BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 157


__ADS_3

Keluarga Chantall sudah bekerja sama dengan Argent sejak lama. Mereka sebenarnya membenamkan kuku dan taring di kota lain. Bjork bukan wilayah mereka. Namun hilangnya Marco membuat Lady Chantall jadi cukup sibuk berkeliaran di kota ini.


Beberapa bangsawan dan pimpinan dagang secara diam-diam membentuk kelompok baru, mendiskusikan siapa yang akan menguasai dagang di Bjork begitu Argent jatuh. Yang lain masih menunggu kabar resmi dari Keluarga Argent.


Dua hari. Belum genap dua hari Marco Argent menghilang tanpa jejak, tetapi dampaknya sudah demikian besar. Lady Chantall tahu bahwa perpecahan pasti akan terjadi cepat atau lambat.


Kepala-kepala yang berkumpul bersama dalam aliansi adalah kepala-kepala penuh perhitungan, dingin, dan realis. Begitu mencium gelagat bahwa Argent akan jatuh, mereka pasti akan langsung berpindah posisi.


Posisi terkuat saat ini adalah Baron Spencer yang bergabung dengan Baron Hastings. Ada kabar bahwa kedua baron tersebut didanai oleh seorang Duke. Tapi Duke yang mana, tidak ada yang tahu. Kabar yang santer terdengar hanya hubungan Baron Hastings dengan Duke Ashington.


"Jika memikirkan Duke Ashington," terang Lady Chantall. Wanita itu segera bergabung dengan mereka begitu kondisi berbalik. "Dan jika memikirkan soal Bjork Selatan yang selalu jadi titik perkara, mau tak mau aku jadi kepikiran puri tua di gunung. Bukankah Duke Ashington punya puri di sana? Puri kapel, begitulah yang kupikirkan. Jadi aku mendekati Xavier Hastings, kudengar dia selalu bersikap baik pada wanita cantik."


"Jadi kau merayunya?"


"Cemburu, Argent?"


"Sangat," sahut Marco sarkastis. Rolan sudah menjahit lukanya, baik yang di pinggang maupun di kening. Ia merasa lebih baik setelah menelan dua kerat roti, beberapa iris ham, serta menenggak segelas besar ale.


Kini mereka duduk melingkar di sekitar altar batu, menjadikan mesbah itu tempat meletakkan makanan dan minuman. Para tamu pesta dikumpulkan jadi satu di sisi ruangan, dijaga oleh banyak pekerja. Para rahib sudah dilucuti dari senjata mereka. Beberapa menangis dan mengaduh karena terluka, beberapa lagi meringkuk ketakutan. Jose mengurus orang-orang itu, menginterogasi mereka.


"Honey trap bukan keahlianku, tapi dia cukup mudah digoda. Tidak perlu melakukan apa-apa dan segala info sudah mengalir deras darinya. Dan yah, di sinilah aku. Tadinya aku tidak berharap akan menemukanmu Argent. Aku cuma ... beruntung, kurasa."


"Dan mengetahui soal golem itu juga keberuntungan?" Marco tidak percaya.


"Hastings sedikit ... aneh ketika kutemui," Lady Chantall menjawab sambil mengingat-ingat. "Dia kelihatan takut. Katanya, tempat ini membuat dia ketakutan. Jadi untuk berjaga-jaga, aku meminta air suci dari pastor Jesuit yang kukenal. Aku juga bawa jimat lain, kalau kau mau tahu."

__ADS_1


"Yang ingin kutahu adalah apakah golem tadi akan kembali lagi ke sini." Marco menoleh pada Rolan yang sejak tadi diam saja. "Kau sakit?"


"Aku memikirkan orang-orang yang hilang," bisik Rolan. Ia sempat memungut kapur yang terjatuh di lantai, kini menggunakan benda itu untuk menggambari altar. "Menurut ceritamu, Jack dan beberapa mayat lain digunakan untuk membuat golem. Dan itu memang sesuai dengan dugaanku soal transmutasi: mereka membuat golem, tapi anehnya menggunakan rapalan evokasi. Jadi mereka mengikat tubuh-tubuh mati itu dengan sesuatu yang jahat, menjadikannya bergerak dan hidup tetapi dimasuki oleh kesadaran lain yang jahat. Dan golem ini bergerak sesuai keinginan perapal."


"Tidak semua orang bisa membuat golem," kata Jose, yang kini berjalan mendekat sambil menggeret kerah pakaian seorang lelaki berjubah rahib. Ia melempar pria ketakutan itu ke depan altar, jatuh di depan kaki Marco. "Perkenalkan Paman, dia teman baruku. Namanya Torfin. Dia rahib senior di sini. Asalnya dari Aston. Torfin, katakan lagi semua hal yang barusan kau ceritakan padaku."


Torfin bertubuh kurus ceking dengan bau busuk menguar dari pakaiannya seolah ia tidak mandi seminggu dan buang air langsung di celananya. Umurnya pertengahan tiga puluh. Lelaki itu bersimbah darah dan air mata, tapi bukan darahnya. Jose barusan menendangnya ke tumpukan mayat sebagai ancaman supaya ia mau membuka mulut.


"Torfin?" Jose menjatuhkan kepala ke satu sisi ketika menatap rahib itu. Matanya menyorot dingin. Tidak ada belas kasih di sana. "Kau lebih suka bicara berdua saja denganku?"


Torfin menggeleng ngeri.


***


Xavier Hastings menjerit-jerit, melolong panjang dan merentetkan sumpah serapah. Ia mencengkeram lengannya erat-erat. Sendi bahu kanannya lepas, dan pelakunya berdiri tenang di depannya.


Jacob berdiri diam. Di tangan kirinya terjuntai ikat pinggang kulit; benda yang ia gunakan untuk menangkap dan membelit salah satu lengan Xavier dan menariknya lepas dari sendi. Dua orang pekerja berdiri di belakangnya, tetapi mereka diam saja dan hanya menonton sejak tadi.


"Tamu tidak akan masuk ke dalam kamar kerja pemilik rumah dan mengacak-acak isi laci mejanya."


"Aku tidak mengacak-acak apa pun! Sialan, kau! Harusnya aku tahu Argent akan ingkar janji!"


Jacob mengibaskan tangan, menyabetkan ujung ikat pinggangnya yang berlogam pada mulut Xavier. Pria itu memekik sakit dan terjengkang jatuh ke lantai dengan mulut berdarah.


"Dengar, Hastings," kata Jacob lembut sembari melangkah maju. Bayangannya jatuh ke dinding, menciptakan ilusi mengerikan di mata Xavier. "Jose mungkin bersikap lunak padamu karena dia pikir kau sudah membantunya. Tapi aku tidak selugu dia. Aku tahu kau merencanakan sesuatu. Kuharap kau tidak segera mengatakan apa tujuanmu, karena aku masih ingin bermain lebih lama lagi."

__ADS_1


"Kau tidak akan berani," Xavier tertawa pelan, tapi kedengaran tak yakin. Lengannya sakit, kepalanya sakit, tulang ekornya juga sakit. Jacob kelihatan seramping manekin di toko pakaian, tetapi pria itu bisa melemparnya dengan mudah seolah ia terbuat dari bantal kapas. Setelah berjuang melawan membabi-buta, yang didapat oleh Xavier malah lecet-lecet berdarah dan sakit di sekujur tubuh. "Aku akan berteriak sangat keras," ancamnya putus asa, "istri dan ibumu akan tahu apa yang kau lakukan padaku!"


Jacob tersenyum manis, ia melecutkan ikat pinggangnya ke udara. Suaranya bagai ledakan senapan, membuat Xavier terlonjak kaget di lantai. "Boleh saja. Silakan menjerit, Hastings. Kita lihat apa akan ada yang menolongmu dariku." Ia menoleh pada dua pekerja di belakangnya, yang segera maju menahan Xavier di lantai.


Jacob meletakkan ikat pinggangnya di meja, menggantinya dengan gunting besar. Senyum di wajahnya melebar ketika ia mendekati Xavier, berjongkok di depan lelaki itu. "Apa yang kau cari di kamar Jose?"


Xavier menatap gunting itu dengan ngeri. "Tidak ada! Aku cuma iseng! Kau tidak bisa melukaiku! Aku dalam lindungan adikmu!"


"Itu benar. Dia melindungi nyawamu, dan aku menghormati keputusannya," Jacob menukas. "Tenang saja. Yang penting kau masih hidup, kan? Asal cacat sedikit, dia pasti maklum. Nah, kulihat kukumu panjang-panjang. Kemarilah, biar kurapikan."


Xavier melotot ngeri. Lengannya yang lepas dari sendi ditarik oleh Jacob. Kemudian tanpa mengedip, lelaki itu memotong ujung jari telunjuk Xavier.


Awalnya tidak terasa apa-apa, tetapi kemudian rasa sakit meledak di kepala Xavier, membuatnya menjerit panjang.


"Ups," kata Jacob tenang. "Maaf, aku salah potong. Kau bergerak-gerak sih. Coba sekarang gantian kuku jari kelingkingmu, ya. Mungkin kalau aku merapikannya dengan manis, kau jadi ingat kenapa barusan mengacak-acak kamar Jose."


Kedua pekerja Argent diam saja ketika Jacob memotong satu jari lain Xavier. Mereka sudah tahu kegilaan keluarga yang mereka layani, dan sudah siap dengan segalanya. Untuk inilah mereka dilatih, untuk diam.


"Tidak mau bicara? Kau ingin aku memotong habis kukumu yang panjang-panjang ini?" Jacob memindahkan gunting ke ujung hidung Xavier. "Hidungmu kelihatannya sudah panjang. Mau kurapikan sekalian?"


"Aku disuruh!" Xavier menjerit begitu gunting mengiris sedikit ujung hidungnya. "Aku disuruh Beliau! Aku disuruh! Aku cuma disuruh!"


Jacob menjauhkan guntingnya, tapi hanya sesaat. "Omong kosong." Ia memerintah kedua pekerja Argent, "Baringkan dia dan buka celananya. Kita lihat apakah ada yang cukup panjang untuk kurapikan dengan gunting."


Xavier menjerit-jerit panik seperti bayi. Ingusnya beleleran. "Aku cuma disuruh! Sumpah! Aku disuruh Sir William!"

__ADS_1


***


__ADS_2