BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 93


__ADS_3

Ketika semua orang menikmati kembang api, Marco bertandang ke toko Krip malam itu. Krip menyambutnya, menengok ke sekitar sekilas, memastikan tidak ada orang yang melihat mereka, lalu mempersilakan Marco masuk. Mereka masuk ke bagian belakang toko. Krip membimbing Marco menuruni tangga ke lantai bawah, di mana beberapa orang lain sudah menunggu mereka.


Ada tiga orang di sana. Dua orang segera berdiri dengan hormat ketika Marco datang, yang satu tetap duduk dengan santai di sofa. Aroma cerutu dan brendi mengambang di udara.


Krip mengatur lampu-lampu minyak di ruangan tersebut agar menyala lebih terang. Sekarang ada lima orang di situ, termasuk Marco dan Krip.


Marco melempar satu bendel kertas yang diikat karet kendur ke atas meja kayu di tengah ruangan itu.


Lady Chantall, satu-satunya wanita yang ada di sana, bangkit dari sofa dan berjalan mendekat. Ia masih mengenakan gaun pesta berwarna merah gelap yang ramping, kemungkinan baru saja menghadiri opera yang digelar di Gedung Kesenian. Dua orang pria lain yang ada di situ adalah Tuan Stuart dan Greyland. Keduanya berusia empat puluhan, berpakaian formal karena baru saja dari Gedung Diskusi.


"Apa ini? Contoh koran besok pagi?" Lady Chantall bertanya. Bibirnya yang dipulas lipstick merah melengkung dalam senyum manis. "Mayat seorang gadis ditemukan di Bjork Selatan! Keluarga Argent menutupi kasusnya?"


"Hubbert," geram Marco, menyebut nama orang yang menulis artikel itu. "Robert sudah mengurusnya. Kertas kuning macam itu tidak akan muncul. Tapi kalian seharusnya mulai memikirkan cara membungkam bocah itu."


Lady Chantall mengangkat kedua bahu putihnya dengan lagak menyerah. "Dia cuma bocah. Masih muda dan idealis. Biar saja berceloteh. Kita tinggal terbitkan koran lain yang membantah tegas artikel bodohnya, lengkap dengan wawancara para ahli. Biarkan koran macam itu jadi hiburan kelas bawah."


Alis Marco berkedut. Ia tidak suka itu. Semua paku yang mencuat harusnya dipukul rata. Tapi ia tidak ingin berdebat dengan Lady Chantall soal ini sekarang. Marco menoleh pada Tuan Stuart, yang sudah duduk kembali di sisi Greyland, di sofa. "Ada kabar dari David, Lord Dominic?"


Pria berkumis tipis itu menggeleng. "Kabarnya, dia menghubungi seorang teman sebelum menghilang."


"Maksudmu Jose?"

__ADS_1


Tuan Stuart tersenyum malas. "Bukan. Seorang teman di pusat kota," ucapnya. "Teman semasa sekolahnya dulu. Tuan Phillips Raynor. Mereka bahkan ada janji bertemu. Tapi mereka tidak sempat bertemu. Tuan Raynor justru ikut menghilang."


Marco bisa menebaknya. "Kapan dia menghilang?"


"Mungkin di hari yang sama dengan Lord Dominic," sahut Tuan Stuart, tak yakin. "Phillips Raynor sudah memesan tiket kereta, tapi dia tidak berangkat.'


"Bagaimana dengan keluarga Lord Dominic? Adiknya pulang?"


"Kau benar menebaknya. Tuan Rutter sudah dipanggil pulang, tanah dan rumah mereka akan diurus olehnya. Menurut kabar yang kudengar, keluarga Dominic akan mengadakan pemakaman tanpa mayat," Tuan Stuart menuturkan santai seolah itu adalah hal biasa. "Orang-orang di Dominic sendiri belum tahu. Mereka pikir tuan mereka hanya jalan-jalan seperti biasa. Tuan Rutter memang biasa datang membantu kalau Lord Dominic sedang tidak ada di tempat."


Marco memikirkan kembali semua yang terjadi. Apakah Dominic memang hanya pergi bermain? Atau pria itu menjadi korban intrik keluarga? Ia tahu bagaimana Dominic bersaudara saling bersaing. Ketika David menjadi Lord Dominic menggantikan ayahnya, Rutter segera pergi dari Bjork, meski kemudian kembali datang setiap kali dirayu oleh kakaknya. Namun ia tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa pria itu mungkin terlibat dalam kasus berdarah di Bjork. Semua hal masih belum jelas.


Lady Chantall terkekeh pelan. "Untuk apa? Dia pergi berburu hantu?"


Greyland menggeleng tak mengerti. "Sejak dulu dia memang penasaran dengan Bjork Selatan."


"Tapi dia menentang usul pembangunan yang diajukan Argent," sahut Lady Chantall sambil meringis. "Sebenarnya aku masih penasaran kenapa kau begitu memperjuangkan daerah itu."


"Tempat itu wilayah hutan lindung," sahut Marco bosan. "Pemukiman kumuh akan merusak pemandangan Bjork."


Lady Chantall tertawa lagi, jelas-jelas tidak percaya bahwa hanya itu alasan Marco, tapi ia tidak mendesak. Keluarga Chantall sudah sejak lama bersumpah untuk membantu Argent, jadi ia tidak akan memaksa kalau Marco tidak mau mengatakan alasan sebenarnya.

__ADS_1


"Aku masih mencari tahu apa yang ingin dibicarakan Lord Dominic dengan Tuan Philips Reynor," kata Tuan Stuart dengan suara pelannya yang biasa. "Dan akan sangat membantu kalau kau mau membantu sedikit dengan mengatur pertemuan antara aku dengan Tuan Jose Argent."


Marco mengangguk. Jose adalah sahabat Lord Dominic, jadi sebenarnya gampang saja menebak niat Tuan Stuart. Tuan Stuart adalah orang yang sangat sopan dan mengerti tata krama, juga begitu pandai menarik informasi. Marco tidak perlu khawatir akan ada informasi yang bocor. Bagaimanapun, keempat orang dalam ruangan ini adalah orang-orang kepercayaannya. "Omong-omong, kalian tahu soal ritual darah di Bjork?" tanyanya. "Maksudku, soal agama lama di Bjork."


Lady Chantall menggeleng. "Mendadak percaya Tuhan, Argent?"


Greyland meraih gelasnya, menyesap brendi seteguk. "Maksudmu okult sesat sempalan Katolik? Katanya, mereka mengejar hidup abadi."


"Kudengar, dulu mereka menggoreng janin dan memakannya supaya awet muda," tambah Lady Chantall dengan nada bersemangat. "Mereka melakukan praktik-praktik ala Bathory."


Tuan Stuart menatap Marco agak lama. "Kalau yang kau maksud adalah agama lama yang benar-benar kuno, kudengar mereka melakukan pemakaman di gunung, menanam mayat agar menjadi pohon. Sungai yang mengalir membatasi Utara dan Selatan adalah gerbang dunia lain. Orang-orang yang tidak mampu melakukan upacara mewah untuk memakamkan keluarga di gunung akan melarungkan abu jenazah yang mati di sungai. Dulu, sungai itu sakral."


Marco mengangguk setuju. "Aku mendengar hal yang sama dari ibuku. Praktik itu masih dilakukan ketika dia kecil."


"Kau tidak mengungkit ini untuk mengenang masa lalu dan cerita pengantar tidur dari ibumu, kan?" tanya Lady Chantall.


"Tidak, hanya saja aku jadi menghubungkan cerita-cerita itu dengan obsesi Charless pada Bjork Selatan."


Greyland mengerutkan kening. "Masuk akal. Bagi kedua agama itu, Bjork Selatan adalah tempat sakral. Jadi Charles ingin membeli gunung untuk dirinya sendiri agar ia bisa ... apa? Mendirikan agama dan jadi nabi baru?"


Marco menggeleng. "Aku menunda mencari tahu karena kupikir ini bukan hal penting, tapi setelah semua yang terjadi, kurasa tahu lebih banyak dari seharusnya jauh lebih baik daripada sama sekali tidak tahu."

__ADS_1


__ADS_2