
“Mereka baik, tapi aku menyarankan Renata untuk mencari dayang baru. Mereka akan kupindahkan ke tempat yang lebih segar dan tenang, keduanya masih trauma.”
“Kalau kau memindahkan mereka, orang akan mengira bahwa ada sesuatu yang terjadi,” tegur Marco.
“Memang terjadi sesuatu, kan?”
“Tidak ada sesuatu yang terjadi sedemikian besar sampai dua orang dayang perlu dipindahkan ke luar rumah Argent.”
“Kau tidak mengerti, ini bukan soal pemindahan—“
Namun Marco menghentikan bantahan Rolan dengan mengangkat sebelah tangannya. “Kau yang tidak mengerti,” ucapnya. “Ini soal menjaga kestabilan rumah.”
“Kestabilan?” Rolan berusaha menjaga agar suaranya tidak terdengar mencemooh. “Dengar, kalau dua orang itu dibiarkan saja di sini, orang-orang justru akan bergosip makin santer. Itu kan yang kau cemaskan? Kau mencemaskan gosip! Coba bayangkan, dua orang dayang yang harus dirawat oleh pelayan lain. Mungkin awalnya mereka tidak akan berani bicara. Tapi kemudian mereka akan mengeluh tentang kenapa mereka harus melayani seorang pelayan—meski kita tahu, dayang bukan pelayan, para pelayan tidak akan mau tahu—lalu apa yang terjadi? Mereka akan bergosip! Itu yang kau mau?”
Marco mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja, terlihat gusar. “Masalah ini makin pelik. Apa yang dimau orang itu di rumah kita?”
Rolan menggeleng pelan. “Kau yakin yang menyusup ke rumahmu memang orang itu?”
“Memangnya siapa lagi? Menurutmu ada hantu sungguhan?” Marco memutar bola matanya. “Sudah jelas ini kerjaan Charles Hastings. Dia pasti ingin menebar teror di rumah kita.”
“Aku ragu Charles bisa berpindah tempat demikian cepat,” Rolan berkata. Charles adalah saingan dagang Marco. Pria itu ingin menjatuhkan Marco berulang kali. “Jose bilang, dia pertama melihatnya di pondok Higgins. Kemudian dia melihatnya lagi di sayap kamarnya.”
“Waktunya cukup kalau cepat. Charles tentu saja tidak akan turun tangan sungguhan dan menyusup. Dia punya sekelompok pembunuh bayaran. Kau sendiri tahu betapa cepatnya orang-orang bayaran itu, kan?”
“Tentu saja. Tapi berpindah dari sayap barat ke timur? Itu bahkan terlalu cepat untuk ukuran citah!”
“Kau sendiri yang bilang bahwa rumah ini bisa saja punya jalan rahasia," Marco mengingatkan.
__ADS_1
“Ah, itu kan baru spekulasi. Kita tidak benar-benar tahu apakah rumah ini memang punya atau tidak. Apalagi kau juga bilang, rumah sebelah timur sudah mengalami renovasi berulang kali. Bisa saja, dengan suatu cara seseorang pindah dari tempat Higgins ke rumah sebelah barat, tapi untuk berpindah dengan cepat ke timur?"
“Kalau begitu, bisa saja Jose salah lihat.” Marco mengedikkan bahu. “Waktu itu gelap. Dia cuma melihat samar-samar dalam cahaya bulan. Nyatanya, waktu aku ikut melihat lewat jendela pondok Higgins, tidak ada apa-apa yang kelihatan. Nah, jadi masuk akal, kan? Awalnya penyusup itu entah melakukan apa di pondok pengurus kuda, kemudian ketika semua orang ke luar, dia masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar Edgar.”
“Untuk apa?”
“Apa lagi? Menebar teror tentu saja. Dia melawanku dalam segala kesempatan. Aku mau membuka akses di Selatan Bjork, agar tempat itu lebih beradab, tapi dia melawan keras dan berusaha menjatuhkanku."
“Kau masih yakin semua ini ulah Charles? Bahwa semua ini cuma soal persaingan tidak sehat antar para pengusaha?”
Marco menggeram. Ia memindahkan pemberat kertas ke sisi kanan meja, kemudian mencondongkan tubuh ke depan. Matanya menatap Rolan dengan tajam. “Memangnya apa lagi?”
Dokter itu menggeleng pelan. “Kau tidak sadar? Banyak yang bolong dalam dugaanmu!”
“Misalnya? "
“Banyak alasan bisa dipikirkan. Charles pengecut. Dia tidak akan mau membuat kerusakan besar. Lagi pula, kalau ada kebakaran, bisa saja ada barang bukti. Tapi sebuah penyusupan tidak mungkin akan diusut oleh polisi. Cara peneroran yang aman.” Marco tersenyum puas dengan penjelasannya.
“Tidak. Masalahnya adalah, kau berpikir citah itu datang untuk menerormu. Yang berarti dia sengaja membuat kalian keluar sehingga rumah jadi kosong?”
“Ya. Karena itu dia melakukan hal mencurigakan di pondok Higgins.”
“Tapi Jose hanya kebetulan melihatnya! Jose keluar kamar karena kuda-kuda terdengar ribut. Kalau Jose tidak melihat, maka kalian tidak akan meninggalkan rumah!”
“Tidak. Kalau Jose tidak melihat, mungkin penyusup itu akan melakukan keributan lain. Misalnya, membakar pondok Higgins atau hal-hal semacam itu.” Marco bersikeras.
“Tapi dia kan tidak tahu apakah Jose melihatnya atau tidak. Dan pondok Higgins tetap selamat sampai para pekerja datang,” Rolan lagi-lagi membantah. Ia membetulkan letak duduknya, membalas tatapan Marco dengan sama menantangnya. Ia tahu bahwa untuk menaklukan hewan buas, seseorang harus menatap mata binatang itu, menunjukkan siapa yang lebih alfa. Ia menerapkan teori itu dalam prakteknya dengan Marco. Baginya, Marco sama saja dengan hewan buas di alam liar. Penuh harga diri, arogan, kuat, dan mematikan. “Dugaanmu terlalu lemah, Marco. Tidak akan ada yang bisa diyakinkan, kecuali dirimu, bahwa dalang di balik keributan ini adalah Charles.”
__ADS_1
“Aku tetap beranggapan bahwa itu memang Charles,” Marco menukas. “Tapi aku mengerti, aku memang tidak bisa membuktikannya. Meski begitu, kembali pada topik semula, para dayang tidak bisa dibiarkan lari dari rumah Argent.”
Rolan mendesah, mulai memahami pola perilaku Marco. Pria itu hampir saja kalah telak tadi, tetapi dengan cerdik kembali mengembalikan topik ke tempat dia merasa aman. Menyingkirkan pembahasan soal Charles dan mengangkat kembali soal dua dayang yang masih trauma.
“Kau tentu lebih paham soal kondisi rumah daripada aku." Rolan mengedikkan bahu, menyerah untuk mempertahankan pendapatnya. Nanti, saat rumor sudah beredar dan ucapannya terbukti benar, ia ingin melihat wajah Marco saat itu.
“Dan buat mereka kembali sadar. Itu tugasmu di sini,” Marco menukas tajam.
Rolan meringis sebal. “Aku tidak bisa janji. Kan sudah kubilang, aku cuma bisa membuat mereka kembali kalau keduanya diisolasi dulu ke tempat yang lebih tenang.”
“Kau akan menjamin bisa mengeluarkan informasi dari mereka?” Marco menopang dagunya di atas tangan. Mata elangnya yang kelam terlihat setengah terpejam.
“Oh, yah, soal itu ....”
“Tidak bisa, kan? Makanya, sudah kubilang akan sama saja. Mau kedua dayang itu dibawa ke luar atau tetap di rumah ini, gosip akan tetap beredar. Aku lebih suka melihat rumor yang bisa kukendalikan daripada mereka jadi bahan pembicaraan jauh di tempat yang sulit kujangkau.”
Rolan heran pada kemampuan Marco menangkap segala hal dan menyatukannya seperti bermain puzzle. Ternyata semuanya sudah dipikirkan masak-masak oleh Marco, membuat Rolan mulai penasaran juga apa ada alasan lain di balik tuduhannya pada Charles.
Mungkinkah memang tidak ada makhluk asing yang mengisap darah? Mungkinkah semua hal ini cuma karena peperangan ekonomi di balik layar?
Tidak, Rolan membantahnya sendiri dalam hati. Ia melihat sendiri bagaimana mayat itu kering kisut tanpa darah. Kulit Higgins bahkan hanya seperti lembaran elastis yang liat. Mengerikan.
Tidak ada manusia yang bisa menguras darah seperti itu. Bahkan orang-orang di rumah jagal pasti akan iri dan ingin melihat bagaimana teknik yang digunakan untuk menghilangkan darah sampai bersih. Bahkan jantung Higgins hampir berwarna putih seperti dicuci bersih. Itu jelas-jelas bukan teknik manusia. Meski masih belum tahu apa yang terjadi dan bagaimana cara pembersihan darah yang seperti sulap itu, Rolan tetap yakin bahwa pelakunya bukan manusia.
Hanya ada beberapa lubang pada bagian tubuh mayat-mayat kering yang ia otopsi. Tidak masuk akal kalau darah keluar habis dari lubang sekecil itu. Lagi pula hanya ada tiga atau empat lubang di tiap mayat, kebanyakan ada di leher. Rolan bergidik mengingatnya.
***
__ADS_1