
Kematian memiliki aroma yang bisa dicium oleh beberapa orang. Robert bisa mengenalinya, ia menganggap kemampuannya sebagai bagian dari insting polisi. Namun aroma kematian yang ia cium kebanyakan bukan berasal dari calon korban melainkan para pelaku.
Ketika Jacob datang ke rumahnya pagi itu, aroma kematian tercium kuat. Bahkan senyum ramah lelaki itu pun tidak bisa menyembunyikan mata hitamnya yang bersinar dingin seperti es.
Lelaki ini, pikir Robert waswas, ingin membunuh.
"Olivia?" Jacob menoleh pada istrinya begitu dipersilakan duduk di ruang tamu. "Ajak Nyonya Dawson jalan-jalan dulu, aku ingin bicara dengan Tuan Dawson."
Robert menggertakkan gigi dengan kesal karena Jacob sembarangan memutuskan padahal ialah tuan rumahnya. Namun ia tetap mengangguk pada istrinya. "Tunjukkan sarang-sarang lebah kita di pekarangan," katanya, sengaja memilih tempat itu karena kelihatan dari ruang tamu.
Ruang tamu mereka hanya kamar kecil yang bersekatan langsung dengan kamar baca dan mengarah pada lorong menuju pintu depan. Dinding kaca raksasa berada di sisi yang menuju pekarangan, tirainya sengaja dibiarkan terbuka agar matahari bisa masuk.
"Kau tidak datang untuk beramah-tamah," kata Robert, menawarkan rokok. Di depan meja rendah yang menyekat mereka terdapat dua gelas teh panas.
"Tidak," Jacob menyetujui. Ia menerima satu batang dan menyelipkannya di bibir, menyulutnya dengan pemantik. "Aku datang untuk menyampaikan keluhan."
"Maksudmu ancaman?" Robert tertawa serak, bosan pada cara Argent menyelesaikan masalah. "Kau tahu adikmu sudah melakukan itu di kantor polisi kemarin? Kau pasti bangga padanya, dia benar-benar persis seperti Marco," nada suaranya mengejek, menghakimi, "keji, dingin, tak berperasaan. Dia bahkan mengancam akan melecehkan putri-putri Wayne!"
Jacob membuka mulut dengan santai, melepaskan kepulan asap putih dalam lingkaran-lingkaran kecil. "Dia pasti punya alasan melakukannya. Kalau dia memang ingin tidur dengan putri-putri Wayne yang jelek itu, aku sih tidak akan berkomentar. Tapi aku tidak ke sini untuk bicara soal Jose," katanya, kemudian berhenti untuk berpikir, "untuk apa aku ke sini tadi? Kau membuatku lupa. Oh ya, keluhan. Begini, Tuan Dawson yang baik. Kau pasti sudah dengar keributan yang terjadi di depan rumah Argent semalam. Ada banyak orang dari Jorm datang melempari rumah kami dengan batu! Wow, mayat di mana-mana, darah di mana-mana, keluargaku sampai terluka, kau tidak akan bisa bayangkan itu. Ibuku bahkan—"
__ADS_1
"Omong kosong! Tak ada yang terluka!" bentak Robert jengkel. "Jangan membikin-bikin kebohongan! Mereka datang tapi ditahan oleh Clearwater yang, terkutuklah mereka, datang tanpa izin! Lalu kau dan Marco mengusir orang-orang Jorm! Kau pikir aku tidak tahu?"
Jacob menurunkan pandangan ke karpet, mengepulkan asap rokoknya ke sana.
"Kau pikir ada yang bisa disembunyikan dariku di Bjork ini?" lanjut Robert, merasa menang. Rokoknya masih terselip di sela jari, belum dinyalakan. Ia menunjuk-nunjuk Jacob dengan benda itu.
Jacob mengangkat wajah, mencabut rokok itu dari jari Robert, dan melemparkannya ke dalam cangkir teh di depan pria itu. Ia sendiri mematikan rokoknya dengan cara mencelupkan puntungnya ke cangkir teh miliknya, membuat aroma asap rokok mengambang basah di udara. Senyum mengejek yang terbit di bibir Jacob membuat Robert sadar ia salah langkah, ia terperangkap.
"Benar, Tuan Dawson," bisik Jacob lembut. "Tidak ada yang bisa disembunyikan darimu. Kau tahu persis apa yang terjadi semalam. Lalu kenapa tidak ada satu pun polisi patroli malam itu? Kau mempermasalahkan orang-orang Clearwater yang tidak berizin, tapi bagaimana dengan orang-orang Jorm yang datang berbondong-bondong?"
Robert membuka mulut, siap melancarkan pembelaan. Namun sorot pada mata Jacob menunjukkan bahwa pria itu tidak akan menerima alasan apa pun.
Ia mengedikkan kepalanya ke samping, ke arah dinding kaca bening yang mengarah pada pekarangan. Robert mengikuti arah yang ditunjuk.
Olivia dan Nyonya Dawson di luar, saling merangkul dan bercanda begitu akrab. Ini pertama kalinya Robert melihat istrinya tertawa selepas itu, dan merasa sayang karena tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Merasa diperhatikan, Nyonya Dawson mengangkat wajah dan tersenyum ketika bertatapan mata dengan Robert. Olivia mengedipkan sebelah mata pada Jacob, dan lelaki itu menunduk pelan satu kali.
Robert mengerti apa maksud kedatangan Jacob ketika setelah melihat anggukan itu, Olivia mengajak Nyonya Dawson berputar ke arah yang berbeda sehingga memunggungi mereka di ruang tamu.
Tangan Olivia terlihat seperti merangkul Nyonya Dawson, tetapi di jari-jarinya yang ramping terdapat sebilah pisau tipis kecil. Pisau itu menempel di punggung Nyonya Dawson. Ujungnya mengarah ke leher wanita itu.
__ADS_1
Robert merasa jantungnya seperti direndam dalam biang es yang membakar. Ia bahkan berhenti bernapas.
"Kau begitu berani, Tuan," tutur Jacob pelan, memutar gagang cangkir tehnya yang sudah berubah jadi asbak. "Tindakanmu seolah tak peduli pada nyawamu sendiri, membuatku bertanya-tanya di mana kau meletakkan nyawamu? Apa bukan di tubuhmu sendiri? Orang mengira nyawa adalah hal yang menempel pada tubuh fisik seseorang, tapi bagiku tidak. Nyawa seseorang bisa saja ada pada benda, pada binatang peliharaan, pada anak, pada istri."
Seluruh tubuh Robert gemetaran. Ia bahkan tak bisa bangkit. Olivia sesekali menoleh ke arah mereka, seperti menunggu tanda.
"Kalian ..." Robert berbisik lirih, putus asa. "Iblis."
"Terima kasih pujiannya," sahut Jacob kalem. "Karena kau yakin kami adalah iblis, yakinlah juga bahwa kami bisa menyeretmu sampai ke dasar neraka." Ia bangkit dan membetulkan letak mantelnya, kini berkata dengan nada biasa, "Masalah di Bjork akan segera diselesaikan oleh Keluarga Argent, kau tidak perlu melakukan apa pun selain diam dengan tenang seperti layaknya anjing penjaga. Aku tidak mau paman atau adikku kesulitan lagi karena kau. Kalau kau berjanji untuk tenang, istri-istri kita mungkin bisa jadi teman. Tidak akan ada yang terluka, semua bahagia. Mudah, kan? Cukup berhenti bertingkah sok pahlawan, karena kau justru akan membuat semuanya berantakan."
Robert bahkan tak punya waktu untuk merasa malu dipecundangi seperti itu. Kepalanya berkabut, sibuk mencemaskan istrinya, yang masih terancam ujung pisau Olivia. Ia salah. Ia pikir Jacob datang untuk mencelakainya, karena itu ia melepas istrinya menjauh bersama wanita yang ternyata sama iblisnya. Ia lupa bahwa Olivia sudah menjadi seorang Argent.
Jacob melambai pada Olivia. Wanita itu dengan cekatan menyembunyikan kembali pisaunya ke dalam lengan gaun. Namun Robert masih belum lega.
"Paman memintaku tidak ikut campur urusan ini," lanjut Jacob sambil melangkah pergi. Ia berhenti di ambang bukaan ruang tamu dan menoleh melewati bahunya. "Karena itu kita tidak pernah bertemu hari ini. Dan kau tidak mendengar apa pun dariku. Kau juga tidak diminta olehku untuk mengundurkan diri begitu masalah di Bjork selesai."
Robert menelan ludah, baru mengerti kenapa Jacob memanggilnya Tuan Dawson alih-alih Inspektur Robert sejak awal datang. Jacob bahkan tidak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di Bjork atau mencoba memahami dulu misteri apa yang membuat semua orang mengamuk seperti ini. Jacob langsung memangkas setiap benalu yang muncul tanpa pandang bulu, membuat Robert nyaris merasa Marco lebih welas asih sebagai pemimpin. Setidaknya Marco akan membuat keputusan setelah menimbang begitu banyak opsi dan kemungkinan.
Namun tak ada gunanya membandingkan mereka. Semuanya toh seorang Argent. Robert menenggelamkan punggung di kursinya, terpekur seorang diri. Ia akan menyiapkan surat pengunduran dirinya mulai sekarang. Lagi pula, ia sudah lelah. Sangat lelah.
__ADS_1
***