
Jose membalik halaman untuk memastikan tanggal dan tahun artikel itu dibuat: 28 September 1890. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu.
Jose menutup buku itu, mengembalikan satu buku lagi yang belum sempat dibacanya ke dalam rak, kemudian membawa yang satunya pada petugas yang sedang berjaga di belakang konter. Seorang wanita muda. Umurnya mungkin di kisaran dua puluhan. Rambut cokelatnya yang ikal dikucir tinggi di ujung kepala.
“Hey,” Jose melemparkan senyum manis. Ia menaruh buku yang dibawanya ke depan meja, membaca judul yang tertera di sampul cokelat tua itu. “Aku mau pinjam Kliping Peristiwa di Bjork. Syaratnya?”
Wanita itu—kartu nama yang terpasang di dadanya bernama Nina—tersenyum pada Jose secepat kilat, kemudian berkata kaku, “Maaf, arsip yang itu tidak bisa dibawa pulang. Hanya bisa dibaca di tempat.”
Jose mendesah. “Ayolah, Nona Nina, pinjam satu hari saja tidak bisa?”
Bibir Nina berkedut sedikit dalam senyum ketika mendengar namanya disebut. Namun dia menggeleng dan menunjuk ke belakang Jose, lalu berbisik, “Peraturannya begitu.”
“Ya ampun, lalu bagaimana dengan tugasku?” Jose mengusap rambut depannya dengan malas.
“Kau bisa datang dan mengerjakannya di sini.”
“Tentu saja aku akan datang ke sini, tiap hari malah,” Jose mengalihkan wajahnya ke depan pintu dan berlagak malu-malu saat berkata, “Kalau saja tahu dari dulu, petugasnya secantik ini.”
“Apa?” Nina membuka mata lebih lebar di balik lensa beningnya.
“Tidak apa-apa,” sahut Jose cepat, kembali menatap buku yang dibawanya. Dia berbisik dengan nada penuh persekongkolan, “Pinjam satu minggu saja boleh, ya? Tidak akan ada yang tahu, kok. Lagi pula, memangnya siapa yang akan membaca kliping seperti ini?”
“Kau.” Nina tersenyum.
“Ya, kecuali aku. Jangan masukkan aku ke dalam hitungan.” Jose tertawa kecil. Ia menatap sekilas pada mata abu-abu terang Nina. “Kau selalu bekerja di sini? Aku tidak pernah melihatmu.”
“Tentu saja kau tidak melihatku, ini pertama kalinya kau masuk Pusat Arsip, kan?” balas Nina tangkas.
__ADS_1
“Eeh, bagaimana bisa kau tahu? Apa semua pengunjung selalu kau perhatikan satu-satu?”
“Tidak, tapi yang rewel sepertimu memang baru kali ini.”
Jose tertawa lagi. “Apa kau selalu bertugas sendirian? Kalau di perpustakaan kota, biasanya ada empat orang yang berjaga.”
“Satu sedang sakit, dua lainnya bikin kopi di belakang. Kenapa? Kau mau mencoba merayu mereka?”
“Apa mereka semanis kau?”
Gantian Nina yang tertawa. Dia menadahkan tangannya pada Jose. “Sini bukunya.”
“Mau diapakan?”
“Kuberi cap. Kalau tidak kubiarkan meminjamnya, kau pasti akan terus ngoceh sepanjang hari, kan?”
Jose tersenyum. Ia memberikan buku arsip yang akan dipinjamnya. “Kau benar-benar dewi penolong,” ucapnya penuh kekaguman.
“Aku berhutang nyawa padamu,” bisik Jose.
“Ya, ya, pergilah sana menyebar nyawa pada orang lain. Jangan lupa kembalikan saat aku sendiri yang berjaga.”
“Dan kapan tepatnya?” Jose menerima buku yang disodorkan padanya.
Nina berpikir sebentar. Sepertinya ia tidak yakin karena tangan rampingnya segera membuka kembali laci meja, kemudian mengeluarkan secarik kertas jadwal berwarna merah muda. Ia menelusuri garis kotak yang berwarna biru, kemudian menatap Jose sambil tersenyum tipis. “Tiga hari lagi. Itu artinya hari Kamis. Jam tiga sore.”
“Jam tiga sore.” Jose mengangguk. “Aku akan kembali tepat waktu.”
__ADS_1
“Sebaiknya begitu.” Nina memicingkan matanya yang tajam. “Sini, berikan kartu nama dan uang agunan.”
Jose mengeluarkan dompet, tetapi segera menutup dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Ia melihat Nina menatapnya dengan curiga dan mendesak, membuat Jose sadar bahwa gadis itu pasti cemas kalau-kalau petugas arsip yang lain datang dan melihatnya meminjam buku yang tidak boleh dipinjam.
Jose memasukkan tangannya ke dalam saku celana, mengeluarkan sebuah jam rantai yang bisa mengeluarkan melodi kalau dibuka. Lambang keluarganya terukir di sana.
“Namaku Argent,” ucapnya, tersenyum ketika melihat mata gadis itu membulat lebar karena terkejut. Nama Argent jelas sangat dikenal di kota ini. Lagi-lagi berkat Marco.
“A-Argent yang mana?”
“Memangnya ada berapa Argent di kota ini?” Jose mengedikkan bahu. Ia menaruh jam rantainya di atas meja, kemudian memberi Nina seulas senyum lagi. “Namaku Jose Argent. Aku akan mengembalikan buku ini tepat waktu.”
Nina mengerutkan kening ketika meraih jam rantai berhiaskan lambang keluarga Argent. Dia menelan ludah, kemudian menyimpan benda itu ke dalam tas besarnya yang diletakkan di belakang punggung. “Baiklah, Tuan Argent,” ucapnya sambil menautkan kedua tangan di atas meja. Kini wajah Nina berubah kembali jadi wajah seorang petugas yang formal. “Jaminananya sudah saya terima. Kedatangan Anda akan selalu diterima, sampai jumpa lagi lain hari.”
Bentuk pengusiran yang bagus, pikir Jose geli. Ia mengangguk singkat, kemudian segera berjalan pergi setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi.
Jose berjalan ke luar gedung dengan langkah agak berlari. Saat melihat arlojinya, ia mendapati jam sudah hampir mendekati pukul empat. Waktu minum teh sudah lama lewat. Empat jam lagi, polisi patroli sudah akan menggusur orang-orang dari jalan.
Ketika sampai di rumah, hal pertama yang dilakukan Jose adalah menyelinap masuk ke dalam kamar tanpa diketahui siapa pun. Itu hal yang mudah karena menyelinap adalah salah satu kemampuan terbaiknya.
Awalnya ia ngotot ingin tetap di kamar sayap barat, namun ibunya masih memaksa dan Jose kasihan pada para pekerja yang dipaksa berjaga di depan kamarnya. Jadi sejak semalam Jose sudah pindah ke sayap timur rumah. Alih-alih istal, ia bisa melihat rumah kaca dari jendela kamarnya. Beberapa pelayan keluar masuk pintu rumah kaca dengan gerakan anggun, membuat Jose tahu bahwa keluarganya pasti masih di sana, berbincang setelah minum teh.
Ia segera mengunci pintu dan menutup jendela kamarnya rapat-rapat. Setelah memastikan semuanya aman, Jose mengeluarkan buku dari dalam bungkus kertas dan membuka kembali halaman delapan belas.
Foto itu masih di sana. Foto Marco yang memegang gunting. Tepat di belakang pamannya, sedikit terhalangi oleh topi tingginya, ada potret seseorang yang lewat. Wajahnya menghadap ke sebelah kiri, terlihat tegas dan misterius.
Jose menelan ludah, menyadari bahwa ia tidak salah. Orang yang terlihat di sana memang pria yang baru-baru ini datang ke Bjork. Itu adalah wajah Sir William. Jose mengerutkan kening. Ia menatap foto itu berulang-ulang, berusaha meyakinkan diri. Jose tidak salah. Bahkan meski ia hanya beberapa kali bertemu dengan William, ia jelas tidak salah mengenali.
__ADS_1
Wajah orang itu sama sekali tidak berubah. Orang yang tidak sengaja terfoto di situ memang William.
***