
Maria tahu ada yang tidak beres ketika ia melihat kereta kuda Jose datang ke cottage Garnet di Bjork sore ini. Jose harusnya masih di Aston sampai nanti malam, lalu kembali ke Redstone pagi harinya.
"Tuan Jose bersama Count Clearwater," lapor Susan sambil membantu nonanya membenahi rambut. "Saya juga lihat Earl Blackwood di luar."
"Wah, kuharap tidak ada hal buruk!" Maria selesai membenahi rambut cokelatnya dan memasang anting. Ia menyambar scraf biru yang senada dengan gaunnya, lalu cepat-cepat berjalan turun melintasi foyer. Ia baru mau membuka pintu, tetapi Jose sudah duluan menghambur masuk.
Sebelum Maria sempat bertanya apa yang terjadi, Jose sudah berjalan mendekat dan mendekapnya. Maria tergeragap kaget, tapi balas memeluk secara otomatis. Jantungnya berdegup kencang karena kaget sekaligus senang. Namun perasaan itu cepat-cepat ia tepis. Kalau Jose cuma memeluk karena kangen, lelaki itu tidak mungkin datang membawa Clearwater dan Blackwood.
"Kenapa? Ada masalah? Kau baik-baik saja, kan?" tanyanya heran. Ia bisa merasakan tangan Jose yang lebar dan hangat di pinggangnya. Tangan itu agak gemetar.
"Aku mencarimu," gumam Jose, akhirnya melepaskan pelukan. Wajahnya kelihatan aneh. Ada ekspresi kelegaan yang bercampur sesuatu yang seperti amarah.
Bukan marah, pikir Maria heran. Itu terhina.
"Aku berencana meneleponmu besok pagi," jelasnya buru-buru. "Kupikir sekarang kau masih di Aston dan baru besok pulang ke Redstone."
"Hm? Aku tidak menyalahkanmu," balas Jose lembut. Ia tersenyum samar dan merengkuh wajah Maria, mengusap pipinya dengan bantalan ibu jari. "Aku tidak bisa menghubungi manormu, orang-orang juga tidak melihatmu seharian ini, jadi aku agak cemas."
"Ah, kabel telepon kami sempat putus ..." Maria menoleh dan mengecup singkat tangan Jose lalu menariknya, mengajaknya duduk di ruang tengah. "Mungkin kau menelepon waktu belum dibetulkan."
"Bagaimana bisa putus?"
"Pohon tumbang mengenai kabel telepon, aku sendiri kurang tahu detailnya." Maria menatap Jose dengan cermat, meneliti raut wajah lelaki itu. "Omong-omong, kemarin aku bertemu Mr. Jones. Austin Jones. Kau tahu dia, kan?"
Nah, memang ada masalah, pikir Maria begitu melihat ekspresi Jose berubah dingin dan tegang. Senyum yang tadi terukir di wajah lelaki itu perlahan memudar dalam gradasi lembut.
"Dia mengganggumu?" tanya Jose kaku.
"Tidak juga. Kami cuma beberapa kali bertemu. Tapi hanya kebetulan." Maria menoleh pada Susan yang sedang menghidangkan teh panas untuk mereka berdua. "Di mana kita bertemu dengannya, Sue?"
"Di Carleton Store, Nona. Juga saat kita di Bericht Square."
Maria mengangguk. "Nah, itu. Aku tidak tahu kenapa, tapi perasaanku tidak enak. Lalu ditambah kabel telepon rumah tiba-tiba putus. Karena takut bakal sulit menghubungimu, jadi aku segera membatalkan janji mengukur ulang gaun dan memutuskan pergi ke cottage agar bisa tenang membaca surat-surat dan menyortir ulang tamu undangan." Matanya mengikuti Susan yang pergi ke luar membawa baki teh untuk Blackwood dan Clearwater, lalu kembali menatap Jose. "Kenapa, Jose?" bisiknya.
"Kuharap lain kali kau meninggalkan pesan pada Luke kalau tidak sempat bicara langsung padaku."
"Tapi Ayah dan Ibu tahu aku di sini."
"Ya. Aku bisa menemukanmu di sini karena bertanya pada Marchioness," Jose menukas sabar. "Tapi apa aku harus selalu bertanya padanya di mana kau berada?"
Maria setuju itu memang menggelikan. "Maaf ... aku cuma belum terbiasa menganggap Clearwater pengawal." Mata birunya memberi tatapan penuh perhatian. "Kau mau cerita apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Liam mengancamku." Suara Jose tidak menunjukkan emosi apa pun. Ia menenggak teh yang dihidangkan sampai habis lalu meletakkan cangkirnya yang kosong dengan agak keras. "Tidak secara langsung, memang. Dia dan Austin mengancam akan menyentuhmu kalau aku masih menghalangi mereka. Kalau kau tidak langsung pergi ke sini diam-diam, mungkin Austin akan mendapat kesempatan menyakitimu."
Maria mengatupkan bibir tipisnya rapat-rapat, sekarang mengerti kenapa ia dan Austin beberapa kali bertemu secara tidak sengaja. Pria itu memang sedang mencari celah.
Amarah menyebar cepat dalam hati Maria, terutama rasa jengkel pada dirinya sendiri. Ia menyesal sampai lupa memberi tahu Clearwater soal kepergiannya ke cottage. Karena kelalaiannya, Jose sampai dipermainkan seperti ini. Padahal ia ingin menjadi kekuatan Jose, bukan kelemahannya.
"Ini bukan salahmu," kata Jose seakan menangkap isi pikiran Maria. "Banyak orang bersikap kurang ajar karena aku terlalu lunak, jadi mereka pikir bisa main-main denganku. Tapi yang mereka pikirkan tidak penting. Yang penting bagiku cuma kau baik-baik saja. Kecepatanmu mengambil keputusan lagi-lagi terbukti membantu." Ia bangkit berdiri dan membuka kedua tangannya sambil tersenyum. "Aku pergi dulu, Mary. Orang-orang Clearwater akan berjaga di sini."
Maria ikut bangkit, memeluk Jose singkat, lalu mengantarnya ke luar cottage. Blackwood dan Clearwater tidak kelihatan. Cangkir-cangkir teh mereka yang kosong diletakkan di langkan teras. Di halaman hanya ada sais yang masih menunggu serta sepuluh orang pengawal.
"Untuk suvenir pernikahan," kata Jose sebelum ia berjalan ke keretanya. "Kau sudah memikirkan apa baiknya?"
Maria menatap Jose dengan cermat, berusaha mengikuti jalan pikiran tunangannya. "Kita sudah memesan koin emas komemoratif, kan? Tapi kalau menurutmu itu kurang, bisa tambahkan gelas kristal."
Bola mata hitam itu berkilat ditimpa cahaya lampu. "Pilihan bagus, Mary. Biar aku yang menyiapkan."
Campbell dan Jones benar-benar idiot, pikir Maria sambil merapatkan scraf. Matanya masih memperhatikan punggung Jose yang berjalan menjauh. Mereka pikir bisa selamat karena Jose tidak pernah membunuh orang lain.
***
Austin Jones dan Liam Campbell masih menertawakan dan membahas peristiwa itu meski seminggu sudah berlalu. Mereka puas bisa memberi pelajaran pada marquis-baru-yang-angkuh. Kemudian seolah dewi keberuntungan sedang tersenyum pada mereka, Campbell mendapat pesanan seribu gelas kristal dari Lord Batton. Pria itu adalah orang terpandang, salah satu anggota aliansi dagang di Skot. Gelas-gelas kristal tersebut akan ia gunakan sebagai hadiah komemoratif untuk sebuah perayaan besar di Skot, jadi pengiriman akan dilakukan lewat laut.
Seribu peti selesai dibuat dan Campbell memilih menggunakan jalan dalam lewat Redstone. Kali ini ia memang tidak menyelundupkan apa-apa, jadi tidak masalah kalau diperiksa. Keuntungan menjual gelas-gelas kristalnya juga akan menutupi uang lewat kalau Redstone meminta. Namun ternyata tidak ada halangan apa-apa. Keretanya dibiarkan lewat begitu saja seperti sebelumnya saat Redstone kosong.
"Atau mungkin dia sudah jera," kata Austin dengan nada mengejek. "Dia tidak akan berani menyentuh kita. Lagi pula kita tidak melakukan apa pun yang salah."
Campbell setuju. Selama mereka ada di Aston, keluarga Argent tidak akan bisa menyentuh mereka.
Hal yang tak pernah keduanya sangka adalah kapal mereka diserang perompak di tengah laut dan ditenggelamkan ke dasar laut bersama dengan seluruh kristal Campbell.
Lord Batton, pembeli mereka dari Skot, mengamuk karena barang pesanannya tidak segera sampai. Ia menuntut agar uang yang telah ia bayar di muka dikembalikan secara penuh atau kristal-kristal itu dikirim ke Skot sekaligus dengan kompensasi karena keterlambatan pengiriman.
Penjelasan Campbell dan Austin sia-sia. Selama barang belum sampai di Skot, barang tersebut dan segala risikonya masih jadi tanggungan Campbell. Lord Batton sangat marah dan kecewa karena tadinya kristal itu adalah hadiah untuk perayaan pernikahan di Chantall.
Mendengar nama wilayah itu, Campbell terperangah. "Pernikahan siapa?" tanyanya gemetar.
"Pernikahan siapa lagi?! Tentu saja Argent dan Garnet! Kami merayakannya juga di Chantall!" bentak Lord Batton berang. "Marquis Redstone yang merekomendasikanmu padaku, tapi kau mengecewakannya. Kau mengecewakanku!"
Detik itu juga, Austin dan Campbell tahu bahwa kapal-kapal mereka bukan secara tidak sengaja diincar perompak.
***
__ADS_1
"Mereka jatuh sangat rendah," Jeffrey menceritakan apa yang didengarnya dari bisik-bisik di pesta. Ia terbahak. "Kau tahu yang paling lucu? Austin mengamuk dan menuduh Lord Batton berkomplot dengan kita untuk menjebak mereka. Lord Batton! Di-dia memukul Lord Batton!" Jeffrey sampai tidak bisa bernapas karena tertawa terpingkal-pingkal.
"Dan mereka juga tidak bisa minta bantuan dana dari teman-temannya," Juan menambahkan dengan tenang. "Aku dan Jeff sudah memastikan mereka kehilangan nama di dunia atas."
Jacob masuk ke dalam ruang santai dan bergabung saat Juan masih bicara. "Kalian sedang mengobrol soal Campbell dan Jones?" tanyanya dengan senyum dingin. "Kudengar Lord Batton membawa masalah ini ke pengadilan. Dia sangat marah."
"Aku memang bilang agar kalian jangan melukai mereka secara langsung," Rolan berkata dengan senyum dikulum. "Tapi ini lebih jahat, anak-anak. Kalian benar-benar tidak memberinya ampun."
"Lebih jahat kau dan Paman Marco sih," gumam Jeffrey pelan sambil menyugar rambut cokelatnya. Ia menoleh pada Jacob. "Mana Jose? Masih di atas?"
"Masih." Jacob mengangguk, mengawasi pamannya yang bangkit berdiri. "Menemani Garnet menjenguk Thea."
"Aku ke atas kalau begitu. Kau juga ikut?" Rolan menoleh pada Jeffrey.
Keponakannya menggeleng dengan senyum malas. "Paman Marco bakal melemparku keluar lagi kalau aku berisik di atas." Ia mengangkat cerutu di tangannya. "Lagi pula aku bau ini."
Rolan mengangkat kerah dan mencium kemejanya. "Apa aku juga akan dilempar kalau bau tembakau? Marco jadi lebih buas sejak Thea lahir."
"Namanya juga anak pertama," sahut Jeffrey geli. "Sebaiknya kau memang ganti pakaian, Paman."
Begitu Rolan pergi dan suara langkahnya menjauh, Jacob menepuk tangan satu kali dan membuka kedua telapaknya dengan gestur bertanya. "Jose membuat Campbell dan Jones bangkrut. Menurut kalian itu sudah setimpal?"
Jeffrey mengembuskan asap cerutunya dalam bentuk lingkaran-lingkaran putih. "Itu setimpal kok. Apa yang mereka alami jauh lebih berat dari kematian. Hidup dengan nama tercoreng akan sangat menyakitkan bagi orang-orang angkuh seperti itu. Tapi masih banyak yang mendukung keduanya, aku dan Juan sudah mengumpulkan nama mereka."
Senyum Juan melekuk miring. "Jose sudah memperlihatkan dengan berkelas apa konsekuensinya jika berurusan dengan seorang Argent. Sekarang giliran kita membabat rumput liar yang lain."
Jacob meletakkan siku kanan di atas lutut dan memandang adik-adiknya dengan bangga. "Aku senang kita sependapat. Prinsipku, paku sekecil apa pun harus dipukul rata. Tak ada yang boleh dibiarkan mencuat."
"Prinsipku—"
"Kau sih cuma suka keributan," potong Juan sebelum kembarannya sempat bicara.
Jeffrey tertawa. "Itu benar. Tapi aku juga punya hal yang tak kusuka. Misalnya: orang-orang yang mengusik keluarga kita." Ia mengulurkan kepalan tangannya ke depan, ke atas meja. Juan dan Jacob menyambut dalam gestur yang sama. Tiga buku jari yang berbeda saling bertabrakan ringan.
***
__ADS_1