
Charles Hastings sudah merasa ada yang tidak beres ketika pelayannya menyampaikan ada bejana besar setinggi pinggang orang dewasa berhiaskan pita kado di depan pintu rumah. Ia barusan pulang dari pertemuan dengan pimpinan dagang Venedik, yang masih menolak memberi kepastian soal posisi mereka. Rubah-rubah Venedik memang selalu menunda memutuskan sesuatu sampai segala hal jelas bagi mereka. Bicara dengan rubah licik itu sudah membuat Charles lelah dan ingin segera tidur, tapi kado bejana yang menyambutnya jelas tak bisa diabaikan.
"Kau sudah melihat apa isinya?" Charles menoleh pada Walter, kepala pelayannya.
Walter menggeleng. "Saya belum membukanya, Tuan. Tapi aromanya seperti madu berkualitas."
Charles mengangkat tongkat metaliknya, menggunakannya untuk mengetuk-ngetuk sisi bejana. Bunyi yang dihasilkan memberi tanda bahwa isi bejana tersebut penuh. "Siapa yang mengirim?" tanyanya.
"Mohon maaf Tuan, tidak ada kartu apa pun. Sepertinya diletakkan baru malam ini, karena tadi sore tidak ada apa-apa di depan pintu."
"Itu mencurigakan," ujar Charles. Ia mengamati bejana tersebut dengan cermat. Bahannya dari terakota, tanpa ukiran atau hiasan apa pun. Sekali lihat saja sudah kelihatan bahwa itu buatan ahli, bukan barang murahan. Tutupnya punya pegangan mungil yang berbentuk bulat, diberi hiasan pita organza merah anggur. Ia menggunakan ujung tongkatnya untuk mendorong tutup bejana hingga jatuh terbanting, terbelah di lantai, kemudian mengintip isi bejana. Memang madu.
Walter mencolek cairan tersebut dan mengendus. "Madu murni, Tuan," katanya, "tanpa sirup atau campuran apa pun. Ini jelas hadiah yang mahal."
Hadiah? Charles mempertimbangkan kemungkinan itu. Ia mendapat banyak hadiah, baik dari orang-orang Scholomance maupun rekan-rekan dagang barunya. Banyak yang tidak memberi kartu nama juga. Namun hadiah yang ini terasa terlalu janggal, terlalu mewah. Ia mengitari bejana dengan waspada, seolah takut akan muncul duri-duri tajam dari permukaan wadah itu untuk menyerangnya.
“Berapa tukang pukul yang ada?”
“Lima puluh, Tuan.” Walter curiga mendengar nada suara majikannya. “Semuanya bersiap di rumah belakang, seperti yang Tuan perintahkan.”
“Panggil semuanya.”
"Tuan?"
"Madu ini dari Argent!" kata Charles sengit, bisa menebak maksud hadiahnya. Lebah mati tak menghasilkan madu, ada pepatah itu di Bjork yang secara harfiah berarti pekerja yang mati tidak akan menghasilkan apa pun. .
Charles mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan mengayunkannya sekuat tenaga ke arah bejana. Benda itu tidak retak sedikit pun, jadi Charles menendangnya hingga terguling jatuh. Bersama dengan tumpahnya lautan madu, dua buah kepala terseret keluar. Wajah mereka tertutup madu kuning yang kental, tapi Charles bisa menebak bahwa kepala-kepala itu adalah milik utusannya di Jorm. Hadiah itu adalah ejekan dari Marco.
Walter menelan ludah, mengeluarkan sapu tangan untuk mengelap ujung jarinya yang berlumur madu. Untung ia tidak tergoda mencicip.
__ADS_1
"Bangunkan semua pelayan!" bentak Charles berang. "Bangunkan semua!"
Sebelum Walter sempat bergerak, pintu utama sudah menjeplak membuka dan orang-orang bersenjata tajam menghambur masuk ke dalam estat. Charles menghunus pedang besi dari tongkat jalannya. Pedang itu kelihatan seperti mainan di hadapan rapier serta kilij yang terhunus ke arahnya. Rapier milik Greyland sementara kilij milik Argent, Charles mengenalnya.
Walter bergerak mundur, kemudian lari tergesa ke arah bukaan lorong yang menuju ruang pelayan sambil berseru memanggil para tukang pukul. Greyland, yang sudah menyeruak masuk melewati prajuritnya, segera mengayunkan tangan dengan cepat. Tidak ada yang bisa melihat jelas apa yang barusan dilakukan Greyland. Tahu-tahu Walter sudah ambruk dengan pisau pendek tertancap dalam di leher. Pria itu bahkan tidak sempat mencapai batas foyer.
Charles melirik sekilas ke arah tubuh Walter, kemudian mengembalikan pandangan ke depan. Dalam dua detik yang singkat ia sudah menghitung jumlah prajurit lawan. Semuanya ada dua puluh kepala. Sepuluh di depan yang membawa rapier adalah milik Greyland—mereka mengenakan pakaian dengan bordir emblem Greyland di dada. Sepuluh kepala di lapisan kedua yang membawa kilij adalah milik Argent.
"Ada apa ini Argent?" geramnya. "Kau tahu sekarang sudah terlalu malam untuk bertamu."
"Cuma ingin tahu apa kau suka kado silang dari kakakku." Edgar ada di samping Greyland, di antara dua lapis pasukan. Ia menganggukkan kepala ke arah bejana madu dengan dua potong kepala di lantai. "Aku sendiri yang mengikat pitanya.”
"Kalau kau menumpahkan darah di sini, bahkan nama Argent pun tidak akan bisa membantumu lolos. Kau juga, Greyland.” Charles berkata dengan napas memburu, menatap mata kedua pria itu bergantian.
Apa Argent akan bertindak nekat karena berpikir mereka akan hancur? Charles menelan ludah. Apa mereka bermaksud mempertaruhkan semuanya karena berpikir Bjork tidak akan ada lagi?
Edgar meringis. “Apa Yang Mulia Ratu akan mengampunimu kalau tahu apa yang kau edarkan melalui tangan Spencer?”
Ah. Charles mengerti sekarang. Ia menghela napas. “Kau tidak mengerti, Argent,” katanya pelan sambil menggeleng. “Apa kau tahu soal medalion terkutuk Arabella?”
Greyland mengangkat sebelah tangan, menahan gerakan prajuritnya. Ia menatap Edgar penuh makna, menyampaikan permintaan tanpa kata. Meski tahu bahwa Charles hanya mengulur waktu, Edgar mengangguk samar.
“Katakan apa yang kau tahu,” perintah Greyland.
Mata Charles berpindah pada Greyland, menatapnya dengan pandangan menusuk. “Kau tahu bahwa kalung itu diperlukan untuk sebuah ritual? Ritual darah. Orang-orang yang hilang di Bjork adalah orang-orang yang punya satu kesamaan: tidak pernah menyentuh alkohol, tidak merokok. Kau tahu kenapa? Karena darah mereka yang murni diperlukan dalam ritual, untuk membuat pembatas. Membuat sigil raksasa.”
"Itu alasanmu mengedarkan narkotik?"
Charles mengangguk tegas. “Kokain yang kami sebarkan sudah diatur dalam dosis yang rendah. Tidak akan membuat kecanduan, hanya akan mengotori darah mereka. Misiku adalah menyelamatkan Bjork! Aku berusaha mencegah jatuhnya korban lebih banyak!” Ia mengangkat jari telunjuknya ke depan. “Aku yang membawa kalung itu ke Bjork untuk disembunyikan! Supaya iblis itu tidak bisa lagi menggunakan sihir jahatnya untuk membunuh manusia! Aku mungkin punya kepentingan yang beda dengan Marco, tapi aku juga berjuang untuk Bjork. Untuk Albion. Semua yang kulakukan bukan kulakukan untuk kepentinganku sendiri. Kau tahu kenapa aku menentang pembangunan selatan? Begitu tempat itu dijamah manusia, kesakralannya berkurang. Tidak ada lagi perlindungan!”
__ADS_1
Penjelasan itu kedengaran meyakinkan. Edgar sudah mendengar apa yang sebenarnya terjadi di Bjork lewat telepon dari Marco. Keterangan Charles memang cocok dan kedengaran masuk akal. Ia melirik, melihat Greyland memasang mimik muka penuh pertimbangan. Mungkin pria itu berpikir untuk menangkap Charles hidup-hidup dan menyerahkannya pada Marco untuk diinterogasi sendiri, tetapi Edgar tidak akan membiarkannya.
“Kalau begitu kenapa kau membuat Scholomance?” tanyanya. Sebelum pria itu sempat menjawab, Edgar meneruskan lagi, “Untuk apa kau membuat golem dan mengirimnya ke rumahku?”
“Kalung itu hilang,” Charles menggeram. “Aku tidak tahu bagaimana, tapi kalung itu terjatuh. Musuh kita sama, Argent. Yang sedang kita hadapi adalah iblis, bukan manusia! Dan kalung itu bisa membantu kita membalikkan keadaan. Aku membuat golem dan memerintahkan untuk mencari medalionnya. Kalau golem-golemku datang ke rumahmu, itu hanya kebetulan karena kalungnya ada di sana! Dari mana kau mendapat kalung itu, Argent?”
Edgar tidak menjawab. Ia justru kembali bertanya, “Untuk apa kau menahan Marco di puri Ashington? Mau bilang bahwa kau ingin melindunginya supaya Sir William tidak menggunakannya sebagai tumbal?” ia melanjutkan dengan tenang, “kau memberi alasan seakan semua yang kau lakukan adalah untuk kepentingan masyarakat banyak, lalu kenapa kau menyerang rumahku saat kami tidak ada di sana?"
Charles membuka mulut untuk melancarkan alasan, tapi ia menangkap pandangan Edgar. Itu bukan sorot mata orang yang menginginkan penjelasan. Itu tatapan orang yang ingin membunuh. Ia berjalan mundur, berteriak memanggil penjaga tanpa melepaskan pandangannya dari senjata-senjata yang makin mendekat. Setiap satu langkah mundurnya dibalas dengan tiga langkah maju pasukan bersenjata.
Charles berteriak makin keras, memanggil pengawalnya, tapi tidak ada satu pun yang datang. Samar-samar ia mencium aroma darah dan mendengar dentang pedang serta salakan senjata api. Tanpa ia sadari, pertarungan lain sudah dimulai di rumah bagian belakang tempat pengawalnya berada. Ada lima puluh pengawal di belakang, kalau semuanya bisa selamat maka ia akan menang jumlah. Harusnya ia menang jumlah. Harusnya. Namun entah kenapa ia tidak lagi terlalu yakin. Tidak ada pelayan atau pekerja yang datang mendengar teriakannya, itu berarti pelayan di seisi rumah ini sudah dibantai dalam senyap.
Seharusnya ini tidak terjadi. Charles mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari celah, berpikir di mana ia telah salah melangkah. Harusnya ketika Marco menghilang dan Edgar pergi ke Aston, mansion Argent kosong dan orang-orangnya bisa membangkitkan amarah seluruh Bjork Utara untuk menghancurkan rumah Argent. Hancurnya manor Argent akan melancarkan segalanya. Edgar tidak punya tempat untuk pulang, kalaupun ada yang selamat, mereka akan sibuk memulihkan diri dan tidak sempat mengurusi hal lain. Saat itulah ia dan Spencer akan mengambil alih semua hal. Harusnya semua berjalan dengan lancar sesuai rencana.
Charles menarik napas panjang, menyingkirkan penyesalannya jauh-jauh dan berusaha fokus pada masalah yang sedang dihadapinya saat ini. Ia tidak bisa lari karena Greyland pasti akan menyerangnya dari belakang seperti yang dilakukannya pada Walter. Ia kalah, Charles menyadari. Namun setidaknya ia harus memberi kerusakan yang sama besarnya untuk Argent. Untuk mengalahkan satu pasukan, yang harus dilakukannya hanya mengambil kepala sang kapten. Namun kepala siapa yang harus ia tuju? Argent? Greyland?
Berpikir terlalu lama akan membuatnya ragu, dan rasa ragu akan merontokkan keberanian. Charles menyeru lantang, menderap maju sambil mengangkat lurus tongkat pedangnya.
Mengetahui bahwa dirinya yang sedang dituju, Edgar justru melangkah maju melewati orang-orang Greyland, menyambut tantangan. Kilij di tangan kirinya diayunkan dari atas untuk memotong leher. Charles menahan tebasan menggunakan bagian tongkatnya yang menjadi sarung pedang, lalu dengan cepat bergerak menusuk. Senjatanya memiliki jarak jangkau yang lebih jauh. Ia akan menikam jantung Edgar. Ia harus melakukannya. Namun ia terlalu mengandalkan tusukan dan tidak menyiapkan rencana cadangan. Ketika Greyland menarik bahu Edgar hingga bergeser menghindar, Charles segera tahu bahwa segalanya tidak akan berakhir baik. Ia menusuk udara kosong dan jatuh terbanting ke lantai, tubuhnya terguling keras, berhenti di ujung sepatu orang-orang Greyland. Ia mendengar bunyi pedang bergemerincing. Ujung-ujung rapier mengelilingi wajahnya, mengepung.
Charles terengah. Pandangannya beralih dari ujung-ujung pedang ke wajah Edgar yang melangkah mendekat sesantai angin pagi. Ia sangat membenci mata dan rambut hitam itu. Ia sangat membenci semua Argent dan keroconya. Namun bahkan semua kebenciannya saat dijadikan satu tetap tidak bisa menandingi rasa takutnya saat ini. “Kau tidak bisa membunuhku dengan tanganmu sendiri,” ia mencela, mencoba memprovokasi. Dadanya naik turun dalam napas gugup. Wajahnya merah. “Andai tidak ada Greyland, kau tidak akan bisa sampai di sini! Apa kau berani menghadapiku sendirian, Argent? Satu lawan satu?”
“Kau ingin membuatku merasa malu karena bantuan Greyland?” Edgar tertawa, tapi matanya tetap sedatar biasa. Provokasi semacam itu tidak mempan lagi untuknya, yang sudah mengakui dan menerima kelemahannya sejak lama. Ia tidak sekuat kakaknya dan tidak memiliki kelincahan keempat putranya, karena menyadari itulah maka ia memerlukan Greyland. “Apakah kaktus perlu merasa malu karena memiliki duri tajam yang melindunginya?”
Charles tidak mendapat kesempatan menanggapi. Ia hanya sempat melihat sekilas bagaimana kilij di tangan Edgar mengayun, memantulkan cahaya lampu.
“Jangan …,” bisikannya mengambang kosong. Hanya itu yang sempat ia lakukan. Hanya itu yang sempat ia pikirkan.
***
__ADS_1