
Upacara pemberian gelar marquis pada Jose dilakukan satu bulan setelah kedatangan tiga sekretaris istana. Semua bangsawan menyempatkan hadir meski upacara itu bisa dibilang diadakan mendadak. Ratu Theresa memang terkenal dengan kecepatannya. Wanita itu selalu ingin segala hal dilaksanakan secara gegas dan singkat.
Jose menerima jubah serta coronet—mahkota perak kecil dengan ornamen daun stroberi berseling dengan empat bola perak khas marquis sebagai tanda gelarnya di depan semua orang, diberikan langsung oleh sang ratu. Sumpah diucapkan dan gelarnya disahkan di hadapan Uskup Agung Aston.
Menyusul upacara tersebut, pesta diadakan di manor Argent di Aston pada malam harinya. Selain untuk merayakan pengangkatan Jose serta keberhasilan Argent di Bjork, pesta besar tersebut juga digunakan untuk menunjukkan bahwa Marco masih hidup dan baik-baik saja, tidak menghilang seperti rumor yang disebar oleh Charles Hastings.
Meski Sir William sudah disucikan dan Hastings serta Spencer dilenyapkan, keadaan tidak lantas jadi baik-baik saja. Pendukung ketiga orang tersebut tetap banyak. Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa cerita soal iblis hanya omong kosong buatan Argent, terlebih setelah mereka tahu bahwa Lady Chantall yang notabene dikenal memegang kekuasaan media akan menikah dengan Marco. Mereka menganggap itu adalah pernikahan politik. Lady Chantall adalah bunga pesta. Banyak bangsawan yang lebih muda dan tak kalah kaya dari Argent mengantre untuk melamarnya, jadi tidak masuk akal bagi banyak orang kalau Lady Chantall memang bersama dengan Marco karena alasan selain politik.
Jose mendengar bisik-bisik itu dari keempat temannya, yang kini mengerubunginya di pesta setelah ia selesai berputar memberi salam pada para tamu.
“Sebenarnya keraguan orang-orang agak wajar,” Jose tertawa. “Keduanya memang jarang tampil bersama. Padahal andai saja mereka mengamati dari dekat, pasti kebenarannya terlihat. Lady Chantall terang-terangan menunjukkan kecemburuannya setiap kali Paman Marco bicara dengan perempuan lain.”
“Matanya menakutkan,” komentar Clearwater. “Aku pernah melihat waktu dia mengamati Marquis Argent yang sedang mengobrol dengan Ashley. Rasanya seolah dia bisa membakar orang lewat pandangan mata.”
"Bagaimana kabarnya?" Jose menoleh. "Rasanya sudah lama aku tidak melihat istrimu. Dia baik-baik saja, kan?"
"Baik. Dia ingin datang juga, tapi aku melarang. Ashley baru saja sembuh, perjalanan jauh dan udara malam tidak baik untuknya."
"Ahhh, cinta," ledek Dave sambil menyeruput minumannya.
Clearwater hanya menyunggingkan senyum simpul. Ashley bertubuh lemah dan kerap sakit. Namun setelah peristiwa sebulan lalu pada malam perlawanan terhadap iblis, Ashley berangsur sehat dan makin membaik. Tidak sedikit yang mengalami hal serupa di Bjork. Ketiadaan iblis yang menaungi kota ternyata membawa perubahan sangat besar bagi Bjork dan sekitarnya. Orang-orang Bjork otomatis menghubungkan berkah tersebut dengan Jose, meski yang bersangkutan mati-matian menyangkal perannya dalam kesembuhan semua orang.
Marsh menoleh ke kiri dan kanan, mengedarkan pandangannya ke sekeliling atrium yang penuh sesak dengan obrolan manusia dan wangi parfum. Jarang sekali para bangsawan kelas atas berkumpul bersama, jadi pesta malam ini tidak disia-siakan seorang pun. Banyak yang menggunakan kesempatan untuk saling melobi, ada juga yang mencari jodoh untuk diri sendiri atau keluarganya, atau kepentingan lain.
“Kau tidak mengundang Nolan?” tanya Marsh setelah tidak menemukan orang yang ia cari.
Jose menggeleng. “Dia benci orang kaya. Akhir-akhir ini sih sikapnya lumayan dibandingkan pertama kami bertemu, tapi kalau dia datang ke sini dan melihat kerumunan bangsawan, kau tidak akan mau membayangkan kalimat apa yang akan dia lontarkan, Adie.” Ia menghela napas. “Aku sendiri tidak mau membayangkannya.”
Dave tertawa pelan. “Lagi pula kasihan dia kalau dibawa ke sini dan harus melihatmu melamar Garnet.”
Jose mendesis cepat. Matanya melirik ke arah Maria, yang sedang bicara dengan teman-temannya di sisi ruangan. “Jangan bodoh. Kami cuma berteman.”
“Kau masih bicara begitu?” Simon mengerutkan kening. “Kupikir kau menyiapkan cincin itu karena ingin melamarnya?”
“Maksudku, aku dan Nolan yang berteman. Aku menganggapnya seperti adikku sendiri. Dan jangan bicara soal cincin, nanti Maria dengar.” Jose menyentuh dadanya, meraba kotak cincin yang tersembunyi di balik saku jas bagian dalam. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia takut kotak cincinnya akan kelihatan terlalu jelas dan kejutannya jadi hilang. “Mau ke mana?” tanyanya pada Clearwater yang bergerak untuk pergi.
“Cari minum.” Pria itu menunjukkan gelas anggurnya yang kosong.
“Panggil pelayan. Jangan tinggalkan aku dulu.” Jose menangkap tangan Marsh yang hendak beranjak. “Kau juga diamlah di sini sebentar, Adie. Jangan loncat-loncat seperti kutu! Kalau kalian semua pergi, aku pasti dikerubuti banyak orang.”
“Begitu caramu minta tolong?” Marsh mendengus, tapi batal merayu gadis yang terus menatapnya dari sudut ruangan.
Simon terkekeh. “Marquis muda yang masih lajang, seorang Argent pula. Kau jelas akan mendapat banyak lamaran malam ini.” Ia mendekatkan diri dan berbisik. “Begitu pula Garnet. Kau lihat orang-orang yang mendekati ayahnya?”
__ADS_1
“Aku lihat itu, Simon. Jangan cerewet.” Jose menjauhkan diri ketika melihat kedatangan Andrew, kepala pelayan Argent di Aston. Pria itu lebih muda dari George, tapi kesigapan dan kesetiaannya tidak kalah. “Bagaimana?” bisiknya ketika pria itu sudah sampai.
“Semuanya sudah siap, Tuan,” jawab Andrew dengan mata bercahaya.
“Tidak ada kesalahan? Orang-orangnya juga sudah siap?”
“Saya sendiri yang akan mengurusnya. Tuan tidak perlu cemas.”
Jose mengangguk. Ia tidak menunjukkannya sama sekali, tapi rasa cemas membebat hatinya kuat-kuat. Telapak tangannya dingin dan basah. Ini terasa lebih menegangkan dibanding saat ia menghadapi banyak mayat hidup—atau mungkin ia merasa begitu karena sudah lama selamat dari kejadian menyeramkan itu.
“Apa yang kau rencanakan?” Marsh meringis. Kedua alisnya digerakkan naik turun menggoda. “Butuh bantuan kami?”
Jose mengangkat wajah ke arah orkestra yang berada di serambi atas atrium. Konduktor melihat isyaratnya, kemudian mengangguk sopan dan mengganti musik menjadi lebih lembut. Perlahan, satu-dua orang berdansa diikuti yang lain. Jose mengembalikan pandangan pada Marsh. “Ya. Aku butuh sedikit bantuan.”
***
Lady Chantall kelihatan lebih cantik dari biasanya malam ini. Ia mengenakan gaun biru tua sederhana yang berbahan lembut, kainnya jatuh dengan pas mengikuti lekuk tubuh. Rambut cokelat gelapnya ditata sederhana dan diberi hiasan jaring bertabur butiran zamrud. Perhiasan yang dikenakannya hanya itu, liontin emerald yang satu set dengan antingnya, serta cincin berlian di jari kiri sebagai tanda pertunangan. Orang-orang memujinya, mengatakan bahwa penampilannya yang sederhana itu yang membuat paras cantiknya jadi lebih menonjol, tapi Lady Chantall tidak berhenti tersenyum sepanjang pesta bukan karena pujian-pujian tersebut.
Marco memperkenalkannya pada setiap orang yang datang sebagai tunangan, kadang bahkan calon istri. Lady Chantall baru tahu kata itu bisa terdengar begitu indah di telinga. Wajahnya berseri-seri dan pipinya dihiasi rona merah alami.
Ketika lagu yang dimainkan berubah lembut, Lady Chantall menarik lengan Marco, memintanya berdansa.
"Aku tidak bisa." Marco menggeleng. Ia sudah bertahun-tahun tidak berdansa, jadi tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. Terakhir kali ia turun ke lantai dansa adalah saat umurnya masih dua puluhan, menemani Theresa sebelum gadis itu dimahkotai menjadi ratu. "Kau boleh menari dengan yang lain," katanya begitu melihat wajah Lady Chantall jadi tidak bersemangat. Maksudnya adalah membebaskan wanita itu untuk bersenang-senang, tapi Lady Chantall justru menatapnya marah.
Kejengkelan Lady Chantall anehnya justru membuat hati Marco menghangat. Ia menatap ke depan, ke arah orang-orang yang mulai berdansa. Musiknya bukan waltz, tapi ballad yang diperuntukkan bagi pasangan. Setelah mengamati selama lima menit, Marco sudah mengerti pola gerakannya serta kecepatan temponya. Untuk lebih memastikan lagi, ia melakukan simulasi dalam kepala sambil mencocokkannya dengan musik dan langkah kaki Edgar yang berdansa dengan Renata. Cocok. Ia sudah hapal langkah dan gerakannya. Namun teori tidak sama dengan praktik. Ia bisa saja tersandung atau salah melangkah. Marco sebenarnya tidak suka berdansa, apalagi dansa baru yang tak pernah dipelajarinya, tapi Lady Chantall kelihatan begitu ingin. Ia tidak mau mengecewakan tunangannya.
"Kita bisa berdansa di balkon, kalau kau mau," katanya. Ruang dansa ada di lantai dua. Di dua sisi ruangan terdapat balkon panjang yang cukup luas. Para tamu bisa mencari udara segar di sana, tapi saat ini balkon sepi. Semua orang ingin berdansa di dalam.
"Balkon?" Lady Chantall menatap tempat yang dimaksud. Tempat itu sedikit temaram, agak tertutup pilar rumah, mengarah ke gazebo di taman depan—yang sudah dihias dengan fairy's lamp berwarna-warni. Kelihatannya romantis, jadi ia setuju. Mereka menyingkir ke balkon, menghindari tatapan mata banyak orang.
Musik yang mengalun terdengar sampai ke tempat itu, bahkan sampai ke halaman.
Lady Chantall tersenyum geli ketika mereka mulai berdansa. Marco tidak bercanda. Pria itu memang benar-benar kaku, bahkan dua kali sepatu mereka terantuk dalam irama yang salah.
"Aneh sekali," kata Lady Chantall heran. "Bagaimana kau bisa begitu luwes di ranjang tapi kaku saat berdansa? Biasanya dua hal itu selaras."
Marco meliriknya tanpa bicara, masih fokus mengatur gerakan kaki sesuai irama musik. Lagi-lagi ia menendang sepatu Lady Chantall, tapi itu tidak membuatnya menyerah, yang justru membuat pasangannya makin gemas. Lady Chantall berhenti tiba-tiba untuk mendaratkan satu ciuman panas.
"Kupikir kau ingin berdansa?" Marco bertanya begitu bibir mereka terpisah. "Sudah menyerah?"
Lady Chantall masih mengalungkan tangannya ke leher Marco dengan mesra, bergerak seirama musik tanpa peduli soal langkah dansa yang benar. "Orang-orang tidak percaya kita menikah karena cinta. Aku mengajakmu berdansa karena ingin pamer kemesraan. Tapi kalau kau seimut ini, aku tidak mau memperlihatkannya pada orang lain. Bisa gawat kalau banyak orang tahu kau sebenarnya sangat manis."
"Mereka hanya akan percaya apa yang ingin mereka percayai, bukan apa yang benar. Biarkan saja." Marco mengabaikan soal imut dan manis. Lady Chantall memang selalu memberinya komentar aneh-aneh, itu sudah biasa. Ia meletakkan tangannya di pinggang Lady Chantall, mengagumi betapa rampingnya tubuh wanita itu. "Aku belum sempat bertemu dengan ratu hari ini," katanya, "kepulangan kita diundur dua hari. Besok aku akan kembali ke istana untuk melapor. Kau mau ikut?"
__ADS_1
"Mau." Lady Chantall mengangguk cepat. Ia tidak sudi membiarkan Marco berdua terlalu lama dengan sang ratu. Mata hijaunya berkilat ceria. "Hey, tanganmu ke mana?"
"Maaf, otomatis," sahut Marco sambil menaikkan kembali telapaknya dari pinggul ke pinggang Lady Chantall.
Lady Chantall tersenyum geli. Mereka berhenti berdansa. Ia menyandarkan tubuh ke depan, menekannya dengan hangat ke pelukan Marco. "Sentuh saja, tidak masalah. Aku suka kalau kau yang melakukan," katanya manja. Ia mengangkat wajah, memberi tatapan penasaran. "Wajar kalau banyak yang tak percaya kita memang saling mencintai. Aku saja tidak tahu kenapa kau menerimaku. Apa alasanmu?"
"Kau cantik," jawab Marco heran seolah alasannya adalah hal yang seharusnya sudah diketahui semua orang.
"Cantik? Itu saja?" Lady Chantall mengerutkan kening. "Banyak perempuan yang lebih cantik dariku!"
"Siapa?"
"Lady Georgina, misalnya."
Marco tahu nama itu. Salah satu yang disebut sebagai Bunga Aston. Angin malam berembus lembut menyapu kulit, meniup anak rambut Lady Chantall. Ia menyelipkan helai rambut yang terbang di pipi ke belakang telinga wanita itu. "Lebih cantik kau."
"Bagaimana dengan Miss Tallant?"
"Siapa itu?"
"Aduh, dia soprano terkenal dari teater Etoile! Memangnya kau tidak tahu?"
"Tidak."
"Itu teater terkenal!" Lady Chantall tak percaya. Tangannya turun meraba dada Marco yang maskulin, menyapu tempat di mana sebelumnya ada lubang menganga karena tusukan Sir William. Kadang ia masih memimpikan peristiwa itu jika Marco tidak menemaninya tidur. Itu semua sudah berakhir, batin Lady Chantall. Matanya menangkap kilau cincin berlian di jari manis kiri. Itu cincin yang ia pilih bersama Marco dua minggu lalu. Musim semi tahun ini, cincin tersebut akan pindah ke jari manis kanannya. "Ratu Theresa juga cantik ..."
"Kau jauh lebih cantik," jawaban itu datang tanpa jeda sedetik pun. Marco mengatakannya dengan ketegasan yang pasti.
Bohong kalau Lady Chantall tidak bahagia. Senyumnya mengembang lebar, tapi ia masih tidak mau menerima jawaban itu. "Pokoknya alasanmu kurang. Banyak yang lebih cantik dariku!"
"Itu kan bagimu." Marco menyandarkan sisi pinggangnya pada langkan, memandangi setiap senti wajah Lady Chantall. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang dilihatnya sebelum mati dan juga setelah hidup kembali sebulan lalu. Kesetiaan dan cinta Lady Chantall menyentuhnya, mengikatnya dalam kasih sayang yang sama besar. "Bagiku berbeda."
Lady Chantall tertawa kecil. Ia menghela napas panjang dan melepas pelukan. "Susah sekali ya mengajakmu bicara jujur. Kau tidak pernah mau mengatakan isi hatimu." Matanya menatap mesra. "Untung aku punya seumur hidup untuk memaksamu bicara."
Marco tidak berkomentar. Ia merasa sudah cukup jujur. Di matanya Lady Chantall memang yang paling cantik dan ia suka melihat wanita itu di dekatnya. "Oh, itu Jose," katanya ketika melayangkan pandangan ke bawah, ke arah gazebo. Alis putih peraknya berkerut melihat Jose sedang bicara dengan Andrew. "Apa lagi yang dia rencanakan?"
Lady Chantall ikut menengok ke bawah. Ia terkekeh melihat Dave dan Simon ikut sibuk di taman. "Aku bisa menebaknya, Sayang. Kalau tebakanku benar, kau harus menciumku."
Marco tertawa.
***
¬Overture: punya beberapa arti. Bisa musik pengantar, bisa permulaan atau pengantar pembahasan/hal yang penting.
__ADS_1