
“Ah, Anda hanya menggertak,” Wallace berkata, kini tatapannya berubah tenang, curiga.
“Siapa bilang?” Marco menumpukan kaki kanan di atas kaki kiri. Matanya memberi tatapan penuh penilaian. “Bagaimana kalau kubilang, ada kaitannya dengan ritual dan mistisme?”
Pertanyaan retoris tersebut diutarakan dengan nada rendah yang mengancam. Air muka Wallace segera berubah keruh. Bahunya merosot turun. Pria itu pertamanya masih kelihatan ingin bicara, tetapi kemudian hanya menaruh wajahnya di dalam tangkupan tangan, kemudian menangis tersedu-sedu.
Marco memperhatikan dengan heran.
Sebenarnya ia hanya menggertak. Ia sama sekali belum berhasil membuka bandul medalion itu, yang sekarang pasti masih disimpan Rolan. Ia menyerahkannya pada Rolan siang ini untuk diteliti. Soal ritual darah juga hanya didengarnya dari Rolan, tetapi dokter itu belum juga kembali atau menelepon untuk memberi laporan sampai sejauh mana penelitiannya. Melihat dari reaksi Wallace sekarang, Marco mulai berani untuk melangkah lebih maju.
“Ini jelas ada hubungannya dengan menghilangnya orang-orang di Bjork, kan?”
Marco mencoba bicara sepelan mungkin. Melihat Wallace tidak mengubah posisi atau bereaksi, ia jadi berpikir suaranya terlalu pelan. Marco baru membuka mulut untuk mengulangi kalimatnya dengan efek yang lebih dramatis saat Wallace mengangkat wajahnya dan meraung tambah keras dalam tangisan.
Marco menarik kepalanya mundur. Punggung menempel pada sandaran kursi. Ia mengernyitkan alis, tidak pernah suka melihat lelaki yang menampilkan emosinya demikian vulgar. Bahkan meski mereka hanya berdua dalam ruangan ini, tetap saja status mereka adalah dua orang asing. Marco selalu berpikir bahwa seorang pria sejati sebaiknya tetap tenang, lepas dari apa pun yang sedang ia rasakan. Menampilkan emosi tidak dilarang, tetapi tentu saja tidak sevulgar Wallace. Baru kali ini ia melihat lelaki menangis meraung-raung di rumah orang lain, padahal tidak ada pemakaman. Tadinya ia hanya sekadar tidak suka pada pria tambun yang menjabat sebagai Direktur Pusat Arsip tersebut, tetapi kini perasaannya berubah jadi merasa jijik. Wallace benar-benar menjijikan.
“Katakan, darah orang-orang yang hilang itu ... semuanya jelas untuk ritual biadab ini, kan?” desak Marco lagi.
“Anda sudah tahu, Anda sudah tahu semuanya.” Wallace berkata dalam raungan. “Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Anda membukanya? Anda tidak boleh menggunakannya!!"
Pria tambun itu menerjang maju, membuat gelas dan botol terguling, lalu pecah. Marco mengangkat kedua kakinya ke atas kursi sambil bergeser menghindar. Tubuh Wallace menabrak sandaran sofa di samping Marco. “Tenanglah, Tuan Wallace, kita bisa membicarakannya.”
“Anda tidak mengerti! Anda membukanya dan tahu! Apa yang Anda lihat?!” Kepala bulat Wallace merah seperti tomat. Ia masih meraung, merangsek. Pecahan kaca mengiris kulit tangannya, tetapi Wallace tidak peduli, seperti tidak merasakan sakit. Wajahnya memerah dan berlinangan air mata.
__ADS_1
Marco cepat-cepat meloncat ke samping jendela, meraih pajangan perunggu sebagai senjata.
George membuka pintu karena mendengar suara berisik. Pada saat yang sama, Wallace menerjang Marco.
George membuka pintu karena mendengar suara teriakan dan barang pecah. Marco tidak melarangnya masuk, jadi memasuki ruang tamu sama sekali tidak melanggar perintah. Apa yang disaksikannya di dalam ruangan itu benar-benar mengejutkan.
Wallace bangkit dari sofa, menerjang maju ke arah Marco yang dengan sigap menghindar ke samping, membiarkan kepala bulat Wallace menghantam kaca jendela dengan keras. Tidak sampai pecah. Kaca jendela di rumah itu sengaja dipesan yang berkualitas baik dan padat. Seperti binatang liar, benturan tersebut sama sekali tidak membuat Wallace gentar atau pusing. Dia malah berbelok gesit untuk menerjang lagi. Kedua tangannya terulur ke depan seperti hendak mencakar.
George meraih satu pajangan kayu di atas nakas di dekatnya, kemudian melemparkan benda itu ke depan kaki Wallace, membuat pria itu tersandung dan jatuh. Marco menghantamkan hiasan perunggu yang dibawanya ke lengan Wallace.
Wallace menjerit keras, mencengkeram pergelangan tangannya sambil berguling-guling di lantai. Marco mengernyitkan wajah dengan jijik, lalu menendang pelipis Wallace tanpa ragu. Pria tambun itu ganti memegangi kepala, gerakannya melemah dan berhenti. Sebelum Wallace sempat pulih dari pusing, Marco sudah menarik lepas tirai tebal dari jendela, kemudian menghamparkannya ke atas Wallace, seperti pemburu melempar pukat.
George tidak perlu menunggu perintah. Ia berjalan mendekat, membantu dengan cekatan meringkus gumpalan lemak yang masih berontak di bawah lingkupan tirai tebal berwarna biru tua. Wallace bergerak ke sana kemari di bawah tirai, meronta-ronta.
“Panggil Hans dan Gerald. Telepon juga Rolan, pastikan dia segera datang,” perintah Marco cepat. Raut wajahnya puas.
George melakukan segera yang diperintahkan oleh tuannya. Hans dan Gerald berada di dua tempat yang berbeda. Hans bersama para pekerja mengurus ternak sementara Gerald baru saja pulang menagih uang dari beberapa penyewa; keluarga Argent memiliki banyak tanah dan rumah yang disewakan pada orang-orang di Bjork.
Begitu Gerald dan Hans mendapat info bahwa majikan mereka meringkus seorang pengacau sendirian, keduanya bergegas pulang. Ketika sampai di ruang tamu, yang sempat dilihat kedua mata pekerja itu hanya Marco yang sedang berdiri di samping gundukan aneh yang diselubungi kain gorden. Ruang tamu berantakan seperti kapal pecah.
“Mana pengacaunya, Tuan?” seru Gerald dengan napas terengah. Matanya menatap gundukan kain itu dengan marah. “Dia?”
“Ya, dia masih belum tenang,” Marco berkata, “Aku sudah tua, tidak bisa mengatasinya sendirian. Bawa bedebah ini ke kamar kerjaku. Ada yang perlu kutanyakan.”
__ADS_1
Ketika Hans dan Gerald membuka tabir kain yang melingkupi gundukan itu, keduanya sampai terkesiap kaget melihat identitas orang yang disebut ‘bedebah’ oleh majikan mereka.
Direktur Pusat Arsip di Bjork, Wallace. Pria glamor yang bertubuh gempal, tetapi tidak pernah kekurangan wanita atau uang. Tidak ada yang tidak mengenal Wallace di Bjork. Bahkan Gerald dan Hans juga mengenal lelaki itu. Keduanya saling berpandangan dengan heran, sementara Wallace meringkukkan tubuh sambil menangis.
“Aku mati, aku pasti mati,” gumam Wallace sambil tersedu-sedu.
“Tidak, kau cuma kena tendang dan bentur sedikit,” sahut Marco ketus.
“Anda tidak mengerti!” Wallace bangkit, seperti hendak menerjang Marco kembali. Hans dan Gerald dengan sigap memegang pria itu, masing-masing mencekal satu lengan.
“Jangan macam-macam, Tuan,” ujar Hans geram, “Tidak ada yang bisa mendekati Tuan Marco selama kami di sini!”
“Kalau berani menggerakkan jari sedikit saja, tanganmu remuk,” ancam Gerald, kini sama sekali tidak menggunakan bahasa sopan setelah melihat sikap Wallace pada Marco.
“Lepaskan aku!” Wallace berontak. “Lepaskan aku! Aku perlu bicara! Kalian harusnya tidak mengambil kalung itu! Itu tidak boleh kalian miliki! Itu berbahaya!” tangisnya.
“Bahaya?” Marco berubah tertarik. “Mungkin hanya bahaya bagi Anda. Tapi aku? Aku Marco Argent. Tidak ada bahaya yang bisa datang padaku.”
Wallace tertawa hambar. “Kesombongan itu akan memangsa Anda hidup-hidup, Tuan! Akan memangsa hidup-hidup! Orang bisa saja berkuasa atas satu-dua kelompok, tapi kali ini, bahkan Anda sekalipun tidak akan bisa lolos! Anda juga akan hilang dan jadi mangsanya!”
Jeritan terakhir sedikit tertelan oleh suara pintu yang menjeplak terbuka. Rolan menderap masuk, tersengal-sengal. Pipinya sedikit merah karena berlari, rambut cokelatnya acak-acakan. Ia menatap pada Wallace dengan kaget, lalu berpindah pada Marco, kemudian kembali lagi pada Wallace yang berlumuran air mata dan ingus.
***
__ADS_1