BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 85


__ADS_3

Marco mengerutkan kening. "Konyol."


"Yah, kalau sudah masuk dalam kerangka agama, kekonyolan itu dianggap sebagai hal suci." Rolan tertawa. "Doktrin mereka sudah terlalu jauh dari Katolik Roma maupun Kristiani secara umum, dan mereka sepertinya tidak mau tahu soal hal itu. Kau tahu ada mitos urban bahwa orang-orang yang hilang sebenarnya diculik oleh penganut okult ini dan dijadikan kurban persembahan?"


Marco menggeleng. "Aku baru tahu sekarang."


"Aku juga." Rolan diam untuk mendengarkan. Tidak ada suara apa pun yang mencurigakan. Ia menghela napas, ia melanjutkan, "Lambang infiniti itu adalah lambang agama lama Bjork. Aku tidak tahu apa hubungannya, tapi melihat reaksi Tuan Wallace kemarin, mungkin saja kalung itu adalah salah satu perangkat ritual."


"Orang-orang sesat yang gila," gumam Marco, kelihatan bosan. "Jadi selama ini kita menghadapi orang semacam itu? Lalu apa hubungannya dengan Sir William? Dan bagaimana dengan ikan keringnya? Bagaimana dengan sosok aneh yang mengendap berkeliaran di rumahku?"


Rolan menggeleng. "Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan. Bisa saja semuanya adalah kasus yang terpisah."


Sebenarnya Rolan merasa bahwa yang mereka hadapi saat ini lebih dari sekadar manusia-manusia penyembah berhala yang melakukan ritual sesat, tetapi ia belum mau mengatakan apa pun. Percuma mengemukakan hal itu pada Marco. Pria itu tidak akan percaya.


"Aku sudah minta Krip mencari informasi tentang Wallace," Marco berkata lagi. Ia bangkit menuju meja, mengambil satu amplop besar berisi berkas dan menyerahkannya pada Rolan untuk dibaca.


"Dia tidak pernah jauh-jauh dari Gedung Diskusi dan Pusat Arsip," Rolan berkata, setelah membaca laporan. "Tapi memang ada beberapa orang yang ditemuinya secara reguler. Apa yang akan kau lakukan pada orang-orang ini? Menyerahkannya pada Robby?"


Marco mengetuk-ngetukkan tangannya ke atas meja. Ia belum sempat bicara pada Inspektur Robert, tetapi mulai curiga bahwa pria itu menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang aneh.


"Kita akan melakukan investigasi pribadi," ujarnya. "Kau dan aku saja."


"Kurasa kau gila," cetus Rolan langsung. Ia selesai membaca laporan dan mengembalikannya pada Marco, yang langsung membuang kertas-kertas itu ke perapian, membiarkannya habis dimakan api.


"Gila adalah julukanku. Orang-orang menyebutku Argent Gila. Kau ingat?"

__ADS_1


"Marc! Bahkan dengan tim kita yang banyak saja, kita pontang-panting menutupi segalanya! Sekarang kau mau kita lakukan ini cuma berdua? Lalu selanjutnya apa? Kita menikah dan membawa rahasia ini sampai mati?"


"Jangan ngawur." Marco melengos. "Aku tidak bermaksud menyingkirkan Robert. Hanya saja, untuk informasi yang ini, kita akan melakukan penyelidikan tanpa melibatkannya."


"Kalau mau melakukan sesuatu, harusnya kau datang pada ahlinya." Rolan menukas kesal. "Kalau soal penyelidikan, bukankah Robby lebih ahli?"


Marco tidak menjawab, hanya menautkan tangannya di atas meja. Kedua matanya menatap seperti elang siap memangsa. Tatapan itu membuat Rolan menyadari satu hal.


"Jangan bilang kau curiga pada Robby?"


"Tidak ada yang bisa dipercaya, Rolan. Sebaiknya kau juga ingat hal itu."


"Ya, ya, aku tahu aturanmu yang itu. Tapi, kenapa? Robby kan sudah bekerja denganmu cukup lama? Masa cuma karena dia tidak memberitahumu satu-dua hal, kau langsung mencurigainya?" Rolan meraih kembali kalung di atas meja dan menyimpannya dalam saku tersembunyi di jas. "Kau ingin semua orang jujur padamu, padahal kau sendiri tidak pernah mengatakan apa pun pada orang lain. Marc, kau harus banyak belajar soal konsistensi."


"Konsistensi?" Marco tersenyum. "Konsistensi hanya milik seorang idealis. Untuk bisa hidup sampai sekarang, yang kuandalkan adalah fleksibilitas, Rolan. Bukan konsistensi."


"Aku tidak mengerti Jose, kau tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba muncul untuk melarangku?" Maria mengayuh sepedanya pelan-pelan menyusuri pinggiran danau di Bjork. Jose berjalan kaki di sampingnya, memegangi sedikit bagian boncengan sepeda. Ia kebetulan saja bertemu lelaki itu ketika sedang mencoba sepeda barunya. Pelayannya, Susan, mengawasi dari jauh.


"Aku tidak melarangmu, aku cuma bertanya apa kau akan pergi bersama Sir William yang kau puja itu ke festival."


Maria mengerutkan kening mendengar pilihan kata Jose. "Sama saja, kau kelihatannya tidak senang. Kau boleh bermain dengan gadis kumuh itu atau pustakawati di Pusat Arsip. Kenapa aku tidak boleh punya teman baru?"


Jose mengerjap-ngerjap kaget. "Pustakawati apa?"


"Ayolah, kau makan dan kencan dengannya, kan? Kau bahkan rajin ke pusat arsip karena cewek itu. Aku tahu, kok. Tidak perlu disembunyikan," Maria melirik sedikit, melepas sebelah tangannya dari stang untuk membetulkan topi lebar yang tertiup angin. "Kau kan bisa cerita padaku kalau sedang ingin mendekati cewek. Aku tidak akan marah."

__ADS_1


"Tidak, aku bukan sedang mendekati siapa pun," Jose mempercepat jalannya. "Aku sedang meneliti sesuatu."


Maria mengerem sepedanya, membiarkan rok sifonnya menggembung tertiup angin. Kedua pipinya merona merah karena mengayuh sepeda. Bola mata birunya menatap danau dengan binar yang sedikit redup. "Rasanya sudah lama kita tidak ngobrol begini ya? Rasanya dulu kita lebih sering meluangkan waktu bersama. Seringnya kau di atas pohon sih, seperti monyet."


Jose menepuk keras boncengan sepeda Maria, membuat gadis itu terbahak.


"Kau bicara seolah melihat puluhan tahun ke belakang." Jose membantu Maria menegakkan standar sepeda di atas daratan yang tidak rata. Mereka berjalan beriringan ke bawah pohon tilia yang biasa dipanjat Jose. "Padahal baru beberapa hari lalu kau mengangkat ujung rok untuk menendang pohon."


"Rasanya seperti sudah lama sekali," Maria berkata. Ia duduk termenung di pinggir danau, mencabut seberkas rumput dingin di bawahnya dan melemparkannya ke depan. "Sepertinya memang sudah saatnya kita dewasa dan memilih jalan sendiri-sendiri."


"Apa maksudmu?" Jose ikut duduk di samping Maria, merasa tidak tenang dengan cara gadis itu menatap. Sepertinya ada kesedihan tertentu di sana. "Kau kelihatan aneh sejak kemarin."


"Aneh bagaimana? Memangnya kau memperhatikanku?"


"Ya, kau seperti ... berada di tempat lain." Jose berkata ragu, menimbang apakah sebaiknya mengatakan apa yang ia pikirkan. Sekarang Maria memang seperti menjauh darinya. "Wajahmu juga kelihatan lebih pucat. Apa kau yakin tidak apa-apa?"


Maria menoleh, memberi tatapan lelah. "Kau benar. Aku memang sedang tidak sehat, sih. Akhir-akhir ini aku gampang capek."


"Seharusnya kau bilang. Kita pulang saja sekarang. Biar kuantar." Jose sudah bangkit berdiri dan bersiap pergi, tetapi Maria menarik ujung lengan bajunya.


"Duduklah, Jose. Hari ini aku merasa lebih baik. Kau lihat sendiri, aku kuat bersepeda."


"Kau yakin?"


Maria mengangguk, memeluk rapat kedua kakinya ke depan dada. Ia mencabut lagi seberkas rumput, melemparkannya main-main. "Sebenarnya Sir William memang mengajakku jalan-jalan, makanya aku ingin mendiskusikan ini denganmu. Kau tahu? Seperti dulu."

__ADS_1


Jose tersenyum sekilas, menepukkan tangannya ke pundak Maria dua kali. "Dan jawabanku juga tidak akan berubah, Mary. Sebaiknya kau jangan keluar rumah. Tahu sendiri bagaimana keadaan Bjork, kan?"


__ADS_2