
Ketika mereka selesai berdansa, beberapa orang datang memuji. Maria sendiri masih sulit percaya Jose begitu pandai membimbing. Waltz mungkin dansa yang susah bagi beberapa orang, tapi sebenarnya akan cukup mudah kalau pasangan dansa yang lelaki pandai melangkah. Wanita hanya tinggal mengikuti. Dan Maria tidak merasa sedang berdansa, ia hanya seperti melangkah biasa. Itu mengagumkan baginya.
"Kau pintar," pujinya.
Jose tersenyum kecil. "Baru tahu? Ke mana saja kau selama ini?" bisiknya. Wajah cerianya berubah jadi suram dan dingin dalam sekejap begitu melihat Sir William berjalan melewati beberapa orang dengan luwes, mendekati mereka. Lagu berubah jadi ballad.
"Taruhan, dia akan mengajakmu berdansa," kata Jose.
"Dan aku akan menerimanya, tak sopan menolak undangan tuan rumah," sahut Maria tenang.
"Maukah kau lakukan sesuatu untukku?" bisik Jose pelan. "Injak kakinya atau tendang tulang keringnya ketika berputar."
Maria tertawa. "Jangan konyol, ah. Aku tidak mengerti kenapa kau sekesal itu padanya."
"Menurutku, dia aneh," kata Jose serius.
Maria tidak menanggapi. Sir William akhirnya sampai di depan mereka. Pria itu menatap mereka dengan senyum ramah. "Dansa yang indah," pujinya. Ia menghadap ke arah Jose. "Apa aku bisa meminjam Nona Garnet untuk satu dansa?"
Jose melirik Maria. "Hanya kalau dia bersedia."
Maria tentu saja bersedia. Mereka turun ke lantai dansa, dan Jose berjalan menyeberangi ruangan ke arah balkon. Clearwater sedang mencari anggur, Marsh sudah menarik satu gadis untuk diajak berdansa, dan Simon bercakap-cakap dengan orang lain. Beberapa orang memperhatikannya ketika berjalan ke balkon, tetapi tidak ada yang berani mendekati atau menyapanya. Jose bersyukur. Ia tidak ingin meladeni siapa pun dalam kondisi sekarang. Ruangan ini membuat Jose mual. Ia merasa makin lama ia ada di rumah ini, kepalanya pasti akan makin sakit.
Tadinya Jose pikir semua ini cuma perasaannya saja. Ia pikir ia masih dihantui bayang-bayang Gladys, karena itu sensor penciumannya terganggu. Namun makin lama ia makin yakin bahwa ia tidak salah. Ada yang salah pada rumah ini. Puri ini terasa memusingkan. Ada aroma darah di mana-mana yang berusaha ditutupi dengan begitu banyak bunga mawar. Wanginya menusuk-nusuk hidung, membuat mata Jose perih.
Di balkon, ia menarik napas panjang dan menghirup udara malam banyak-banyak. Ia harusnya mencari Clearwater dan menanyakan padanya soal Dave, tetapi Jose merasa kepalanya mendadak pusing. Ia hanya minum segelas kecil anggur barusan, dan apa yang ia rasakan saat ini bukan mabuk. Ia cukup kuat minum. Namun memang bisa saja minuman itu yang menyebabkan kepalanya pusing sekarang. Tanpa berpikir panjang, Jose memasukkan satu jarinya dalam-dalam ke mulut, memaksa diri sendiri untuk memuntahkan kembali minuman yang ditelannya malam ini.
__ADS_1
Setelah muntah ternyata segalanya tidak jadi lebih baik seperti sangkaan Jose. Ia berjalan terhuyung ke pilar balkon, menyandarkan pelipisnya di sana. Matanya menatap nanar ke dalam ruangan, pada Sir William dan Maria yang sedang berdansa dengan lamban.
Pemandangan itu membuatnya marah. Ia ingin merenggut bahu Sir William dan mencolok bola matanya yang menyebalkan itu.
Jose mengusap mulut dengan punggung tangan. Ia membenturkan pelan pelipisnya ke pilar yang dingin, berusaha menata kembali emosinya.
Ini keputusannya. Ia sendiri yang memutuskan datang menemani Maria ke sini. Ia harusnya bisa mengendalikan diri.
Jose memfokuskan kembali tujuannya. Ia tidak boleh membuang waktu. Sudah sehari penuh Marco menghilang. Kalau lebih lama lagi pamannya itu tidak muncul, dunia bawah bisa goyah. Banyak hal akan berjalan tanpa kendali. Yang harus ia pastikan saat ini adalah apakah Sir William terlibat dalam hilangnya Marco.
Jose menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang melihat padanya. Kemudian seperti Ninja, Jose meloncat ke lengan balkon dan memanjat ke lantai tiga. Lantai satu adalah ruang tamu dan kamar pelayan. Lantai dua ruang rekreasi, kamar tamu, serta atrium untuk pesta. Jose tahu bahwa kamar master ada di lantai tiga. Saat kecil, ia dan Maria sudah sering bermain di sini. Puri ini sempat kosong selama beberapa tahun, dan keduanya suka menjelajah untuk uji nyali, berpura-pura ada hantu mengintai.
Jose tersenyum sekilas mengingat masa lalu. Siapa yang menyangka ia akan kembali ke sini saat dewasa, mencari hantu sungguhan.
Marco tidak jadi mengambil obor. Tidak ada waktu. Ia takut elevator akan turun lebih cepat dari perkiraan, jadi ia menarik pundak Nolan, menggeretnya masuk ke dalam bukaan yang muncul di dinding. Begitu mereka menginjak anak tangga kedua, pintu batu kembali bergeser, menutup jalan masuk mereka.
Marco mengangkat lampu minyak yang masih dibawanya, menemukan tuas lain di sisi dalam tembok.
Jadi Robert sembunyi di sini, pikirnya. Apakah dia memang tahu jalan-jalan rahasia di sini atau hanya kebetulan menemukannya seperti aku?
Nolan menatap kosong pada tangga putar yang menuju ke bawah. Sinar lampu tidak mencapai dasar tangga, jadi ia hanya menatap anak tangga batu yang menuju kegelapan.
Anak tangga yang terbentang begitu curam dan sempit, tanpa pegangan atau dinding di sisi kiri dan kanan.
Marco tidak melihat ada batu di sekitarnya, jadi ia merogoh saku celana, mengeluarkan satu buah permen dari sana, lalu membuangnya melewati tangga. Ia diam dan menunggu. Lama kemudian, ada suara benturan yang sangat pelan. Permen itu akhirnya menyenyuh dasar lantai.
__ADS_1
"Dasarnya cukup jauh," Marco mengingatkan. Ia melewati Nolan dengan luwes, kini berdiri satu anak tangga di bawah gadis itu. "Hati-hati kakimu. Kau bisa pegangan padaku supaya tidak jatuh. Tangga ini terlalu curam."
Nolan menatap ke kegelapan di sisi kiri dan kanannya, lalu pada pria berambut perak di depannya. Tidak ada gunanya membantah dalam situasi seperti ini. Jadi, untuk pertama kalinya dalam hidup Nolan, gadis itu mematuhi perintah tanpa mendebat.
Awalnya Nolan ragu harus berpegangan pada apa. Lalu ia meletakkan telapak tangannya ragu-ragu ke bahu Marco. Pria itu jelas sudah tua, Nolan memperkirakan usianya pasti lima puluhan. Namun tubuh Marco masih tegap dan bahunya terasa kekar. Gerak-gerik pria itu seolah masih ada di usia prima. Nolan otomatis jadi membandingkannya dengan bahu kakeknya yang kurus dan kering dan digerogoti penyakit.
Mereka melangkah turun perlahan dalam diam. Marco sesekali berhenti untuk memastikan anak tangga yang akan dipijaknya masih kokoh, dan Nolan jadi punya waktu lebih lama memandangi punggung pria itu dan memperhatikan rambut keperakan Marco.
"Kau selalu membawa permen dalam saku?" tanya Nolan untuk memecah kesunyian. Lebih lama lagi mereka berdiam diri, ia merasa takut akan ditelan kegelapan.
Marco mengangkat wajah ke atas. Bukan melihat Nolan, tapi melihat langit-langit. Cahaya tidak mencapai ke atas, jadi ia hanya bisa melihat kegelapan.
Namun ada petunjuk barusan. Suara Nolan tadi bergema, seolah mereka ada dalam ruangan beratap kubah. Marco tersenyum kecil, memiliki dugaan di bangunan bagian mana mereka berada sekarang. Dan kalau dugaannya benar, sebentar lagi mereka pasti akan bebas.
Ia merogoh saku celana, mengeluarkan satu bungkus permen lagi dan mengulurkannya pada Nolan, mengira gadis itu bertanya karena ingin satu.
"Aku bukannya minta," kata Nolan malu, tapi tetap menerima pemberian tersebut. "Aku cuma penasaran kenapa kau membawa banyak makanan manis."
"Aku suka makanan manis," sahut Marco sambil lalu. Ia diam agak lama, kemudian meneruskan bicara untuk memperkirakan jarak dengan mengukur gema suaranya, "Ada satu toples permen di meja kerjaku, dan Jose sering menyelinap untuk mengambilnya. Dia pikir aku memang menyimpan permen-permen itu untuknya atau untuk keponakanku yang lain."
"Padahal itu untukmu?" Nolan bertanya geli.
"Tentu saja." Ada tawa dalam nada suara Marco.
Dan sejenak, Nolan merasa pria itu tidak semenyebalkan seperti sangkaannya dulu. Bahkan Nolan menyadari, rasa bencinya perlahan memudar. Ia merasa Marco adalah orang yang bisa diandalkan, dan ia bersyukur dengan keberadaan pria itu.
__ADS_1