BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 31


__ADS_3

Maria sedikit heran ketika melihat penampilan Jose siang itu. Rasanya baru dua hari lalu mereka terakhir bertemu, tetapi itu sudah cukup membuat wajah kelihatan berbeda. Agak berbeda.


Ketika mereka membahas soal undangan ke rumah Sir William, Jose masih ceria dan santai. Bahkan cara bicaranya juga cenderung seenaknya. Sekarang Jose seperti berubah jadi orang lain. Selain sorot matanya yang makin tajam, seperti ada sentuhan serius di sana. Hal yang tidak pernah dilihat Maria selama ini.


Jose menjemputnya dengan mobil, lagi-lagi tanpa supir, dan tidak banyak bicara selama perjalanan. Maria menahan dirinya untuk menanyakan apa yang sebenarnya dialami Jose. Selain karena berpikir pertanyaan itu akan kedengaran aneh, Maria berpendapat bahwa sebaiknya ia memperhatikan dulu apa yang terjadi.


“Bagaimana diskusinya?” Maria bertanya, teringat bahwa Jose kemarin bilang akan pergi ke Gedung Diskusi. “Kau jadi ke sana, kan?"


“Oh, aku tidak jadi berangkat.”


“Lho, kenapa?” Maria menoleh, mata birunya bersinar lembut. Dalam hati ia bertanya-tanya, mungkin persoalan yang dialami kawannya berkaitan dengan rencana ke Gedung Diskusi.


“Tidak apa-apa. Dave tidak datang sesuai janji dan aku ada urusan lain.”


Maria mengerjap heran. “Lho, jadi Lord Dominic tidak bersamamu kemarin? Kalian tidak jadi bertemu?”


Jose menggeleng. “Aku menunggunya agak lama, dia tidak segera datang.”


“Kapan terakhir kali kalian bicara? Apa dia menghubungimu?”


“Terakhir bicara di telepon." Jose mengerutkan kening, mengendus keanehan pada nada suara Maria. “Dan tidak, dia tidak bilang padaku kenapa dia tidak datang. Aku juga belum sempat bicara lagi dengannya hari ini. Aku juga belum meneleponnya kembali. Kenapa memangnya?”

__ADS_1


“Dia belum pulang ke rumah sejak kemarin. Katanya dia mau pergi bersamamu, tapi sampai hari ini belum pulang.”


Suara mesin mobil terdengar mencekam. Jose mempererat genggaman pada setirnya. “Apa maksudmu? Kau dengar dari siapa soal Dave?”


“Kau tahu Lidya? Lidya, putri pertama dari keluarga Jewel? Kami di klub berkuda yang sama. Dia itu pacar Lord Dominic.”


“Pacar keberapa?” Jose tertawa.


Maria mengabaikan tawa gugup kawannya. Ia melanjutkan dengan suara waswas, “Dia menemuiku pagi tadi, bercerita soal pacarnya yang belum pulang ke rumah atau bahkan menghubunginya. Coba ceritakan, kalian memang tidak bertemu di Gedung Diskusi?”


Jose menggeleng. Ia menceritakan mulai dari jam menelpon Dave, saat ia menunggu di Toko Pierre, sampai akhirnya ia pulang karena ada keperluan. Jose tidak bercerita bahwa ia berniat pergi sendirian dan malah membuntuti Sir William sampai ke sebelah selatan Bjork. Ia tidak merasa perlu memberi tahu Maria soal itu.


“Aneh, kalau begitu ke mana dia?” Maria menggumam pelan. Pandangannya dialihkan ke luar mobil, menangkap dua orang polisi patroli yang berjalan dengan kedua tangan di belakang. “Keluarga Dominic sudah menghubungi polisi, tapi karena belum sampai dua puluh empat jam dia menghilang, polisi meminta mereka menunggu.”


“Tapi satu-satunya teman yang janjian dengannya kan kau sendiri,” tukas Maria. “Dan kalian tidak bertemu. Apa kau tidak merasa aneh?”


“Sebentar, maksudmu bagaimana?” Jantung Jose mencelos. Firasatnya tidak enak. Kecemasan terbesarnya adalah kalau Maria menuduhnya yang tidak-tidak.


“Maksudku, Bjork sedang tidak aman. Jangan-jangan satu orang lagi hilang ….” suara Maria makin lirih. Kulit di wajahnya kehilangan rona.


“Tenang saja, Dave bukan orang yang ceroboh.” Jose mengembuskan napas pelan, sedikit lega karena ternyata Maria bukan bermaksud menuduhnya. Mobil berbelok lembut memasuki pelataran depan rumah keluarga Argent dan berhenti di depan barisan pekerja yang sudah menunggu di depan. Mobil diambil alih oleh Jack dan dibawa ke garasi sementara Jose membimbing Maria masuk.

__ADS_1


“Ini cuma perasaanku? Rasanya orang-orang di rumahmu tambah banyak, ya.” Maria berkata ketika mereka masuk melalui pintu ganda di depan. Daun pintu yang terayun sama sekali tidak menimbulkan suara.


Jose mengangguk kaku. “Paman membawa beberapa orang tambahan sebagai petugas keamanan.”


“Kenapa mendadak pengamanannya ditingkatkan? Kalian kemalingan?”


Pertanyaan itu mengusik Jose. Ia berpikir sebentar, menimbang apakah akan mengatakan yang sebenarnya atau tidak, kemudian memutuskan bahwa Maria tidak ada urusannya dengan misteri mereka.


“Oh ya, Paman Marco kan punya hubungan baik dengan kepolisian. Bisa kita minta untuk mencari tahu soal Lord Dominic?” tanya Maria.


“Soal apa?” Suara itu muncul duluan, disusul oleh tubuh pemiliknya. Marco berjalan mendekat, Rolan ada di sampingnya.


“Hey, hey, hey! Terakhir kita bertemu kapan? Sudah lama sekali ya?” Rolan berseru dengan suara renyahnya yang biasa. Ia berjalan mendekat, menyambar tangan gadis itu dan mengguncangnya dengan penuh persahabatan.


Maria meringis, mengingat dengan jelas senyum lebar Rolan dan juga rambut cokelat masainya. Tidak ada yang berubah dari diri pria itu, bahkan meski sudah lama mereka tidak bertemu.


“Halo, Dokter. Natal tahun lalu, rasanya. Baik-baik saja kabarnya, kan?”


Rolan menghaluskan ujung kemejanya yang sedikit kusut. Bola mata cokelatnya berbinar terang ketika dia tertawa lagi dan menjawab, “Masih sama seperti biasa, Maria, masih sama seperti dulu! Bergumul dengan obat dan penyakit!”


“Dan Dokter juga tetap ceria seperti dulu,” balas Maria cepat.

__ADS_1


“Tentu saja! Kalau tidak, para pasien bisa takut! Yah, sekarang aku sudah tidak bertugas ke mana-mana, sih. Ada posisi lowong di bagian dokter keluarga Argent. Aku sekarang mengisi bagian itu.” Rolan menoleh pada Marco, memberi senyum jenaka yang penuh arti.


***


__ADS_2