BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 227


__ADS_3

Hampir seluruh pekerja Argent dibutuhkan oleh Marco, jadi Jose hanya bisa memberi Maria satu penjaga. Meski begitu, Pete tetap saja merupakan salah satu yang terkuat. Pria itu tidak bertubuh sebesar Gerald atau Hans, tapi kesetiaannya sama dengan mereka. Dengan lonceng balai kota berdentang bertalu-talu, gulungan awan aneh menunggu di sebelah timur, dan sekarang belasan orang bayaran berpedang mengepungnya, ia sama sekali tidak gentar. Tuannya meminta ia melindungi Maria Garnet hingga sampai ke Selatan dan itulah yang akan dilakukannya. Tak ada bedanya meski yang menghalangi adalah satu orang atau seratus iblis. Ia tidak akan kabur.


Pete membubarkan barisan pertama yang menyerangnya dengan satu tebasan besar. Wah, terlalu besar, pikirnya, menghabiskan energi. Tapi serangan pertama adalah penentu. Ia harus menunjukkan dominasi, jadi Pete tidak terlalu menyesalinya.


Ada lebih banyak orang-orang bayaran muncul dari balik gang. Mereka semua tidak berasal dari Bjork. Pete tidak mengenal satu pun. Orang-orang itu membawa pedang pendek seperti dirinya dan juga tombak panjang.


Sambil menebas dan membenturkan kepala lawan pada kepala penyerangnya yang lain, Pete mengedarkan pandangan, bersyukur ia tidak melihat panah atau senjata api. Kedua senjata itu akan merepotkan


Sepuluh menit pertama, Pete masih percaya diri bisa menunaikan tugasnya. Namun di paruh kedua ia mulai kewalahan. Staminanya terkuras dengan cepat dan napasnya mulai habis. Lawan seolah tidak berkurang. Pete tahu bahwa untuk menang, ia cukup lari ke arah pemimpin orang-orang ini, pada wanita berambut kemerahan yang mengenakan wool hitam jauh di belakang sana. Ia bisa mencapai sana kalau berlari sekuat tenaga tanpa memikirkan serangan, tapi itu akan membuat kereta yang dilindunginya jadi dalam bahaya. Tidak ada yang bisa membantunya. Sais kereta sudah mati. Mayatnya tergeletak diam dengan belati tertancap di dada.


Baiklah, kupertaruhkan semuanya!


Logam berdentang kedas. Pete menangkis pedang yang diarahkan ke lehernya, melempar senjata itu jauh ke belakang dan menggorok si empunya pedang. Matanya bergerak cepat mencari celah dalam tiap tangkisan. Kalau mengorbankan dirinya sendiri, ia yakin bisa lari lebih cepat dan membunuh wanita itu atau setidaknya memaksa pasukan mundur.


Tak sedikit pekerja Argent yang tunduk pada Marco karena berhutang budi, tetapi Pete mengikuti pria itu murni karena menyukainya. Ia mendapat tempat untuk tidur, makanan enak, bayaran bagus, teman-teman yang menyenangkan, serta tugas yang seringnya memacu adrenalin. Bagi Pete itu semua adalah hal yang cukup bagus untuk ditukar dengan kehidupannya. Pete lebih menyukai hidup yang singkat dan penuh makna daripada hidup panjang membosankan. Ia lebih suka mati ketika melakukan tugas ketimbang mati tak berdaya karena sakit di ranjang. Ia pria yang sesimpel itu. Karena itulah ia akan mempertaruhkan semuanya kali ini dalam satu aksi.


Pete menarik napas panjang, membulatkan tekad. Ia sudah mengosongkan jarak. Tidak ada musuh di sekitar kereta. Pete baru saja hendak beranjak lari ketika ia mendengar bunyi klek yang familier. Jantungnya seperti berhenti berdegup. Kepalanya tersengat ketegangan yang panas. Ia memutar sedikit pedangnya, menggunakannya untuk mengingip belakang.


Seperti yang ia takutkan, pintu kereta memang terbuka. Maria melangkah turun dari sana dengan ketenangan penuh seolah ia baru saja memutuskan berhenti untuk menikmati keindahan kota.


"Nona, kembalilah ke dalam kereta!" Pete tidak menoleh. Pedangnya yang bersimbah darah diacungkan ke depan, ke arah orang-orang bayaran yang makin mendekat. Ia sedikit jengkel karena rencananya diganggu. "Jangan merepotkan saya!"


Maria meliriknya dingin lewat ekor mata, membuat Pete entah kenapa diliputi rasa ngeri seolah barusan bersikap lancang pada Marco. Tanpa sadar, pria itu membisikkan kata maaf.


"Flora Spencer, tarik orang-orangmu. Pertumpahan darah ini tidak perlu!" Maria berseru. Gadis itu berjalan dengan langkah anggun tanpa cela melewati para pembunuh bayaran berpedang, tidak menoleh sedikit pun seolah tidak melihat mereka. Mata birunya menatap lurus ke depan, ke arah Flora yang terpaku di tempat karena terkejut.

__ADS_1


Satu hal yang diinginkan Flora hanya selamat. Perbedaan kelas di Bjork mungkin tidak terlalu terasa karena dominasi Marco Argent yang seolah mengatasi semua bangsawan dan membuat aturan sendiri. Para tukang pukulnya bahkan lebih disegani masyarakat dibandingkan anak-anak bangsawan. Namun di luar Bjork, di Albion secara umum, status memengaruhi segalanya. Betapa pun terhormat dan berhasilnya Flora, ia tetap harus menunduk-nunduk ketika bicara dengan lord atau lady miskin yang tak tahu adat demi menyelamatkan kepalanya.


Keselamatan. Karena itulah ia mengejar-ngejar Jose Argent, keturunan bangsawan yang ia pikir adalah bocah manja ingusan. Tinggal perlihatkan saja sedikit lebihan lemak di pinggul atau dada, lelaki pasti akan kehilangan kewarasannya. Trik itu gagal menjerat Jose, tapi untungnya berhasil untuk Arthur Spencer. Flora berhasil mengamankan statusnya. Ia pikir hidupnya akan senang dan ia akan bergelimang harta tanpa khawatir apa pun, tapi ia salah. Arthur bermain dengan api dan pria itu kalah telak.


Kabar kematiannya memukul Flora begitu kuat hingga ia kebingungan sepanjang pagi. Ia tidak menyangka Argent akan senekat itu. Ia tidak tahu di mana mereka salah melangkah dan apa yang seharusnya mereka perbaiki, tapi tak ada waktu untuk kontemplasi. Ia harus selamat. Kunci keselamatannya kini ada di depannya, tepat di hadapannya, mendekat dengan kesukarelaan yang naif—terlalu naif hingga membuatnya curiga. Flora menggerakkan jari, membuat orang-orang bayarannya dengan sigap bergerak meringkus Pete serta kedua pelayan di dalam kereta.


Maria tidak menoleh sedikit pun, membuat Flora mengerutkan kening. Apakah dia masih Garnet atau sudah jadi orang lain?


"Kau tahu apa yang sedang kita hadapi, kan?" Maria bertanya dengan suara manisnya yang khas seperti bunyi gemerincing lonceng. "Menurutmu ini waktu yang tepat untuk saling membunuh?"


"Tentu saja aku tahu, Sayang." Flora meringis. Itu masih Maria yang angkuh dan naif. "Tenang saja, aku bukan ingin membunuhmu. Asal kau bekerja sama, aku akan memperlakukanmu dengan baik." Gadis itu pasti berpikir kata-kata akan bisa membuatnya berubah pikiran. Atau gadis itu hanya mengulur waktu sampai bantuan datang. "Kau pikir aku tidak tahu bahwa kita sedang dikejar iblis?"


Maria menaikkan sebelah alisnya. "Jadi kau tahu? Sir William-lah lawan kita sekarang! Kita harus berlindung dulu, segala pertengkaran bisa kita urus setelah ini selesai!"


Flora memutar bola matanya dan memerotkan bibir dengan gaya mencemooh. "Aku tahu bahwa Sir William ingin menghidupkan kembali pacarnya menggunakan tubuhmu. Untuk melakukan itu, talisman emas yang merupakan leburan ulang dari cincin Raja Salomo diperlukan. Pada saat bayangan gerhana nanti jatuh ke Bjork, upacara bisa dilakukan. Sama seperti Raja Salomo, si pemilik talisman akan bisa membuka portal menuju surga, membuat pakta dengan Sang Pencipta. Aku tahu semuanya, Sayang!"


"Aku tahu bahwa kalung itu sudah ada di tangannya." Flora memotong, bergerak maju menjemput Maria. Bibirnya membentuk seringai seperti rubah. "Tapi kau ada di sini." Ia menyambar pergelangan tangan Maria, menikmati mendengar suara pekik kaget gadis itu. Dipuntirnya lengan gadis itu dengan kejam. "Aku bisa menukarmu dengan kalungnya saat gerhana dan membuat pakta dengan Tuhan," bisiknya rendah.


"Aw ... sakit!"


"Kau pikir aku tidak tahu apa-apa, Sayang? Kau yang tidak tahu apa pun, Garnet. Argent membunuh suamiku," Flora meneruskan geram. Ia mengguncang lengan Maria hingga gadis itu menjerit. "Andai kau tidak berguna, leher cantikmu ini pasti sudah kugorok sejak tadi!"


Maria berusaha membebaskan diri, tapi tenaga gadis itu sama kuatnya dengan bayi kucing. Flora tertawa mengejek dan mengetatkan pilinan. "Aku tidak tumbuh dalam taman bunga sepertimu, Garnet. Sekarang kau sadar darah birumu tidak bisa membantu?"


Maria menggertakkan gigi, menatapnya dengan kemarahan yang beku. Flora tahu ia sudah menang. Dengan Maria di tangannya, bahkan Argent pun tidak akan mungkin berani sembarangan bergerak. Ia mengalihkan pandangan, menengok ke arah orang-orang bayarannya untuk memberi isyarat mundur. Namun sebelum ia sempat bicara, sesuatu yang dingin menempel pada bawah rahangnya. Itu rasa logam dingin, tapi bukan pedang.

__ADS_1


Ada suara klik kecil yang samar. Kemudian ia melihat Maria tersenyum padanya. Sebelum Flora sempat benar-benar sadar apa yang terjadi, Maria memutar balik pilinan lengannya dengan kekuatan mengejutkan dan dalam satu detik yang sama menariknya kencang hingga tubuh mereka saling membentur. Bibir gadis itu menempel di telinganya, berbisik cepat, "Aku tahu Jacob membunuh suamimu, aku tahu kau tidak tumbuh dalam taman bunga sepertiku, dan aku bukan Sayang-mu!"


Satu titik keringat bergulir di pelipis Flora. Ia menyentakkan diri untuk mundur, tapi terlambat. Telinganya mendengar bunyi ledakan petasan. Kembang api muncul dengan megah di depan kedua matanya. Kembang api merah.


Kemudian segalanya jadi gelap.





Saat yang paling tepat untuk melancarkan serangan balik adalah saat lawan berpikir dia sudah mendapatkan kita.


Maria ingat ajaran Marco. Matanya menatap nanar pada tubuh Flora yang memucat dengan cepat. Proses kematian ternyata berjalan lebih cepat dari yang ia kira.


Maria tercenung sesaat. Ia pikir menembak orang lain akan membuatnya merasa bersalah atau mungkin puas. Tapi setelah melakukannya, yang ia rasakan bukan kedua hal tersebut. Ia hanya merasa kosong. Aroma mesiu memenuhi udara di sekitarnya dan pergelangan tangannya sakit karena sentakan tembakan.


Segala hal harus ada timbal balik yang setara. Tapi apa itu kesetaraan? Bagaimana satuan ukurnya? Apakah satu nyawa raja setara dengan delapan pion dan tujuh aristokrat? Atau satu nyawa tetap hanya bisa ditukar dengan satu nyawa tanpa peduli siapa pun pemiliknya? Apakah satu ton gandum setara dengan satu ton kapas karena sama-sama satu ton?


Maria menemukan jawaban itu sekarang, saat menatap tubuh tak bernyawa Flora. Hukum transmutasi tidak pandang bulu. Satu nyawa manusia hanya bisa ditukar dengan satu nyawa, tapi membuka gerbang penukaran jelas butuh biaya, butuh ganjaran. Karena itulah Sir William perlu menumpahkan banyak darah. Darah orang-orang yang hilang adalah biaya untuk mengurung Bjork. Dan seisi Bjork akan digunakan sebagai biaya mengaktifkan gugusan sihir agar portal menuju dunia lain terbuka. Saat itulah, satu nyawa akan diganti satu nyawa. Nyawanya dengan nyawa Arabella.


Maria menghirup oksigen banyak-banyak, lalu berbalik ke arah orang-orang bayaran yang menatapnya tercengang. Pedang-pedang mereka masih terhunus, tapi ujungnya sudah turun ke tanah.


"Orang yang membayar kalian sudah mati!" Maria berseru keras-keras. Ujung kalimatnya pecah gemetar, tapi malah membuat efek dramatis. Ia mengangkat satu jari ke langit timur Bjork. "Lihat itu! Lihat itu baik-baik dan selamatkan diri kalian! Pergi semua sebelum terlambat! Pergi!"

__ADS_1


***


__ADS_2