
Marco tidak jadi pergi ke Gedung Diskusi dan langsung pulang karena Rolan mengutus pelayan untuk memanggilnya. Sesuatu yang gawat telah terjadi, begitulah yang dikatakan dokter pribadi keluarga Argent. Begitu sampai di rumah, pria tua itu melangkah cepat dan tegap ke kamar kerjanya di lantai dua. Rolan sudah menunggunya di sana. Ketika melihatnya datang, Rolan segera bangkit dari duduk dan menghampirinya. Pria itu kini mengenakan jas dokternya yang berwarna biru muda, bukan putih seperti pada umumnya. Emblem Kedokteran Bjork disulam dengan benang emas pada bagian saku.
“Apa yang terjadi?” Marco melepas topi penangkal matahari dan menaruhnya di gantungan jas. Sesulit apa pun kondisi yang terjadi, prinsipnya adalah selalu tetap tenang. Atau lebih tepatnya, tetap terlihat tenang.
Rolan tidak bicara, malah berjalan ke arah Marco, menggamit lengannya, lalu menarik pria menjauh dari pintu. “Kau kehilangan satu pelayan lagi. Semua orang ketakutan.”
Mata Marco bersinar penuh tanda tanya. “Siapa yang hilang?”
“Pekerja muda yang bernama Jack.”
Dalam kepala Marco segera terbayang sosok pemuda kurus kecil yang baru menginjak usia belasan. Baru saja lulus sekolah dan mulai membantu bekerja di bawah komando Gerald. Anak itu yatim piatu, keluarga Argent menemukannya mencuri di jalan dan Edgar memutuskan untuk mempekerjakannya.
“Apa maksudmu dengan ‘hilang’?” Marco berkata, suaranya direndahkan sepelan mungkin. "Minggat?"
Rolan menggeleng pelan. “Lenyap tanpa bekas. Benar-benar hilang. Gerald memintanya memperbaiki atap kandang kuda, lalu dia hilang.”
“Padahal masih siang?” Marco berkata heran.
“Padahal masih siang,” gumam Rolan setuju. “Pekerjaannya sendiri belum selesai. Malah belum dikerjakan. Gerald marah dan mencari-cari anak itu ke seluruh rumah. Dia hilang.”
“Mungkin dia bukan hilang dalam artian seperti itu, tapi hanya main?” Marco berusaha memikirkan pilihan yang lebih rasional. “Dia sedang dalam masa remaja, mungkin dia bosan atau bagaimana? Terakhir kali, dia jatuh saat mengejar penyusup yang masuk, kan? Mungkin dia sebenarnya ingin istirahat.”
__ADS_1
"Aku tidak mungkin memanggilmu pulang kalau dia cuma kabur, kan?" Rolan menggeleng, memberi geraman frustasi. “Dia anak yang rajin dan serius bekerja! Aku sudah bertanya pada semua orang kemungkinan semacam itu. Kepala pelayanmu memberi jaminan bahwa Jack bukan tipe orang semacam itu.”
Marco mengerutkan kening, menatap lurus-lurus ke dalam mata cokelat Rolan, kemudian berkata pelan, “Ada yang belum kau katakan? Aku melihat sepertinya kau mengetahui sesuatu.”
Rolan menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum menghela napas. Ia merendahkan suaranya saat berkata, “Katanya, sebelum dia hilang, dia masuk ke Ruang Perawatan.”
“Untuk apa?”
Rolan menggeleng. Ruang Perawatan adalah nama julukan untuk kamar-kamar yang letaknya di bagian belakang rumah, digunakan untuk mengisolasi orang yang sakit. Karena tidak diperbolehkan membawa Linda atau Anna pergi dari rumah Argent, Rolan memanfaatkan tempat itu untuk merawat sekaligus meneliti kedua dayang Renata.
“Aku coba bertanya pada dua dayang itu, tetapi mereka memang belum bisa diajak berkomunikasi. Anna malah semakin ketakutan dan meracau tidak jelas.”
“Apa racauannya?” tanya Marco segera.
“Soal apa? Aku tidak bisa membaca pikiran.”
“Maksudku, penyebab hilangnya pelayanmu!” Rolan jadi jengkel. “Apa kau pikir ini masih berhubungan dengan Charles? Atau kau mulai setuju bahwa kita berhubungan dengan hal mistis di sini?”
“Kau ini dukun atau dokter?” Marco tertawa. Ia memberi tatapan tajam ke balik kaca mata Rolan, berusaha menelisik sejauh mana pria itu mau berupaya membujuknya. Marco sudah berurusan dengan banyak hal sepanjang hidupnya. Ia tidak heran dengan penampakan semacam siluman atau hantu, dan kemungkinan tentang adanya monster pengisap darah pun masuk juga dalam pertimbangannya menyoal kasus orang hilang dan darah habis.
Tetapi kembali pada prinsipnya semula, Marco tidak pernah bersedia memperlihatkan isi hati atau isi kepalanya di depan orang lain. Ia lebih suka menguji kesabaran satu orang untuk melihat sampai sejauh mana batas yang bisa dilewatinya.
__ADS_1
Rolan menangkap celaan pada pertanyaan retoris yang dilontarkan Marco, tetapi tidak menggubrisnya. Ia sudah cukup lama bekerja di dunia bawah tanah. Celaan, makian, bahkan perkelahian sudah sering dialaminya. Memang, kalau kalimat ejekan tersebut keluar dari bibir Marco, rasanya ada yang beda. Sepertinya pria tua itu punya bakat menghunjam tubuh seseorang dengan kata-kata. Tetapi Rolan tetap bertahan pada kesimpulan awalnya, ini bukan pekerjaan manusia. Tetapi kalau begitu, apa yang membuat Jack dipilih sebagai korban? Apakah pelenyapan itu terjadi secara acak atau ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi?
Rolan mengungkapkan pertanyaan tersebut pada Marco, yang di luar dugaan, memberi tanggapan yang serius kali ini.
“Coba berikan padaku daftar orang-orang yang pernah kau tangani.”
Orang Yang Pernah Kau Tangani tentu saja berarti adalah mayat-mayat yang pernah diurus oleh Rolan sehubungan dengan kasus orang hilang di Bjork. Rolan mengangguk paham, kemudian berjalan ke luar kamar untuk mengambil tas berisi file-file medisnya. Ia menyimpan semua keterangan yang detail ke dalam sebuah map khusus dan meletakkannya di dalam kamarnya. Ketika kembali ke kamar kerja Marco sambil membawa tas kopor hitam berisi berkas yang diminta, Marco sudah menunggu dengan sajian makanan ringan yang ditata dengan begitu artistik dan mewah.
Seteko cangkir kopi dalam wadah porselen ditaruh manis di atas meja rendah, diiringi dua cangkir berisi cairan hitam pekat yang mengepulkan asap panas. Ada krim dan susu ditaruh dalam wadah perak di sana, ditambah kue-kue kecil beraneka rasa. Dari manis, gurih, pedas, sampai sedikit pahit seperti kue rasa teh hijau. Rolan bersiul melihatnya, dalam hati memuji kecepatan gerak para pelayan di rumah ini. Ia bisa menduga, Marco pasti memberi perintah yang tiba-tiba untuk menyiapkan segalanya.
“Bagaimana dengan Jack sendiri?” Rolan bertanya sambil menaruh birit di atas sofa. Ia meletakkan tas hitamnya di bawah, kemudian mengeluarkan tiap berkas dengan hati-hati, memilah dan menumpuknya di samping teko kopi. “Kau akan menghubungi polisi?”
“Apa yang bisa kulaporkan pada mereka?” Marco berkata di seberangnya. “Pekerjaku yang masih remaja hilang di siang bolong pada saat diberi tugas?” Marco mendengus. “Berapa lama anak itu hilang? Hitung waktunya, masukkan catatan. Ambil keterangan dari semua pelayan, tanyai satu per satu kapan, di mana, jam berapa tepatnya terakhir kali mereka melihat Jack.”
“Kau menyuruhku melakukan itu?” Rolan menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. “Selagi aku sedang sibuk memeriksa dokumen yang juga kau minta?”
Marco mengesah. “Tentu saja tidak. Kalau kau yang berkeliaran di sana, untuk apa aku menggaji pelayan?”
“Kalau begitu, kau kan bisa bilang langsung kalau kau menyuruhku memerintahkan George!” Rolan bersungut-sungut.
Pria tua di depannya tertawa. Rambut peraknya terguncang kecil tiap kali dia bergerak. “Apa aku harus selalu menyuapi apa saja yang perlu kau lakukan, Rolan?”
__ADS_1
“Baiklah, baik,” potong Rolan cepat sebelum Marco menemukan cara lain untuk mencelanya. Ia memanggil George, memberinya rincian detail untuk mengorek kesaksian para pelayan. Sementara Geroge menyuruh lagi beberapa pelayan senior untuk melakukan itu demi efisiensi waktu, Rolan kembali memilah-milah data dalam waktu yang lumayan lama.