BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 30


__ADS_3

Jose menelan ludah. Keringat dingin menitik keluar dari pori-pori di punggungnya, bergulir turun sampai pinggang. Jantungnya berdeburan dengan kencang.


Aku harus pergi.


Ia menyingkirkan helai rambut di depan keningnya, kemudian memutar pergelangan kaki dan bersiap untuk loncat, tepat ketika pergelangan tanganya dicekal dan ia ditarik mundur selangkah ke belakang.


Jose hampir terjengkal. Ia menoleh kaget, mendapati baik Marco maupun Rolan sudah ada di belakangnya. Rolan mencengkeram pergelangan tangan kirinya.


“Apa yang kau lakukan di sini, Jose? Kupikir kau ke kampus!” Rolan berkata heran. Wajahnya lunak dan ramah, tetapi cengkeraman tangannya mengeras. Jose meringis.


“Bolos lagi, rupanya?” Marco menilai dengan kritis.


Sebenarnya dua orang tersebut adalah kombinasi yang lucu dilihat bagi Jose. Marco mengenakan setelan formal yang kaku, dengan kemeja dilapis jas hitam terbuka dan celana kain hitam seperti hendak melayat. Bahkan dasi longgar pun terikat di kerah kemejanya. Di sisi lain, Rolan terlihat sangat kasual. Ia memakai celana hitam lusuh dan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku. Rambut cokelatnya terlihat berantakan secara alami, mengusung kesan ramah natural. Tangan kirinya membawa cangkir teh yang sudah kosong. Hanya ada sisa air keemasan di dasar cangkir keramik tersebut.


“Aaah, kudengar kau suka bolos, ya. Padahal waktu kudengar kau pergi duluan karena ada kelas, kupikir kau mulai rajin,” Rolan berkata ceria. Tangan kanannya melepaskan cengkeraman di pergelangan tangan Jose secara perlahan, seolah tidak mau membuat gerakan mengejutkan yang akan membuat Jose kabur.


Jose melirik, baru menyadari arah matahari. Matahari ada di samping kirinya sejak tadi, membuat bayangannya jatuh memanjang pada sisi kanan tikungan tembok. Paman-pamannya pasti sudah melihat bayangan itu, makanya mereka mengalihkan topik jadi ke soal cuaca dan panas yang membosankan.


Setidaknya tanganku tidak dicekal lagi, pikir Jose lega. Ada sesuatu yang mengerikan dalam cara Rolan mencekalnya barusan. Tangan itu seperti penjepit besi yang dingin dan keras.


“Kau sejak tadi di sini?” tanya Marco dengan pandangan menyelidik.


Pamannya yang satu itu memang selalu memberi pandangan menyelidik atau mengkritisi, tetapi Jose merasa yang sekarang ini terasa lebih menakutkan. Kulit punggungnya meremang dan kakinya serasa ingin segera loncat menjauh dari situ. Ia menggeleng pelan, tertawa sambil berkata kaku, “Aku baru saja sampai sini. Kenapa memangnya? Paman sedang pesta minum teh di luar?”

__ADS_1


“Oh, aku tadi cuma iseng saja,” jawab Rolan saat melihat arah pandang Jose tertuju pada cangkir tehnya yang sudah kosong. “Marco bilang, minum teh sambil melihat tumbuhan akan terasa nikmat. Biar kuberi tahu sesuatu Jose: tidak ada bedanya.”


Kedipan mata Rolan terasa bersahabat, tetapi aliran dingin yang menyelip di antara mereka membuat Jose menggigil. Ia tertawa lagi, kali ini dipaksakan. “Aku mau melihat dapur dulu, Paman. Perutku lapar sekali.”


Sebenarnya perutnya sekarang terasa mulas dan tak nyaman, tetapi tentu saja Jose tidak akan mengatakan hal tersebut. Ia berjalan melewati kedua pamannya. Baru lima langkah kakinya menapak, Rolan sudah memanggil.


“Kenapa?” Jose tidak berpaling. Ia bisa merasakan debar jantungnya menguat.


“Tidak, aku cuma ingin bertemu dengan temanmu yang dari Garnet itu. Siapa namanya? Maria, ya? Sudah lama kami tidak bertemu.”


Kali ini Jose membalikkan seluruh tubuhnya. Ia mengerutkan kening menatap Rolan. “Untuk apa?”


“Tidak apa-apa, cuma ingin ketemu saja,” Rolan mengedikkan bahu. “Kalian kan teman sejak kecil. Aku ingat, terakhir kali bertemu dengannya, dia masih setinggi ini,” Dia mengukur tinggi sampai ke perut, kemudian melemparkan senyum ceria. “Bagaimana? Bisa tidak? Tanyakan padanya, ya? Bilang aku mengundangnya makan siang.”


Sir William.


Bukankah Maria mengincar orang itu? Jose tidak berani menoleh. Ia menaiki tangga batu berwarna hitam, menyusup masuk ke dalam rumah melalui koridor samping. Benaknya ribut memikirkan apa yang akan terjadi. Apa Paman Rolan mengundangnya karena sudah mengetahui hal itu? Apa yang mau dilakukannya pada Maria?


Namun tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. Ia sudah terlanjur berjanji pada kedua pamannya untuk mengundang Maria makan siang, dan kalau itu tidak dipenuhi, Marco pasti akan sangat curiga. Entah apa yang akan dilakukan pamannya jika itu terjadi.


Jose menelepon Maria pukul sembilan pagi, berharap saat itu Maria sedang pergi. Setidaknya ia bisa berkata bahwa ia sudah mencoba menghubungi namun tidak tersambung.


Harapannya tidak terkabul. Pelayan Garnet menyambungkannya pada Maria.

__ADS_1


“Halo, Jose, kenapa?”


“Hei, aku tidak mengganggumu?"


“Tidak. Aku ada kelas dansa nanti siang, tapi sekarang tidak melakukan apa-apa. Tumben kau menelepon." Maria tertawa renyah di seberang, terdengar semerdu malaikat. “Kenapa? Kau butuh sesuatu?”


“Tidak, hanya saja ... kau tahu, pamanku yang dari pihak ibu, yang jadi dokter itu ... kau masih ingat dengannya?” Jose berharap Maria akan berkata tidak.


“Dokter Rolan, kan? Tentu saja ingat! Dia orang yang sangat ramah dan baik! Kenapa dengannya? Oh, jangan bilang terjadi sesuatu yang buruk! Ini bukan kabar buruk, kan?”


Jose mendesah. Ia masih tidak tahu apakah ini akan jadi buruk atau tidak. “Tidak, kok. Dia mengundangmu makan siang. Itu saja. Tapi kalau kau ada kelas, akan kubilang bahwa kau tidak bisa. Tidak perlu sungkan.”


“Kelasnya mulai jam dua. Makan siangmu dimulai jam berapa?”


“Jam satu, tidak perlu dipaksakan, aku tidak mau kau jadi terburu-buru nanti.”


“Ah kau bicara seperti dengan siapa! Ini kan aku, Maria! Jadi, nanti jam satu, ya? Apa aku harus pakai pakaian tertentu? Ini makan siang dalam rangka apa?”


“Makan siang biasa,” Jose tersenyum kecil. “Pakai pakaian biasa saja, pamanku cuma butuh seseorang untuk mendengarnya menyombongkan diri. Dia cerewet sekali dan aku harap tidak akan membuatmu mati bosan.”


“Yang benar saja!” Maria tertawa lagi. “Paman Rolan selalu jadi kesukaanku! Dulu dia biasa memberiku permen lolipop! Oke, aku akan ke sana jam satu tepat!”


“Tidak, aku yang akan menjemputmu.”

__ADS_1


***


__ADS_2