BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 57


__ADS_3

Jose memang tidak tertarik pada gosip yang beredar tiap acara minum teh, tetapi itu tidak menjadikannya benar-benar buta pada kondisi dan situasi yang terjadi di Bjork belakangan ini. Sepeninggalan Dave, orang yang paling panik sekaligus menjengkelkan adalah Lidya.


Memang, patut dimaklumi karena Lidya adalah pacar Dave yang paling lama, tetapi Jose tahu bahwa gadis itu terlalu berlebihan. Lidya harusnya merawat diri sendiri dengan istirahat, bukannya datang dari satu rumah ke rumah lain untuk memberi tahu informasi terkini yang didapatnya dari polisi—yang sebenarnya tidak ada. Polisi masih belum berhasil melacak ke mana Dave pergi. Sama seperti orang-orang yang hilang sebelumnya, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan dari Dave.


Jose sendiri lebih merasa bersalah daripada Lidya. Lebih daripada siapa pun, ia yang paling berharap kawannya itu kembali dengan selamat. Ia benar-benar berharap Dave cuma sedang pergi seperti biasa, lalu akan kembali beberapa hari kemudian sambil tertawa santai dan berkata bahwa semua orang berlebihan. Jose berharap begitu.


“Jose!” sebuah suara tinggi yang manis mengusik lelaki itu dari lamunan.


Jose mengangkat wajah dari majalah di tangannya, mendapati Maria datang bersama tiga orang perempuan lainnya. Yang dua orang adalah karyawan toko, sementara yang satunya ....


“Nolan?” Jose mengerjap terkejut. Gadis itu sama sekali tidak mirip dengan Nolan yang ia kenal.


Rambut pendeknya yang pirang ikal disisir rapi, tampak cemerlang tertimpa lampu ruangan, entah shampo macam apa yang mereka pakai. Gaun terusan yang dikenakannya berwarna putih tanpa lengan dengan motif pola yang manis. Sepatu datar bertali hitam dikenakan pada kedua kakinya. Wajah gadis itu bersih dan manis karena riasan. Bahkan kuku-kuku tangan Nolan pun terlihat bercahaya. Hanya wajah gadis itu yang kelihatan muram, kontras dengan mata biru jernih cemerlangnya.


“Pakaiannya tipis sekali, aku bisa masuk angin!” gumam Nolan, sebuah protes yang menyiratkan kekalahan. Jose bisa melihat bahkan gadis seliar itu juga kalah di hadapan paksaan Maria.


Maria juga sudah berganti pakaian dengan yang lebih indah. Manis, tetapi tidak mewah atau berlebihan. Itulah gaya yang diajarkan pada keluarga Garnet. Tidak ada perhiasan berlebih, hanya kalung liontin berwarna hijau kebiruan yang diberikan Jose sebagai hadiah ulang tahun Maria tahun ini.


Tadinya Maria memang mendandani Nolan habis-habisan untuk mengerjainya, dan karena ia benar-benar penasaran akan seperti apa anak itu setelah bersih. Kalau ternyata Nolan sama jelek dan dekil dengan sebelumnya, Maria benar-benar akan ’membantai ‘anak itu supaya menjauhi Jose—tidak peduli meski lelaki itu akan marah. Lagi pula Jose tidak pernah marah padanya.


Namun ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Nolan berubah jadi sangat cantik. Dan ketika bicara dengannya, ia menyadari bahwa Nolan bukan gadis dungu. Gadis itu tahu cara berlogika dan kalimatnya beraturan, sangat tertata untuk seorang gembel. Andai saja bahasa yang digunakannya tidak kasar dan ia lebih kalem, Nolan akan kelihatan seperti gadis terhormat.


Maria menahan dirinya supaya tetap tenang dan tidak kelihatan cemberut. Ia sebal melihat senyum Jose sekarang. Ia tidak senang melihat keakraban pembicaraan dua orang di depannya.

__ADS_1


Rasanya ada yang aneh. Ia tidak mengerti kenapa dalam hatinya ada kekesalan yang memuncak. Cemburu? Tidak, bukan itu. Maria yakin bukan cemburu. Ia cuma kesal karena Jose akrab dengan orang yang tidak tahu adat. Ini adalah kepedulian yang wajar pada sahabatnya.


Sementara Maria sedang meyakinkan diri, Nolan benar-benar rikuh saat berjalan. Ia bisa merasakan semilir angin membelai pahanya, karena gaun itu cuma sampai sebatas lutut saja. Yang dipakainya adalah gaun bermodel tanpa lengan, kainnya terbuat dari bahan yang ringan dan lembut, membuatnya merasa malu.


Ia merasa dirinya terlihat konyol dan sudah siap-siap berlari pulang kalau Jose tertawa, tetapi lelaki itu menyambutnya dengan senyum ramah yang biasa.


“Kau kelihatan beda,” ucap Jose.


“Tentu saja!” sahut Nolan ketus sebagai benteng pertahanan awal. “Kalau kau tidak bisa membedakan celana dengan rok, kurasa ada yang salah pada matamu!”


“Tidak, maksudku, kau kelihatan cantik. Biasanya memang keren, tapi penampilanmu yang sekarang pasti bisa menipu puluhan mata.”


“Jose, kau kedengaran seperti lelaki hidung belang,” komentar Maria dari samping.


Nolan mengalihkan pandangannya pada cermin besar yang disediakan di tiap pilar toko. Ada bayangan dirinya di sana. Bukan lagi sosok gadis cembung yang ia lihat pada kotak eskrim, tetapi orang yang lain. Tubuhnya kurus, tetapi kulitnya bersih. Rambutnya disisir dengan gaya.


Kedua pipinya terlihat merona di cermin. Nolan sampai heran melihat bayangannya sendiri. Itu seperti bukan dirinya. Tetapi Nolan cukup menyukai yang ini. Setidaknya, Jose memujinya.


Ia tidak tahu kenapa ekspresi dan kesan Jose begitu memengaruhi suasana hatinya. Nolan merasa malu menyadari itu dan segera menghapus perasaannya cepat-cepat. Di sebelah kiri, Maria menatapnya dengan ganjil.


***


“Kau yakin tidak mau mampir sekalian?” tanya Jose sebelum Maria masuk ke dalam mobil jemputannya.

__ADS_1


Gadis itu memberi cengiran manis sebelum menggeleng. “Orang tuaku memanggil satu cowok lagi untuk dinilai,” ujarnya sambil mengerling. “Mereka masih terus berusaha membuatku menikah, ribut ini itu soal umur. Aku mau lihat badut mana lagi yang harus kutolak.”


Alasan. Memang benar, orang tuanya menerima satu lagi lelaki yang ingin melamar sebagai tamu, tetapi lelaki itu datang nanti sore. Maria tidak harus pulang ke rumah sekarang. Namun ia memang sengaja menghindar. Sudah cukup baginya melihat Jose dengan Nolan. Kalau lebih lama lagi, Maria tidak tahu apa yang akan ia pikirkan atau ucapkan. Baginya, mendandani Nolan saja sudah cukup aneh. Maria tidak merasa bertingkah seperti dirinya yang biasa. Ia memutuskan untuk pulang dan menenangkan diri.


“Lagi pula, aku masih ada kelas nanti,” lanjut Maria sambil mendekat, mengecup pipi kiri Jose sebagai salam. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan melaju pergi, mengabaikan wajah heran lelaki itu.


“Apa kalian memang selalu begitu?” Nolan bertanya.


“Seperti apa?” balas Jose, masih heran dengan kelakuan Maria yang membingungkan. Tetapi gadis itu memang tidak pernah gampang dimengerti, jadi ia tidak memikirkan arti ciuman barusan terlalu dalam. Ia menoleh, mendapati Nolan memandang lurus kepadanya, dan menyadari apa maksud anak itu. “Tidak. Dia memang selalu begitu pada teman-teman perempuannya, tapi biasanya tidak padaku.”


“Dia sengaja,” gumam Nolan sebal.


“Apa?”


“Tidak. Tidak apa-apa. Jadi, kau mau membiarkanku seperti pelawak dengan pakaian seperti ini atau bagaimana?”


Jose tersenyum geli. “Kau tidak seperti pelawak, tenang saja.”


“Aku merasa lucu.”


“Tidak lucu, kok. Kau terlihat berbeda, tapi bukan lucu. Menarik, kurasa.”


Nolan menerima pujian itu dengan hati melambung, meski bersikeras memasang wajah lempeng.

__ADS_1


__ADS_2