
Ketika Renata sampai ke kamar Xavier Hastings, ia segera tahu apa yang terjadi begitu melihat Gerald berjaga di pintu kamar. Jose jelas sudah ada di sana duluan, kemungkinan besar juga sudah mendahuluinya membuat keputusan. Ia menoleh pada Margie, memintanya menunggu di luar kamar.
Seperti yang diduganya, ruangan itu sudah kosong. Hanya ada Jose duduk di dekat jendela, memandang keluar.
Renata membiarkan pintu kamar terbuka. Ia menghampiri putranya, ikut memandang ke arah rerumputan hijau yang mengarah pada istal dan gudang-gudang jerami. Jauh di seberangnya akan ada beberapa petak ladang gandum. Angin bertiup lembut memasuki kamar, menerbangkan beberapa helai rambutnya ke belakang bahu.
"Kau melepaskan mereka?" tanya Renata setelah berdiam diri agak lama.
Jose mengangguk singkat. "Jangan kotori tangan Ibu." Ia memutar tubuh menghadap Renata. "Aku dengar apa yang dilakukan Alma," katanya. "Juga bahwa dia bermalam di ruang bawah tanah."
"Kau juga tahu yang Ibu lakukan, kan?" Renata mengangkat wajah, menatap lurus pada mata hitam putranya. "Apa kau ingin mengkritik Ibu?"
"Tentu saja tidak," sahut Jose cepat. Ia menyentuh jemari kurus ibunya, mengangkatnya ke atas dan mengecupnya singkat. "Bu, aku tidak ingin Ibu menanggung beban ini."
Renata tertawa. Ia menarik tangannya dari genggaman Jose. "Sayang, kalau Ibu memberikannya pada pamanmu, gadis itu akan menderita. Tapi kalau Ibu membiarkanmu mengurusnya, kau akan membebaskan Alma." Ia mengusap rambut hitam ikal di depannya dengan penuh kasih. "Tidak semua orang layak mendapat pengampunan, Sayang. Ibu sudah melihat orang-orang seperti Alma lalu-lalang. Beri dia kesempatan, dia akan menusuk kita lagi dari belakang."
Jose mengangguk. "Aku tahu, aku bukan ingin mempertanyakan keputusan Ibu." Matanya menatap penuh penyesalan. "Aku cuma tidak ingin Ibu terlibat."
"Ah, Ibu sudah terlibat sejak bertemu ayahmu dan masuk ke keluarga ini." Renata mencondongkan tubuh ke luar jendela, menghirup udara segar dalam-dalam. Ia menoleh, memberi satu senyum menenangkan. "Dan Ibu tidak menyesal. Sama sekali tidak menyesal."
"Ibu menyesal aku melepaskan Leah?"
"Itu keputusanmu." Renata mengangkat bahu. "Ibu tidak akan mempertanyakannya. Kalau kau berpikir itu baik, maka itu pasti baik. Tidak ada yang perlu dibahas."
"Itu ... melegakan," kata Jose. "Kupikir Ibu akan marah."
"Kenapa harus marah?"
"Karena aku melangkahi Ibu?"
Renata tertawa. Ia mengamati wajah Jose baik-baik, seperti menelisik ke dalam jiwa putranya. "Kau tahu ada banyak yang bilang kau mirip Marco, kan?"
"Aku sudah lihat fotonya," sahut Jose ringan. "Memang sedikit mirip Paman, kalau dipaksakan."
"Kau tidak mirip dia sama sekali." Renata menggeleng. Senyumnya melekuk manis. "Sejak dulu Ibu selalu berpikir kau yang paling mirip ayahmu, terutama sifat lembut dan pengertianmu itu. Tapi Ibu salah. Semua orang juga salah. Kau memang tidak sedingin Marco ... tapi lebih kuat dari Edgar. Jauh lebih kuat. Kau adalah kau. Jose Argent, putraku sayang." Ia menggenggam hangat kedua tangan putranya. "Dan Ibu senang kau tidak kehilangan jati dirimu."
__ADS_1
Jose tertawa geli. "Dengan keluarga seperti ini, bagaimana bisa aku kehilangan sesuatu?"
"Yah, kadang-kadang kau kehilangan kesabaranmu."
Mereka tertawa renyah. Genggaman tangan lepas dengan lembut.
"Teman-temanku menunggu di bawah," ucap Jose sopan. Matanya menatap lembut. "Jika Ibu mengizinkan ...?"
"Ya, pergilah," Renata segera memberi izin. Ia menepuk ringan lengan putranya. "Cepat kembali, mengerti?"
Jose tertawa lagi ketika mengiyakan, lalu suara langkahnya yang ringan terdengar makin samar. Renata merasakan hawa keberadaan putranya menjauh meninggalkan kamar. Ia tidak berbalik. Mereka tidak mengucapkan perpisahan. Tidak ada peluk maupun kecupan.
Kalau aku berbalik dan memeluknya sekarang, aku akan merasa kami seperti berpisah sangat lama. Renata mengerjap-ngerjapkan matanya yang basah dan menatap langit biru cerah di luar. Mereka akan kembali besok pagi. Semua akan baik-baik saja lusa.
Ia menautkan kedua tangannya di kosen jendela dan memejamkan mata, sekuat tenaga membayangkan wajah orang-orang yang dicintainya agar bisa melupakan bagaimana tali tambang dilingkarkan ke leher Alma.
Nyawa manusia begitu berat.
***
"Marry?" panggilnya sambil meluncur menggunakan selusur tangga. Begitu mendengarnya, Maria mengangkat wajah dan berjalan menuruni tangga lebih cepat. Gadis itu memakai topi lebar dengan hiasan renda dan pita manis yang senada dengan gaunnya.
Mereka bertemu di landasan utama, otomatis saling meraih tangan satu sama lain seolah sudah lama tidak bertemu.
"Itu bukan sikap tuan muda yang baik, meluncur di selusur begitu." Maria tertawa kecil.
"Memang bukan, kau kan sudah tahu sejak dulu. Kalian mau ke mana?" Jose menengok ke arah tas-tas gemuk yang dibawa para pelayan lelaki. Keningnya berkerut. "Kau tidak akan pulang sekarang, kan?"
"Ayah memintaku pulang," jawab gadis itu dengan pipi agak merona karena tautan tangan mereka justru bertambah erat. Ia sudah mencoba menarik tangannya, tapi Jose tidak mau melepaskan. "Seorang putri tidak mungkin membantah keinginan ayahnya, jadi aku harus kembali."
Jose menoleh pada George, yang berdiri menunggu di sisi Maria. "Lord Garnet memintanya pulang? Aku baru tahu."
"Kereta untuk Nona Garnet dikirim satu jam lalu, Tuan," kata sang kepala pelayan. "Tuan Besar Marco akan menemani Nona Garnet kembali. Tuan Muda juga diminta menyertai."
"Oh, bagus!" Jose berkata riang. Ia membetulkan letak topi lebar yang dikenakan Maria. "Matamu masih sakit?"
__ADS_1
"Nah, aku perlu membicarakan ini denganmu," bisik gadis itu cepat. Matanya berkilat misterius. "Aku tahu sekarang apa yang terjadi padaku. Nanti aku cerita di kereta." Ia berpaling pada George. "Jose dan Paman Marco akan berada di satu kereta yang sama denganku, kan?"
George membungkukkan sedikit punggungnya dan menaruh satu tangan di dada. "Bisa jika menggunakan kereta Argent, Nona. Saya sudah menyiapkannya di luar."
"Sempurna. Biar keretaku dipakai Susan saja." Maria menoleh pada dayangnya dan mengedipkan mata. Susan balas tersenyum simpul.
"Sebenarnya aku mau mengurus gugusan sihir di Bjork," bisik Jose sambil menggandeng Maria turun melintasi foyer. "Luminolnya bekerja dengan baik dan Adrian serta Luke menemukan pola sigil di Bjork."
Maria mengangguk. "Jelas. Dia membutuhkan seluruh kota untuk bisa membuka portal. Jadi kau akan pergi bersama mereka?"
"Dan meninggalkanmu sendirian? Mana mungkin." Jose tersenyum geli ketika melihat pipi gadis itu merona.
"Berhenti merayu, bodoh!" desis Maria sambil mencubit lengan Jose. "Kau membuatku rikuh."
"Merayu? Aku jujur! Aku tidak mau berpis—aw!" Jose mengusap-usap lengannya yang dicubit lebih keras.
"Jangan keras-keras!" Maria melotot galak. Susan menunduk untuk menyembunyikan senyum geli dan pelayan di belakang mereka mendadak terbatuk kecil, membuat Maria tersipu malu.
George membuka pintu depan dengan kedua tangan dan melangkah duluan untuk memberi tahu Marco bahwa semua sudah siap. Ketika Jose dan Maria melangkah keluar pintu masih sambil bergandengan tangan, seember kelopak bunga menampar wajah mereka.
Untuk sesaat yang bisa dilihat Jose hanya warna-warna cerah keunguan yang harum, kemudian kelopak bunga jatuh dalam bentuk hujan lembut.
Para pelayan perempuan di belakang mereka terkesiap kaget dan memekik senang. Dari ujung teras, Marsh menyanyikan instrumental lagu Bridal Chorus keras-keras. Clearwater melompat ke samping kiri mereka, melempar satu taplak putih menyelubungi kepala Maria dan berseru, "Proficiat!"
Jose menganga. Ia menadahkan tangan, menangkap satu kelopak bunga yang masih menghujani kepala mereka. Wajahnya mendadak pucat. "Sialan! Ini bunga kesayangan ibuku!" serunya kaget. Ia menengok ke kejauhan, sontak memelesat lari mengejar Marsh begitu menyadari lelaki itu berniat mencabut lebih banyak lagi bunga hollyhock di rumah kaca. "ADRIAN!" Ia menoleh ke sekitar, mengibaskan tangan pada pekerja yang berlari mengikutinya. "Gerald! Harold! Hentikan dia!"
Di depan pintu manor, Maria melepas kain persegi putih yang tersangkut pada topinya. "Berani sekali melempar taplak meja ke kepalaku, Lord Clearwater?" geramnya. "Kau rindu rasa telapak tanganku di pipimu?"
"Itu ide Adie. Untuk tudung pengantin." Clearwater berjalan mundur beberapa langkah dengan kedua tangan terangkat dalam gerak menyabarkan.
"Tudung pengantin dari taplak meja, m'lord? Kita lihat apa tudung ini cocok di lehermu!"
"Aku cuma memberi restu," kata Clearwater hati-hati karena Maria makin mendekat. Pipi gadis itu bersemu dalam semburat kemerahan yang cantik, tapi alisnya menurun tajam. "Kainnya bersih, Mademoiselle Garnet. Eh ... kau cantik dengan kain itu."
Dave terbahak, masih sibuk melempar sisa kelopak bunga di tangannya.
__ADS_1
***