
Semua kereta sudah disiapkan. Lord Garnet menunggu mereka untuk makan siang bersama. Sekarang pukul dua belas siang, matahari bersinar terik di atas Bjork. Sebelum pergi, Marco berkumpul kembali dengan rekan-rekannya untuk kembali memastikan kematangan rencana.
Rolan kembali mengungkit pemindahan sebagian Bjork ke sebelah Selatan, tapi kali ini Tuan Stuart yang menolak.
"Masyarakat membutuhkan rasa aman, Dokter," kata pria itu. "Ketika mereka tidak merasa aman, maka kekacauan akan terjadi."
"Dan itulah poinku," sahut Rolan heran.
"Yang membuat masyarakat merasa aman adalah rumah mereka sendiri serta informasi yang cukup," sergah Tuan Stuart. "Berita sudah tersebar bahwa ada mayat hidup berkeliaran semalam. Menurut Dokter kenapa Bjork masih tenang? Itu karena tidak ada yang terluka—"
"Ada," potong Robert pendek.
"Itu karena sedikit yang terluka," ralat Tuan Stuart. "Dan mereka merasa aman selama tidak keluar rumah. Mereka juga mendengar kabar bahwa Mr. Argent dan dr. Orlov berhasil mengatasi mayat itu dibantu dengan seluruh tukang pukul Argent. Nama Argent dan statusmu sebagai dokter membantu membuat mereka merasa aman dan tenang, apalagi kemunculan Mr. Argent tadi pagi sangat meyakinkan. Semua orang percaya bahwa segala hal sudah beres. Dan kalaupun ada masalah lagi, maka pasti akan mudah dibereskan juga."
Rolan terdiam menyadari lambaian tangan dan tebar salam Jose tadi pagi ternyata memang disengaja untuk memberi kesan ini.
"Baiklah," desahnya. "Tapi beredarnya polisi patroli lewat dari jam malam akan membuat keresahan juga, kan? Suara tembakannya akan mengatasi lonceng balai kota."
"Aku hanya akan menyiagakan polisi patroli berseragam di pusat Bjork," Robert memberi tahu "Yang berjaga di luar itu akan menggunakan pakaian sipil. Lalu kita bisa serahkan sisanya pada Lady Chantall dan Tuan Stuart."
Marco mengangguk, matanya mengamati kejauhan, ke arah keributan di depan pintu rumah. "Mayat vs Argent. Kita sudah menyebarkan itu ke seluruh masyarakat agar diteruskan pada tiap orang di Bjork. Selama mereka tahu apa yang terjadi dan bahwa masalah tersebut sudah ditangani orang yang kompeten, mereka akan tetap tenang. Malam ini Argent akan melawan mayat yang paling ganas. Hmm salah satu mayat yang kabur?"
"Itu akan menimbulkan keresahan," Tuan Stuart menolak. Ia sempat tersentak waspada ketika melihat Jose dan beberapa pekerja mendadak berlari kencang. Ketika melihat para pemuda di depan manor hanya sedang bermain-main, napasnya berembus lega. "Mereka akan panik dan berpikir mungkin akan ada lebih banyak lagi mayat di sekitar mereka."
"Bagaimana kalau sumber?" usul Rolan. "Toh itu jujur. Kita memang melawan sumber masalahnya. Induk mayat?"
"Sumber adalah istilah yang bagus." Tuan Stuart mengangguk. Ia menatap ke langit, ke arah matahari yang masih terik. "Dan sebaiknya aku bersiap sekarang. Masih banyak yang harus diurus."
"Aku juga," Robert ikut undur diri.
__ADS_1
Keduanya masuk ke dalam mobil Tuan Stuart yang sudah disiapkan oleh George dan melaju pergi meninggalkan manor. Begitu mereka menghilang dari pandangan, Rolan bertanya pelan, "Bagaimana pinggangmu, masih sakit?"
Marco menyentuh sisi pinggangnya yang sempat tersayat, meraba dan menekan-nekan sekitar kulitnya, lalu menggeleng. "Seperti tidak pernah terluka. Lehermu?"
Rolan menggeleng serius. "Aku baik-baik saja. Dan justru ini masalahnya."
Marco setuju. "Aku masih merasa ini tidak masuk akal. Energi bukan hal yang bisa dihancurkan ataupun diciptakan."
"Jose bilang dia mengambil energi dari spirit atau sistem di dunia ini untuk bisa melakukan keajaiban-keajaiban itu," sahut Rolan serius. "Jadi semuanya sudah sesuai dengan hukum kekekalan energi. Dia bisa melakukannya karena saat hampir mati dia bertemu Dewa dan mendapat bisikan ilahi, pengetahuan mengenai sistem kerja dunia."
"Benar-benar seperti dongeng."
"Masalahnya, dia benar-benar menyembuhkanku dan menyembuhkanmu, jadi itu bukan dongeng."
"Jika dia memang cuma mengambil energi atau sesuai istilahmu: meminjam energi, seharusnya dia tidak terluka. Jika hukum petukaran setara adalah dia mengganti kesembuhan kita dengan energi alam, kenapa dia perlu terluka?" balas Marco.
Rolan mengusap kening dengan sapu tangan. Ia tidak mau berteduh. Berada dalam gelap kadang masih membuatnya resah karena dibayangi pengalamannya semalam. "Prinsipnya sama seperti mengalirkan air terjun ke tempat lain dengan menggunakan kertas. Kertasnya tentu saja tidak mungkin tahan. Dialah kertasnya. Kalau nanti malam kita terluka dan dia mencoba menyembuhkan kita lagi, tendang saja dia jauh-jauh."
Rolan mengesah frustrasi. "Aku tahu ... yang membuatku cemas adalah kalau dia merencanakan hal bahaya yang lain. Selama dia benar-benar cuma dekat-dekat sungai itu seperti semalam mungkin tidak masalah. Tapi kau tahu kenapa dia sampai mimisan tempo hari? Dia mencoba mencari cara dari bisikan di kepalanya, mencoba mengingat pengetahuan yang dibisikkan padanya. Sederhananya, dia mencoba ngotot meletakkan kertas di bawah hantaman air terjun! Aku bersumpah, kalau tahu-tahu dia membuat ledakan paranormal di Bjork atau menggunakan sihir berbahaya baru ... akan kuhajar dia. Aku tak peduli meski Renata mengamuk."
Marco tertawa. "Bukankah tidak ada yang namanya sihir?" cetusnya. "Katanya yang disebut sihir adalah ketika manusia mengintervensi sistem alam."
Rolan menggeleng lelah. "Dan yang bisa melakukan intervensi adalah yang punya pengetahuan atau punya ... sigil." Ia diam selama dua detik. "Bagaimana kalau kita coba ambil kembali medalion Arabella?"
"Lalu setelah diambil?"
"Entahlah, kita bisa improvisasi tergantung situasi. Kepalaku penuh. Aku tidak bisa berpikir. Aku mau tidur dulu sebelum pergi nanti."
"Tentu, istirahatlah," sahut Marco santai. "Kalau kita tidak berhasil merebut medalionnya, setidaknya kita harus bisa buat Sir William sekarat agar mengurangi beban Jose."
__ADS_1
Rolan mengangguk. Ia terkekeh lirih ketika menoleh ke samping kanan. "Sebelum pergi, sebaiknya kau berpamitan dengan Jeanne-mu. Lihat dia, tampangnya memelas sekali."
Marco ikut menoleh ke arah pandang Rolan. Lady Chantall bersandar di salah satu pilar rumah, menatap ke arahnya dengan raut melankolis. Nolan sudah tidak ada di sana.
"Kau akan langsung ke sabana kan setelah dari manor Garnet?"
"Ya."
Begitu mendapat konfirmasi, Rolan langsung berbalik pergi menuju Finnian yang sedang memasukkan suplai senjata ke dalam kereta barang.
Marco sendiri sudah berjalan menghampiri Lady Chantall, yang langsung memeluknya gembira begitu ia sampai. Masih misteri baginya kenapa wanita itu begitu mabuk kepayang, tapi makin lama Marco mulai merasa terbiasa dengan kehadiran dan perhatian Lady Chantall, jadi alasan di baliknya tidak lagi jadi masalah. "Di mana Nolan?"
"Dia? Pergi ke Selatan."
"Sendirian?"
"Aku menyuruhnya pamit dulu pada Renata atau kau atau Jose, tapi dia bilang tidak perlu." Lady Chantall melepas pelukan, tapi masih mengalungkan lengannya di leher Marco. "Anak itu yang akan membantu meyakinkan orang Selatan dan meredakan keributan di sana. Dia punya kemampuan yang dibutuhkan. Omong-omong, kereta yang di depan itu untuk siapa? Jose dan Maria? Kau tidak ikut pergi, kan?"
"Aku perlu bertemu Lord Garnet. Dia pasti menuntut penjelasan langsung dariku, dan memang sudah seharusnya." Marco mengabaikan ekspresi kecewa di wajah Lady Chantall. "Setelah itu aku akan langsung ke sabana."
"Tidak pulang dulu untuk makan malam?" Lady Chantall bertanya dalam bisikan gemetar. Mata hijaunya berembun. "Atau untuk menemuiku?"
Marco tersenyum simpul. Ia mengusap rambut cokelat ikal di depannya hingga berantakan. "Kita akan bertemu lagi besok," katanya. "Dan besoknya lagi, besoknya lagi, dan terus besoknya lagi, setiap hari sampai kau bosan melihatku."
"Mana mungkin!" sahut Lady Chantall cepat. Tangannya yang ramping bergerak dari pundak Marco turun ke lengan, menyurusinya dalam gerak perlahan sampai ke telapak tangan pria itu. Rasanya kasar, berkalus, tapi hangat. Jemari mereka bertaut. "Aku tidak mungkin bosan. Tidak akan pernah!" Lady Chantall menandaskan, kelihatan sepuluh tahun lebih muda karena rambutnya terurai berantakan di kening, membentuk poni samping. "Mmm, urusan dengan media akan kuurus. Kau tenang saja ... semua akan beres seperti maumu, aku janji."
"Aku yakin itu." Marco mengangguk. Ia menunduk untuk mencium tempat di antara kedua alis Lady Chantall, kemudian turun ke bibir. Sambutan yang diterimanya begitu agresif dan panas.
Selalu panas.
__ADS_1
***