BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 132


__ADS_3

Tuan Stuart datang setelah jam sarapan. George mengantarnya ke ruang kerja Marco, di mana Jose sudah menunggu. Di ruangan itu juga ada Rolan, Krip, Gerald, dan Hans.


Tuan Stuart adalah pria berusia tiga puluh lima dengan rambut hitam yang disisir rapi ke belakang dan kumis tipis melintang. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya, dan cara berjalan pria itu begitu luwes dan anggun seperti kucing.


"Tuan Jose Argent," ucapnya sambil memberi salam dengan sopan.


Jose sudah beranjak dari meja untuk menemui pria itu. Ia membalas salamnya dengan sopan. "Cukup panggil saya Jose, Sir. Kami telah menunggu Anda. Duduklah, dan mohon maafkan ketidaksopanan saya, tapi kita akan langsung ke pokok pembicaraan."


Tuan Stuart memberi salam pada Rolan, yang sudah menunggunya dengan wajah bersemangat di set sofa di ruangan tersebut. Baik Krip, Gerald, dan Hans tidak duduk di sofa melainkan berdiri dengan sopan di dekat dinding seperti hiasan patung zirah. Jose sebelumnya sudah meminta mereka bertiga untuk ikut duduk di sofa tetapi ketiganya menolak dengan keras. Mereka merasa sangat lancang kalau duduk di kursi yang sama dengan tuan mereka.


"Saya harap Anda tidak keberatan, tapi apa pun yang kita bicarakan, kita akan membicarakannya dengan empat orang lain di sini," Jose duduk di sofa set, di kursi tunggal yang berada di ujung meja kopi. "Anda tentu sudah tahu siapa mereka."


"Apa pun yang Anda inginkan, Mr. Jose," sahut Tuan Stuart tenang, ikut duduk di kursi di samping Rolan. "Ini rumah Argent, Anda yang membuat peraturan. Saya hanya tamu di sini."


Jose tersenyum tipis mendengar jawaban tersebut. Itu berarti Tuan Stuart benar-benar akan bekerja sama dengannya. George datang untuk membawakan minuman, kemudian setelah memastikan tidak ada lagi hal yang kurang yang akan dibutuhkan, ia segera pergi dengan menutup pintu.


Tuan Stuart menunggu hingga ia benar-benar mendengar bunyi klek tanda pintu tertutup rapat, barulah berani bicara. "Saya sebenarnya datang untuk membicarakan mengenai Tuan Phillips Raynor yang hilang serta Lord Dominic, tetapi saya yakin Anda sudah diberi tahu oleh Mr. Krip?"


Jose mengangguk. "Hanya garis besarnya saja. Anda membuka baronetage dan menemukan bahwa tidak ada yang bernama Sir William Bannet?"


"Tentu saja ada. Tapi kalau dia masih hidup, umurnya pasti sudah seratus delapan puluh lima tahun." Tuan Stuart berhenti. Ujung bibirnya tertarik dalam senyum simpul melihat orang-orang di ruangan tersebut tidak ada yang bereaksi. Bahkan kedua pekerja yang berdiri diam di belakang Jose pun tidak tampak kaget. "Anda sudah tahu soal ini, ya? Kalau begitu, apa pun yang ingin saya katakan setelah ini hanya kabar basi bagi telinga Anda."

__ADS_1


"Belum tentu," sahut Jose. "Dokter Rolan ingin menceritakan hal menarik pada kita. Saya ingin Anda juga mendengarnya dan memberi pendapat, Sir."


Semua mata menatap Rolan sekarang. Meski tidak tidur nyenyak selama dua hari dan mendapat stress berat karena mengurus banyak hal tanpa Marco, Rolan kelihatan bersemangat sekarang.


"Tuan Stuart, Anda tahu apa itu scholomance?"


Ekspresi wajah Tuan Stuart berubah. Pria itu menegakkan punggungnya, kini terlihat lebih serius. Senyum bahkan memudar dari bibir tipisnya. "Sekolah iblis," katanya hati-hati. "Ada mitos di Rumania tentang sekolah iblis. Anak-anak akan diambil dan dilatih oleh iblis sendiri di sana. Mereka tidak diizinkan melihat matahari selama sepuluh tahun dalam sekolah. Satu yang terpilih akan mendapat rahasia surga: entah itu alkimia, mengendalikan cuaca, atau semacamnya. Mereka disebut Solomonari. Sisa anak-anak yang lain akan mati. Aku mendengar bahwa ada satu orang yang berhasil keluar dari sana hidup-hidup dengan cara menipu sang iblis."


"Bagaimana caranya?" Jose tertarik.


Tuan Stuart tersenyum simpul. "Ini hanya dongeng, Mr. Jose, tapi kudengar iblis itu membuat permainan keji dengan meminta supaya anak-anak yang selamat dari kurikulum sekolah harus menunjuk siapa yang akan tetap tinggal dalam kegelapan di sekolah tersebut. Iblis membuat aturan permainan bahwa siapa pun yang tertinggal paling akhir di sekolah, dialah yang akan menjadi Solomaneri. Yang lain boleh hidup dan bebas. Sang iblis bermaksud membuat anak-anak itu saling bunuh. Namun satu anak mengatakan pada kawan-kawannya agar memilih dia saja yang ditinggalkan, untuk menghindari perkelahian. Ketika semua kawannya sudah bebas, iblis menagih janjinya. Namun anak itu membuka pintu sekolah lebar-lebar hingga sinar matahari menerpa tubuhnya, membuat bayangannya jatuh memanjang di belakang tubuhnya, kemudian berkata pada iblis tersebut bahwa sesuai peraturan, yang akan diambil oleh sang iblis adalah siapa pun yang tertinggal paling akhir: yaitu bayangannya. Anak itu selamat, tapi dia hidup tanpa memiliki bayangan."


Rolan mengangguk. "Sir William Bannet adalah solomonari itu."


Jose mengempaskan punggung ke sandaran kursi, matanya menatap langit-langit kamar. "Anda tahu saya datang ke pestanya kemarin malam, Sir?"


"Saya mendengarnya." Tuan Stuart juga tahu bahwa Jose menghajar wajah Sir William, tetapi ia tidak mengatakan itu.


"Saya dulu sering ke puri itu untuk bermain. Waktu itu umur saya sepuluh." Jose menghela napas. "Kemudian minggu ini, sudah dua kali saya ke sana lagi. Ada hal aneh yang mengusik saya, tapi saya tidak bisa menemukan apa sebabnya. Dan sekarang, setelah mendengar cerita Tuan tentang mitos tersebut, saya menemukan jawabannya. Cermin."


"Cermin?" Rolan belum mendengar apa-apa soal ini.

__ADS_1


"Di rumah itu tidak ada cermin satu pun." Jose mengangguk. "Para pelayan memperhatikan gelas-gelas tamu dengan cermat pada saat pesta. Tadinya kupikir mereka hanya dilatih untuk jadi cermat, tapi setelah kupikir lagi, mungkin saja Sir William melatih mereka untuk tujuan lain. Ia hanya berhati-hati pada gelas, menjaga agar tidak ada yang melihat bahwa ia tidak punya bayangan terpantul di sana."


"Itu bisa saja," Tuan Stuart menyahut hati-hati. "Namun itu baru asumsi, kan? Apa Anda melihat sendiri bahwa Sir William tidak memiliki bayangan?"


Jose menggeleng. Ia melepas kalung yang dikenakannya, kalung dengan ukiran Arabella. Ia membuka keping medalion tersebut, kemudian menunjukkan foto Sir William dan Arabella di sana.


Tuan Stuart menatap kalung itu dengan heran. Ia mencondongkan tubuh ke depan agar bisa melihat lebih jelas. "Ini Sir William Bannet," katanya. Ia mengangkat wajah, menatap Krip. "Bukankah dia yang berurusan dengan Lord Argent dulu? Tiga puluh tahun lalu?"


Krip mengangguk pelan. "Itu benar, Tuan."


"Dan di sampingnya adalah ... Marchioness Garnet waktu muda?" Tuan Stuart bertanya bingung.


"Bukan," sahut Jose. "Namanya Arabella, aku tidak tahu apakah dia bangsawan atau bukan. Tapi satu yang jelas, dia sudah mati. Mungkin sudah lama meninggal, kalau dilihat dari gaya gaunnya."


Tuan Stuart melirik foto itu. Ia tidak bisa membedakan gaun perempuan karena tidak terlalu mengikuti mode. Tapi Jose sendiri tahu karena ia sudah melihat hantu wanita itu dalam sosok utuh.


Rolan berdehem untuk menarik perhatian yang lain padanya. "Kita bisa pastikan soal bayangan Sir William dengan suatu cara. Aku ingin meneruskan soal scholomance tadi."


"Silakan, Paman," kata Jose. Ia hanya mendengar garis besarnya saja semalam karena pikirannya begitu penuh dan Rolan sangat mengantuk. Mereka tidak jadi bicara apa-apa setelah Edgar pergi.


Kini saatnya Rolan membeberkan apa yang ia ketahui.

__ADS_1


__ADS_2