BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 207


__ADS_3

Greyland belum tidur ketika Edgar memintanya datang. Tanpa banyak bertanya, ia segera menyiagakan orang-orangnya dan datang ke manor Argent. Tidak seperti Bjork, Aston adalah kota yang tak pernah tidur. Bahkan di malam buta pun kota tersebut masih bertabur lampu, ramai dengan lalu lalang manusia dan kereta kuda atau mobil Ford Tin Lizzie terbaru. Begitu melihat serombongan orang Greyland berjalan menyeberang dengan rapier di pinggang, semua orang segera menepi dan jalan mendadak jadi sunyi.


Sesampainya di manor Argent, Greyland mendapati Edgar sudah menunggu bersama dengan dua puluh para pekerja pilihannya. Di dekat mereka ada satu gentong kuali yang tertutup rapat.


"Apa itu?" tanyanya.


"Madu. Hadiah dari Bjork. Aku akan mengirimkannya sendiri pada Hastings malam ini."


"Akhirnya kau mau terang-terangan?" Greyland meringis, mengamati orang-orang yang dipersenjatai revolver dan pedang pendek. "Kupikir kalian akan menunggu sampai semua orang di aliansi dagang menunduk dalam satu suara."


"Aku menunggu sampai ada alasan tak terbantahkan untuk memburu kepalanya," Edgar membetulkan. "Dan alasan itu sudah datang. Mau mereka menunduk atau mendongak, tidak akan ada yang berani protes kali ini. Siapa pun yang keberatan berarti menentang dekrit istana."


"Alasan apa itu?"


Edgar menyerahkan tabung silinder yang diterimanya dari Olivia. Greyland mengendus, kemudian mengangguk. Pembunuhan, pelacuran, perampokan, semua itu masih ada dalam batas-batas Albion yang bisa diatasi oleh kepolisian di dunia atas. Namun narkotik adalah hal yang sangat dibenci ratu. Opium masih diperbolehkan untuk pengobatan, tapi yang dijual dalam silinder sebagus itu jelas bukan untuk stok kedokteran. Pemberantasannya sudah jadi urusan dunia bawah. Greyland memutar silinder di jari, mengamati ujung-ujung katupnya. Ia bisa mencari sumbernya dengan meneliti ukiran serta bahan silinder tersebut. "Mau kuselidiki sekalian asalnya?" tanyanya. "Kita bisa temukan dan potong arusnya dari melacak benda ini."


"Silakan. Memang itu yang kuinginkan."


"Kau akan melibatkan Aston Yard?" Greyland menyebut nama jalan bertempatnya markas pusat kepolisian Aston. Nama jalan itu juga digunakan untuk menyebut kepolisian Aston.


"Tentu." Edgar menyeringai. "Tapi hanya setelah semuanya selesai. Lagi pula, polisi memang harusnya datang paling akhir, kan?"


Mereka menderap keluar manor sambil terkekeh, bergerak menuju mansion Hastings.


***


Tepat pukul empat pagi, Jacob akhirnya menemukan Spencer. Pria itu berada di salah satu tempat hiburan di sudut Aston, wiskinya sedang dituang oleh seorang perempuan setengah telanjang berkostum etnik Asia Tengah ketika orang-orang Jacob menyergap, menutup kepala pria itu dengan karung goni, lalu menyeretnya keluar bar.

__ADS_1


Spencer bahkan tidak sempat merasa kaget. Ia mendengar suara jerit dan pekik, mendengar suara gelas pecah dan kayu-kayu bertubrukan, kedua tangannya dicekal dan diikat ke belakang punggung, begitu pula kedua kakinya. Aroma pengap rami mengurung kepalanya.


Ketika Spencer menyadari apa yang sebenarnya terjadi dan bahwa seharusnya ia memberontak lebih keras, semua sudah terlambat. Ia sudah berada jauh dari keramaian kota, dilempar ke atas tanah keras berdebu dalam keadaan terikat. Dadanya sakit. Lututnya lecet. Ia berteriak dengan wajah tertutup karung. Uap panas napasnya mengenai wajahnya sendiri, membuatnya berkeringat. Ia berseru, mengancam, dan berguling, tapi seseorang menjejak punggungnya dari belakang dan membuat dagunya menghantam tanah. Ia bisa merasakan sol bot yang keras.


"Arthur Spencer!" sebuah suara berkumandang keras. "Ini yang terjadi kalau kau mencoba menggigit lebih banyak dari yang sanggup kau kunyah!"


Spencer mengenal suara angkuh itu. Jantungnya berdegup panik.


"Argent!" jeritnya dengan bibir pecah tergigit. Tidak ada suara manusia lain, tapi ia merasakan hawa kehadiran banyak orang. Kemungkinan anak buah Jacob. Di tengah bau rami dan bau napasnya sendiri, ia juga mencium aroma kayu lapuk jamuran. Spencer menebak ia sedang berada di salah satu gudang kayu tua milik Argent di pinggiran Aston. "Kau tidak bisa melakukan ini! Keparat!" pekiknya panik, "Lepaskan aku sekarang! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!"


Jacob tergelak pendek, kedengaran tak terkesan. "Dan kenapa menurutmu aku tidak bisa?" tanyanya dingin.


Karena hukum. Spencer ngeri ketika menyadari bahwa Argent mungkin saja tidak peduli pada hukum. Selama ini ia berani bergerak hati-hati karena berpikir Argent akan bermain dalam batasan yang diizinkan terlihat oleh hukum. Ia bersama Hasting, yang bisa membuat keajaiban sihir, juga bisa mendatangkan uang mudah dari orang-orang bodoh yang mabuk agama. Ia melihat sendiri bahwa Marco dibuat kebingungan dengan misteri Bjork, dan semua itu membuatnya lebih percaya diri, merasa bahwa mereka akan menang. Ia merasa dirinya aman karena berpikir Argent tidak akan main vulgar dan membuat kekisruhan di dunia atas. Marco tidak mungkin melukainya terang-terangan dan membuat posisi keluarganya jadi buruk. Itu pertimbangannya.


"Kau melewati batasanmu, Spencer," kata Jacob. "Dan kematianmu akan menjadi contoh bagi yang lain."


"Kau?" Jacob mendengus, menekan sepatunya lebih keras hingga pria di bawahnya mengeluarkan bunyi rengekan. "Membantuku?" ulangnya dengan nada tersinggung. Rapier-nya mengeluarkan suara desing manis ketika dihunus. Ia menyentuhkan ujungnya yang tajam ke tengkuk Spencer. "Apa aku pernah bilang aku butuh bantuanmu?"


"Aku akan cerita semua hal!" pekik Spencer dalam sisa-sisa pertahanan dirinya. Suaranya pecah dan bergetar ketika memohon tanpa harga diri. Bahkan orang-orang Jacob yang berkeliling menunggu di sana ikut merasa malu mendengarnya.


"Cerita apa? Aku sudah terlalu tua untuk bisa dihibur dengan dongeng."


"Bukan dongeng! Bukan dongeng! Hastings ingin menyingkirkan Marco!" Spencer mencicit, mencerocos tanpa mengambil napas, "dia yang ingin! Aku cuma pedagang biasa. Tolonglah, aku bisa membantu kalian! Hastings ingin memonopoli jalur dagang Bjork-Aston, dan dia bekerja sama dengan iblis! Dia bekerja sama dengan Duke Ashington! Dia membuat sekte, buat okult! Gerhana cincin besok dia mau melenyapkan Bjork! Aku cuma pedagang biasa! Cuma mau berdagang! Aku ... aku akan pergi dari Bjork, aku akan ke luar Albion! Lepaskan aku!"


"Pedagang biasa yang menyelundupkan kokain?" Jacob menginjak lebih keras hingga tulang punggung Spencer berderak, tidak peduli sama sekali pada bagian klenik yang diungkit karena bukan itu urusan yang diserahkan Edgar padanya. Spencer melolong kesakitan.


"Itu Flora!" serunya, terbatuk karena menghirup sepihan goni. Ia menarik napas dengan sukar dan tersedu. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya basah kuyup dalam karung. "Flora yang salah! Entah dari mana dia dapat itu! Aku cuma mau jual buah kalengan! Bukan! Aku tidak mau berdagang lagi, sumpah! Lepaskan aku!"

__ADS_1


Jacob menyingkirkan kakinya. Spencer sudah merentetkan ucapan terima kasih dan syukur dari dalam karung goni, hendak berguling bangun. Namun begitu Jacob menjauh, para tukang pukulnya gantian mendekati Spencer.


"Argent?" Spencer menggerakkan kepala dengan bingung. Jantungnya berdeburan keras. Ia berguling miring, kakinya menendang-nendang panik mendengar suara langkah yang makin mendekat. Tidak ada yang bisa dilihatnya selain debu pada anyaman goni. "Argent!" jeritnya ngeri, mulai menyumpah dan mengutuk dalam kata-kata paling keji begitu tahu apa yang akan terjadi. "Aku mengutukmu! Aku mengutuk semua Argent!" jeritannya tertutupi bunyi pukulan bertubi-tubi.


Jacob berjalan tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Matanya tertuju pada sekumpulan pria bermantel panjang dengan topi-topi tinggi yang berkerumun di depan daun pintu gudang kayu untuk berlindung dari tiupan dingin angin pagi. Mereka semua berwajah tenang, seperti memakai topeng kayu. Meski begitu, hanya sedikit yang bisa menyembunyikan sorot takut di mata mereka.


"Masih ingin bukti lagi?" Jacob tersenyum.


"Kami salah menilai," gumam seorang dari kumpulan itu.


"Tapi cara semacam ini terlalu ... barbar," sahut yang lain, ekspresinya terpilin sakit ketika mendengar apa yang terjadi dalam kegelapan di gudang itu. Pria itu menjilat bibirnya yang kering dengan gugup. Matanya melirik gelisah. "Apa selalu begini cara Argent menyelesaikan masalah?"


"Tidak." Jacob menggeleng dan tersenyum sangat manis. "Begini cara kami membereskan pengkhianat." Ia mengangkat tangan, memberi tanda. Dari sekeliling mereka muncul banyak lagi tukang pukul dari persembunyian. Semuanya membawa senjata.


Para pria bertopi tinggi di muka gudang segera saling merapat. Bodohnya, tidak ada yang membawa senjata.


"Apa maksudnya ini?"


"Kau tidak bisa melakukan ini Argent!"


"Kau akan berurusan dengan hukum!"


Jacob bahkan tak peduli siapa yang bilang apa. Ia menjauhkan diri dan melambai riang, mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang dalam daftar nama yang dibakar ayahnya. Edgar tidak peduli pada ikan-ikan kecil seperti itu, tapi Jacob peduli. Orang-orang kecil tak berarti itu bisa saja membahayakan keluarganya kalau dibiarkan. Jacob bukan orang yang suka membiarkan paku kecil mencuat dan melukai keluarganya. Semua harus dipukul rata.


"Kalian pikir meski berusaha membunuh Marquis Argent dan menyerang rumahnya, selama berada di jalur yang aman maka hukum akan melindungi kalian," serunya sambil berjalan mundur, menikmati melihat raut putus asa serta kengerian pada wajah-wajah itu. "Tapi dengan melibatkan narkotik, kalian sudah bukan kelompok dunia atas lagi. Kalian berada di Albion bawah!" Jarinya menunjuk tanah. Ia berhenti dan melanjutkan dengan nada sekelam malam, "di sini, hukum Argent yang berlaku."


Jacob mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi ke langit dan menjentikkan jari sebagai isyarat. Para pekerjanya menderap.

__ADS_1


***


__ADS_2