BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 206


__ADS_3

Udara dipenuhi bau darah busuk dan kotoran manusia yang menusuk hidung. Mayat-mayat mengerang dan merintih, membuat Rolan penasaran apakah mereka masih merasa sakit. Ia menggunakan belati untuk membabat otot-otot tungkai dan tangan mayat. Bunyi belati menebas daging membuatnya merasa seperti berada di rumah jagal.


Rolan menyumpah-nyumpah ketika potongan tubuh yang tercacah bergerak seperti ulat mengejarnya. Dan karena sudah mati, para mayat sepertinya tidak merasa lelah sedikit pun. Meski tanpa tangan dan kaki, torso-torso di sekelilingnya menggeliat, merangkak menyerang dengan kecepatan tinggi.


Rolan menendang dengan gemas dan jijik—hal yang ia sesali karena punggung kakinya jadi sakit membentur tulang. Sepatu-kemejanya tidak memberi perlindungan yang bagus.


Ada suara erangan serak di sebelah kanan. Rolan menggerakkan tangan dalam satu irisan tajam. Belatinya mengenai perut mayat, membeleh daging dan kulit hingga isi perutnya terburai, rontok ke rerumputan dengan suara gerojok keras yang menjijikan.


Rolan mundur, aroma jeroan busuk manusia membuatnya mual. Kulit kepalanya seperti dirambati ratusan serangga. Ia menendang mayat tersebut sekaligus isi tubuhnya ke samping sambil berusaha tetap berada tak jauh dari tepian sungai.


Mereka semua orang-orang yang hilang. Rolan mengenali beberapa wajah meski kulit muka mereka sudah kendur atau bengkak oleh gas. Beberapa menggembung aneh dan tak bisa dikenali. Tak sedikit yang tubuhnya sudah koyak, dipenuhi bula-bula berbau busuk.


Apa yang kulakukan? Rolan masih menebas, melempar banyak tubuh ke dalam sungai dalam gerakan otomatis. Ia mulai merasa kehilangan arah. Wajah-wajah mati yang bergerak mengelilinginya begitu menekan, membuatnya putus asa dan mempertanyakan realita. Apakah ia sekarang berada dalam mimpi? Apakah jika ia membiarkan dirinya mati dalam mimpi maka ia akan bangun?


Dingin. Satu tangan dingin yang sekaku ranting tua menggenggam pergelangan kaki Rolan. Rasanya seperti dicengkeram akar pohon. Rolan menunduk, melihat dua sosok mayat sudah memeluk pinggangnya dan menggelayut di kaki kirinya. Ia mendengar suara makhluk-makhluk itu tersedak, melihat gigi-gigi busuk mereka mengunyah mantelnya. Bola mata mereka yang busuk meleleh dari rongga kepala.


Apa aku di neraka? Rolan terhuyung, hilang keseimbangan. Napasnya memburu, tersengal. Aroma daging busuk menusuk hidung hingga membuat matanya perih. Apa ini bayaran untuk semua orang yang kubunuh?


Seseorang berseru di kejauhan, memanggil namanya. Suara Jose. Rolan mengerjap dan membuka matanya lebih lebar, kembali sadar. Genggamannya pada belati kembali mengerat. Ia menemukan kembali tujuannya, alasan kenapa ia tidak boleh menyerah. Ia harus membawa keponakannya pulang. Setidaknya Jose harus selamat!


Satu mayat yang masih beruap panas terisak ketika Rolan menancapkan belati menembus matanya. Ia menjambak satu mayat yang menggigiti mantelnya, tapi rambut yang ia tarik justru lepas bersama seberkas kulit kepala.


"Maaf," ucap Rolan otomatis lalu mengembalikan rambut itu ke kepala mayat. Sedetik kemudian ia baru sadar kebodohannya dan menebus dengan meninju keras kepala mayat itu hingga terguling. Napasnya habis. Ia menyikut, menendang, menebas, melempar beberapa mayat, kemudian merasa mabuk. Dunia berputar aneh. Rolan merasa seperti berjalan dalam lautan agar-agar. Kakinya terasa berat.


Ia menoleh untuk mencari Jose, memastikan keponakannya baik-baik saja.


Jose berada tak jauh darinya, juga kehabisan napas, sedang berjuang membebaskan diri dari satu mayat keras kepala yang menempel di punggung seperti lintah. Rolan berpaling ke kanan secara naluriah, menyikut satu mayat tak berkaki yang meloncat ke arahnya, lalu bergegas lari untuk membantu Jose. Beberapa mayat yang sudah diceburkan ke dalam sungai mulai merangkak naik ke tepian. Rolan mengambil sebongkah besar batu terdekat dan melemparnya ke kepala mayat-mayat itu. Air sungai memercik ke wajahnya, begitu pula serpihan daging dan lemak. Rolan mengabaikan itu dan meneruskan langkahnya menghampiri Jose. Ia tidak bisa mendengar apa-apa sekarang. Segala hal terasa jauh dan aneh, dunia seperti melambat. Telinganya berdenyut menyakitkan. Pelipisnya sakit. Paru-parunya seperti terbakar. Dan meski hawa begitu dingin, punggungnya basah kuyup karena keringat.


Kumohon jangan sampai dia luka.


Rolan menarik mayat yang masih berusaha menggigit leher Jose, lalu melemparnya ke dalam sungai. Suara jebur air terdengar begitu jauh, seperti berasal dari alam lain. Rolan meraih kerah mantel Jose dan memeriksanya, juga menyentuh leher pemuda itu untuk memeriksa denyut nadi.


"Aku baik-baik saja," kata Jose, baru sadar bahwa pamannya sedang memeriksa apakah ia terluka. "Tidak tergigit. Kena cakar, tapi tidak apa. Aku baik-baik saja."


Rolan menghela napas lega, kemudian berputar tajam ke kiri untuk meninju satu mayat yang meloncat ke arahnya. Mereka berdua berdiri saling memunggungi, terengah, kelelahan.


"Aku akan melindungimu," kata Rolan dengan napas memburu, senang karena segala bunyi dan warna sudah kembali normal baginya. "Kau nyalakan sungainya!"


"Nyalakan?" Jose tertawa letih. Sulit mencari udara segar di tengah kentalnya aroma daging busuk dan kotoran manusia. Bernapas terasa menyakitkan. Ia berjalan ke tepi sungai, menopangkan tangannya ke atas air, kemudian berdoa dengan keteduhan yang sama dengan pertama kalinya.


Sungai berkeredep dalam warna keunguan, membuat malam berubah menjadi siang meski hanya sekejap.

__ADS_1


Petir seperti merekah di tanah, pikir Rolan. Ia bisa melihat segala hal dengan jelas sesaat. Dan yang membuatnya kaget sekaligus tak percaya adalah sosok di mulut hutan, yang berdiri diam mengawasi dengan raut ngeri.


Hubbert.


Sedang apa dia di sana? Rolan menghajar rahang satu mayat hingga lepas, kemudian mendorong makhluk tersebut ke sungai. Jose masih berdoa dengan mata terpejam, dan lagi-lagi sungai menyala seperti kilat, menelan tubuh mati yang tenggelam di sana, membuat malam kembali jadi hening.


Rolan masih mengacungkan belatinya ke sekeliling dengan waspada. Matanya menyapu sekitar dengan cermat. Ketika dilihatnya tak ada lagi sosok busuk mengincar, ia jatuh berlutut. Seluruh tubuhnya gemetar letih. Keningnya ia benturkan ke permukaan tanah yang dilapisi rumput basah. Dunia bergoyang labil dalam kepalanya, tapi setidaknya segala hal sudah lebih tenang. Jantungnya berdeburan di dalam dada. Napasnya memburu. Rolan memejamkan mata.


Tidak ada lagi mayat di sekitar sebelah Selatan, tapi jauh di seberang jembatan, ia masih bisa mendengar suara-suara erangan dan rintihan mayat hidup.


Rolan menggulingkan tubuh hingga telentang di atas hamparan rumput, menata napas. Matanya membuka, menatap taburan bintang di langit malam. Bulan bersembunyi di balik awan.


"Apa kau tidak bisa berdoa tanpa sungai?" Rolan mendongak, menyingkirkan rambutnya yang lepek di kening. "Kita bisa jalan ke Utara dan lalu ... entahlah, mungkin menumpuk mayat di got dan kau berdoa di sana?"


"Mungkin bisa," sahut Jose, masih belum beranjak dari tepi sungai. Matanya menatap permukaan air yang hitam tenang. Napasnya sudah kembali teratur, beruap putih. Pemuda itu kelihatan sepucat mayat-mayat yang baru saja mereka hadapi. "Tapi aku tidak yakin staminaku cukup."


"Berdoa ternyata menguras energi?" Rolan meninju tanah, memaksa tubuhnya berguling bangkit. "Apa aku bisa menggantikanmu?"


"Cobalah. Aku tidak tahu."


Rolan menghampiri Jose dengan langkah terpincang. Ia mencabut seberkas rambutnya dan menopangkan tangan ke atas sungai. "Begini?" tanyanya. "Apa yang kau ucapkan? Bagaimana caranya memanggil api?"


Rolan mencoba mengingat-ingat apa yang didengarnya dari Jose. "Tuhan ampuni dosa mereka."


Sungai tetap sehening dan sekelam malam.


"Hey, tidak berhasil!" seru Rolan, merasa malu dan konyol. Pipinya memanas. "Apa harus rambutmu? Atau harus ada mayat di sana?"


"Paman tidak percaya, sih!" Jose tertawa.


"Wah, itu sedikit menyakiti hatiku. Aku pergi ke gereja lebih rajin daripada kau."


"Iman tidak ada hubungannya dengan itu."


"Maksudmu kau lebih beriman dariku?"


Jose tertawa lagi, baru mau meledek ketika ia mendengar dan merasakan hawa kehadiran orang lain di sana. Tangannya dengan sigap mencengkeram belati dan bergerak menebas tajam ke belakang.


"Whoaaa Mr. Argent!" seru sebuah suara lelaki muda.


Jose berhenti tepat waktu. Matanya melebar melihat wajah yang berada di ujung belati. Lelaki itu berumur pertengahan dua puluh. Topi pet tartan yang dikenakannya dilesakkan sampai menutupi telinga. Rambut ikal merah berontak keluar dari sela topi. Kedua tangan lelaki itu diangkat sebahu dalam posisi menyerah.

__ADS_1


"Siapa kau?" Jose bingung.


Rolan sama sekali tidak menoleh. Ia berjongkok di tepi sungai, mencuci belatinya. "Jose, perkenalkan, dia Hubbert Decker. Pengarang di harian lampu merah. Hubbert, dia Jose Argent. Nabi baru."


"Aku jurnalis Daily Bjork!" koreksi Hubbert kesal.


"Aku bukan nabi," timpal Jose suram. "Dan aku tahu siapa Mr. Decker." Mata hitamnya mengawasi gerak-gerik Hubbert. "Maksudku, kau manusia atau bukan? Ada di pihak mana?"


"Kau sendiri?" balas Hubbert dengan ketertarikan penuh. Ia membetulkan letak tas hitam besar yang dibawanya. Ada bunyi botol-botol kaca berbenturan ketika ia melakukannya. "Aku ada di pihak fakta dan kebenaran!" katanya dengan nada bangga. Matanya menyorot tajam. "Jadi benar bahwa Keluarga Argent memang terlibat hal-hal suram di Bjork!"


"Bukan karena kami ingin," sahut Jose, tidak menurunkan belatinya meski melihat lelaki itu tidak berbahaya. Tas hitam yang dibawa Hubbert pasti berisi cairan kimia keperluan memotret. Ia melihat ada peralatan kamera diletakkan di mulut hutan. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Scholomance." Hubbert mengedikkan kepala dengan santai ke hutan. "Aku menyelidiki legenda urban tentang puri Ashington dan justru mendapatkan orang-orang terluka dan ketakutan, mereka mengubur mayat rekan-rekan mereka di halaman puri. Mereka juga menyebut-nyebut nama Marco Argent. Kau tahu sesuatu soal itu?"


"Bahwa mereka ingin pamanku mati?" Jose mengedikkan bahu, segera menurunkan belati begitu sadar lelaki itu mungkin digerakkan oleh Lady Chantall. "Bukan berita baru. Setiap hari selalu ada orang yang mengharapkan itu."


"Apa setiap hari kau melempar orang ke dalam sungai?"


"Mereka bukan orang," gumam Jose. Ia menatap Hubbert dengan kening berkerut. "Seberapa jauh yang kau lihat?"


"Kalian membunuh orang-orang tak bersalah dan melempar mayatnya ke sungai." Hubbert tersenyum getir. "Di malam buta."


"Orang-orang tak bersalah?" Rolan hampir berteriak. Ia bangkit berdiri, menggunakan belatinya yang masih basah untuk menunjuk. "Kau tidak melihat dari awal, ya? Apa kau tidak mencium bau mereka? Matamu cuma hiasan?"


Hubbert mundur selangkah. Wajahnya mengatakan apa yang dipikirkannya, bahwa ia telah salah memilih kalimat. Lelaki itu buru-buru berkata, "Omong-omong, aku sudah menghubungi temanku, kalau aku tidak kembali besok pagi, semua orang akan tahu bahwa aku lenyap saat menyelidiki Argent."


Jose menganga tak percaya mendengar ancaman itu. "Apa kau sinting?" tanyanya.


Rolan melepas sarung tangannya yang basah karena lemak dan darah mayat. Ketika menoleh ke arah jembatan, ia tertawa serak. "Tuan-tuan," katanya sambil membuang sarung tangan itu ke sungai, "sebaiknya kita lanjutkan wawancaranya lain kali, gelombang kedua sudah datang."


Jose ikut menoleh ke seberang jembatan, mengerang pelan melihat ada lebih banyak lagi mayat hidup berjalan terseok mendekati mereka. Lampu-lampu rumah sudah menyala baik di Bjork Utara maupun Selatan. Ada suara tembakan di sebelah Utara, juga bunyi derap langkah banyak orang dan suara-suara teriakan manusia.


Lonceng balai kota mulai berbunyi. Awalnya pelan, makin lama makin keras, berdentang tanpa jeda sebagai isyarat tanda bahaya.


Bulan muncul dari balik awan, menerangi Bjork.


"Apa itu?" pekik Hubbert ketika melihat lebih jelas makhluk-mahkluk yang mendekat ke arah mereka.


"Orang-orang tak bersalah," sahut Rolan dan Jose serempak, tak bisa mencegah diri mereka untuk bersikap sarkastis.


***

__ADS_1


__ADS_2