
Dave sudah dipindahkan dari ruang rawat ke lantai dua, sayap barat. Lelaki itu masih tampak lemah, tapi sudah jauh lebih sehat dari pertama datang ke manor ini. Begitu mendengar apa yang direncanakan kawan-kawannya, ia justru ingin ikut serta.
"Kau tidak akan menganggapku orang sakit dan meninggalkanku, kan?" Dave menatap dengan kesedihan yang sengaja didramatisasi. "Aku bisa pulang sekarang dan menyiapkan orang-orangku."
"Rumahmu jauhnya setengah hari," Marsh mengingatkan. "Lagi pula kau kering kurus begini. Lidya sudah tahu kau di sini?"
Dave menggeleng. "Aku agak merasa bersalah, tapi kalau dia diberi tahu, semua orang akan tahu juga. Dan Sir William mungkin—"
"Telepon dia," sela Jose. Kepalanya dikedikkan ke arah telepon kabel di kamar itu. "Saat semua orang berpikir kau tidak mungkin kembali, cuma dia yang terus mencarimu dan percaya bahwa kau masih selamat."
"Jose, saat kalian semua sedang bertaruh nyawa begini, mana mungkin aku asyik memikirkan diriku sendiri?"
"Ah, dia juga asyik dengan pacarnya, kok." Marsh menyikut Jose. "Apa yang kau lakukan berdua dengan Garnet di kamar, heh?"
"Apa?" balas Jose heran. "Dia membawakanku sarapan."
"Omong kosong!" Marsh tak percaya. "Kau tersenyum dan tertawa seperti orang gila sejak muncul tadi. Nolan bilang kau dan Garnet lama berada di kamar."
"Apa ini?" tanya Dave sambil bergerak bangkit dari tidurnya, bersandar pada kepala ranjang. "Akhirnya kalian ada kemajuan?"
Jose tidak bisa menahan senyum. Ia memang ingin memamerkan hubungannya dengan Maria. "Yah, memang ada."
Satu koor "Oooh!" panjang menggema dalam ruangan.
"Minimal harusnya dia menciumnya," Marsh mengeluarkan selembar uang dan menyeringai seperti rubah. "Tapi mengingat kita bicara soal Argent dan Garnet yang kaku, aku ragu."
Clearwater berdehem pelan, meletakkan satu lembar lagi di tangan Marsh. "Mungkin cuma peluk."
"Oh tidak, tidak, kita bicara soal Jose di sini," Dave menimpali. "Dia bisa merayu gadis lain semulus Don Juan tapi selalu jadi bisu di hadapan Garnet. Aku bertaruh tidak ada apa-apa yang terjadi. Mungkin dia memang cuma membawakan sarapan dan mereka bersentuhan tangan sedikit."
Saat ketiganya tertawa, Jose mencabut lembaran uang dari tangan Marsh dan menyimpannya di saku dada mantel. "Aku menciumnya. Kubilang aku mencintainya."
Ada satu "Oooh!" panjang lagi menggema, kali ini lebih keras. Jose dihujani sikut dan pukulan main-main serta ucapan selamat dan pertanyaan-pertanyaan.
"Baik, baik, ini kesampingkan dulu," kata Jose buru-buru, takut suara mereka kedengaran terlalu keras. Maria ada di sayap rumah yang lain dan tidak mungkin mendengar, tapi tetap saja ia jadi khawatir. Tidak ada yang mau mendengar, ketiga kawannya masih terus mengobrol dan meledeknya, jadi Jose mengatasi suara mereka dengan terus bicara, "Sir William sedang pergi ke Aston. Berita terakhir yang datang adalah dia sedang dalam perjalanan kembali ke Bjork. Kau benar, Dave, dia mungkin bersama iblis tapi tidak bisa bilokasi. Dia juga tidak bisa teleportasi, kurasa. Makanya dia menggunakan kereta seperti manusia biasa. Pokoknya hari ini kesempatan kita merusak gugusan itu karena paling cepat dia akan sampai Bjork nanti malam."
"Aku lihat banyak senjata di bawah." Marsh akhirnya berhenti tertawa. Sisi pinggangnya ia sandarkan di nakas, di samping kepala ranjang Dave. "Dari Greyland? Peti-petinya berlambang kuda Greyland."
Jose melihat sekeliling ruangan dengan waspada, lalu berbisik, "Paman akan menyergapnya ketika dia sampai. Kita hanya akan bersiap di Bjork, berjaga-jaga kalau dia butuh bantuan. Polisi patroli juga akan dikerahkan menjaga sipil. Nanti malam ... malam ini semuanya akan dimulai."
Clearwater menoleh. "Jadi sudah tidak masalah kalau kami mengedarkan pasukan, kan?" tanyanya. "Kau sebelumnya minta kami bergerak diam-diam karena polisi patroli."
Jose mengangguk. "Kita pergi sekarang." Ia menoleh pada Dave. "Hubungi Lidya," katanya. "Tidak baik menelantarkan tunanganmu."
"Jose, Jose." Dave menaikkan sebelah alis. "Kau mencium Garnet satu kali dan mendadak jadi ahli percintaan?"
__ADS_1
Ledekan itu hanya dibalas satu tinjuan ringan. "Aku serius," kata Jose. "Kita tidak tahu sampai kapan kita hidup. Jangan lewatkan kesempatan."
"Aku tidak suka caramu bicara," gumam Clearwater murung. "Kita akan hidup."
"Aku akan meneleponnya," Dave menenangkan. "Dan aku juga ingin ikut operasi kalian. Aku juga punya banyak orang di Bjork. Mereka pasti bisa membantu."
Jose mengangguk. "Panggil saja. Kau bisa bergabung setelah makan siang, kalau cukup kuat untuk itu."
Dave tergelak. "Aku cukup kuat untuk melemparmu keluar kalau terus memperlakukanku seperti orang jompo."
Marsh ikut tertawa. "Eh ada wiski," katanya begitu melihat ke arah meja kopi di sisi ruangan.
"Ah, Dokter Rolan yang meninggalkannya," kata Dave. "Aku disuruh minum secara berkala untuk menghangatkan tubuh."
"Asyik sekali, aku tidak keberatan sakit kalau itu obatnya." Marsh berjalan meraih botol itu, menggoyangkannya di dekat telinga, lalu mengangguk puas karena isinya masih banyak. Ia menoleh ke sana-kemari, akhirnya menemukan satu set perlengkapan minum teh di bupet. Dituangkannya isi botol di tangan ke dalam cangkir-cangkir porselen untuk minum teh, lalu ia membawakan baki itu pada teman-temannya. "Aku dengar cerita tentang prajurit di Timur Jauh," katanya, "mereka akan minum sake lalu memecahkan cawannya ke lantai sebelum perang." Ia meringis. "Aku tidak tahu arti gestur itu, tapi kedengarannya keren. Kita tidak akan memecahkan cangkir Argent, tapi ... yah, ada wiski di sini."
Clearwater mendengus menerima cangkir porselen itu. "Kau cuma ingin minum."
"Jose?" Marsh menyunggingkan senyum kecil begitu selesai membagi minuman.
Jose mengangguk. Meski ingin tertawa karena mereka akan minum wiski dari cangkir teh manis, ia bisa menahannya. Ada ketegangan merambat di kamar. Mereka semua tahu bahwa ini adalah saat genting, keempatnya bisa saja tidak selamat. Kawan-kawannya sebenarnya bisa pergi jauh dari Bjork untuk menyelamatkan diri. Mereka berhak melakukan itu dan ia tidak akan mencegahnya. Namun mereka tetap di sini, tidak ada yang pergi. Mereka semua menemaninya, dan Jose bersyukur karena itu.
Ia mengangkat cangkirnya dalam salute. "Untuk tetap hidup dan selamat."
"Untuk tetap hidup," yang lain mengikuti berbarengan.
***
George datang membawa kurir pesan dari Garnet. Marco mendengarkan permintaan yang dibawa pria itu dan mengangguk paham.
Renata selalu mengirim orang secara berkala ke manor Garnet untuk mengabari keadaan Maria, tapi itu jelas tidak cukup bagi Marquis Garnet. Pria itu mencemaskan keselamatan putrinya begitu mendengar apa yang sedang berurusan dengan Argent. Bukan manusia, bukan penjahat, kali ini mereka berurusan dengan mayat hidup.
Marco memahami kecemasan Garnet, tapi ia tidak akan menyerahkan Maria begitu saja. Sama sepertinya, gadis itu juga kunci penting dalam peristiwa ini, tidak boleh dibiarkan lepas dari pandangan.
"Aku akan datang ke sana bersama Maria Garnet," kata Marco. "Sampaikan itu pada tuanmu."
Pesuruh itu mengangguk, kemudian pamit undur diri. Marco berpaling pada George. "Suruh Maria Garnet bersiap. Cari Jose juga. Mereka akan pergi bersamaku ke manor Garnet siang ini."
Begitu George pergi, Rolan datang bersama dengan Nolan. Marco memisahkan diri dari Tuan Stuart yang masih memberi petunjuk pada Robert untuk menghampiri mereka.
"Kenapa?" tanyanya.
"Nolan ingin bertanya sesuatu," Rolan menjawab.
"Aku sudah bilang nanti, kan?" Marco menoleh pada Nolan.
__ADS_1
Gadis itu menyilangkan tangan di depan dada, kelihatan resah. "Sekarang sudah nanti."
"Urus Robert," pinta Marco pada Rolan, kemudian berjalan mencari tempat teduh untuk bicara. Nolan mengikutinya di belakang.
Mereka berhenti di bawah pergola taman yang dipenuhi tanaman mawar rambat. Belum ada bunga bermekaran di sana, hanya dedaunan hijau, memberi kanopi teduh.
"Kita pernah bertemu sebelumnya, kan?" tanya Nolan tanpa basa-basi begitu mereka berhenti. "Aku ingat kita pernah bertemu dulu. Aku tidak ingat kapan. Mungkin setahun atau dua tahun lalu. Aku bersama ayahku, kau pakai mantel yang ada tudungnya, jadi aku tidak langsung ingat. Tapi itu memang kau, aku ingat bentuk tubuhmu, juga bahumu."
Marco mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, mencerna dengan cepat apa yang mendadak dicerocoskan oleh Nolan. "Bagaimana?" tanyanya heran. "Kita pernah bertemu?"
"Ya! Aku dan ayahku. Apa kau tahu siapa dia? Namanya Titus, rambutnya pirang sepertiku. Matanya biru." Nolan bersemangat. "Dia meninggal sekitar dua tahun atau satu setengah tahun lalu, mungkin lebih? Pemakamannya baru Agustus lalu, tapi kami mengubur peti kosong. Ibu bilang dia kecelakaan. Tapi kau mungkin tahu? Kita pernah bertemu sebelumnya. Kalian pernah bertemu."
"Kenapa kau baru tanya sekarang?"
"Aku baru ingat sekarang!"
"Di mana kita bertemu?" Marco segera mengerti apa yang diinginkan gadis itu. "Sedang apa? Apa yang kita lakukan?"
"Di dekat pelabuhan, kita masuk ke kapal." Nolan mengingat kenangan itu dalam cabikan-cabikan ingatan samar. "Kau bilang padaku untuk hati-hati, kau minta aku pegang bahumu—seperti waktu di menara itu. Persis! Kau menuntunku turun ke dalam kapal, tangganya curam. Di dalam gelap dan ada banyak tali. Ayahku sudah masuk duluan. Kalian bicara tapi aku tidak dengar apa." Ia menatap gelisah. "Aku sedang sibuk melihat-lihat kapal."
Marco berpikir agak lama, lalu menggeleng. "Aku tidak ingat, maafkan aku."
"Kau kan Marco!" protes Nolan. "Daya ingatmu bagus. Mana mungkin kau lupa?"
"Yah, ingatanku terbatas. Aku memilih mana yang ingin kuingat dan mana yang tidak," sahut Marco heran seolah yang dikatakannya adalah hal yang seharusnya diketahui semua orang. "Ada ratusan Titus yang kutemui seumur hidupku, aku tidak tahu mana yang—"
"Ya?" Nolan mendesak antusias, merasa bahwa Marco pasti ingat.
Marco memang ingat sekarang. Titus. Pria yang membawa anak perempuan manis dan santun ketika bertemu dengannya. "Rambutmu panjang waktu bersama ayahmu?" tanyanya.
Nolan mengangguk-angguk kencang. "Lebih panjang dari bahu. Aku pakai pita merah."
"Kau lebih sopan waktu itu, aku baru ingat sekarang."
Nolan tertawa. "Ayah minta aku bersikap sangat-sangat sopan karena katanya kami akan bertemu orang Utara yang rumit."
"Rumit." Marco mendengus. "Dia memang selalu menyebutku begitu."
"Jadi kau tahu? Kau kenal?" Saking bersemangatnya, Nolan menyentuh lengan Marco dan mengguncang-guncangnya tak sabar. "Ceritakan padaku, apa yang kau tahu tentangnya? Orang seperti apa dia?"
Marco menatap Nolan saksama, menatap mata biru pucat yang sama seperti iris pria yang dikenalnya. "Namanya Titus," katanya. "Dia salah seorang informan yang sesekali datang padaku, tapi bukan milikku. Dia bekerja untuk Lady Chantall." Ia menoleh, menatap ke arah pintu rumah yang terbuka. Lady Chantall melangkah keluar dari sana dan menghampiri mereka. Senyum tertoreh manis di wajahnya, tapi Marco tahu wanita itu sedang jengkel. "Panjang umur. Baru dibicarakan orangnya sudah datang. Nah, sana tanya dia. Dia lebih tahu daripada aku."
Nolan melepas lengan Marco dengan cepat begitu melihat wanita itu menatap seperti ingin membakarnya dengan sorot mata.
Ih, menyeramkan, pikirnya.
__ADS_1
***