itu hanya merasa lega melihatnya selamat. Nolan adalah gadis yang selalu jujur mengungkapkan apa yang dirasakannya. "Apa sekarang aku harus minta izin darimu dulu untuk menerima pelukan orang lain?"


Lady Chantall mengalihkan pandangan. Sesuatu seperti menggoresnya tajam mendengar sarkasme itu. Rasa sakitnya nyata. Namun menyerah tidak pernah ada dalam kamusnya. "Kau tahu perasaanku," katanya dengan senyum manis terulas, berhasil mempertahankan nada anggun dan berkelas ketika melanjutkan, "Aku cuma bertanya karena merasa agak cemburu, maaf."


Marco tidak menanggapi. Ia masih berpikir wanita itu pasti tertukar memahami rasa cinta dengan rasa kagum. Kesendirian bisa menggerogoti wanita dengan cara yang paling jahat, menjadikannya lemah sehingga ingin bersandar pada siapa pun yang terlihat memegang kendali.


"Kau pasti berpikir aku tidak tahu apa-apa soal cinta dan cuma mengatakan ini karena kesepian," Lady Chantall menebak dengan tepat. Kedua pipinya merona kemerahan dan bola mata hijaunya berkilat tertimpa cahaya lampu.


Banyak yang bilang jatuh cinta membuat seseorang merasa seperti ada kupu-kupu terbang di dada atau di perut, tetapi Lady Chantall tidak merasakan itu. Ia merasa ada badai mengamuk dalam dirinya, tak bisa ditenangkan. Ia takut kehilangan pria itu hingga membayangkannya saja bisa membuatnya sesak napas.


"Mungkin kau pikir aku tidak ada bedanya dengan anak tadi," lanjutnya. "Kami berdua adalah anak-anak di matamu. Tapi kau salah, Argent." Ia bergerak bangkit, kemudian mencondongkan tubuhnya mendekat pada Marco.


Untuk sesaat yang dilihat oleh Marco hanya leher gaun yang rendah yang memamerkan belahan dada wanita itu. Kemudian ada aroma wangi bunga tercium lembut, menggoda. Kepang rambut Lady Chantall menyentuh wajah Marco ketika bibir wanita itu mendarat di keningnya, di antara kedua alisnya. "Kami bukan anak-anak," bisiknya lembut, "melainkan perempuan yang jatuh cinta."


"Kami?" ulang Marco heran, terganggu pada bagian itu hingga melupakan soal kecupan barusan.


"Yah, dia juga menyukaimu, kan." Lady Chantall memutar bola mata. "Anak kasar itu."


***

__ADS_1


__ADS_2