
Ketika Jose datang sambil membawa alat pancing dan juga seember ikan, Nolan hampir ingin membuang semua pemberian itu, tetapi segera dibatalkannya. Ia sedang butuh bicara. Harus. Kalau tidak, kepalanya pasti akan pecah dan ia yakin akan segera gila.
Maka, ikan-ikan itu ia berikan pada bibinya di dapur sementara ia sendiri berjalan ke jembatan perbatasan dengan Jose. Lelaki itu mengajaknya memancing sebagai penebusan sikap kasarnya kemarin, tetapi Nolan tidak merasa Jose pernah bersikap kasar, dan ia sedang tidak ingin memancing. Jadi, mereka berdua hanya jalan-jalan tak tentu arah.
“Wajahmu pucat,” komentar Jose ketika mereka duduk di pinggiran berbatu sekitar jembatan perbatasan. “Kau sakit?”
Nolan menoleh heran. Bahkan keluarganya saja tidak menyadari perubahan raut wajahnya, tetapi orang yang baru saja ia temui malah bisa membedakan dengan cepat. Ia menggeleng pelan sebagai jawaban, tetapi kemudian berkata dengan suara pelan, “Yang kemarin kita lihat itu beneran ada atau tidak, sih?”
Jose menoleh, terlihat berpikir agak lama sebelum menjawab, “Ada sungguhan, kok. Musang, kan?”
Kedua pipi Nolan merona cepat. Ia menatap Jose degan mata berkilat-kilat karena marah. “Apanya yang musang?!”
“Bukannya kau cuma lihat musang kemarin?”
“Kau ini ternyata pendendam, ya!” Nolan berteriak kesal.
“Lho, kenapa kau jadi marah?” Jose bertanya heran.
“Kenapa kau terus-terusan bicara soal musang?” balas gadis di depannya. Kakinya dientakkan ke tanah sebagai tanda ketidaksenangan.
Jose menatap ke sekeliling dengan khawatir, takut kalau banyak orang mengiranya sedang melakukan hal buruk sehingga membuat anak gadis berteriak-teriak. Tidak ada satu pun orang dari Bjork sebelah selatan maupun utara yang kelihatan. Jembatan penyeberangan memang sering dihindari oleh orang-orang, entah apa sebabnya. Jose mengembalikan tatapan pada Nolan. Gadis itu sudah berjalan menjauh dengan langkah panjang-panjang, mendadak marah untuk hal yang tidak bisa dimengerti oleh Jose.
Kenapa sih dengannya? Jose membatin heran. Serius, aku jadi benar-benar tidak mengerti apa yang harus kulakukan kalau ingin bicara baik-baik dengannya.
Nolan sendiri sebenarnya tidak benar-benar marah pada Jose. Ia kesal pada dirinya sendiri. Harusnya ia minta maaf atau menceritakan yang sebenarnya, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Ia selalu marah. Apalagi saat melihat kedatangan Jose tadi, para tetangga memberi gestur dukungan yang memuakkan. Bibinya menerima seember ikan dengan wajah bahagia berlebihan, bahkan sampai menitikkan air mata segala.
“Sebenarnya kau ke sini mau apa, sih?” Nolan berbalik, sedikit lega melihat Jose masih mengikuti di belakangnya. Barusan ia sudah khawatir saja kalau lelaki itu tersinggung lagi dan pergi.
“Minta maaf,” jawab Jose enteng, seolah kata maaf sama sekali tidak menanggung beban tertentu baginya. Ini membuat Nolan sangat kesal, terlebih karena baginya, minta maaf adalah kalimat yang sangat sulit untuk diucapkan
“Memangnya ada salah apaan sampai minta maaf segala? Dan bukannya aku sudah bilang, mending kamu enggak usah ke sini?”
__ADS_1
Bukan, bukan, bukan! Nolan memarahi dirinya sendiri dalam hati. Aduh, aku ngomong apaan sih? Kenapa mulut ini cuma bisa ngomong hal yang jahat, sih!!!
Mereka berdua saling pandang dalam diam. Nolan tidak kuat bertatapan lama-lama, jadi ia menundukkan pandangan, bimbang harus melakukan apa.
“Kau marah karena alat pancingmu ketinggalan di hutan, kan?” Jose menerangkan dengan nada ringan yang biasa, seolah ia sama sekali tidak merasa sakit hati. Seolah hatinya terbuat dari spons yang menyerap habis semua emosi negatif. “Dan ikan-ikanmu juga. Apa aku belum dimaafkan?”
Nolan merasa frustrasi.
“Kau itu tidak salah! Untuk apa minta maaf segala, sih?!” teriaknya. “Kau sudah dipermalukan kemarin, aku tidak kompak denganmu saat memberi kesaksian, dan ... dan malah kau yang minta maaf? Pakai bawa-bawain pancing segala, pancingnya yang mahal, pula! Otakmu itu di mana sih? Ada atau enggak?”
Jose menganga, tidak menyangka malah akan dimarahi karena bermaksud baik. Ia menelengkan kepalanya ke satu sisi, menatap wajah Nolan yang terengah-engah kehabisan napas karena berteriak tanpa jeda.
“Maaf—“
“Sudah dibilang, jangan minta maaf!” teriak Nolan lagi. Kedua pipinya sampai merona merah.
“Oke, oke,” Jose mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai isyarat menyerah. Ini bukan pertama kalinya ia diteriaki dan dimarahi oleh orang lain. Kemarahan Nolan sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan level marah Maria atau Marco, tetapi seperti ada kekuatan misterius pada diri gadis itu yang membuat Jose ingin selalu mengalah. “Kalau kau tidak suka aku di sini, aku pergi saja, tidak perlu marah ...”
“Siapa bilang aku tidak suka?” balas Nolan cepat, otomatis. Lidahnya bahkan sampai hampir tergigit.
Nolan menarik napas panjang, kemudian akhirnya menggeleng pelan. Rasanya sukar sekali untuk jujur mengatakan apa yang dia pikirkan.
“Kabut sebentar lagi datang,” gumamnya pelan.
Jose menatap ke sekeliling dengan sebal. Ia masih belum sempat mengatakan apa pun pada Nolan. “Kau mau ke sebelah utara sebentar?”
Nolan mengangkat wajah dengan heran. Ini pertama kalinya ada orang dari sebelah utara menawarkan hal seperti itu padanya. “Kami dilarang melintas kalau tidak ada perlu,” ucapnya. “Kau tahu kenapa aku datang mengendap-endap ke rumahmu? Kalau polisi patroli tahu aku dari Selatan, mereka pasti akan menyulitkan aku.”
“Kau kan bersamaku, tidak akan ada polisi yang mempersulit kita.” Jose mengulurkan tangannya. “Ada yang perlu aku bicarakan, oke?”
Nolan menoleh ke belakang dengan ragu. Tidak ada orang di sekitarnya yang bisa dimintai pertimbangan. Kakinya bergerak sedikit ragu, membuatnya sebal. Biasanya ia tidak pernah ragu-ragu, apalagi gemetar kalau bicara dengan orang lain.
__ADS_1
“Kenapa? Perlu pamitan dulu? Biar aku saja yang bicara,” ucap Jose ketika menangkap arah pandang Nolan.
Gadis itu menggeleng cepat. “Tidak akan ada yang mencariku, kok. Mereka tahu aku bisa menjaga diri sendiri.”
Dalam sekejap, kalimat terakhir yang diucapkannya dengan bangga sudah membawa Nolan menyeberangi jembatan.
Seperti kata Jose, Nolan melihat sendiri bahwa meski polisi patroli berkeliaran dengan tampang seram, tidak ada yang berhenti untuk menginterogasinya. Beberapa orang malah mengangguk dan memberi senyum ke arahnya—sebenarnya ke arah Jose.
“Aku tahu rumahmu memang besar, tapi tidak menyangka kau berpengaruh sekali di sini,” komentar Nolan.
“Yang punya pengaruh bukan aku,” sahut Jose tenang. “Itu karena nama Argent. Kau mau makan crepes?” Dia menunjuk pada salah satu pedagang keliling yang lewat.
Nolan menggeleng pelan. Ia merasa silau. Matahari terasa menyilaukan di sebelah utara, membuatnya makin marah dan merasa bahwa Tuhan benar-benar tidak adil. Orang-orang kaya di sebelah utara diberi segala kemewahan, bahkan alamnya juga. Di sini matahari bersinar hangat dan cuacanya sejuk, sementara orang-orang di sebelah selatan cuma bisa menikmati kabut dan udara dingin. Dan Hantu Hitam.
“Kau mau bicara apa?” Nolan menukas ketus. Tiba-tiba ia merasa ingin cepat pulang.
Jose tetap membeli dua buah crepes, menyerahkan satu yang rasa cokelat pada Nolan. “Sebenarnya kau juga melihat makhluk itu kan kemarin?”
Nolan membeku. Crepes yang ia telan tiba-tiba terasa terlalu kering, membuatnya batuk-batuk. Jose bergeming.
“Kau tahu?” tanya Nolan setelah batuknya usai. Crepes dalam genggamannya hampir remuk karena dia mencengkeram terlalu erat.
“Tentu saja tahu.” Jose memutar bola mata. “Aku melihatmu jatuh waktu itu. Kau membeku di tempat melihatnya. Memangnya kenapa lagi aku menggendongmu?”
“Aku tidak takut!”
“Hey, aku juga tidak pernah bilang kau takut.” Jose menggigit crepes berisi es krim miliknya. Matahari sudah melelehkan sedikit es bagian atas. “Wajar saja kalau orang mematung melihat makhluk itu. Aku saja masih merinding tiap kali memikirkannya.”
“Begitu, ya?” Nolan menghela napas lega, sekarang mulai tenang. “Eh, aku ... kemarin aku bukannya bermaksud bohong. Tapi, habisnya—“
“Aku mengerti,” sahut Jose. Nolan kelihatan susah sekali menyampaikan permintaan maaf atau ekspresi menyesal, membuat Jose sebenarnya ingin membiarkan saja gadis itu meyelesaikan kalimatnya meski terbata-bata, tetapi dibatalkan karena Jose ingin bicara dengan serius. “Aku tahu, kok, bagaimana posisimu. Bagaimanapun, aku cuma orang asing di sana.”
__ADS_1
“Jadi, kau tidak marah?”
“Tidak. Daripada itu, aku ingin bicara sesuatu.” Jose menarik siku Nolan, bermaksud mengajaknya duduk di suatu tempat daripada bicara sambil berdiri, namun pandangannya malah membentur orang lain yang berpapasan dengan mereka; Maria.