BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 49


__ADS_3

Tentu saja Maria tidak mengatakan keras-keras pemikirannya barusan. Dia hanya mengangguk dan memberi senyum menenangkan pada Lidya. “Nah, apa kau sudah sarapan sebelum ke sini?”


Lidya menggeleng pelan.


“Hmm, sebaiknya tetap jaga dirimu. Dave tidak akan senang kalau melihatmu kurus kering saat kembali, kan?”


Lidya tertawa lembut. “Kau juga berpikir dia akan kembali?”


Sejujurnya tidak juga. Maria pesimis pada kondisi orang-orang yang hilang di Bjork. Namun selayaknya seorang teman yang baik, dia memberi senyum saat mengangguk.


“Sungguh?”


Maria dibesarkan sebagai gadis yang segala kebutuhannya terpenuhi. Ia terbiasa disenangkan dan bukan menyenangkan orang lain. Desakan Lidya sekarang sebenarnya membuat ia sedikit sebal. Bukan bakatnya untuk selalu membesarkan hati orang lain—meski begitu, ia memang sudah dilatih untuk selalu berpikiran terbuka sebagai keluarga Garnet. Maria lagi-lagi mengangguk.


“Sudah, sudah, jangan murung terus. Daripada kita bermuram durja di sini, ikut aku belanja saja, yuk. Kita makan di jalan sekalian,” Maria segera berkata sebelum Lidya kembali menanyakan kepastian yang tidak bisa benar-benar dipastikan siapa pun.


“Ide bagus,” Lidya tersenyum tipis. “Terima kasih, Maria. Cuma kau yang terus mendukungku. Yang lainnya selalu menyuruhku menyerah saja atau jangan terlalu optimis. Mereka tidak bisa merasakan bagaimana kalau jadi diriku sekarang.”


Maria mengangguk ringan. “Jadi? Kau mau ikut jalan? Sekalian menghibur diri, Lidya ....”


“Tentu saja,” ucap gadis itu cepat. “Tapi aku mau ke Pusat Arsip dulu, mengembalikan buku.”


“Sekalian saja, kuantar. Kau meminjam apa dari sana? Isinya cuma dokumen tua, kan?”


Lidya memakai kembali mantel putih lembutnya yang terbuat dari bulu sintetis. Dia menyisir rambut ikalnya dengan jari. “Kliping koran saja, sih. Aku penasaran sejak kapan tepatnya orang-orang di Bjork hilang. Maksudku, siapa tahu ada sesuatu yang bisa kutangkap. Sesuatu yang bisa membantu menemukan Dave ...”

__ADS_1


***


Ketika sampai di Pusat Arsip, Jose tidak menemukan Nina. Dia menghampiri petugas di sana, menanyakan kapan jadwal masuk gadis itu. Dua petugas yang sedang berjaga saling melirik beberapa kali, mungkin merasa heran dengan pertanyaan Jose.


Sadar bahwa dirinya mungkin kelihatan aneh dan seperti lelaki kurang kerjaan, Jose meyakinkan keduanya bahwa dia bukan bermaksud iseng. Dia memperkenalkan dirinya sebagai seorang Argent dan berkata bahwa dia sedang melakukan wawancara terkait tugas yang sedang ia kerjakan.


Setelah mendapat informasi bahwa Nina libur hari ini, Jose meninggalkan Gedung Arsip dengan lesu. Ia hanya berjarak lima menit dengan kedatangan Lidya dan Maria, tetapi mereka tidak berpapasan. Jose justru menikung jalan, membuat dirinya menghilang di balik kelokan gedung.


Tujuannya sekarang berubah.


Ia akan menemui Krip, informan khusus keluarga Argent.


Krip adalah pemilik toko kelontong di ujung jalan. Tubuhnya tambun dan pria itu selalu mengenakan celemek usang berwarna putih. Kumis yang melintang di bawah hidungnya membuat wajah bulat Krip terlihat ramah. Kepalanya gundul mengilat, biasanya selalu ditutui topi pet berwarna hitam bulukan.


Jose sering bermain ke toko Krip saat Marco mengajaknya ikut serta dalam inspeksi kota. Selagi Marco menelusuri satu demi satu rumah mewah, berbincang dengan gaya bahasa penuh metafora, Jose melarikan diri ke tempat Krip untuk meminta sebutir apel.


“Hooo, Tuan Kecil! Minggu kemarin kok tidak jadi datang? Padahal saya sudah siapkan kue-kue untuk selera manis Tuan!” sambut Krip begitu melihat Jose datang ke tokonya. Ia segera bangkit dari konter dan berjalan tergopoh menyambut Jose. Mereka saling memeluk dan menepuk bahu sebagai salam.


“Sudah kubilang, jangan panggil ‘Tuan Kecil’,” protes Jose.


Krip tergelak. “Memangnya harus bagaimana lagi memanggil seorang Tuan yang paling kecil?”


“Bungsu,” ralat Jose, ikut tertawa. “Bukan ‘kecil’ tapi ‘bungsu’.”


“Tuan Bungsu kedengarannya tidak enak,” kilah Krip. Ia menuntun Jose ke konter, kembali ke kursinya di belakang meja kasir, sementara Jose mengambil tempat kesukaannya: di samping Krip, di atas tong kayu bulat berisi beras.

__ADS_1


Ada tumpukan kotak kardus terbungkus plastik rapat di samping tong kayu tersebut, membuat sosok Jose tertutup dari luar kalau ada yang masuk ke toko. Krip sendiri duduk menghadap pada Jose dengan pipi bulat merona karena bersemangat.


“Kau tahu soal Higgins,” Jose segera memulai.


Rona di pipi Krip menghilang. Pria itu melepas topi, kemudian mengusap kepala bulatnya dengan handuk yang melingkar di leher. “Tentu saja saya sudah dengar. Menyedihkan, kasihan benar.”


Jose menunggu, tetapi Krip tidak mengatakan apa pun lagi. Pria itu hanya menatapnya dengan tatapan lurus yang terlihat polos. Kepolosan yang palsu tentu saja, Jose sudah mengenal ekspresi topeng yang satu itu.


“Sebenarnya, aku memutuskan untuk menyelidiki soal itu,” lanjut Jose.


Krip mengerjapkan matanya dua kali, wajah Jose terlihat serius. Pria itu mendesah, tahu bahwa Tuan Kecil di depannya tidak akan mau menerima pengalihan isu. Jose benar-benar ingin tahu yang sebenarnya. Lagi pula Krip sudah menerima bisikan bahwa Tuan Kecil di depannya mengetahui beberapa hal soal apa yang sebenarnya terjadi.


“Paman Marco bilang, hanya sedikit yang tahu soal ini,” Jose memulai. Ia harus menunjukkan dulu bahwa dirinya mengetahui sesuatu, dan bahwa ia yang berkuasa di sini. Marco selalu mengajarinya soal penguasaan wilayah, juga manusia. Ia harus menunjukkan dulu siapa dirinya sebelum meminta orang lain membuka diri. Ia harus melemparkan umpan, tetapi jangan semua. “Dokter Rolan tahu, Inspektur tahu, Ayah tahu. Beberapa orang lain juga tahu. Kalau begitu, tidak mungkin informan hebat sepertimu jadi yang paling tidak tahu apa-apa.”


Krip mengulaskan senyum manis. “Tuan Kecil, Anda bahkan lebih tahu apa yang terjadi daripada saya. Anda di sana, saya di sini. Dilihat dari jarak, bukankah Anda yang paling dekat dengan semua kejadian? Orang-orang yang perlu ditanyai pun ada di sekitar Anda semua.”


“Krip.” Jose mendekatkan wajahnya, kini senyum lugu yang biasa terulas di bibirnya sudah lenyap tanpa bekas. “Aku perlu tahu apa yang terjadi di rumahku.”


“Ada yang bilang, ketidaktahuan itu merupakan anugerah.”


“Bagimu sepertinya tidak berlaku.” Jose memberi tatapan dingin.


Krip mengedikkan bahu sambil tersenyum. “Saya menikmati kutukan ini.”


“Dan kutukan itu adalah milik keluarga Argent.” Jose mengetuk tong kayu dengan tumit kirinya. “Aku adalah seorang Argent. Kau masih setia atau tidak?”

__ADS_1


“Saya selalu bertindak dengan memikirkan apa yang terbaik untuk keluarga Tuan,” Krip berkilah dengan gampang. “Saya tidak bisa mengatakan apa pun kecuali bagi Tuan Kecil untuk menjauh dari masalah ini. Ini bukan masalah orang biasa.” Dia menunduk, memberi bisikan pelan, “bukan masalah manusia biasa.”


Jose merapatkan bibir. Krip kelihatan seperti pria keras kepala yang tidak mau memberinya informasi apa pun, tetapi sebenarnya pria itu sudah memberitahunya beberapa hal penting. Semua orang penting yang tahu apa yang terjadi adalah orang-orang yang berada di dekatnya, berarti memang keluarga inti Argent memegang kunci mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Bukan masalah manusia biasa, yang berarti makhluk itu memang bukan manusia.


__ADS_2