BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 216


__ADS_3

Rolan mengantar Inspektur Robert dan Tuan Stuart masuk ke dalam rumah sementara Marco masih tinggal di halaman untuk memberi instruksi pada Harold dan Finnian. Ia baru saja mau kembali ke dalam manor ketika melihat kereta berlambang Clearwater memasuki halaman rumahnya. Dua orang lelaki meloncat turun dari sana dan segera menghampirinya. Earl Clearwater sendiri yang datang disertai Lord Marsh. Keduanya hanya membawa sedikit pengawal.


"Marquis Argent," mereka menyapa sopan.


Marco menjabat tangan mereka erat, terlebih Clearwater. "Terima kasih atas bantuanmu selagi aku tidak di sini," katanya. "Aku akan mengingatnya."


"Bukan hal besar, m'lord," Clearwater menjawab seperti biasa, hanya sepatah-sepatah dan bernada dingin. "Jose temanku."


"Dan temanku juga," sahut Marsh cepat, tak mau kalah. "Aku senang melihat Anda sehat, my lord. Orang-orang berkicau ribut tentang Anda di luar sana, seolah dunia mau kiamat saja."


"Mau kiamat?" Marco terkekeh mendengarnya. Ia menggerakkan tangan, memberi tanda dengan sopan untuk berjalan. "Aku mendengar apa yang kalian lakukan dengan luminol. Apa itu ada hasilnya?"


Clearwater dan Marsh mengambil tempat di sisi kiri dan kanan Marco sementara lima orang pengawal Clearwater mengikuti di belakang.


"Ada hasilnya," Clearwater berkata pendek.


"Tapi kami belum melakukan apa pun karena menunggu aba dari Jose," imbuh Marsh. "Kami cuma menandai tempat-tempatnya. Jose benar, memang ada semacam pola, titik-titik darah yang kalau dihubungkan akan membentuk gugusan."


"Menunggu Jose, tapi dia tidak memberi kabar," kata Clearwater lagi. Marco menangkap nada cemas dalam suara muram itu. "Adie menyarankan menunggu."


"Karena kupikir pasti ada alasannya," sahut Marsh membela diri. "Dan aku benar, kan? Kudengar semalam ada keributan di dekat perbatasan Selatan. Orang-orang bilang Jose terlibat sesuatu. Apa dia mengamuk?"


"Aku bisa menjelaskannya pada kalian, tapi kurasa lebih menyenangkan kalau kalian mendengarnya sendiri dari Jose. Dia tidak apa-apa," Marco menoleh pada Clearwater ketika mengatakan itu. "Hanya sedikit kelelahan, jadi kuminta dia istirahat di kamar. Karena itu dia belum menghubungi kalian. Harusnya sekarang dia sudah bangun. Sudah lewat lama sejak jam sarapan."


Marco mengantar sendiri kedua lelaki itu ke ruang tamu. Para pengawal Clearwater berjaga di luar ambang pintu. Tirai-tirai jendela dibuka lebar, tapi vitrase dibiarkan menjuntai, menyaring sinar matahari. Pada salah satu sofa di bawah penerangan jendela, Nolan duduk memandangi buku-buku alfabet.


Marco menaikkan sebelah alis melihat konsentrasi itu. Nolan bahkan tidak menoleh ketika mereka datang. Ia baru mau menegur, tapi Marsh sudah duluan berseru ceria, "Ah, Nona Bintik! Kau masih di sini?"


Dan hal yang mengejutkan bagi Marco, Nolan mengangkat wajah dengan tatapan hambar. "Ah, Tuan Gorilla," katanya. Gadis itu mengenakan celana dan kemeja katun seperti pelayan pria. Begitu menyadari kehadiran mereka, Nolan segera merapikan bukunya. "Marco, aku ingin bicara," katanya, kelihatan resah.


Marco mengerutkan kening. "Hal penting?" tanyanya.


Gadis itu menyugar rambut ikalnya dengan jari, kelihatan ragu. "Tidak terlalu, sih ... cuma tanya sesuatu ..."


"Kalau begitu kau bisa mengatakannya nanti," Marco menukas, ingat tamunya yang menunggu di lantai dua. Apa pun yang ingin ditanyakan Nolan pasti hal yang privat karena gadis itu perlu mengulur-ulur. Saat ini jadwalnya sudah cukup padat. Ia menoleh pada Clearwater dan Marsh. "Karena kalian sudah saling mengenal, kuharap tidak ada yang keberatan aku meninggalkan kalian bertiga di sini. Jose akan segera turun sebentar lagi dan aku masih punya urusan lain."


Baik Clearwater maupun Marsh tidak ada yang keberatan, mereka mengantar kepergian pria itu dengan memberi salam hormat. Begitu suara langkah Marco tidak kedengaran lagi, Marsh segera mengembuskan napas besar-besar. "Aku masih selalu gugup tiap bertemu dengannya!"

__ADS_1


"Aku juga." Clearwater memilih tempat duduk.


"Kau tidak kelihatan gugup, kau santai." Marsh mengambil tempat di sisinya dan berpaling pada Nolan. "Dan kau memang memanggilnya dengan nama! Kok bisa?"


"Aku menyelamatkan nyawanya," sahut Nolan bangga. "Memangnya aku belum cerita?"


"Omong kosong. Kau mimpi!"


"Kau bisa tanya langsung padanya. Panggil lagi sana! Menurutmu kenapa lagi dia membiarkanku memanggil namanya? Itu karena kami teman!" Ia menunjukkan lengannya. "Nih, pedang yang dilempar ke arahnya kuhalangi, makanya dia selamat!"


Marsh masih kelihatan tak percaya. "Menyelamatkannya dari siapa? Seharusnya semua oranglah yang lari menyelamatkan diri darinya! Kau tahu siapa dia, kan? Dia Marco Argent! Ada banyak cerita tentangnya. Dia mengalahkan dan menginjak leher perampok sampai remuk, dia menghajar sepuluh orang sendirian dan mematahkan kaki mereka dengan tongkat kayu, dia melawan mafia narkotik dan mengusir mereka dari Bjork, membunuh beruang grizzly dengan tangan kosong—"


"Itu kan cuma cerita," sahut Nolan sambil mengibaskan tangan. "Mana ada orang membunuh beruang dengan tangan kosong."


"Jose bagaimana?" Clearwater menyela sebelum Marsh mendebat. Ia tahu kawannya itu mengidolakan Marco Argent. Adrian Marsh awalnya mendekati Jose karena nama Argent yang menempel padanya, meski sekarang pemuda itu berteman sungguhan tanpa motif lain.


"Dia menyucikan mayat. Sempat batuk darah." Nolan membenamkan diri di salah satu sofa tunggal dan menceritakan apa yang didengarnya dari orang-orang di rumah ini. Kakinya diayun-ayunkan dengan bosan. Matanya melirik Clearwater yang kelihatan makin resah seiring berakhirnya cerita. "Mau bertemu Jose? Dia tidak akan turun. Dia lagi di kamarnya, dengan Nona Garnet itu."


Marsh tergelak mendengar cara Nolan menyebut Maria. Itu kesopanan yang mengejek. "Makanya kau ngambek? Kau cemburu?"


"Kau cemburu," Marsh terbahak makin keras. Ia menggeser duduknya hingga mendekat pada sofa Nolan. "Kenapa kesal? Mereka belum resmi, kan? Kau masih punya kesempatan!"


"Adie," tegur Clearwater.


"Apa? Semua kan halal dalam cinta dan perang!" kawannya mengibas tak peduli. "Gadis ini tidak kalah cantik dari Garnet. Cerdas juga. Ganasnya juga tak kalah dari Garnet, lihat saja matanya! Poles-poles sedikit bisa lah. Jose juga bukan orang yang mementingkan status. Dia orang aneh seperti itu, jadi Nolan punya kesempatan yang sama. Nah, kalau kau mau maju, aku bisa membantumu mendapatkannya. Aku tahu semua yang disukai dan tidak disukai Jose. Kau mau coba?"


Nolan memukulkan buku baca-tulisnya dengan ringan ke kepala Mars, membuat lelaki itu tersentak kaget.


"Kau memukulku?" Marsh mengusap ubun-ubunnya dengan marah.


"Ya, dan akan kupukul lagi kalau kau bicara sembarangan!" Nolan tidak takut pada wajah berang itu. Ia sudah sering menghadapi orang-orang yang lebih kasar dan pemarah di Selatan.


"Aku cuma mau membantumu! Aku Adrian Marsh, pemilik pub-pub yang berserakan di Bjork dan banyak rumah bordil di Delton! Kau mau jadi cantik dan menggoda, aku tahu jalannya!"


"Baik hati sekali," tukas Nolan sinis. "Aku mungkin menerima tawaranmu kalau salah satu dari mereka bertepuk sebelah tangan." Matanya menatap tajam, garang. Tidak ada yang tahu apakah ia tersinggung karena ucapan Marsh atau karena kecewa dengan kenyataan yang ada. "Tapi mereka berdua saling menyukai. Mengganggu hubungan orang kan rendahan!"


"Nah," Clearwater berkata puas, tangannya menadah. Marsh menggerundel, mengeluarkan selembar uang kertas dan menepuknya keras ke telapak Clearwater.

__ADS_1


Bisa menebak bahwa dirinya dijadikan bahan taruhan, Nolan memukul kepala Marsh lebih keras dengan gulungan buku. Pria itu menoleh garang, tapi kemudian buru-buru minta maaf begitu melihat mata Nolan berembun. "Maaf, aku cuma lagi bosan kemarin. Dan Luke membicarakan Jose, lalu aku jadi punya ide konyol. Kau harusnya pukul dia juga, kan dia juga bertaruh!"


"Ya! Persetan!" bentak Nolan. "Karena dia menang, dia pasti bertaruh untukku, kan!"


Clearwater mengangguk dari sofanya, menyimpan uang tadi ke dalam saku jas.


"Tidak akan kulakukan lagi, janji." Marsh mengangkat dua jari ke sisi kepala.


"Kau juga bilang tidak akan memanggilku Nona Bintik!" Nolan mendengus. "Orang sepertimu tidak bisa dipegang omongannya!"


"Huh, kau memang berbintik! Masa harus kupanggil Nona Kinclong?"


George berjalan memasuki ruangan sebelum Nolan sempat memukul Marsh sekali lagi. Kepala pelayan itu memberi tahu bahwa Jose akan segera datang. Bersamanya datang juga pelayan lain yang membawa minuman untuk masing-masing orang di ruang tamu tersebut. Teh panas, cokelat panas, dan konyak.


"Aku menghormati keputusanmu," Clearwater berkata pada Nolan begitu para pelayan pergi. "Susah untuk mundur saat kau suka, aku tahu. Ada orang lain yang mengejar Jose  ... salah satunya namanya Flora. Dia dulu tidak menyerah. Tapi jadi mengganggu. Padahal Jose bahkan tidak menganggap mereka teman. Tidak seperti denganmu."


Marsh melongo. Ini pertama kalinya ia mendengar kawannya itu bicara panjang lebar pada orang selain lingkaran pertemanan mereka.


"Kau kelihatan begitu perhatian pada Jose," komentar Nolan. "Dia saudaramu?"


"Kalau saudaranya, namanya pasti juga Argent," cemooh Marsh.


"Bisa saja saudara dari pihak ibu, mulut besar!" desis Nolan.


"Ibunya namanya Orlov!"


"Yah, siapa tahu saudara jauh jauh jauhnya!"


"Dia temanku," Clearwater menyesap teh panasnya pelan-pelan, menghentikan pertengkaran kekanakan itu.


"Itu saja?" Nolan bertanya heran. Ia pikir ada alasan khusus. "Jose punya banyak teman, kan?"


"Aku sih tidak," jawab Clearwater ringan. Ia menatap Nolan dengan mata pucatnya yang jernih. "Kau sendiri? Kau rela menyelamatkan nyawa temanmu juga, kan? Lenganmu buktinya."


Nolan mengangguk kaku, mengerti.


***

__ADS_1


__ADS_2