BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 102


__ADS_3

Semak perdu bergerak-gerak di arah jam dua. Run mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi, siap berontak. Jose menelan ludah. Punggungnya meremang. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga telinganya kesulitan menangkap bunyi lain.


"Siapa itu?!" seru Jose lantang, memerintah. Ia menatap ke sekitar dengan waspada. Tidak ada asap putih. Kabut belum muncul. "Keluar! Tunjukkan dirimu!"


Semak-semak bergerak lagi, kemudian seseorang terbungkuk-bungkuk keluar dari sana dengan sebelah kaki disereg.


Jose menahan napas. Darahnya tersirap.


Itu Gladys.


***


Susan adalah dayang pribadi Maria. Ia sudah mengawal gadis itu sejak Maria masih berumur lima belas tahun. "Jadi, semalam Nona tidak jadi bersama dengan Tuan Bannet?"


"Tidak, kami hanya sempat bertemu sore hari, sebelum aku bersepeda dengan Jose." Maria menguap. Ia membetulkan letak bantalnya, kemudian memejamkan mata sekali lagi. "Kadang aku merasa dia sangat menarik, kadang aku merasa takut. Aku tidak terlalu mengerti. Dan Jose tidak terlalu suka padanya ... pada Sir William, maksudku."


Maria mengakhiri ceritanya dengan kuapan lagi.


"Nona baik-baik saja?" Susan memperhatikan Maria dengan prihatin. Wajah gadis itu pucat, bibir dan pipinya kehilangan rona merah. Ia menyorongkan jus apel ke depan Maria.


Gadis itu menggeleng, mendorong gelas yang disodorkan menjauh dari mulutnya. "Aku merasa mual, Sue. Rasanya ingin muntah. Biar aku tidur saja, ya?"


"Saya akan panggilkan dokter," Susan memutuskan, tetapi Maria menggeret apron dayangnya.


"Tidak apa, mungkin karena mau datang bulan, badanku rasanya tidak karuan. Nanti tidak akan apa-apa, kok."


"Ah, siapa bilang? Jangan seperti itu, Nona! Lebih baik diperiksa sekarang sebelum kenapa-napa! Saya cemas. Nona mungkin tidak menyadarinya, tapi kondisi Nona makin memburuk."

__ADS_1


"Ya ampun, tidak apa, Sue. Kemarin aku juga begini, tapi sorenya baik-baik saja. Akhir-akhir ini, tiap pagi rasanya aku memang merasa mual."


Susan mengerutkan kening. Ia menaruh termometer merkuri pada ketiak Maria, dan menunggu dengan sabar sambil merapikan ujung-ujung seprai yang berantakan. "Mungkin Nona salah makan? Semalam makan apa?"


"Cuma permen kapas saja, kok. Jose yang membelikan," Maria berkata. Ia tersenyum sedikit mengingat bagaimana akhirnya ia dan Jose bisa mengobrol dengan akrab lagi. Ia sempat merasa ada yang berbeda dari mereka berdua, ada sesuatu yang berubah, tetapi tidak bisa ia pahami sepenuhnya di mana letak perubahan itu. Tadinya ia pikir itu karena kedatangan gadis kumuh yang bernama Nolan, yang masih saja tidak mau mengerti jurang status antara Bjork selatan dan utara. Tetapi kini ia mulai merasa bahwa bukan anak itu letak perbedaannya. Bukan juga masalah kedewasaan atau alasan payahnya yang diungkapkan pada Jose kemarin.


Ia sendiri yang merasa berbeda. Ia seperti melihat dunia dengan pandangan yang sedikit beda, seperti sedang berganti kacamata. Tetapi Maria lagi-lagi tidak mengerti di mana letak bedanya. Ia merasa ada yang hilang dari dirinya, tetapi di saat yang sama juga ada sesuatu yang melengkapi dirinya.


Susan selesai membereskan gaun-gaun serta pakaian yang bertebaran di lantai, sisa persiapan Maria kemarin. "Jadi," ujar dayang itu dengan sopan, "Ada acara khusus untuk hari ini, Nona? Nona mau pergi ke suatu tempat?"


Maria mengusap matanya yang terasa perih. "Tadinya aku mau mengunjungi Jose. Dia sudah janji mau menemaniku ke pesta Sir William nanti malam. Tapi entahlah. Aku tidak tahu lagi apa aku kuat." Ia menenggelamkan diri ke balik selimut. "Tutup jendelanya dong, silau nih."


"Tirainya bahkan belum dibuka, Nona," sahut Susan heran. Ia mengambil kembali termometer, melihat bahwa suhu tubuh Maria ada dalam ukuran normal.


"Masa, sih? Silau nih. Tambahkan selapis lagi saja, mataku capek melihat matahari. Nanti sore aku akan baikan." Maria heran sendiri mendengar kalimat terakhir yang ia lontarkan, tapi ia yakin itu. "Nanti sore aku akan baikan. Pasti."


"Sue ...," Maria merengek sebal. "Aku benci dokter, benci jarum suntik, benci obat. Jangan panggil, yaaa?"


Susan menghela napas. Ia membelai lembut rambut Maria. "Baiklah, tapi kalau sore nanti Nona belum mau makan juga, saya akan panggil dokter. Tidak peduli meski Nona merengek."


"Kau kejam pada orang sakit," Maria merajuk.


"Kalau sakit, saya panggilkan dokter," tandas Susan cepat, menemukan celah. Ia menata gelas dan piring makan di atas nakas di samping tempat tidur. "Makanannya saya taruh sini saja dulu. Kalau Nona sudah merasa agak baikan, tolong makan, biar sesendok atau dua sendok."


Maria mengangguk lemah, tetapi bahkan mencium aroma makanan pun ia tidak selera. Perutnya terasa melilit dan bergolak. Ia merasa ingin muntah.


Susan memeriksa suhu Maria sekali lagi dengan tangan, merapatkan selimut majikannya. "Kalau Nona butuh sesuatu, bunyikan lonceng. Atau apakah Nona lebih suka saya temani?"

__ADS_1


"Kau mau ke mana, Sue?" tanya Maria lemah ketika melihat dayangnya siap untuk pergi.


"Mengambil lapisan tirai baru," sahut Susan. "Bukankah Nona memintanya? Kenapa? Nona butuh sesuatu?"


"Oh, tidak. Pergilah sana."


Susan mengangguk, kemudian beranjak pergi. Ia melihat bahwa Maria memang jadi semakin pucat. Ada lingkaran hitam di bawah mata gadis itu.


Sudah tiga hari ini kondisi Maria seperti itu. Awalnya, hanya terlihat lemah, tetapi kemudian sehat. Lalu keadaannya buruk lagi, seperti kelelahan, tetapi sebelum dokter datang, Maria sudah kelihatan kembali sehat. Dan sekarang terulang lagi.


Daripada terjadi apa-apa yang tidak diharapkan, Susan memutuskan untuk melapor pada Nyonya Garnet selepas menambah tirai. Ia akan membujuk Nyonya Garnet untuk memanggil dokter. Ia kembali ke kamar majikannya sambil memikirkan apa alasan yang tepat untuk menghindar dari amarah Maria nanti saat melihat dokter datang.


Namun semua alasan itu lenyap seketika saat Susan melihat Maria yang duduk bersandar di kepala tempat tidur. Susan menjerit kaget, memanggil pertolongan.


Bukan wajah pucat Maria yang membuatnya ngeri. Bukan juga piring serta gelas yang berantakan di atas karpet, tetapi karena keadaan Maria sendiri.


Gadis itu memuntahkan isi perutnya ke atas selimut. Terbatuk-batuk dan muntah. Air mata mengalir membasahi pipinya yang pucat.


"Nona, ya Tuhan, Nona!" Susan segera menyingkirkan selimut yang terkena muntahan lalu buru-buru meraih handuk untuk mengelap mulut Maria.


"Tidak apa, Sue," bisik Maria lemah. Air mata mengalir di pipinya. "Aku cuma mual. Bau makanannya membuatku mual. Aku ingin makan sedikit tadi, tapi jadi begini"


Pelayan yang mendengar teriakan Susan segera datang tergopoh-gopoh.


Sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya, tetapi Maria mencoba tidak memikirkan hal itu. Maria menutup mulutnya untuk bicara, tersedak, kemudian muntah lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2