
Run adalah kuda yang dihadiahkan Marco pada Jose di ulang tahunnya yang kesepuluh. Kuda itu berwarna hitam pekat, dari jenis Andalusia. Alih-alih berkuda di peternakan keluarganya, Jose membawa Run pergi melewati kota. Ia mengangguk dan tersenyum dengan flamboyan pada gadis-gadis yang dilewatinya di kota, yang balas tertawa dengan bibir merah tersembunyi di balik kipas.
Sejujurnya, Jose tidak benar-benar ingin berkuda. Ia hanya menggunakan kegiatan itu sebagai cara untuk melarikan diri dari Rolan. Ia sudah muak pada ketidakjujuran paman-pamannya. Kadang mereka terlihat seperti sedang membebankan sesuatu pada Jose, sesuatu yang penting, tetapi tidak ada yang memberi tahu padanya apa hal penting itu tadi. Mereka bermain rahasia dan menyuruhnya duduk menunggu seperti anak yang penurut.
Seperti boneka.
Jose tidak mau.
Ia tidak sudi menjadi alat yang diperintah dan dikendalikan sesuka hati seperti ketiga kakaknya. Jacob mungkin sudah memiliki kehidupan sendiri sekarang, lepas sedikit dari cengkeraman nama Argent, tetapi Jose melihat sendiri bagaimana mengerikannya kehidupan yang dijalani oleh kakak-kakaknya. Hidup yang tidak bisa dikatakan hidup. Mereka hanya melakukan apa yang diperintahkan atau disenangi oleh Marco, Edgar, atau pun tutor di Bjork. Mereka merasa sedang memberontak, padahal justru berjalan di jalur yang sudah digariskan Marco.
Mereka seperti mesin. Seperti boneka kayu.
Tetapi bahkan Pinokio pun bisa memilih kehidupannya sendiri. Pinokio memiliki keinginan untuk hidup dan menjadi manusia yang bebas.
Jose menggertakkan gigi, memacu Run melewati kantor pajak, menyeberangi jembatan Bjork. Ia manusia bebas dan ia tidak mau diperlakukan seperti mesin.
Jose bisa melihatnya pada mata Rolan tadi: sebuah keinginan untuk mendominasi. Pamannya yang itu juga mau melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Marco. Mereka berniat menggunakannya sebagai alat belaka. Ia tidak akan mengizinkannya.
Jose berbisik pada telinga Run, kudanya, membuat binatang pintar itu berlari lebih kencang lagi, kemudian meloncat tinggi. Jose menggenggam tali kekang, memejamkan mata. Ia merapatkan bibir saat kudanya menapak tanah. Tubuhnya terguncang dalam gelenyar yang biasa ia rasakan. Angin membelai seluruh tubuhnya, memercikkan sedikit keringat yang menetes dari rambut.
Mereka melewati padang rumput di Bjork Selatan, tapi Jose memutari hutan. Ia melewati pemukiman, berjalan ke padang lain yang lebih luas di sisi kaki gunung.
__ADS_1
Kini ia berada di pinggir tebing, menatap pada dataran luas yang membentang di bawahnya. Bjork Selatan memang terletak agak tinggi, berada di dekat bukit pegunungan yang terjal.
Jose beranjak turun dari kuda. Napasnya terengah. Ia membelai surai Run dengan sayang, menyandarkan pelipisnya pada leher binatang itu.
Gerhana matahari tinggal satu minggu lagi. Entah kenapa Jose menebak akan ada hal buruk terjadi. Hal yang melibatkan Sir William, mungkin. Banyak hal bisa terjadi pada titik pertemuan antara matahari, bumi dan bulan. Banyak hal mistis bisa bangkit. Dan itu tidak bisa dibiarkan, lepas dari apakah Jose memercayai hal semacam itu atau tidak. Masalahnya, terlalu banyak yang tidak ia ketahui. Apakah hantu hitam berhubungan dengan Sir William? Ada apa dengan kabut yang selalu menutupi Bjork Selatan?
Jose merasa kepalanya ingin meledak. Ia memerlukan lebih banyak informasi. Ia yang sekarang tidak tahu apa-apa dan tidak ada yang bisa membantunya.
Angin berdesir lembut membelai rambutnya, membuka mata Jose. Ia berjalan dua langkah ke depan dan menatap ke bawah tebing, ke arah dedaunan hijau yang merupakan pucuk pohon. Kakinya sedikit geli berada di ketinggian itu, tetapi ia tidak merasa ngeri. Bahkan kudanya juga tidak mundur.
"Kau pemberani, Run," bisiknya sambil mengusap surai Run. Binatang itu mendengus lembut sebagai jawaban.
"Menurutmu, kalau jatuh dari sini, manusia akan mati?" Jose berjongkok, menatap jauh ke bawah. "Manusia akan mati. Pasti. Bagaimana dengan vampir? Bagaimana dengan hantu?"
Jose bangkit dan menuntun Run menjauh dari tebing, membiarkannya merumput di daerah yang masih hijau dan segar. Ia sendiri duduk di bawah pohon rindang, memikirkan Sir William, kemudian Nolan, lalu Maria.
Maria benar-benar pucat dan kelihatan tidak sehat ketika mereka bertemu sebelum festival, dan Jose tidak bisa menghilangkan wajah Maria dari benaknya. Gadis itu bicara seolah cemburu melihatnya akrab dengan Nolan atau Nina, tapi Jose menyangkalnya sendiri dalam hati. Maria memang seperti itu. Yang dilakukan Maria bukan hal yang tidak wajar. Jose memejamkan mata, berusaha menata perasaannya.
Ia tidak mau terlalu berharap. Maria menertawakan ide bertunangan dengannya ketika Marco mengusulkan. Sudah jelas gadis itu tidak punya perasaan apa pun padanya. Itu membuatnya agak terluka, tetapi Jose berusaha tidak tenggelam dalam rasa melankolis.
Jose menarik napas panjang. Ia membenturkan pelipisnya dengan ringan ke batang pohon. Ia seharusnya bisa mengendalikan diri. Ia harusnya bisa bersikap seperti seorang teman. Namun begitu Sir William muncul dan mendekati Maria, Jose merasa tidak bisa berpura-pura lagi.
__ADS_1
Maria tidak tahu, dan mungkin memang tidak perlu tahu mengenai perasaannya. Satu hal yang mengganggu di mata Jose adalah cara William menatap gadis itu.
Itu bukan tatapan yang biasa. Itu tatapan yang ... posesif.
Jose ingat sering melihat tatapan serupa pada kakak-kakaknya. Ketiga kakaknya memiliki sorot mata yang sama setiap kali ada salah satu yang dipuji lebih tinggi dari yang lain. Sorot mata ingin menang. Ingin memiliki. Tidak mau kalah. Itu niat kompetitif. Sama dengan saat Sir William menatapnya.
Jose sadar, pria itu cemburu padanya.
Dan karena satu-satunya yang bisa membuat pria itu cemburu padanya hanya soal kedekatannya dengan Maria, satu hal sudah jelas. Sir William menginginkan gadis itu.
Jose mencabut rumput-rumput hijau di bawahnya, kebiasaan yang ditularkannya pada Maria. Jose selalu melakukan itu pada saat sedang berpikir, sementara Maria melakukannya tiap sedang bingung.
Maria memang jelas tertarik pada Sir William, meski tidak dengan cara Sir William tertarik pada Maria. Ada yang aneh dalam hubungan mereka. Rasanya terlalu cepat.
Jose tahu bahwa kadang cinta tidak membutuhkan banyak waktu, tetapi rentetan kejadian ini memaksanya berpikir bahwa tidak ada hal yang kebetulan. Semuanya merupakan sebab dan akibat yang saling terkait satu sama lain. Seperti domino yang jatuh.
Setelah berpikir agak lama, akhirnya Jose membulatkan tekad. Ia akan memaksa Rolan atau Krip mengatakan semua yang diketahuinya tentang Sir William. Ia tahu kedua pamannya bersikap hati-hati pada Sir William. Kalau ada hal yang salah dengannya, ia harus tahu. Sebab nasib Maria dipertaruhkan di sini.
Ia bersuit memanggil Run. Kudanya segera berhenti merumput dan datang dengan patuh. Jose memperbaiki letak sanggurdi, bersiap menaiki Run, ketika telinganya menangkap suara gemerisik yang aneh serta suara tarikan keras yang serak. Seperti orang pilek yang berusaha untuk bernapas.
Kudanya mendadak gelisah. Jose tidak jadi naik. Ia membelai-belai surai Run, memintanya untuk tenang, sementara matanya mencari-cari arah suara.
__ADS_1
Ketemu.
***