
"Kenapa?" Rolan menaikkan kedua alisnya. "Kurasa dialah yang menyewa orang-orang yang dibunuh oleh Lord Greyland. Dia pasti ingin membungkamku. Krip juga berpendapat sama."
Jose menggeleng pelan. "Inspektur Robert bukan orang bodoh. Dia memang sedikit arogan. Tapi yah, arogan kan bukan kejahatan. Dia angkuh, tapi tidak bodoh. Dia jelas tahu apa yang dia ucapkan pada Paman. Menurutku dia sengaja membuat Paman berkesimpulan begitu."
"Dia sengaja ingin aku mencurigainya?" Rolan tertawa.
Jose menggeleng. "Dia ingin Paman tahu bahwa dia tahu apa yang terjadi. Dia memberi kode bahwa dia tahu dan dia terlibat dalam menghilangnya Paman Marco. Kenapa dia perlu melakukannya dengan penuh rahasia? Mungkin dia menghindari seseorang melaporkannya. Mungkin ada orang di kantornya yang menguping pembicaraan kalian."
"Dari mana kau yakin?"
"Itu cuma dugaanku," Jose mengakui. "Kalau aku jadi Inspektur Robert, aku tidak akan terang-terangan menyuruh seseorang membungkam Paman segera setelah Paman pergi dari kantorku. Inspektur Robert sudah lama bekerja dengan Paman Marco, dia pasti tahu bagaimana cara menghilangkan seseorang tanpa dicurigai. Sayang sekali Greyland membunuh semua pembunuh bayaran itu, jadi tidak ada yang bisa kita tanyai."
Rolan merinding. "Jadi ada orang lain yang mengincarku?"
Jose mengangguk. "Kalau Paman mati, orang itu akan senang. Kalaupun tidak, Inspektur Robert yang akan disalahkan. Yang jelas ini berarti setiap langkah kita diperhatikan oleh orang lain. Kalau tidak hati-hati, kita bisa kehilangan ekor orang itu."
"Menurutmu siapa pelakunya?"
Jose tidak bisa menjawab. "Aku perlu bicara dengan Inspektur Robert, tapi semua orang akan curiga kalau aku ke sana atau dia ke sini. Aku juga tidak tahu benar siapa musuh kita." Ia melirik orang-orang di depannya. "Bagaimana kalau aku membuat kegaduhan? Aku bisa merampok atau memukuli seseorang di jalan supaya aku dipenjara, supaya bisa bicara dengannya."
"Jose!" bentak Rolan kesal. Yang dibentak tertawa geli.
"Maafkan karena memotong Tuan, tapi apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Hans. Suaranya tidak lemah, melainkan bersemangat. Dia dan Gerald sudah kembali duduk di depan Jose, memasang telinga baik-baik.
Pemandangan yang lucu bagi Rolan melihat dua raksasa besar begitu patuh pada pemuda ingusan yang sampai kemarin sore masih loncat-loncat menyusuri tembok puri untuk memamerkan keahlian parkurnya.
Mereka semua benar-benar kelihatan salah tempat.
__ADS_1
Dua pria kasar dengan brewok dan bulu tangan lebat dan pandangan menyeramkan serta setelan flanel khas pekerja kasar duduk di atas karpet bulu lembut, menatap penuh perhatian pada pemuda berambut kusut masai yang duduk bersila di atas kasur sambil memangku berkas-berkas data, lalu ada seorang dokter duduk memeluk sandaran kursi seperti anak sekolahan.
"Sebelumnya, kalian pikir ada berapa lawan yang kita hadapi?" tanya Jose, mengalihkan matanya dari foto-foto kamar kerja Marco yang berantakan. Beberapa pemimpin tetap menyibukkan diri dan tidak mau repot menatap mata lawan bicara yang berstatus lebih rendah dari mereka, tetapi Jose sudah dididik oleh Marco untuk selalu menatap lawan bicaranya, lepas dari status mereka. Menguasai dan mendominasi selalu dimulai dari kontak mata.
Rolan mengedikkan bahu. "Dua? William dan Robert?"
Gerald dan Hans mengangguk setuju, mereka menggumamkan bahwa musuh utama mereka adalah Robert, pengkhianat.
"Inspektur Robert, ya? Katakanlah memang dia pelakunya, kita tidak tahu apa motifnya menculik Paman Marco. Sisihkan dulu soal dia, kita fokus dulu pada awal permasalahan. Kalau dilihat-lihat, sepertinya semua memang bermula dari orang-orang yang hilang, yang kemungkinan berhubungan dengan Sir William, yang kemungkinan lagi, ada hubungannya dengan kalung yang ditemukan oleh Nolan. Aku jadi ingat, dia menemukannya waktu aku pergi ke sana karena mengejar Sir William. Jadi, pria aneh itu memang mencurigakan." Jose menoleh pada Rolan. "Aku belum lihat kalungnya dengan jelas. Paman masih menyimpannya?"
Rolan mengangguk. "Marco memberikannya padaku untuk diteliti. Aku tidak menemukan apa pun selain simbol di sini." Ia mengaduk-aduk tas hitamnya dan mengeluarkan medalion emas itu dari sana.
Jose menerima kalung itu dari Rolan, kemudian menelitinya pelan-pelan. "Lambang infinitas, tak terhingga. Lalu huruf A ini ...." Ia mengetuk dan mengguncang-guncang bagian medalion di dekat telinga. "Ada sedikit suara. Sepertinya di dalamnya ada ruangan. Dan ada isinya. Kertas, mungkin ...."
"Wallace benar-benar panik waktu Marco membual berkata bahwa ia sudah bisa membukanya," terang Rolan. "Jadi Wallace jelas tahu sesuatu soal kalung ini. Aku mengira ini ada hubungannya dengan okult Bjork."
"Berarti dia tahu keberadaan kalung ini dan artinya?" Jose mengamati bulatan pipih yang agak cembung itu. Ia menaruh ibu jari di bagian bawah yang tidak berukiran, lalu sisa jarinya di bagian beremblem, dan dengan gampang membuka kalung itu. "Atau mungkin, dia merasa dirinya tahu."
"Bagaimana kau bisa melakukannya?!" Rolan berseru tak percaya. Setengah tubuhnya bangkit dari kursi.
Jose menatap pamannya dengan heran, kemudian berganti pada kalung di tangannya. "Kupikir Paman sudah membukanya. Kalian belum melihat isinya? Memangnya sesusah itu, ya? Ini kan mudah sekali. Tahan bagian bawah, lalu tarik bagian atas ke depan." Dia mempraktekkan.
Rolan menganga.
"Kutebak, kalian pasti mencoba memutar benda ini, mencari kenop rahasia, atau menariknya ke atas dan ke bawah seperti membuka katup," tebak Jose sambil tertawa. "Kalian semua tidak memahami kalung ini, makanya sulit membukanya."
"Bagaimana Tuan bisa memahaminya?" Gerald tidak tahan untuk bertanya. Sekarang ia benar-benar mengagumi Jose.
__ADS_1
"Bukan hal yang istimewa," pemuda itu berkata kalem, menutup kembali kalung itu untuk menunjukkan cara kerjanya. "Kalung ini milik perempuan. Bisakah kalian bayangkan ada lelaki yang menggunakannya kalung segenit ini? Dengan lambang hati melingkar-lingkar di bagian atas dan kecembungan luar biasa?"
"Lambang hati?" ulang Rolan. Keningnya berkerut.
Jose menunjukkan ukiran yang melingkari lambang infiniti dan huruf A. "Ini tidak terlihat seperti lambang hati bagi Paman?"
"Bagi saya seperti mie keriting," sahut Hans jujur.
"Bagi saya seperti ulir kayu," Gerald berkata penuh pertimbangan.
"Aku dan Marco melihatnya sebagai daun. Kenapa kau menganggapnya hati?"
"Hmmm, kelihatan begitu saja. Mungkin karena aku sering melihat tulisan tangan Maria. Dia sering menggambari suratnya dengan membuat gambar hati kecil-kecil dan rapat. Ya, sedikit persis seperti yang melingkar ini."
"Cuma dari situ saja?" Rolan melongo.
"Kurasa aku harus berterima kasih pada Maria," Jose berkata lagi. "Kalian mungkin tidak tahu, tapi beberapa alat kosmetik perempuan memiliki cara kerja buka-tutup yang sama dengan ini. Bukan diputar atau dibuka katupnya, melainkan ditarik dulu ke depan, lalu otomatis akan membuka sendiri. Aku sering melihat Maria membuka cerminnya."
"Di ... di dalamnya ada apa, Tuan?" tanya Hans penasaran.
"Ah, aku tadi belum lihat." Jose membukanya sekali lagi. Ketika melihat isi di dalamnya, mata pemuda itu berubah kosong.
"Ada apa?" Rolan beranjak dari kursi, mendekat ke samping keponakannya. Ia ikut mengintip. Di dalam medalion itu hanya ada foto. Foto yang di atas sepertinya adalah pasangan kekasih, dan keping bagian bawah memuat sebuah kalimat bertulisan tangan.
"Kita akan selalu bersama, selamanya," Rolan membaca kalimat itu. Matanya menatap ke keping yang bagian atas, mengetahui apa yang membuat ekspresi Jose berubah kosong.
Terpampang di keping itu, sebuah foto. Potret di Sir William, bersanding dengan Maria Garnet.
__ADS_1
"Maria?" Rolan mengerjap-ngerjap heran.
***