
Jose berubah lagi, pikir Olivia saat bertemu dengan adik iparnya itu di manor Argent. Ia dan Jose sepantaran, hanya berbeda beberapa bulan saja. Namun rasanya seperti berhadapan dengan orang yang beberapa tahun lebih tua darinya. Olivia tahu ini bukan soal bentuk fisik atau wajah, tapi auranya. Jose masih semuda dan seceria terakhir mereka bertemu. Hanya saja matanya kadang menyorot dingin, membuatnya tampak seperti patung es. Itu mata yang ditempa banyak pengalaman buruk.
"Juan dan Jeffrey juga dipanggil," kata Jose saat beradu kepalan tangan dengan Jacob. "Mereka di dalam, di ruang santai."
"Tidak menyambutku?" Jacob mengerutkan kening. "Ayah dan Ibu mana? Paman-paman?"
"Juan dan Jeff mungkin sedang istirahat. Mereka baru sampai siang ini. Yang lain sedang pergi. Kami kira kau akan datang besok." Jose menoleh pada Olivia. "Jeanne di lantai dua, kalau kau mau menemuinya. Sebenarnya, dia sudah menunggumu sejak kemarin."
"Alice dan Cecile?" Olivia menyebut nama istri Juan dan Jeffrey. "Mereka juga diajak, kan?"
"Mereka sedang belanja dengan anak-anak. Kamarmu juga sudah disiapkan, Liv." Jose memanggil pelayan untuk mengantar Olivia.
Olivia mengangguk, mengecup bibir Jacob sekilas ketika berpamitan, lalu melangkah melewati foyer ke arah tangga yang menuju lantai dua. Jacob dan Jose masih membicarakan hal yang lebih serius, tapi Olivia tidak mendengarkan. Suaminya akan memberi tahu jika diperlukan. Sekarang ia hanya ingin menemui Jeanne. Ada mitos di Delton bahwa menjenguk orang yang sedang hamil atau akan melahirkan bisa menularkan berkat. Olivia berharap mitos itu benar.
Pelayan mengantarnya ke salah satu kamar dengan pintu raksasa di sayap timur. Olivia tadinya mengira akan melihat Jeanne berbaring di tempat tidur, tetapi ternyata wanita itu sedang mengepel lantai. Olivia mengucek mata. Ia tidak salah lihat. Wanita itu memang sedang mengepel lantai dengan kain pel—bukan tongkat pel. "Bibi Jane?" panggilnya heran. Keningnya berkerut. "Sedang apa?"
Jeanne mengangkat wajah dari lantai. "Oh, Livie! Kau sudah datang! Cepat sekali!"
"Apa yang Bibi lakukan?" Olivia cepat-cepat membantu wanita itu bangun. Pelayan yang mengantarnya barusan dengan tenang mencarikan handuk dan baskom air panas untuk menyeka tangan Jeanne.
"Anjuran dokter, mencegah bayinya lahir sungsang," Jeanne menjelaskan. Senyumnya sedikit cemas. "Sekarang minggu ketiga puluh, tapi posisi kepalanya belum di bawah. Katanya aku tidak perlu panik, ini masih normal."
Olivia hanya mengangguk. Ia membimbing Jeanne ke ruang duduk sementara pelayan membuatkan mereka teh panas. "Ke mana semua orang? Kami cuma disambut Jose di bawah. Itu saja karena kebetulan dia barusan pulang mengantar Garnet."
"Edgar dan Renata di Gedung Kesenian, mereka pikir kalian akan datang besok." Jeanne mengubah posisi duduknya beberapa kali sebelum bersandar di sofa. Rambut cokelat ikalnya hanya diikat satu dengan longgar dan disampirkan di sisi bahu. Meski kelihatan serba tak nyaman, tapi mata hijau itu berkilat-kilat ceria dan wajahnya cerah. "Kalau Marco, dia ada urusan di luar."
"Apa ada yang tidak beres? Jake curiga Ibu memanggil kami karena ada masalah."
Jeanne menelengkan kepalanya dengan heran. "Masalah? Tidak ada. Juan dan Jeffrey juga dipanggil. Kurasa Renata cuma ingin semua anaknya berkumpul mengingat bulan April besok Jose akan menikah. Sekalian merayakan Paskah bersama-sama."
"April kan masih sebulan lagi." Olivia menyipitkan mata. "Keith bilang tensi di Bjork sedang tinggi?"
"Tidak juga." Jeanne menyesap teh yang dihidangkan. Ia mengangkat bahu. "Kalau ada masalah, kurasa cuma Guy Eastwood."
Olivia tahu nama itu. "Kenapa lagi dia?"
"Karena dia hampir mengacaukan segalanya waktu Jose mau melamar Maria—dan juga karena dia memang kampungan, Marco dan Edgar mencoretnya dari daftar undangan Argent. Dia tidak mendapat undangan saat pernikahanku, juga diabaikan penuh oleh Edgar di pesta maupun di pertemuan-pertemuan dagang. Marco sendiri sejak dulu memang sudah menganggapnya tidak ada."
Olivia tertawa. "Lalu? Dia dendam?"
__ADS_1
"Ya, dia ribut sekali menebar gosip dan fitnah." Jeanne mengesah pelan dan memijat pinggangnya. "Kelihatannya tidak berbahaya, jadi kami hanya mengawasi. Marco meminta aku tidak ke mana-mana gara-gara orang itu. Dia takut aku akan dicelakai. Aku yakin sekarang dia sedang bicara dengan Inspektur Chester soal Eastwood."
Meski mengatakannya sambil menggerutu, Olivia bisa mendengar kegembiraan mewarnai suara wanita itu. Jeanne percaya penuh pada apa pun yang dilakukan Marco.
"Kau kelihatan senang sekali," komentar Olivia, ikut tertular senyumnya.
"Marco membebaskanku melakukan banyak hal, jarang-jarang dia mencoba mengaturku," Jeanne terkekeh. Pipinya sedikit merona ketika meneruskan, "Tapi entah kenapa aku malah lebih suka kalau dia sedikit mengekang seperti sekarang. Mmm, sudahlah. Kalau bicara soal Marco, tidak akan ada habisnya. Aku bisa mencerocos berjam-jam membanggakannya dan kau akan bosan. Bagaimana denganmu, Liv? Kalian semua baik-baik saja di Delton?"
"Baik. Jake sepertinya sedikit direpotkan karena ada orang yang memanas-manasi karyawannya untuk demo bulan Mei besok."
"Ah ... May Day." Jeanne mengangguk. "Terinspirasi dari gerakan-gerakan di luar sana, kurasa. Terutama berita-berita dari Estados Unidos."
Olivia mengangguk. "Kudengar, kubu pendukung Sir William mengajukan aturan pelarangan kendaraan berkuda?"
"Sasarannya Greyland. Semua orang tahu pasukan berkudanya besar." Jeanne mendecak. "Tidak akan disetujui. Kuda, keledai, unta, semuanya masih jadi kendaraan utama Albion karena itu yang kita miliki dan sesuai dengan akses jalan seperti ini. Otomobil kan tidak murah perawatan dan juga bahan bakarnya. Asapnya juga mengerikan."
"Ah, kebiasaan. Kita selalu saja bicara hal-hal serius yang muram," Olivia membelokkan topik begitu melihat kerut di kening Jeanne. Ia menyatukan kedua tangannya dalam satu tepuk ringan. "Baguslah kalau tidak ada apa-apa terjadi di Bjork. Aku lega." Ia tersenyum tulus. "Bayimu sehat, kan? Jadinya perempuan atau laki-laki?"
"Sehat, dia aktif sekali. Laki-laki atau perempuan, yang mana pun tidak masalah ..." Jeanne mengelus perutnya dengan lembut. Matanya berkilat seperti kobaran api saat menambahkan, "Tapi aku ingin dia mirip ayahnya. Kuharap sangat-sangat mirip. Selain karena aku akan senang melihat versi mini Marco, setidaknya anak ini bisa membungkam mulut-mulut tak sopan di luar sana."
Olivia tergelak pelan dan mengibaskan tangan. "Maksud Bibi, rumor itu? Mereka memang sengaja mengatakannya untuk menyakiti kalian. Jangan dipikirkan."
"Ibu memang orang yang keras, tapi dia tidak mungkin menyakiti keluarganya," Olivia menenangkan.
"Oh, soal itu aku tahu." Jeanne tersenyum manis. "Dia sebenarnya sangat baik. Hanya kadang-kadang saja sikapnya menyebalkan. Rasanya seperti punya ibu mertua."
Olivia tertawa lagi.
***
"Guy Eastwood?" Jacob menerima segelas konyak yang disodorkan Jose. Keningnya berkerut. "Orang yang berteriak seperti orang gila waktu kau melamar Garnet?"
"Yaaa, kau tidak perlu mengingatkanku," Jose menyahut kering, bisa merasakan tatapan tertarik dua kakaknya yang lain.
"Dia mengacaukan lamaranmu?" Mata Juan terangkat. Ia menutup bukunya dan mendekat.
"Ada hal seseru itu?" Jeffrey bangkit dari tidurnya di sofa. "Sialan. Andai saja waktu itu aku bisa pulang! Sayang sekali kami cuma bisa datang waktu pernikahan Paman."
Juan dan Jeffrey menginjak usia dua puluh enam pada Oktober tahun ini. Keduanya lahir di hari yang sama, hanya beda lima menit saja. Meski kembar, tetapi wajah mereka tidak mirip satu sama lain karena berasal dari dua telur yang berbeda. Juan berambut hitam legam khas Argent sementara Jeffrey sedikit kecoklatan seperti Renata. Keduanya datang dengan istri dan anak masing-masing, tapi sekarang hanya ada empat bersaudara itu di ruang santai, mendiskusikan apa tujuan mereka dipanggil pulang.
__ADS_1
"Baron Eastwood sepertinya hanya pion. Ada yang memprovokasinya dari belakang," Jose melanjutkan ceritanya di awal. "Clearwater dan Greyland sepakat bahwa pelakunya adalah pihak yang sama dengan yang menyerangku di Redstone."
"Kau diserang?" Juan mengerutkan kening. "Oleh rumor atau secara fisik?"
"Keduanya." Jose beranjak ke meja kopi di ruang duduk untuk menuang teh panas bagi dirinya sendiri. "Mobilku disiram cat merah waktu kutinggalkan sebentar di depan toko, di Redstone. Berkali-kali jalan pulangku juga dihalangi pohon tumbang. Teror menggelikan. Masalahnya, aku jadi selalu cemas setiap kali Maria datang. Blackwood sudah melacak dan menemukan pelakunya, tapi mereka hanya orang-orang desa biasa yang diprovokasi. Dalangnya sendiri masih belum ketemu."
"Menurutmu siapa?" tanya Juan.
"Aku tidak punya bukti, tapi kurasa teman-teman Sir William." Jose menyeruput tehnya. "Mereka benar-benar memusuhiku. Mereka pikir aku dan Sir William berebut Maria, dan karena alasan sepele itu aku mengusirnya dari Abion."
"Secara teknis itu benar," Jacob tertawa. "Mereka kan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kau menonjok wajahnya waktu di pesta. Dasar gegabah."
"Hey, aku belum tahu ada cerita itu!" Jeffrey melompati sofa dan menghampiri saudara-saudaranya di tengah ruangan. "Aku cuma dengar soal Sir William adalah Solomonari dan membawa iblis."
"Jose menonjok hidung Sir William karena cemburu saat melihat pria itu berdansa dengan Garnet," Jacob menerangkan.
"Bukan seperti itu, sialan!" Jose meninju ringan lengan kakaknya sambil tertawa. "Yah, tapi di mata orang lain memang kelihatan begitu. Mereka kira semua hal soal iblis ini juga hanya karangan belaka mengingat Jeanne kemudian menikah dengan Paman Marco. Mereka juga mengira aku memaksa Paman Marco meminta ratu menganugerahiku gelar. Dan itu semua agar aku bisa segera menikahi Maria."
"Tidak sepenuhnya salah. Kau menerima gelar itu karena ingin selevel dengan Garnet, kan?" sahut Jacob.
Jose tersenyum miring, menyandarkan pinggangnya di bupet. "Salah satu alasannya memang itu."
Jeffrey tertawa. Ia melompat ke sisi Jose dan merangkulnya, mengacak-acak rambut adiknya itu dengan kasar. "Kau memang bengal."
"Tapi yang seperti ini justru lebih bahaya," kata Juan serius. "Rumor sepotong-sepotong yang secara teknis benar tapi secara konteks salah justru yang paling bahaya."
"Dan sepertinya orang-orang yang mendukung Spencer serta Hastings mulai mendekati kubu pendukung Sir William." Jose melepaskan rangkulan Jeffrey dan menyisir rambut dengan jari. "Mereka merasa punya musuh yang sama. Tapi sejauh ini mereka tidak melakukan apa pun."
"Sekarang masih provokasi kecil dengan orang-orang yang sedikit dan teror sepele, tapi kalau dibiarkan bisa jadi gerakan besar," komentar Jacob, mengenali pola itu. "Bagaimana kalau kita seret Eastwood dan tanyai dia soal siapa dalangnya? Dia yang jelas terlibat, kan? Sumpal mulutnya dengan sol sepatu kalau tidak mau bicara."
"Barbar," Jeffrey tertawa. "Tapi aku suka. Ambil saja dia kalau memang dia kuncinya. Beri pelajaran seperti apa hasilnya kalau berurusan dengan Argent."
"Paman Marco yang mengurus Eastwood," Jose menukas cepat melihat wajah-wajah buas kakaknya. "Kalau kalian seenaknya dan mengacaukan rencana Paman, dia akan marah."
"Kalau begitu tinggal bilang saja," sahut Jeffrey heran. "Kita bisa diskusikan ini dengan Paman saat dia kembali."
"Kalian tidak akan diizinkan menyentuhnya," ucap Jacob, mengerti maksud Jose barusan. Ia ingat gosip yang tersebar di Delton. Rumor di Bjork pasti lebih kejam dari yang didengarnya dan kabar semacam itu tak mungkin belum sampai ke telinga Jeanne. "Orang itu membuat Jeanne sedih, jadi Paman pasti ingin mengurusnya sendiri." Jacob tertawa ketika melihat adiknya yang kembar kelihatan kecewa. "Tapi aku setuju soal mendiskusikan ini dengan Paman. Dia bisa urus Eastwood, sementara kita sisanya."
Semuanya mengangguk setuju.
__ADS_1
***