
"Kami menemukan tanda dari Tuan Kecil!" seru Hans dari kejauhan. Para pekerja yang lain yang dipimpin oleh Harold dan Finnian segera berlari menghampirinya, begitu juga dengan Rolan.
Marco baru melangkah setapak ketika rasa nyeri menusuk pinggang, membuatnya mengernyit kesakitan.
Lady Chantall pura-pura mengamati isi tasnya, menahan kuat-kuat keinginan untuk mendekat. Ia sebenarnya ingin menghampiri Marco, memapahnya, atau menegurnya agar kembali duduk, tapi ia tahu itu tindakan bodoh. Harga diri pria itu kelewat tinggi sehingga rasa simpati sedikit saja yang diberikan untuknya pasti akan dianggap sebagai penghinaan.
Namun ketika dengan keras kepala Marco tetap mencoba melangkah, Lady Chantall bergegas mendekat. "Argent," bisiknya sopan sambil menarik kursi kayu di sampingnya. "Kurasa sebaiknya kau duduk sebelum jatuh dan mempermalukan dirimu sendiri."
Marco hanya meliriknya sekilas, kemudian berjalan santai memintasi aula seolah berada dalam kondisinya yang paling prima.
Lady Chantall menepuk keningnya sendiri dengan pelan dan melontarkan umpatan tanpa suara. Mau tak mau ia jadi menyesal karena barusan menyatakan perasaannya. Harusnya ia bisa memilih waktu dan tempat yang pas, bukan di tempat mengerikan yang penuh dengan darah dan mayat seperti ini. Bagaimana kalau itu malah membuat Marco menjauh darinya? Ia merasa takut memikirkan kemungkinan itu.
"Argent!" Lady Chantall mengejar. Kakinya yang telanjang menjejak genangan darah dan ia terpeleset jatuh ke arah tumpukan mayat.
Marco menoleh, mengamati bagaimana wanita itu segera bangkit dengan tenang, merapikan jubah wool yang sempat tersibak, lalu melanjutkan berjalan seperti tidak ada apa pun yang terjadi.
"Ke mana sepatumu?"
"Hilang. Ketinggalan di ruangan terkutuk tadi," gumam Lady Chantall, tidak mau mengingat ruangan tempat di mana korset tulang pausnya yang mahal dirusak. "Apa kau ingin soal Scholomance diterbitkan di surat kabar ketika kita kembali? Ungkap bahwa mereka yang bertanggung jawab atas hilangnya orang-orang di Bjork?"
"Boleh saja. Tutup bagian mistisnya, tekankan bahwa sekte sesat ini menggunakan manusia sebagai kurban dalam praktik mereka. Tidak perlu bilang soal keberhasilan mereka membuat golem."
Lady Chantall mengangguk-angguk, senang karena itu berarti mereka berdua masih akan terus bekerja bersama ke depannya. Mereka sudah sampai di pelataran aula, memandangi titik api dari obor para pekerja yang bergerak-gerak mencari tanda dari Jose. "Kenapa Robert berkhianat?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Dia tidak secara langsung berkhianat," Marco merasa perlu menjelaskan supaya Lady Chantall tidak membuat gerakan yang tak perlu ke depannya. "Dia ingin melakukan penyusupan dan investigasi secara pribadi. Mungkin ada motif personal di sini. Mungkin juga Scholomance melakukan sesuatu padanya atau keluarganya."
"Tumben kau bersikap lunak padanya."
"Sejujurnya aku hampir memecahkan isi kepalanya." Marco mengangkat bahu dan memberi alasan, "dia masih berguna. Sosoknya sangat berpengaruh di Bjork. Kita masih bisa menggunakannya."
Kita. Pilihan kata itu membuat senyum merekah di bibir Lady Chantall. "Lalu bagaimana denganku?" tanyanya, mendadak merasa lebih berani. Ia menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga, memastikan penampilannya tetap kelihatan enak dipandang. "Bagaimana pendapatmu tentang aku?"
"Kupikir aku mendengarmu bilang kau tidak menuntut jawaban?" balas Marco tak acuh.
Itu benar. Lady Chantall menggigit bibir bawahnya. Ia tadinya tidak menginginkan jawaban. Ia hanya ingin mengeluarkan isi hatinya sekaligus menjawab kenapa ia tidak mungkin mengkhianati Marco. Namun makin lama ia merasa perasaan di dadanya bukannya menyurut atau jadi tenang, tapi justru malah tambah menguat dan membuncah. Ia ingin jawaban. Ia ingin mereka mendiskusikan perasaannya. Ia ingin kepastian. Kalau ia ditolak, mereka akan kembali seperti biasa. Kalau Marco hanya belum memikirkan apa pun soal mereka, maka ia akan menggunakan setiap celah dan kesempatan untuk mendekatkan diri. "Aku tidak menuntut jawaban," sahutnya pelan-pelan, memutar otak. "Tapi bukan berarti aku tidak akan bertanya."
"Memangnya tujuan dari bertanya itu apa lagi selain menuntut jawaban?"
Marco mengerutkan kening. Ia menyilangkan lengan dalam pose sedekap, tetapi sebelah tangannya turun ke pinggang, mencengkeram luka yang masih nyeri di sana. Kakinya juga ngilu.
"Tidak," jawabnya, memusatkan konsentrasi untuk menata napas agar bisa mengontrol rasa sakitnya. "Tidak ada waktu untuk hal seminor itu."
Lady Chantall mengangguk-angguk pelan, dalam hati bersenandung senang. Tentu saja tidak ada waktu, pikirnya, sejak dulu dia selalu disibukkan masalah demi masalah setiap hari.
"Kupikir kau berkencan dengan Stuart," kata Marco, baru ingat bahwa keduanya selalu terlihat bersama di beberapa kesempatan.
"Ngawur! Mana ada!" Lady Chantall menyahut cepat dan kesal. Pipinya bersemu merah. "Aku suka pria yang—“
__ADS_1
Suara pekik dan jeritan tamu-tamu di aula menenggelamkan kalimat Lady Chantall. Api-api pada obor dalam ruangan bergerak liar, kemudian mengecil hingga hampir redup. Suhu ruangan anjlok hingga di bawah nol derajat.
Para pekerja yang masih berada dalam aula segera mundur, membentuk gerbang hidup di sekeliling Marco. Gerald berjaga paling depan dengan dua kapak di tangan, matanya menatap ke sekeliling dengan awas.
Kemudian sosok itu muncul dari arah bukaan aula yang menuju koridor panjang ke arah puri, sosok yang bergerak dalam kedut-kedut liar dan merangkak di lantai. Golem. Makhluk itu mengendus sebentar di udara, kemudian merangkak lurus melewati mayat-mayat yang ditumpuk ke sisi ruangan.
Gerald berseru selantang geledek, menyadarkan para pekerjanya yang membeku ketakutan, kemudian ia sendiri berlari maju sambil mengayunkan kapaknya. Namun golem tersebut meloncat ke dinding aula dan berlari dengan keempat tangan manusianya, menyerbu ke arah Marco.
Lady Chantall dengan sigap mengeluarkan air sucinya dari dalam tas dan mencipratkannya ke arah golem tersebut—yang kemudian melaung dengan pekik mirip binatang terluka.
"Vade retro satana—" Lady Chantall tidak sempat menyelesaikan doa, golem itu sudah berkeriyut marah dan menerjang ke arahnya.
Semua hal seperti berjalan lambat. Wajah golem itu peyot dan aneh, dengan sesuatu menyerupai serbuk-serbuk putih terbang dari sekujur tubuhnya saat melompat. Aroma busuknya menyerang kuat, menusuk hidung hingga terasa sakit, persis seperti mencium bau cabai. Lady Chantall masih menggenggam botol kacanya yang kosong, tertegun. Ia merapatkan rahang dan bersiap pada serangan yang akan datang.
Kemudian wajah itu makin peyok dan jatuh ke lantai di depannya dengan bunyi daging basah terbanting. Marco berdiri agak di depannya, sudah menggenggam kapak.
"Makhluk ini," kata Marco sambil kembali mengayunkan senjatanya, meremukkan kepala makhluk di lantai jadi dua bagian, "tidak bisa mati! Jadi bakar dia dan hancurkan sampai jadi cacahan kecil!" Ia mengangkat wajahnya ke atas, menatap para pekerjanya yang terpaku dalam rasa ngeri. "Kenapa diam? Binatang ini membuat kalian takut?"
Setelah mendengar ejekan itu, beberapa orang perlahan pulih. Gerald yang bergerak maju lebih dulu, menyeret makhluk itu ke halaman, dan mencacahnya dengan kapak. Makhluk itu memekik dalam banyak suara: wanita, anak-anak, bayi, lelaki, bahkan kadang merintih seperti anak anjing. Namun Gerald tetap mengayunkan kapaknya dengan wajah lempeng, tidak terpengaruh. Mengikuti contohnya, para pekerja berkumpul sambil menyeret senjata mereka.
"Golem itu mengincarmu," kata Lady Chantall kaku, masih berjuang menepis rasa ngerinya. Andai ia hanya sendirian dengan makhluk itu, ia yakin dirinya pasti sudah pingsan. Putih-putih yang dikiranya serbuk asing ternyata adalah belatung. Binatang pengurai itu berceceran di lantai, di tempat di mana Marco menjatuhkan inangnya. "Aku bersumpah, dia menerjang ke sini saat melihatmu! Kalau diingat lagi, golem itu juga datang padamu waktu kita pertama bertemu di sini. Apa yang kau lakukan sebenarnya?"
"Entahlah," sahut Marco dengan nada apatis. "Mungkin golem itu juga jatuh cinta padaku." Ia membuang kapaknya ke lantai. Benda itu ia rebut dari salah satu pekerja yang mematung di sampingnya tadi, tapi sekarang hanya menjadi beban. Pinggangnya makin sakit. Pandangannya mengabur.
__ADS_1
***