
Ada dua pria yang ditangkap. Umur mereka sekitar tiga puluhan. Wajahnya pasaran, dengan muka kotak dan kumis tipis melintang di bawah hidung. Yang satu bertompel besar di bagian pipi sementara yang lain punya tahi lalat di dagu.
Kedua tahanan itu bangkit begitu pintu sel di ruang bawah tanah dibuka dan Marco melangkah masuk diikuti Rolan. Begitu melihat Rolan, kedua orang itu berjengit dan mundur.
Marco tidak melihat ada jejak darah atau luka pada kedua tahanannya, tetapi ia tahu Rolan punya seribu cara menyakiti manusia tanpa meninggalkan luka yang tampak. Wajah mereka hanya samar-samar terlihat dalam ruangan yang temaram. Tidak ada penerangan sedikit pun di sel bawah tanah. Tempat itu hanya ruangan kosong selebar tiga kali tiga meter dengan lantai tanah dan dinding batu vulkanik. Satu-satunya penerangan yang ada hanyalah lampu minyak yang dibawa oleh Marco.
"Siapa yang mengirim kalian?" Marco meletakkan lampunya di lantai, tidak mau ambil risiko pelita tersebut ditendang ke arahnya saat masih ia bawa.
"Kami nggak pernah lihat," jawab si tompel. Wajahnya ketakutan. "Kami berhubungan lewat orang ketiga, dan namanya juga kami nggak tahu."
"Apa perintah yang diberikan pada kalian?"
Kedua orang yang ketakutan itu merapat dan bertukar pandangan, seperti saling memastikan seberapa jauh mereka sebaiknya bicara.
Marco menoleh pada Rolan, yang segera melangkah maju. Kedua pria itu terkesiap kaget dan meloncat mundur jauh-jauh. Punggung mereka menabrak dinding.
"Cuma disuruh ke rumah ini!" seru si tahi lalat. Napasnya tersengal gemetaran. "Disuruh ramai-ramai datang dan bikin ribut! Bayarannya satu solidus!"
Solidus adalah sebutan untuk koin emas. Awalnya para pedagang dari Byzantium yang menggunakan istilah itu, kemudian perlahan semua masyarakat di Albion Raya juga ikut menyebut koin emas sebagai solidus.
"Koinnya bergambar siapa?" tanya Rolan. Ia tidak jadi mendekat, kini menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung agar tidak terlihat terlalu mengancam.
"Gambar? Tidak ada ... tidak ada gambar. Cuma tulisan."
Marco merogoh sakunya, mengeluarkan dua keping emas dari sana, kemudian melemparkan benda itu ke tanah. "Koin yang mana yang kalian terima?"
__ADS_1
Kedua orang itu buru-buru memungut koin yang dilempar dan membandingkannya, kemudian menggeleng. "Bukan keduanya."
"Tulisannja tidak ... bisha saja batja," si tahi lalat akhirnya bicara, tapi suaranya tidak jelas dan kadang ia berhenti setelah dua atau tiga patah kata. "Tapi itu ... emas asli, hurufnya ... Albion."
Marco mengeluarkan pena dan kertas dari sakunya, lalu menggambar di sana. Ia menyerahkan kertas itu pada Rolan, yang mengulurkannya pada si tahi lalat.
Kali ini kedua tahanan mengangguk setuju. Koin yang seperti itulah yang mereka terima.
Marco mengangguk puas. "Duke Ashington," katanya pada Rolan. Ia menjentikkan jari dua kali dan Gerald yang sejak tadi berjaga di luar segera masuk ke dalam bilik sambil membawa kilij, pedang lengkung bermata satu, yang masih disarungkan.
Baik si tompel maupun si tahi lalat membuka kedua matanya lebar-lebar, tetapi tidak ada yang memohon ampun atau memberi reaksi lain. Mereka tahu apa yang akan menimpa mereka dan tidak ada pilihan untuk kabur. Keduanya memang memilih membeberkan semua hal hanya untuk mempersingkat penderitaan. Tidak ada yang berharap bisa lolos dengan utuh.
Marco membuka telapak tangannya ke samping, menerima gagang pedang yang diusungkan oleh Gerald. Rolan mundur hingga berdiri di belakang Marco, yang sudah menarik kilij dan mengayunkannya dalam satu tebasan kuat.
Si tahi lalat memejamkan mata. Darah panas menciprati pipinya. Tubuh si tompel jatuh tanpa kepala. Ia tidak mau mencari di mana kepala kawannya menggelinding. Dadanya kembang kempis mencari udara bersih dari sela kentalnya aroma darah dan daging segar. Bola matanya berair. Ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu; permohonan, umpatan, apa pun itu. Namun ia tidak diizinkan. Pedang sudah terayun kembali, mengiris lehernya dan memisahkan kepalanya dan badan. Rasa sakit itu memuncak sampai ke ubun-ubun, kemudian sensasi ledakan yang merambat tadi jadi buyar begitu saja. Segala hal berputar pelan dalam pandangannya dan menghilang dalam gelap.
"Baik Tuan," jawab Gerald sigap.
Rolan memandangi dua bongkahan daging tak bernyawa yang masih terus menyemburkan darah di lantai. Ia sama sekali tidak merasa kasihan. Seandainya semua tidak berjalan seperti rencana Jose, seandainya tidak ada Jacob, orang-orang ini pasti sudah melukai Renata. Membayangkan itu saja sudah membuat darahnya mendidih.
Marco mengembalikan kilij-nya pada Gerald dan berbalik pergi. Rolan mengikuti sambil bersenandung.
"Kau bilang Duke Ashington dalangnya?" tanya Rolan penasaran. "Dari mana kau bisa memastikan?"
"Hanya ada dua jenis solidus di Albion. Yang bergambar cetak Ratu dan cetakan aliansi dagang terdaftar," Marco menerangkan dengan bosan. "Yang mereka terima adalah solidus Albion kuno. Mereka menggunakan emas Duke untuk menyusahkan kalian melacak identitas dalangnya. Tentunya mereka pikir aku masih membusuk di puri itu dan Jose tak tahu menahu soal Duke sehingga tak ada yang bisa melacak biang keroknya."
__ADS_1
Rolan terkekeh. "Mereka tidak tahu bahwa kita sudah tahu semuanya."
"Hanya masalah waktu sampai mereka tahu aku sudah kembali dan bahwa rencana mereka hancur."
Mereka menaiki tangga ke lantai satu dan bertemu dengan George yang memang sudah menunggu untuk memberi tahu bahwa Greyland memberi konfirmasi bahwa dia siap menerima telepon pada jam berapa pun pagi ini dan akan menghubungi Marco di jam biasa kalau tidak dihubungi duluan.
"Apa yang mau kau lakukan?" Rolan masih mengikuti Marco menuju kamar kerja pria itu.
"Melepaskan serigala," sahut pria itu tenang. "Aku tadinya ingin menunggu sampai semua pihak muncul agar tidak ada seekor pun tikus yang bisa lolos, tapi kita mungkin malah akan kehabisan waktu kalau lebih lama lagi menunggu." Ia berhenti sebentar sebelum meralat pelan, "Aku mungkin bisa kehabisan waktu."
Rolan pura-pura tidak mendengar kalimat yang terakhir.
***
Jose tidur tanpa bermimpi dan bangun dengan perasaan tidak enak. Lidahnya terasa asam dan tubuhnya penat. Ia pikir itu hanya efek lelah. Beberapa hari ini pikirannya selalu tegang dan ia sibuk berlari ke sana kemari dan malah hampir tenggelam. Wajar saja kalau ia sakit.
Mungkin sebaiknya aku minta obat pada Paman, pikirnya sambil berguling bangun. Jarinya berhenti ketika menyentuh rasa basah di kasur. Ia melirik, tapi matanya masih sedikit kabur. Jose menggeleng pelan dan mengerjap, berusaha memfokuskan pandangan. Ia mengangkat jarinya mendekat, keheranan melihat warna merah di sana. Jariku luka?
Namun tidak ada goresan apa pun terlihat. Ia menunduk, merasakan sesuatu menetes dari wajahnya. Kemeja putihnya dibasahi warna merah pekat, seolah seseorang baru saja menusuk lambungnya dengan pedang. Ia bangkit dengan cepat, hampir jatuh karena hilang keseimbangan, kemudian menghampiri cermin.
Seorang pemuda berambut hitam acak-acakan menatapnya nanar dengan bagian depan kemeja dibasahi noda merah pekat. Wajah pemuda itu pucat. Darah segar meleleh dari hidungnya.
Ada tali lonceng di sisi bingkai cermin yang turun dari langit-langit. Tali itu dipasang di kamar-kamar utama untuk memudahkan para tuan rumah memanggil pelayan tanpa perlu menelepon. Jika talinya ditarik, lonceng di ruang kepala pelayan akan berbunyi sesuai dengan letak ruangnya, lalu George atau pelayan lain yang bersiaga akan segera datang.
Jose menyambar tali tersebut begitu tersadar bahwa pemuda pucat yang sedang menatapnya sekarang adalah dirinya sendiri dalam cermin.
__ADS_1
Ia menarik tali lonceng sekuat tenaga.
***