
Jose meminjam mobil Tin Lizzie milik Garnet dan menyetirnya sendiri dengan niat membawa Maria ke luar Bjork. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan, tetapi keduanya sepakat untuk mencoba keluar Bjork dulu. Susan memohon diizinkan ikut, tetapi Maria melarang. Ia benar-benar tidak ingin melibatkan siapa pun sebelum segala hal jadi jelas baginya.
Belum ada yang bicara sejak mereka naik otomobil tersebut, sampai Jose memecah keheningan.
"Kita seperti berjalan di pita mobius," katanya.
"Maksudmu?" Maria mengangkat wajah dari kedua tangannya di pangkuan. Ia ada di samping kemudi, tepat di sebelah Jose.
"Maksudku, kita berputar kembali ke tempat semula. Aku baru saja memutari Tikungan Gudang, harusnya kita bakal menuju jalan yang membuka ke dok-dok penyimpanan barang di pelabuhan." Jose memutar kemudi. Wajahnya heran bercampur geli ketika mobil mereka berjalan lamban memasuki jalanan berpaving batu. "Lihat? Kembali ke jalan utama Bjork. Menurutmu kenapa bisa begini?"
"Lagi," pinta Maria. "Coba lewat jalan lain."
Jose mencoba beberapa rute keluar Bjork, tetapi hasilnya tetap sama. Mereka selalu kembali ke jalan utama Bjork.
"Kemarin ayahku bisa pergi dari Bjork. Jacob juga barusan pergi dari Bjork." Jose mencengkeram roda kemudi erat-erat. "Kenapa kita tidak bisa?"
Maria diam agak lama. Kepalanya masih penuh dengan dengung yang hilang timbul. "Mungkin kau bisa," katanya lemah. "Mungkin aku yang tidak bisa. Mau coba periksa bagaimana kalau kau pergi sendiri?"
Jose tidak mau. Mana mungkin ia meninggalkan gadis itu sendirian. Ia memutar kemudi menuju jalan yang melewati Kantor Pajak, mengarahkan mereka ke bagian selatan Bjork.
"Mau ke mana kita?" tanya Maria waspada. Jalanan yang mereka lewati bergeronjal dan akhirnya berubah dari paving batu jadi hamparan tanah keras. Mereka sudah masuk ke tempat sepi yang menjadi wilayah Kantor Pajak. Suara gemericik sungai yang membelah Bjork bahkan terdengar cukup jelas. "Jose?"
Jose memarkir mobil di samping jembatan penghubung. Jembatan itu terbuat dari kayu gelondongan yang diikat tali tambang. Kalau ia ngotot lewat dengan mobil, mereka hanya akan tergelincir atau jembatannya rubuh. Jadi ia meloncat turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Maria. "Aku ingin mencoba sesuatu," katanya.
Gadis itu tidak mau turun. Ia bahkan menolak memandang uluran tangan Jose. "Katakan dulu apa yang mau kau coba!"
__ADS_1
"Hutan ini sakral," sahut Jose pendek. Ia pernah terperosok jatuh di depan jembatan begitu mengejar Sir William ketika semua misteri ini pertama menghampirinya. Lubang itu tidak bisa ia temukan lagi jejaknya kemudian. Ia masih ingat bahwa ketika ia terperosok, ia juga mendengar suara tawa aneh dan diliputi kabut: hal yang sekarang ia tahu sebagai pertanda kemunculan golem. Berkat terperosok ke dalam lubang, ia tidak bertemu dengan makhluk tersebut.
Tadinya Jose masih tidak mengerti apa yang terjadi. Namun setelah perjalanan ke dunia kematian serta setelah bertemu raksasa jamur yang entah bagaimana adalah perwujudan leluhur-leluhurnya, Jose mulai memikirkan satu kemungkinan: bagaimana kalau gunung ini menolongnya? Bagaimana kalau lubang itu dibuat oleh leluhurnya? Ia juga masih ingat bagaimana hantu Gladys menampakkan diri di sini.
"Agama lama kita menyucikan gunung ini," lanjut Jose pelan, merentangkan tangan. "Dewa-dewa lama kita ada di sini, terlupakan di balik perumahan kumuh. Aku ingin kita mencoba bertaruh di sini."
Maria mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti," katanya, bolak-balik menatap Jose dan rimbun kehijauan di depan mereka.
"Aku belum menceritakan bahwa Paman Marco menghilang, kan?" tanya Jose. Ia masih mengulurkan tangan di depan Maria. "Yah, dia sudah pulang sekarang. Tapi aku akan menceritakan apa yang terjadi, apa yang kutahu selama ini, serta siapa Sir William. Dan menurutku hutan di Selatan adalah tempat yang jauh lebih aman daripada rumah manapun di Bjork Utara."
Jose tidak sedang bercanda, Maria bisa melihat itu dari sorot matanya. Akhirnya ia mengangguk pelan dan menyambut uluran tangan lelaki itu. Mereka menyeberangi jembatan sambil bergandengan tangan.
***
Ketiga pria lain di perpustakaan saling melempar pandangan dalam diam, bertukar kode.
"Hal yang membuat saya takut adalah, setelah saya menemukan bahwa dia ..." Dave diam sebentar. Jari-jarinya yang gemetaran mengangkat gelas, menenggak wiski yang tersisa. Rolan dengan cekatan mengisi lagi gelasnya yang kosong, dan Dave mengucapkan terima kasih dengan lirih. "Saya ada janji bertemu dengan Jose," lanjutnya. "Lalu ketika saya hendak keluar rumah ... saya kembali lagi ke kamar. Setiap kali membuka pintu, saya masuk lagi ke kamar. Rasanya mengerikan. Saya berteriak memanggil pelayan tapi tak ada yang datang. Lalu iblis itu datang. Sir William."
Keheningan melingkupi perpustakaan. Marco baru saja menelan obat penghilang rasa sakit dan kini sudah bisa fokus sepenuhnya pada permasalahan. Tuan Stuart ada di sampingnya. Perhatian lelaki itu terbagi antara cerita Dave dan kondisi Marco.
"Bentuknya manusia ... dan dia sangat ... sangat sopan," Dave berkata lirih, seolah takut ada orang lain yang akan mendengarnya. "Tapi saya tahu dia iblis. Sesuatu dalam diri saya mengenalinya, mungkin sisi terjahat saya? Mungkin dosa-dosa saya mengenali penciptanya? Sulit dipahami. Dia membuat saya sangat takut hingga sempat berlutut memohon ampun. Mengenaskan sekali ... tapi saya benar-benar ingin hidup." Ia menggeleng pelan dan tersenyum pahit. "Dia mengatakan peringatan-peringatan. Dia marah ... tapi lalu berhenti dan menghilang. Semalaman penuh saya ketakutan, sampai kemudian saya sadar apa yang membuatnya pergi."
"Apa?" Rolan tertarik.
"Bunga," sahut Dave tenang. "Hari itu peringatan kematian nenek saya, Dokter. Bunga kesukaannya adalah dandelion dan lavender—dua jenis bunga yang aromanya dipercaya bisa mengusir setan. Tapi saya tetap takut. Saya mengurung diri di kamar, tidak makan, tidak minum, takut membuka pintu, saya bahkan takut menelepon atau menerima telepon dari siapa pun. Keluarga saya sangat malu dengan keadaan saya, mereka pikir saya jadi gila, jadi mereka menyembunyikan fakta ini. Pada umum mereka bilang saya hilang ditelan misteri Bjork. Mereka bahkan mengancam akan membuat pemakaman saya kalau saya tidak segera pulih. Lucu benar."
__ADS_1
Tuan Stuart tidak mengerti. "Dan Tuan Philips Raynor? Bukankah dia hilang di hari yang sama dengan Anda hilang?"
"Ah, sahabat saya itu?" Dave tersenyum kecil. "Dia yang membantu saya pulih. Begitu saya tidak bisa dihubungi, dia bertindak sendiri dengan menghilangkan dirinya. Dia memang sangat peka, dia curiga kami terancam bahaya. Prinsipnya adalah: sebelum dihilangkan orang lain, dia akan menghilangkan dirinya sendiri. Tapi dia tidak mati, sebaliknya dia justru mencari tahu banyak hal tentang Sir William dari persembunyiannya. Ketika saya pulih dan berani mengangkat telepon, sambungan darinyalah yang pertama terhubung. Kami berkomunikasi, dan saya mengikuti jejaknya untuk pura-pura hilang. Dengan begitu, saya harap saya bisa mengulur waktu."
Marco tersenyum kecil dan mengangguk, mengakui kapabilitas Dave sebagai seorang Lord. "Dan apa yang membuat Anda memutuskan untuk keluar dari persembunyian itu?"
"Saya mendapat beberapa kesimpulan, my lord," Dave mendehem. "Satu, dia bukan Tuhan. Dalam artian, dia tidak bisa berada di dua atau lebih tempat bersamaan. Jadi ketika saya tahu pasti di mana dia berada, sebenarnya saya tak perlu cemas dia akan memergoki saya. Dua, Sir William tidak serba tahu. Dia tidak tahu Phill terlibat dan masih hidup. Dia tidak tahu saya masih mencari tahu tentangnya diam-diam. Dia mungkin punya indera yang lebih peka daripada manusia, jauh lebih peka. Tapi seperti kita yang meluputkan banyak hal di luar fokus perhatian kita, dia pun begitu. Selama kita tidak menarik perhatiannya, kurang lebih kita aman."
"Menakjubkan," puji Tuan Stuart. "Ini informasi yang sangat berguna."
"Yang didapat dengan taruhan nyawa," Marco menyetujui. Ia menatap Rolan. "Atur pembelian lavender dan dandelion dalam jumlah banyak. Penuhi Bjork dengan bunga itu. Kalaupun itu tidak berhasil mencegah Sir William, setidaknya kota ini akan wangi."
Rolan mengangguk singkat. Ia menatap Dave dengan pandangan menyelidik. "Dan apa yang Anda lakukan di hutan Bjork?"
"Ah, benar. Kita kembali ke pembahasan itu." Dave mengangguk pelan, menyesap kembali wiskinya. "Kita tahu bahwa dewa-dewa lama bersemayam di sana, bersama dengan leluhur kita. Ketika saya mendengar kabar bahwa Marquis Argent hilang, saya putus asa. Jujur saja, entah kenapa Andalah satu-satunya yang terpikir dalam kepala saya yang bisa melenyapkan monster itu."
Marco tersenyum. "Dan aku memang akan melakukannya."
"Ya, saya yakin itu," kata Dave penuh syukur. "Tapi ketika mendengar kabar itu, saya benar-benar kalut. Lalu saya berpikir, kedua bunga yang membuat iblis itu menjauh, bukankah itu bunga dalam mitos agama lama kita? Lalu bagaimana dengan mitos lain, bagaimana dengan gunungnya sendiri? Jadi saya bertaruh pada dugaan itu dan lari ke hutan untuk berdoa dan menyelamatkan diri. Tak tahunya, di sana saya melihat makhluk yang lain yang lebih aneh." Ia bergidik.
Rolan mengerutkan kening. "Apa yang kau lihat? Golem?"
"Golem?" Dave balas bertanya dengan heran, tidak tahu menahu soal golem. "Saya melihat makhluk aneh ... yang mengendus dan merayap dengan ... ganjil. Saya ketakutan dan lari tersaruk-saruk, jatuh terantuk dan pingsan. Ketika saya bangun dan mulai berjalan, hari sudah gelap. Sangat gelap. Lalu Jose muncul." Ia tertawa pelan. "Dia membawa dua belati dan kelihatan seperti siap membunuh saya, saya pikir saya bermimpi." Ia mengerjap-ngerjap, mencegah air matanya jatuh. "Saya pikir saya hanya mimpi."
***
__ADS_1