
Jose melihat kereta kuda keluarganya yang dikendarai Maria berhenti satu kilo sebelum kantor pajak. Ada mayat. Banyak mayat tergeletak diam di sekitar kereta. Ia memacu Run berlari lebih kencang sambil menjaga agar tidak terlalu panik. Run bisa merasakan kepanikan, itu malah akan membuat kudanya gelisah. Namun sulit. Jose menggertakkan gigi. Rasanya seperti ada sebilah belati dingin menancap di jantungnya dan organ itu tetap berdenyut kencang. Mendadak ia jadi susah bernapas. Udara dingin terasa menyakitkan. Ia merasa tekanan darahnya seolah jatuh drastis.
“Mary!” serunya keras-keras begitu ia hampir sampai. Harusnya aku memberinya pengawal lebih banyak! Tangannya sudah bergerak mengeluarkan belati kecil dari kait ikat pinggang. "Mary!" Jose tidak pernah suka membunuh. Baginya, setiap nyawa manusia membawa harga berat yang tidak boleh diusik. Namun ia bersumpah kalau ada orang yang menyakiti Maria, ia sendiri yang akan melenyapkan nyawa orang itu. Di sini. Sekarang juga.
Jose baru saja mengambil sumpahnya ketika ia melihat Maria. Kepala gadis itu melongok dari balik kereta, tangannya melambai riang. Rasa lega membakar Jose seperti kobaran api, menyengatnya sedingin biang es. Ia menghela napas dalam-dalam dan menyimpan kembali belatinya, kemudian berkuda lebih tenang.
Pete juga muncul menyambut. Tubuhnya luka-luka, tapi sudah dibebat perban. Sepertinya Susan yang melakukannya karena dayang itu sedang membereskan tas berisi keperluan medis.
“Aku dengar suara tembakan,” kata Jose begitu sampai. Jantungnya masih berdegup sangat kencang karena panik barusan, tapi wajahnya tetap setenang biasa. Ia meloncat turun dari Run dan bergerak menghampiri Maria, yang kini sedang membungkuk untuk membetulkan sepatunya. “Suara itu dari sini, kan? Siapa yang menembak?”
“Kau bisa dengar?” Maria bangkit, menoleh pada Susan. “Apa suaranya sekeras itu, Sue?”
“Saya justru heran Nona tidak tuli,” sahut Susan tanpa melihat ke arah Maria. Jose mengerutkan kening sedikit. Di rumahnya, ketidaksopanan semacam itu jelas akan mendapat teguran. Tapi ia memakluminya mengingat banyaknya mayat di sekitar mereka. Sais keretanya mati. Pete babak belur. Maria jelas melakukan sesuatu. Ia bisa menebak apa yang dilakukan gadis itu.
“Kau yang menembak?” Jose menoleh, terdiam ketika melihat mata biru Maria. Aah … pikirnya getir. Apa yang sudah kulakukan …? Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Lidahnya seperti mencecap rasa pahit yang tak bisa hilang. Aku membiarkan orang yang kucintai punya sorot mata seperti itu …
Sorot mata seorang pembunuh.
***
Pete membawa Run sementara Susan dan satu pelayan keluarga Garnet bertindak menjadi sais, Susan menemaninya duduk di depan. Di dalam kereta yang cukup luas itu hanya ada Jose dan Maria. Duduk berhadap-hadapan pun masih akan memberi ruang yang leluasa bagi mereka, tapi keduanya duduk bersisian, bahu menyentuh bahu. Maria masih menggenggam pistolnya di pangkuan, memandangi lekuk logam di sana.
Ini dia saat yang ia takuti. Bekal pistol yang dibawanya adalah untuk menembak Sir William, bukan untuk menembak manusia lain. Tapi ia sudah terlanjur menggunakannya untuk Flora.
Apa aku harusnya membiarkan Pete mengurus semua hal? Apa aku harusnya diam saja dalam kereta? Maria tidak merasa bersalah sudah membunuh Flora. Jika ia tidak melenyapkan perempuan itu, nyawanya yang akan hilang. Ia tidak percaya Flora hanya ingin menukarnya dengan kalung Sir William. Perempuan licik itu pasti akan menyakitinya juga, menyiksanya untuk membalas apa yang sudah dilakukan Jacob pada suaminya. Flora mungkin juga akan memotong jarinya dan mengirimkannya pada Jose hanya untuk menyakiti lelaki itu.
Ketika Jose menolak Flora, wanita itu justru membuat drama untuk memprovokasi banyak orang, menuduh Jose melakukan perbuatan tidak senonoh padanya dan selama beberapa bulan bertingkah seperti korban yang tersakiti. Namun dramanya justru berbalik memukul Flora dengan keras, menjatuhkan namanya di dunia sosial. Meski orang-orang menampilkan wajah bersimpati dan menghiburnya di depan, mereka menertawakan ceritanya dan menggosipkannya di belakang. Butuh waktu satu tahun bagi Flora untuk memahami bahwa tidak ada yang benar-benar percaya padanya. Sejak itu ia menaruh dendam pada Jose, yang selalu diam tidak menanggapi kabar pelecehan itu. Flora merasa dipermainkan oleh dunia pergaulan. Jatuh ke dalam tangan Flora akan membuat Maria dijadikan bulan-bulanan dan dipermalukan. Maria tahu itu.
Maria sama sekali tidak menyesal sudah membunuh Flora, tapi ia takut Jose akan kecewa padanya. Ia takut Jose akan menganggapnya dingin dan jahat. Ia takut hubungan mereka akan renggang. Pikirannya berkabut sekarang. Kenapa setelah menyukai Jose, aku justru makin mudah merasa takut?
“Apa?” tanya Jose kaget. “Kenapa bisa? Aku membuatmu takut?”
“Hah?” Maria mengangkat wajah dengan kaget. Jantungnya mencelos. “Apa maksudmu?”
“Kau bilang setelah menyukaiku, kau jadi merasa takut?” ulang Jose. Ia menoleh, sedikit menundukkan kepala agar bisa melihat Maria dengan jelas. Seulas senyum tipis terpampang di wajah lelaki itu.
“Aku … mengatakan itu?”
__ADS_1
“Jelas sekali di telingaku. Kau tidak sadar mengatakannya?”
Maria tidak sadar. Ia pikir ia masih bicara dalam hati. Sengatan di jantungnya merambat ke seluruh tubuh hingga ke kepala, membuat kedua pipinya memanas dan jadi kemerahan. Itu membuat Jose tergelak. Maria mencubitnya dengan sebal, tapi juga merasa sedikit lega mendengar tawa lelaki itu.
“Mary.” Jose berhenti tertawa. Ia menangkap tangan Maria dan menangkupnya dalam genggaman, lalu menggeser duduknya agak miring hingga mereka bisa saling berhadapan meski berada di kursi yang sama. “Aku ingin minta maaf.”
“Untuk apa?” Seluruh tubuh Maria membeku, mendadak merasa takut.
“Maaf aku salah. Tadinya, aku ingin minta maaf,” ralat lelaki itu pelan. Matanya terlihat serius. Suaranya agak tersendat ketika meneruskan, “Aku ingin minta maaf karena tidak memberimu lebih banyak pengawal. Kupikir Pete sudah cukup. Dia salah satu yang terkuat dari para pekerja. Aku ingin minta maaf karena aku lupa soal Flora. Harusnya aku ingat masih ada dia di Bjork, tapi … yah, aku lalai. Aku ingin minta maaf sudah membuatmu menarik pelatuk. Aku ingin minta maaf karena tidak menemanimu …”
Ketika akhirnya Jose berhenti bicara, rasa takut melumpuhkan Maria. Ia ingin tahu kenapa Jose tidak jadi minta maaf atas semua alasan manis itu, tapi juga benar-benar takut mendengar jawabannya. Setelah Jose menyatakan cintanya, Maria justru selalu dihinggapi rasa ragu dan takut. Ia cemas Jose akan berubah pikiran, ia cemas akan membuat kesalahan dan membuat lelaki itu tidak menyukainya lagi, ia selalu berkecil hati memikirkan dirinya sudah ternoda, ia gelisah memikirkan bagaimana kalau Arabella tidak bisa diusir dari tubuhnya dan Jose bosan melihatnya jalan-jalan sambil tidur seperti orang gila. Semua rasa takut itu membuat Maria merasa hampir sinting. Apa rasa cinta membuat semua orang setakut ini, atau cuma aku yang begini?
“Kau bilang ‘tadinya’?” akhirnya Maria memberanikan diri. Matanya berembun basah. Ujung-ujung jarinya yang dingin diam tak bergerak dalam genggaman tangan Jose. “Lalu kenapa tidak jadi?”
Jose menunduk. Maria menahan napas, mengira lelaki itu akan menciumnya, tetapi Jose hanya membenturkan kening mereka dengan pelan.
“Karena aku tahu kau akan merasa tersinggung kalau aku minta maaf,” bisiknya, menjauhkan wajah agar mereka bisa bertatapan. Genggaman tangannya pada Maria mengerat. “Kau selalu seperti ini. Jika ada bahaya, kau bukannya menghindar tapi malah melakukan konfrontasi. Kau ingat waktu dulu kita kecil? Ada orang-orang pasar yang bersiul-siul tak sopan padamu dan apa yang kau lakukan? Kau mendatangi dan menegur mereka: orang-orang yang lebih tua dan lebih besar dan lebih kuat darimu. Kau membuat satu pasar riuh karena berantem dengan mereka sampai aku perlu pergi memanggil Krip! Andai polisi patroli sudah ada waktu itu, aku pasti memanggil mereka!”
“Orang-orang semacam itu perlu langsung ditegur. Kalau aku menghindar, mereka akan mengira aku pengecut dan menertawakanku dari belakang,” tukas Maria membela diri. “Lalu mereka akan merasa tak terkalahkan dan melecehkan perempuan lain!”
“Lalu waktu kau merasa ada orang yang mengerjai keretamu di pesta debut. Apa yang kau lakukan, hm? Perempuan lain, orang normal lain, akan menyuruh pelayan mencarikan kereta baru. Menyewa kereta, menebeng orang lain, atau minimal bilang padaku, aku bersamamu waktu itu! Tapi tidak, oh tidak. Maria Garnet yang mandiri tidak akan melakukan itu." Jose memutar bola mata. "Dia malah melakukan konfrontasi di hadapan tamu yang tersisa, menaiki keretanya sendiri, menunggunya jatuh hingga rusak di hadapan semua orang di pesta untuk menunjukkan pada orang yang menjahilinya bahwa kereta rusak tidak akan menumbangkan kecantikannya atau mempermalukannya.”
“Dan aku masih ingat kau dengan gegabah datang langsung ke rumah Sir William meski kau tahu bahwa dia bahaya!”
“Itu kan … “
“Lalu kau tadi malah mendatangi Flora Spencer dengan pistol di tangan! Kau baru belajar menggunakannya kemarin!” Jose tidak mau disela. Ia malah menaikkan nada suaranya.
“Aku pintar! Tuan Stuart memujiku, katanya aku jenius,” Maria mengatakannya dengan kebanggaan tinggi. Ia memang belum pernah memegang senjata sebelumnya, tapi bisa menggunakannya dengan baik begitu diajari.
“Kau menyuruh para pembunuh bayaran untuk pergi! Mereka pembunuh bayaran! Bahkan meski yang membayar mereka mati, mereka punya kebanggaan diri mereka sendiri. Mana mungkin mereka langsung pergi saat kau suruh dengan manis! Bagaimana kalau tidak ada Pete dan pelayan lainmu itu? Untunglah Pete bisa mengatasi mereka!”
Maria menganga. Ia mengatupkan bibirnya lagi, kemudian menjatuhkan pandangan dengan kesal. "Pete bisa bertarung secara total karena aku tidak ada di dekatnya, jadi memang bagus aku pergi."
“Kau satu-satunya putri Garnet,” bisik Jose lirih. “Aku tahu orang tuamu memberimu beban yang sangat berat untukmu. Masyarakat … memberi label penghargaan padamu terlalu banyak sehingga justru membuatmu sulit bergerak. Kau punya harga diri yang tinggi, kau ingin memenuhi ekspektasi yang ditimpakan orang-orang padamu. Kau memang tangguh dan kau ingin selalu membuktikan itu. Jika aku minta maaf padamu, sama saja aku menyangkal segala usahamu, menganggapmu gadis kecil yang seharusnya dilindungi dalam rumah kaca. Kau mungkin akan merasa terhina. Karena itu aku tidak minta maaf meski ingin.”
Mendengar itu membuat Maria merasa rikuh. Jose memang benar. Sebagai satu-satunya putri keluarga Garnet, ia memang mendapat beban lebih dari putri-putri keluarga lain. Ia harus memperhatikan kata-katanya, tindakannya, bahkan tidak bisa menyematkan kata teman ke sembarang orang karena status sebagai teman Garnet bukan hal yang murah. Dampaknya bisa besar. Ia pergi menyepi dari Aston ke Bjork karena pergaulan di Aston sangat ribut baginya, bahkan meski waktu itu ia baru berumur empat tahun. Di Bjork tak jauh beda, tapi ia bisa mengatasinya karena berkenalan dengan Jose. Ketenangan dan sifat main-main lelaki itu yang membantunya untuk tetap waras, mengingatkannya agar tetap menikmati hidup.
__ADS_1
“Aku menyayangimu karena kau adalah Mary,” lanjut Jose setelah diam agak lama. Kilatan dalam mata hitamnya melembut. “Aku menyukaimu yang selalu berusaha keras seperti itu. Tapi bisakah kau berhenti membahayakan dirimu sendiri? Kau mengkritikku kemarin, katamu aku selalu membuatmu cemas. Itu juga yang kurasakan akhir-akhir ini. Barusan. Rasanya umurku hilang setengah tadi. Jangan gegabah, Mary.”
Maria mengangguk kecil. Kelegaan tampak jelas di mata birunya yang sayu. Jose menariknya mendekat, memeluknya. Maria memejamkan mata, menemukan tempat yang nyaman untuk bersandar di ceruk leher lelaki itu. Mantel Jose dingin dan lembap karena udara beku di luar, tapi pelukannya tetap terasa hangat.
“Kupikir kau mau bilang kalau kau menyesal menyukaiku,” bisiknya pelan, merasa malu sendiri karena nada suaranya terdengar manja.
“Kenapa bisa?”
“Aku membunuhnya … Flora ...”
“Lalu kenapa?” Jose mempererat dekapannya dan mengecup ujung kepala Maria. “Jika itu berarti keselamatanmu, aku tidak peduli meski yang kau lakukan benar atau salah secara moral.”
“Aku membunuhnya dan aku tidak merasa menyesal, Jose ... ” Maria memberanikan diri mengatakan itu. Cengkeramannya pada punggung mantel Jose mengerat. Ia menunggu, menunggu Jose melepas pelukannya, menunggu lelaki itu berkata bahwa bukan perempuan seperti ini yang dia cintai, menunggu sebuah penolakan.
Jose menarik napas dalam-dalam. “Jika bukan kau, pasti aku yang akan melakukannya, Mary,” bisiknya. “Aku yakin juga tidak akan menyesal setelahnya.”
Maria menenggelamkan wajahnya pada mantel Jose, menghirup banyak-banyak aroma tubuh lelaki itu. Ia terkekeh. “Kau gila Jose,” katanya dengan suara basah.
“Tidak. Hanya jatuh cinta.”
Maria tertawa lagi, lebih keras dan lega, lebih ringan. Ia mengangkat kepala, membiarkan Jose menciumnya untuk yang ketiga kali hari itu.
Lalu keempat kali.
Kelima.
Enam.
...
Maria kehilangan hitungan dalam dekapan Jose, dalam bunyi degup dua jantung yang bercampur.
***
__ADS_1