BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 125


__ADS_3

Maria mencari Jose, tapi lelaki itu tidak terlihat di mana pun. Ia melihat ketiga teman karib Jose: Lucas Clearwater, Adrian Marsh, dan Simon Rutlan sedang mengobrol dengan beberapa orang. Marsh melontarkan lelucon vulgar, dan beberapa orang tertawa. Jose tidak ada di antara lelaki itu. Maria tidak bisa bertanya karena tidak sopan bagi perempuan untuk menghampiri lelaki duluan.


Dalam etiket Bjork ada aturan yang sangat jelas, yang berlaku bagi para bangsawan. Perempuan tidak boleh menghampiri lelaki duluan, tetapi lelaki juga tidak boleh datang mendekat kalau tidak mendapat undangan dari yang perempuan. Terkadang tata krama macam ini dilupakan di beberapa kesempatan. Namun Keluarga Garnet mendidik Maria untuk tetap pada kebiasaan lama. Dan ia hanya bisa kembali pada teman-temannya. Beberapa orang sudah pulang. Ia bisa saja pulang duluan. Rolan masih menunggu di mobil, di luar. Tapi kalau ia pulang tanpa Jose, jelas mereka akan jadi bahan gunjingan.


Atau jangan-jangan dia pulang duluan karena kesal aku terlalu lama berdansa dengan Sir William? Maria sempat berpikir begitu, tetapi ia menggeleng pelan. Jose bukan orang yang kekanak-kanakan.


"Senangnya jadi Putri Garnet," suara itu menyadarkan Maria dari lamunannya. Ia menatap ke depan, baru menyadari bahwa para gadis sudah terbagi jadi dua kelompok. Kelompok yang berdiri di sisinya dan yang berhadapan dengannya.


Di sampingnya ada Lidya Jewel, pacar Dave serta Carmen Everrose. Sementara di hadapan mereka ada Flora, istri Baron Spencer. Di belakang Flora ada empat sampai enam gadis lain yang tidak begitu dikenal oleh Maria.


"Datang dengan pangeran kecil tapi masih mengincar pangeran lain, keserakahan bisa bahaya lho," lanjut Flora.


Lidya membeliak kaget. Ia sudah sering melihat bagaimana para putri dan lady saling serang, tapi baru kali ini mendengar cara bicara demikian vulgar. Flora bahkan tidak menutupi ekspresi iri hatinya.


Maria tersenyum tipis. "Selamat malam juga, Lady Spencer. Bicara soal serakah, aku tahu pepatah yang mengatakan bahwa orang-orang serakah selalu mencari masalah di mana pun mereka berada. Untungnya kau pasti bukan jenis yang dimaksud, kan?"


"Tentu saja bukan, Putri Garnet. Jangan cemas. Aku justru datang untuk memberi pujian padamu. Tidak semua putri mampu mengejar dua pria sekaligus, biasanya kami menunggu dikejar."


"Jaga kata-katamu, Lady Spencer!" Carmen berkata dingin. "Fitnah apa yang ingin kau sebar? Apa aku harus mengingatkan kembali statusmu?"

__ADS_1


Flora tertawa pelan. "Kau tahu siapa yang sejak dulu berusaha agar perbedaan kelas tetap terjaga? Marco Argent. Sekarang dia hilang, dan meski kau putri seorang Count, tidak ada yang membedakan kita. Gelar itu cuma tinta di atas kertas."


"Apa maksudmu Marco Argent hilang?" Lidya berubah pucat. Satu-satunya orang yang ia andalkan untuk menemukan Dave adalah Marco.


"Hati-hati kalau bicara, Lady Spencer," Carmen mengingatkan. "Kuakui kau benar-benar berani menyebut nama Argent di depan seorang Garnet. Kau tahu keluarga mereka berteman sejak lama."


"Pertemanan macam apa? Dilihat dari reaksinya, Nona Garnet pasti tidak tahu kan bahwa Marco Argent hilang?" balas Flora mencemooh, tambah semangat karena beberapa kawannya menimpali dan mendukung. "Aku mendengarnya barusan, dari para pria. Sehari penuh dia hilang. Kalau besok dia masih tidak kembali, polisi baru akan bergerak. Tapi semua orang tahu bagaimana nasib orang yang menghilang tanpa jejak dalam sehari."


Ucapan yang terakhir benar-benar keterlaluan dan tidak memiliki tenggang rasa, apalagi diucapkan di depan Lidya yang sudah berhari-hari mencari Dave. Lidya mengangkat tangan untuk menampar, tetapi Maria menahan tangan kawannya.


"Jangan kotori tanganmu," kata Maria lembut sambil mengelus punggung tangan Lidya. Ia berpaling pada Flora dengan mata berkilat-kilat. Maria melangkah mendekati Flora hingga dada mereka bersentuhan.


Para gadis yang mengelilingi mereka diam menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Flora lebih pendek darinya, jadi Maria perlu menunduk ketika bicara. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Flora dan berbisik, "Jadi kau menyebarkan kabar yang tidak kau lihat sendiri, tidak kau ketahui sendiri? Spencer, aku salut padamu. Kau jadi seberani ini hanya karena sebuah kabar bahwa Marco Argent hilang? Kau pikir kalau Marco tidak ada maka statusmu sebagai istri Baron akan menguat? Apa kau tahu bahwa keluarga Argent tidak hanya berisi Marco? Apa kau sadar bahwa kau sedang bicara di depan seorang Garnet?"


Meski Maria berbisik, suaranya cukup keras untuk didengar oleh para gadis yang mengelilingi mereka. Flora merapatkan bibir. Bola matanya berkaca-kaca dan rahangnya bergetar karena emosi. Ia menoleh untuk menjawab, tapi Maria menjauhkan kepalanya dan menegakkan tubuh.


Sebelum siapa pun sempat menyela, Maria meneruskan, "Aku Maria Garnet! Bahkan jika aku memutuskan untuk menyeret Spencer di jalanan dan melemparnya ke rumah bordil, tidak ada seorang pun yang akan melarangku. Dengan atau tanpa Marquis Argent, itu hal yang bisa kulakukan. Dan kau tahu kenapa?" Maria menegakkan tubuh, menyunggingkan senyum bangsawannya. "Karena aku seorang ningrat sejak detik aku dilahirkan. Aku bukan perempuan jelata yang naik statusnya karena pernikahan. Kau pikir kita sama? Jika Baron Spencer meninggalkanmu, kau bukan siapa-siapa, Flora. Tapi aku, tanpa lelaki mana pun membantuku, aku adalah Maria Garnet. Putri Garnet!"

__ADS_1


Flora menggertakkan gigi, tetapi tidak mengatakan apa pun lagi. Ia berbalik pergi, dihibur oleh kawan-kawannya.


"Apa aku keterlaluan?" Maria menoleh pada kawan-kawannya, yang dengan serempak menggeleng.


"Aku suka bagian menyeretnya dan melemparnya ke rumah bordil," Lidya berkata dengan mata berkilat gembira.


"Dia cuma cemburu," kata Carmen. "Semua orang juga tahu bahwa sampai tahun lalu, dia masih mengejar-ngejar Jose Argent. Melihatnya mau datang ke pesta denganmu, dia pasti ingin usil."


Maria mengangguk. Jose dikenal sebagai lelaki yang mau berteman dengan siapa pun tanpa memandang status. Flora adalah putri pedagang yang dulu menjalin hubungan dengan Argent, membuatnya punya kesempatan lebih besar untuk berkawan dengan lelaki itu. Namun Jose mengabaikannya. Beredar gosip bahwa Flora mencoba menggunakan cara murahan untuk merayu Jose, tapi gagal. Marco Argent membatalkan kerja samanya dengan keluarga Flora. Bahkan buah kalengan yang merupakan produk utama karavan Flora pun dilarang masuk ke Bjork. Sejak itu Flora berbalik membenci seluruh keluarga Argent.


"Beraninya dia menyebarkan info bohong soal Marquis Argent," gumam Lidya bergetar, masih dongkol. "Dasar jalang. Hah! Perempuan jalang."


"Lady," tegur Carmen geli.


"Rasanya enak diucapkan, coba saja," kata Lidya sambil tertawa. "Diucapkan dengan gaya Selatan lebih enak di lidah. Cobalah ucapkan: cewek jalang!"


Carmen mencobanya, tapi hanya dalam bisikan pelan. "Rasanya memang enak," ia mengakui. "Tapi jangan terlalu sering, nanti jadi kebiasaan."


Lidya tertawa. Maria berusaha ikut tertawa, meski punggungnya meremang. Ia barusan melihat Sir William menatap ke arahnya, tapi tatapan itu terlihat begitu mesra sehingga ia merasa ngeri sendiri.

__ADS_1


Beberapa hari lalu aku masih menyukainya, pikir Maria. Kenapa sekarang jadi takut?


__ADS_2